Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Kembali ke Camp Pengungsian


__ADS_3

Kau bilang tadi tentang Pak Seno. Siapa Pak Seno ?” tanyaku penasaran. Kutatap wajah Lina yang agak pucat.


“Dia tentara yang selalu bersamamu.” Jawabnya sekenanya. Aku mengerutkan keningku.


“Tentara yang selalu bersamaku?” gumamku. Kubayangkan satu persatu relawan yang selalu bersamaku, namun tak kutemukan siapa diantara mereka.


“Selama kau pergi, dia selalu merenung di taman depan mushola. Dia selalu memainkan ponselnya namun entah mengapa wajahnya selalu tak senang. Saat melihatku melintas di depannya, dia panggil diriku dan menanyakanku banyak hal tentangmu. Risa, kukira dia sangat mencintaimu.” Lina menarik nafas dalam. Ada haru di wajahnya dan bagiku itu sangat lucu. Aku tertawa melihat ekspresinya, dan mendengar tawaku, dia memandangku kesal.


“Kau pikir aku hanya bercanda?” tanyanya geram. Aku takut sekali melihat wajahnya. Dia seperti ingin menelanku saja. Aku segera menutup wajahku dengan bantal dan tak ingin berkata apapun padanya.


“Selama kau pergi, banyak kejadian yang mengenaskan tentang pengungsi, Ris. Dari proses penemuan korban sampai proses pemakaman. Aku merinding kalau mengingatnya.”


“Kau tak ingin berbagi denganku ?” tanyaku pelan. Lina memandang wajahku serius.


“Kau bahkan telah menertawakanku.” Sahutnya.


“Maaf, aku tak sengaja. Tadi aku hanya menertawakan ekspresimu saja. Kamu lucu sekali kalau sedang bicara. Empat hari tak melihatmu, aku seperti kehilangan sosok sahabatku. Kamu jadi semakin aneh dengan beban pikiranmu.”


“hhh, andai kau mengalami seperti apa yang aku alami, Ris. Kamu mungkin akan merasakan hal yang sama denganku. Aku berkali-kali melihat kondisi korban longsor tersaji di hadapanku. Itu mungkin yang bisa mengubah perilakuku. Aku seperti trauma.”


Lina menitikkan air mata. Kupeluk tubuhnya dan kubiarkan dia menangis di pelukanku.


“Kalau kau mau, kau bisa menghentikan aktivitasmu di sana.” Ucapku setelah kulihat Lina tenang.


“O iya, bagaimana dengan dokter Wildan dan dokter Irawan ?” kualihkan topic pembicaraan sekedar untuk meringankan beban Lina.


“Mereka sudah kembali ke kandangnya.”


“ha ha ha, kau pikir mereka beruang balik ke kandang ?” Lina mencubit lenganku.


“Kau tak ingin ke Camp ?” Lina membaringkan tubuhnya di dipanku. Ditatapnya wajahku penuh harap. Aku tidak tahu peristiwa apa saja yang sudah ia alami sehingga mampu mengubah sahabatku menjadi seperti ini. Pendiam dan tak banyak tingkah seperti beberapa hari lalu sebelum perpisahan kami.


“Aku masih capek.” Sahutku sekenanya. Ada rasa malas yang tiba-tiba menyusup. Satu minggu tak bersama Syamsa dan Qomar adalah waktu paling damai yang pernah aku miliki. Dan aku tak ingin mengotori hatiku dengan rasa iri hati lagi.


Kuambil buku yang tertumpuk di hadapanku sekenanya, kubuka di halaman asal lalu kubaca.


“ Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”( QS 10 : 62-63)


Aku jadi malu membaca surat itu. Malu pada Allah. Malu pada semua orang disekelilingku, juga pada orang-orang di sekolah shelter itu. Mereka mendapatkan cobaan yang jauh melebihi perihnya hatiku saat ini. Mereka mengalami penderitaan hati, yang jauh lebih menyakitkan dibanding sakit hati yang kualami. Aku jadi malu pada Allah. Hanya karena patah hati, hatiku berduka, bersedih dan merana. Bagaimana mungkin Allah akan mempercayaiku dengan suatu amanah yang lebih berat kalau menghadapi masalah sedikit saja aku jatuh.


Astaghfirullahal adziim.


Tuhan, ampunilah hambaMu yang lemah ini !Mungkin aku memang cengeng. Tapi mulai saat ini aku berjanji, tidak akan lagi tergoda untuk menurutkan hawa nafsu yang akan membelengguku dalam kesedihan berkepanjangan.


Dengan mengucap Bismillahirohmaanirrohiim, hari ini aku ikhlas melepaskan beban yang seharusnya tak pernah ada. Hatiku lega. Inilah awal kehidupanku untuk memulai hal-hal baru yang lebih bermanfaat untuk hidupku dan keluarga serta lingkunganku.

__ADS_1


Lina pamit padaku untuk tidur di kosnya.


Khotbah jumat baru saja usai kudengar di horn masjid. Baru saja kutanggalkan mukenaku dan it’s time for me to go to sekolah shelter yang dijadikan sebagai camp pengungsian. Aku ingin melihat Syamsya dan yang lainnya. Empat hari berkutat dengan essai, aku ingin menyegarkan otakku.


Kubuka pintu kamar dan kutengokkan kepala ke sana kemari barangkali ada teman yang ada di rumah namun nihil. Semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing di luar rumah. Kututup pintu rumah dan kukunci dan akhirnya kulangkahkan kaki ringan menuju arah timur. Tak banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan Suprapto. Hanya satu dua kendaraan pribadi melintas.


Kuhentikan sebuah becak bermotor dan kuperintahkan untuk mengantarku ke Kecamatan B. Setengah jam kemudian, aku sudah sampai di lokasi. Sebuah sekolah yang kondisinya masih sama dengan waktu kutinggalkan beberapa hari lalu. Bedanya hanya sekarang jauh lebih bersih.


“Assalamualaikum” sebuah suara menghentikan langkahku. Kutengokkan kepala ke sebelah kanan, ke sumber suara yang sekarang sedang berdiri dengan senyumnya yang sumringah menyambutku.


“Wa alaikum salam warahmatullah, Kakak bagaimana kabar ?”


“Alhamdulillah baik. Adik Marissa sendiri bagaimana kabar ? Bagaimana hasil lombanya?” belum sempat kujawab pertanyaan itu, tiba-tiba seorang gadis kecil berlari menghampiriku. Ada binar mata indah menyambutku dan binar mata itu semakin indah saat dia dengan semangat menyambutku.


“Mbak Risa. Mbak Risa kapan datang ? “ Kupeluk tubuhnya erat. Gadis kecil dalam pelukanku melepaskan pelukannya dan memandangku dengan bahagia. “Mbak Risa katanya juara ya ? Juara berapa Mbak ?”tambahnya.


“Alhamdulillah Rin, Mbak Risa mendapatkan medali emas. “


“Medali emas itu juara berapa Kak ? “ tanya Arina pada laki-laki di hadapanku dengan polos. Arina adalah teman Nina. Teman yang selalu menemani Nina saat ibunya taka da dan saat sebelum Nina dibawa pamannya ke Jakarta.


“Juara satu, Adik manis. Kak Risa mendapat juara satu. Hebatkan ?” Arina memelukku mendengar penjelasan dari pemuda di hadapanku.


“O iya, ini Kakak bawakan buku untuk Arina. Semoga bermanfaat ya “ Arina menerima buku yang kubungkus dengan kertas kado warna biru. Dia segera berlari dan berteriak memanggil ibunya dengan bahagia. Laki-laki di hadapanku yang sedari tadi menunggu jawabanku tersenyum.


“Amin. Terima kasih, Kakak. Tapi mohon maaf, yang sombong itu saya ? “ tanyaku penasaran. Ingin rasanya kutumpahkan rasa kesalku padanya. Bagaimana mungkin aku sombong. Rasanya tak ada kata itu dalam kamus hidupku.


“Iya sombong sekali, tapi aku jadi ingat sebelum Adik berangkat ke Jakarta, waktu itu ada telepon dari nomor baru di reject. Padahal yang telepon itu dosen. Apalagi whatsapp dari nomorku. Tidak masuk hitungan ya, karena Adik sudah menjadi idola di kalangan mahasiswa se Indonesia.” Ujarnya. Air mukanya masam dan ini membuatku semakin merasa bersalah.


“Astaghfirullah, mengapa Kakak bisa mempunyai anggapan seperti itu ? Padahal sama sekali tidak terbersit sedikitpun dalam hatiku . . .”


“Coba Adik lihat, pesan ini sudah ada centang dua dan berwarna biru, itu artinya Dik Risa sudah membaca ini. “ laki-laki cool abiz di hadapanku menunjukkan hpnya kepadaku. Aku segera mengambil hpku dan membukanya. Benar, pesannya telah terkirim dan aku sudah membacanya. “Benar kan ? Nomor baru tidak masuk hitungan.”Katanya sambil berlalu meninggalkanku. Aku tak bisa berbuat banyak. Dalam hati hanya bisa menyesali tindakan yang sangat tidak kuniatkan. Dengan gontai kulangkahkan kaki menemui pengungsi yang sedang duduk di aula, menyapa satu persatu.


Usai kusapa semua pengungsi, kuletakkan tasku di ruang tidur putri yang sudah bersih. Tas- tas yang biasanya bertumpuk di ruangan itu kini telah tiada. Aku baru ingat, Syamsya mungkin sudah bersama Qomar menginap di suatu tempat, entah dimana, sedang teman putriku yang lain . . . . ? Entahlah. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyelinap. Kebersamaan kami selama ini telah hilang bersama kepergian empat hariku ke Jakarta dan itu sangat menyedihkan.


Kulangkahkan kaki menuju halaman dan segera kugabungkan diri dengan petugas yang sedang membuat hunian sementara untuk pengungsi korban longsor.


Dalam diam aku hanya bisa memandang aktifitas yang sekarang sedang tersaji di hadapanku. Kulihat Syamsya dan yang lainnya sedang sibuk mengangkat balok kayu yang siap untuk dipakai sebagai tiang penyangga rumah kelima. Kehadiranku tak mereka sadari dan ini membuatku semakin merasa jauh. Bingung dengan situasi yang kualami hari ini, akhirnya kusarangkan pantatku di sebuah batu besar tak jauh dari hiruk-pikuknya warga.


“Mbak Rissa bisa membantu menganyam daun kelapa ini menjadi bleketepe ? “ tanya Pak Samsul sang kepala desa. Beliau sodorkan satu batang daun kelapa siap anyam dan segera kuterima. Kucari tempat kosong yang bisa kugunakan untuk menganyam bleketepe. Bleketepe adalah anyaman daun kelapa yang biasanya digunakan orang untuk membuat atap gubuk. Ayahku biasa mengandalkanku untuk membuatnya. Anganku masih kusempatkan untuk menyesali ketidaksengajaanku tak membalas Whatsapp dari nomor baru. Selama setengah jam, tiga buah bleketepe siap digunakan.


“selain pintar kuliah Adik ternyata pintar juga ya menganyam.” Puji Tentara yang kukenal beberapa seminggu lalu padaku sambil duduk di hadapanku


Aku mengangguk sambil tersenyum. “Mohon maaf atas segala kesalahan yang sudah saya lakukan Kakak,” ucapku pelan. Laki-laki itu hanya tersenyum. Dia ambil bleketepe yang sudah jadi dan dia jadikan alas duduknya.


“ Katanya adik kuliah di fakultas psikologi ?” pertanyaannya jauh sekali dari topik yang kuciptakan. Aku sengaja diam, tak menjawab pertanyaannya karena aku tahu itu tak akan ada artinya. Kuletakkan bleketepe ketiga dan kuambil satu helai daun kelapa selanjutnya yang siap kuanyam.

__ADS_1


“Aku sudah memaafkan. Tadi hanya bercanda kok. Maaf ya ! “katanya pelan nyaris bergumam. Aku sengaja diam. Kuingin dia penasaran padaku. Aku tak mau terlau agresif menanggapi setiap laki-laki sehingga diriku terkesan sangat membutuhkannya. Tidak. Aku lebih menyukai diam dan membiarkan orang lain menganggap diriku sesuai keinginannya.


“Sekarang kok jadi Adik yang marah? Ditanya tidak menjawab, “sambungnya sambil tersenyum memandangku. Suasana yang ramai di hadapan kami tak membuatnya malu berada di hadapanku.


“Tidak ada yang perlu saya jawab. Maaf, anda bisa membantu menganyam daun kelapa ini. Dari pada hanya duduk melamun menanti jawaban dari orang yang sama sekali tidak ingin menjawab. “ jawabku masih dengan kesibukanku menganyam. Laki-laki misterius ini kulihat tak memperdulikan perkataanku. Dia masih duduk tenang di hadapanku dan tetap dengan pertanyaannya untukku.


“ Kalau anak psikologi berarti pandai sekali mengatasi masalah. Pandai membawa diri dan bla bla bla ... ” tak kuhiraukan semua pujiannya.


Satu kalimat yang menyangkut di telingaku adalah pandai mengatasi masalah ? Aku bahkan merasa betapa diriku tidak pantas menjadi seorang psikolog. Bagaimana mungkin ? Aku bisa mengatasi masalah orang lain tapi aku sendiri gagal mengatasi masalahku sendiri.


“ Adik melamun ?”


“ Tidak . Cuma sedang memikirkan satu kalimat. Bisa jadi kalimat itu datang dari lubuk hati yang paling dalam atau muncul untuk menghina. “ Ucapku ketus.


“Apa maksudnya ? Ucapanku tadi datang dari lubuk hati yang paling dalam.”sambungnya. aku tersenyum. Kutahu dia hanya menggoda. Tak satupun kalimat yang kulontarkan sekedar untuk menghidupkan suasana.


“Mengapa Dik Risa tersenyum ? Ada yang salah dengan ucapanku ?” aku mulai salah tingkah. Pandangannya tajam ke arahku.


“Kakak, sebelum hari ini, atau lebih tepatnya kemarin saat kita belum seakrab sekarang, semua orang tahu kalau hatiku terluka, cemburu dan iri melihat seseorang dekat dengan orang, andalah penenangnya. Saat saya menangis, bersedih dan entah apalagi andalah psikolognya. Bukan saya. Jangan seperti kura-kura dalam perahu. Aku masih sangat mengingat. Semuanya. Betapa tidak pantasnya diriku menjadi seorang psikolog yang mengatasi masalah sendiri saja tak mampu. Saya bahkan kesulitan melakukan semua nasihat yang sering saya gunakan untuk membantu masalah orang.”gumamku.


“Tidak ada pemotong rambut yang bisa memotong rambutnya sendiri dengan bagus. Wajar saja. Adik butuh orang lain untuk bisa memecahkan masalah sendiri.”Aku menunduk. Tak ingin rasanya berdua lama-lama dengannya. Aku juga tak ingin berlama-lama berada di sebelahnya hingga tanpa sadar aku berdiri dan memohon diri padanya.


“ Kita masih belum bicara banyak kan ?”pintanya. ‘Duduklah, aku ingin bicara lebih banyak agar bisa mengambil banyak ilmu dari mahasiswa cerdas sepertimu.”


“ Maaf, Kak, rasanya saya harus segera pergi. Tidak enak kalau di sini. Banyak mata memandang ke arah kita. Aku tak mau mereka beranggapan bahwa saya sedang memanfaatkan situasi untuk bisa dekat dengan Kakak. Assalamualaikum”


Tentara di hadapanku menarik tanganku dan mengajakku duduk di bleketepe yang sudah saya anyam tanpa menghiraukan ekspresi marahku.


“Aku bahagia sekali kalau mengobrol dengan orang cerdas. Please, tolong jangan tinggalkan aku.” Pintanya. Aku duduk mengikuti perintahnya.


“Ceritakan padaku tentang latar belakang yang membuat Adik bisa menyukai dunia tulis menulis.” Dia mengambil ponselnya dan entah apa yang sedang ia lakukan, ia mengarahkan ponselnya ke arahku. Mungkin dia sedang melakukan wawancara pura-pura untuk membuat memorinya penuh, atau ia seekedar berakting.” Belum kujawab pertanyaannya, ponselku berbunyi. Kulihat nama ibu di panggilan. Kugeser gambar telpon warna hijau dan akhirnya kusapa ibuku


“Assalamualaikum, Ibu.”


“Kau benar-benar abak nakal ya. Masa sudah di bandara tidak mampir rumah. Apa kamu tidak kangen sama ibu ?” suara ibu yang keras membuat Pria di hadapanku mengerutkan dahinya.


“Maafkan Marisa Ibu. Bukannya tidak kangen, tapi pihak kampus menginginkan kami langsung pulang karena rektor dan bupati sudah menunggu untuk perayaan tadi malam. Insya Allah ahad depan Risa pulang ya.”


“Ya sudah kalau begitu. Salam untuk teman-temanmu di situ ya.”


“ Insya Allah, Bu. Ibu bagaimana kabar ?”


“ Ibu Alhamdulillah baik. Ya sudah kalau begitu. Tutup dulu ya, assalamualaikum”


“ Waalaikum salam warahmatullah”

__ADS_1


__ADS_2