
Di kos Flamboyan, Rosa dan Sulis sedang duduk di ruang tengah, menyaksikan televisi yang sedang menayangkan Moto Gp Andalusia bersama Mas kiki, Bapak kos di Flamboyan. Sulis sedang mengupas mangga yang ia beli di pasar sekalian pulang dari kampus.
“Kemarin Rissa ke sini, Lis.”
“Kapan?” tanya Sulis antusias. Ia sudah merindukan Rissa, gadis baik hati yang selalu dia buat sedih karena ia lebih memilih untuk memihak teman yang lain.
“Saat kamu pulang. Dia mengambil barang-barangnya dan meninggalkan beberapa yang kita butuhkan.”
“Kenapa dia tidak pernah chat kita ya? Aku kangen banget padanya.” Sulis meletakkan pisau dan berdiri lalu berjalan menuju wastafel yang ada di sampingnya untuk mencuci mangga yang sudah selesai ia kupas.
“Dia mungkin sibuk.”
“Sibuk?”
Rosa mengangguk.
“Sibuk apa? Dia kan tidak kemana-mana. Dia di rumah terus kan?”
“Sibuk melayani suami.” Sulis terkekeh. Ia merasa heran dengan jawaban Rosa yang asal.
“Memangnya berapa kali sehari semalam kok sampai sibuk?”
“What?”
“Ada yang salah dengan ucapanku ya sehingga kau begitu terkejut?”Rosa memukul lengan Sulis. Geli dengan reaksi yang ditimbulkan oleh sahabatnya. Padahal pertanyaan yang dia lontarkan adalah pertanyaan biasa saja.
“Hanya geli saja. Sampai-sampai bulu kudukku berdiri semua, nih.” Sulis menunjukkan lengannya sambil mengelusnya perlahan, mencoba menetralkan kulitnya.
“Kenapa berdiri semua? Kamu merasakan apa coba? Hah?”
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sikap Marissa pada Pak Adit. Selama ini kan Marissa tidak pernah dekat tuh sama laki-laki. Dia jatuh cinta pada Mas Qomar saja kan? Sama Mas Qomar juga tidak pernah main apa-apa. Terus sama Pak Adit dia langsung menikah tanpa adanya pengalaman dengan laki-laki lain. bagaimana ya ketika dia harus . . . hi hi hi” Sulis menutup mulutnya, tidak ingin meneruskan kalimatnya.
“Kenapa tidak dilanjutkan? Kalimatmu selalu membuatku penasaran tau? Memangnya apa yang ada dalam benakmu saat ini?’
“Lanjutkan saja sendiri.” kata Sulis sambil mengambil potongan mangga di piring.
“Yang kamu maksud Rissa dan Mas Qomar tidak pernah main apa-apa itu apa?”
“He he he” Sulis terkekeh/ ia geli membayangkan Rissa dan Aditya, mengobrol berdua, membagi kasih sayang dan bercinta.
“Hah, sudahlah. Aku tidak bisa membayangkan Marissa pokoknya. Sudah ah. Jangan dilanjut. Sekarang yang penting Rissa sudah hidup bahagia bersama suaminya. yang harus menjadi topic utama kita adalah bagaimana Sisy. Dia tidak di rumah dan orang tuanya sudah kebingungan mencarinya.”
“Memangnya dimana Sisy?” tanya Sulis sambil memandang Rosa. Kiki yang sejak tadi menyimak dalam diam tak bisa memendam rasa penasarannya.
“Sisi kenapa, Ros?”
Rosa dan Sulis yang sejak tadi sibuk mengobrol hanya bisa saling pandang.
__ADS_1
“Tidak tahu, Mas. Kemarin orang tuanya mencari di kampus. Menanyakan keberadaannya pada kami. Kami kira, Sisy pergi ke suatu tempat bersama keluarganya, ternyata kata orang tuanya, Sisy pergi tanpa pamit.”
“Sejak Marissa menikah dia sudah tidak beres, Kan?”
“Sebenarnya bukan sejak Marissa menikah, Mas. Sejak Marissa menjadi relawan. Dia kan bertemu dengan Mas Seno, orang yang ditaksir Sisy. Ternyata mencintai Rissa.”
“Berarti Risa dianggap merebut hati Seno begitu?”
“Ya tidak begitu juga kali, Mas. Yang aku dengar kan setelah menikah dua-duanya sama-sama sakit hati. Seno kecewa karena Pak Adit yang dipilih Rissa. Sedangkan Sisi, dia kecewa karena orang yang dia cintai ternyata
jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.”
“Cinta memang rumit. Selalu saja menimbulkan lara di setiap hati para pencinta.” Ucap Kiki sambil berlalu meninggalkan kedua anak kosnya.
Sulis dan Rosa saling pandang. Mereka akhirnya mengedikkan bahu masing-masing. Beberapa saat mereka sibuk memakan mangga yang sudah dikupas Sulis dalam diam.
Potongan terakhir hampir masuk mulut Sulis ketika tiba-tiba ponsel di sebelahnya mendendangkan lagu takka berpaling darimu yang dinyanyikan Rossa. Sulis memandang ponselnya sebentar, mencoba mencari tahu si penelpon siang ini.
“Assalamualaikum” ucap Sulis sambil meletakkan potongan mangga di piring.
“Waalaikum salam, Mbak Sulis?” suara ibu paruh baya di seberang telpon terdengar sangat berat.
“Iya, Bu.” Rosa memandang Sulis seolah bertanya siapa penelponnya siang ini.
“Bisa tidak Mbak Sulis datang ke asrama?”
Deg
“Ada apa ya Ibu, kok saya harus datang ke asrama. Mohon maaf juga apakah ini dengan Ibunya Sisy?”
“Hiks. Iya, Mbak Sulis. Datanglah ke asrama sore ini. Hiks.”
“I-iya, Bu, baik kami akan datang. insya Allah.”
“Ibu tunggu di rumah ya, Mbak.”
“Insya Allah, Bu. Ini segera bersiap.”
“Baiklah, saya tunggu ya Mbak Sulis. Assalamualaikum.”
“Iya, Bu. Waalaikum salam”
Sulis menutup telponnya dan memandang Rosa dengan pandangan meminta pendapat. Ia sama sekali tidak bisa menolak permintaan Ibu dari sahabatnya.
“Ada apa ibunya Sisy meminta kita datang? Apakah Sisy sudah pulang?”
“Entahlah. Tapi aku benar-benar tidak bisa menolak keinginannya, Ros. Please maafkan aku”ucap Sulis sambil menangkupkan kedua tangannya di dada, meminta maaf .
“Kau bilang, kau juga akan bersiap. Apakah kau tidak ingin mengajakku?”
“Jangan bercanda ah. Kalau aku tidak mengajakmu, lantas dengan siapa aku ke sana?”
__ADS_1
Rosa terkekeh.
“Mau ngajak aku kok tidak konfirmasi dulu aku bisa atau tidak. Memang kamu yakin kalau aku bisa menemanimu sekarang?”
“Trus?”
“Aku ada acara ketemu teman lama di kampus.”
“Please, jangan tega padaku. Please!”Sulis menghiba di hadapan Rosa, Rosa terkekeh melihat tingkah Sulis yang baginya sangat menggemaskan. Sebenarnya pertemuannya dengan teman lama hanya rekayasanya saja. Rosa benar-benar ingin memberi pelajaran pada temannya agar tidak terlalu gegabah pada keputusannya.
“Kau selalu saja membuat keputusan sepihak. Aku tidak kau anggap ada, dan tidak kau anggap memiliki kepentingan. Mengapa? Apakah kau pikir aku duduk di sini karena aku bebas sampai sore di sini?”
Sulis menunduk. ia sama sekali tidka mengira kalau keputusannya menerima permintaan Ibunya Sisy akan diiyakan oleh Rosa dengan mudah.
“Please jangan marah! Aku benar-benar minta maaf. Kalau kau tidak bisa aku akan membatalkan janjiku dengan Ibunya Sisy.”Sulis mengulurkan tangannya hendak meraih ponsel yang sudah
tergeletak di meja, namun Rosa lebih cepat.
“Mau apa?”
“Aku mau mengurungkan perjanjian. Untuk apa aku datang kalau aku harus sendiri.”
“Aku akan menemanimu.”
“What? Serius?” Sulis berjingkrak-jingkrak. Ia memeluk Rosa yang tersenyum penuh kemenangan.
“Sudah, lepaskan aku!”
“Tidal mau. Kamu nakal sekali. Masa iya disaat genting seperti ini kau masih tega bercanda denganku?”
“Aku tidak bercanda. Aku serius.”
“Serius apa?”
“Serius marah padamu.”
“terus?”
“Up to u”
“Kok up to me sih? Tidak asik.”
“Jadi tidak jadi nih ke asramanya?”
“Ih, siapa bilang. Aku akan berangkat tahu? Aku kan kangen juga sama ibunya Sisy.”
“Heh, aku tahu kamu kangen sama Mas Sigit, bukan sama ibunya Sisy.”
“Apaan, Sih.”
“Ha ha ha” Rosa tak bisa menahan tawanya melihat wajah Sulis yang memerah.
__ADS_1