
kepala desa. Lina membantuku membawakan Bakul berisi nasi, dan meletakkanya di meja dekat dengan para pengungsi. Sulis, menyusulku sambil membawa tempat sayur di kedua tangannya. Rofi juga tak ketinggalan. Ia membawa ceret berisi air teh yang sudah disiapkan sejak tadi. Beberapa ibu muda juga sibuk membawa piring dan sendok lalu menaruhnya di meja panjang. Meja yang tadi kosong sekarang sudah penuh dengan hidangan. Kami mempersilahkan semua pengungsi dan relawan untuk sarapan.
Sambil menunggu mereka selesai sarapan, aku berniat untuk keluar dari aula menuju dapur umum. Baru saja aku melewati pintu masuk, mataku menangkap sebuah pemandangan yang sungguh sangat membuat hatiku yang sudah terluka melelehkan darah kembali. Kulihat Syamsa dan Qomar sedang duduk berdua di bawah pohon karsen tak jauh dari tempatku berdiri.
“Kau mengapa belum mulai memakai kerudungmu Sya ?” Tanya Qomar sambil menatap Syamsa dengan lembut. Nampak sekali air mukanya berseri. Berbeda dengan saat dia berada di hadapanku tadi pagi.
“ Aku lupa, Mas. Tadi aku kan buru-buru menuju mushola dan memanggil Risa untuk menemuimu di posko kan? Akhirnya karena terlanjur tak berkerudung, ya sudah kulanjutkan saja tak berkerudung.” Sahut Syamsa manja. Kulihat Qomar hanya mengangguk.
“Pokoknya kau harus secepatnya memakai kerudung.”Pinta Qomar.
“Iya, aku janji mulai nanti aku akan memakai kerudung yang sudah kau belikan kemarin.”
“Aku senang akhirnya kau bias kembali ceria seperti sebelum kau terkena musibah.”
Kulihat Syamsa hanya menunduk lalu tersenyum. Nampak sekali ia malu-malu melirik Qomar dengan ekor matanya.
Yaa Tuhan ! Mengapa hatiku sakit seperti ini ? Apakah aku cemburu pada kedekatan mereka ?
“Oh, tidak. “ hatiku berontak. Ingin sekali kulangkahkan kakiku sekedar menjauh dari pemandangan yang tak mengenakkan hatiku, namun langkah kuurungkan karena aku melihat dokter Wildan sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memperhatikan gerak gerikku.
“ Kelihatannya ada yang sedang cemburu hari ini” goda dokter Wildan padaku. Aku hanya bias tertunduk menahan malu.
“Apaan sih, Dokter. Siapa yang cemburu?” ucapku lirih.
“Beda di bibir beda di hati” sekali lagi dokter Wildan menggodaku. Ia tetap dengan senyumnya menggodaku. Aku semakin menunduk.
“Eh, Risa, kau tidak ingin melihat apa yang selanjutnya mereka perbuat ?” Tanya dokter Wildan sambil menunjuk ke arah Syamsa dan Qomar. Mataku hanya mampu mengikuti telunjuknya. Kulihat mereka sedang tertawa bahagia. Syamsa mulai memegang lengan Qomar dan Qomarpun menerima tangan Syamsa.
“Kau pasti bercanda kan ?” Tanya Qomar pelan.
“Tentu saja tidak. “ sahut Syamsa masih dengan senyum bahagianya. Aku tidak tahu apa topik yang sedang dibahasnya karena terputus oleh godaan dokter Wildan.
“Kalau aku boleh menyarankan sesuatu padamu, Risa.”
“Sa . . . saran ?” aku mulai tergagap.
“Iya.” Dokter Wildan masih setia dengan senyumnya menggodaku.
“ U . . . untuk apa, Dokter ?” aku merasa semakin bodoh. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia maksud. “Saran untuk apa ?” sambungku.
“Ha ha ha “ kali ini dokter Wildan benar-benar tergelak. Suara tawanya membahana membuat semua mata memandang kearahku.
“Risa . . . Risa. Kau ini benar-benar ya.’
“Ada apa denganku Dokter ?” tanyaku penasaran melihat dokter Wildan masih terus tergelak. Aku cemberut. Ingin sekali kutinggalkan dokter itu kalau saja ia tak memegang tanganku mengajakku untuk duduk di tempat Qomar dan Syamsa duduk, namun aku menolak.
Menerima tolakanku, dokter Wildan membawaku duduk di bangku dekat dengan aula balai desa.
“Eh, aku yakin kau bukan gadis bodoh. Tapi mengapa hari ini kau benar-benar kelihatan sangat bodoh.” Katanya. Aku tertegun mendengar kalimatnya dokter Wildan, Dalam hati aku mengutuk kalimat-kalimatnya, setahuku, sedari tadi yang dia katakan hanya bodoh, bodoh dan bodoh. Atau aku yang keliru ? Mengapa hanya satu kata itu yang bias tertangkap telingaku?
“Aku memang bodoh,” gumamku.
“Apa ?” Dokter Wildan syok mendengar pengakuanku. “Ah, bukan itu maksudku,” sambungnya. Dia Nampak frustasi. Diremasnya rambutnya yang pendek lalu perlahan meninggalkanku. Melihatnya pergi, langkah kuayunkan ke dapur umum untuk membantu relawan menyiapkan makan siang.
***
Di dapur umum, kulihat Lina, Sulis, Rofi dan Mita sedang sibuk mengupas bawang merah. Aku langsung bergabung dengan mereka. Kuambil pisau kecil yang sejak tadi tergeletak di atas tampah dan dengan segera kuambil bawang merah yang sudah dikupas untuk kuiris.
“Apakah ini akan diiris semua, Lin ?” tanyaku memastikan agar nanti tidak terjadi kesalahan kerja.
“Iya. Bu Kades bilang bawang merah masih kurang sebenarnya, tapi beliau menyuruh kita untuk mengirisnya sampai habis. “ jawab Lina sambil memandang wajahku.
“Kamu kenapa ?” sambungnya.
Aku terpana melihat air muka Lina yang menatapku penuh curiga.
“Aku ? “
“Iya, kamu kenapa ?”
“Memangnya ada yang aneh dengan wajahku ? “ aku bingung melihat Lina menjadi bingung. Dua temanku yang lain ikut memandangku.
“Apa kamu sakit Risa ?” Tanya Sulis sambil memegang keningku.
__ADS_1
“Tidak, Lis. “
“Kamu yakin kamu baik-baik saja ?” Meta menambahkan.
“Iya, aku baik-baik saja.”
Bertiga saling pandang. Kulihat Lina menggeleng dan yang lainnya mengikuti.
“Sudahlah !” kata Lina sambil melanjutkan pekerjaannya.
“Orang yang lagi jatuh cinta memang sulit sekali ditebak. Kadang sedih, kadang ceria, kadang emosional tapi apapun itu kesimpulannya hanya satu.” Masih dengan mengupas bawang, Lina bicara seolah-olah untuknya sendiri.
“Eh, memang ada yang sedang jatuh cinta ?” Tanya Sulis pura-pura polos.
“Tau” jawab mereka bertiga bersamaan.
“Ha ha ha “ akhirnya mereka tertawa bersama. Aku hanya bias diam. Sibuk dengan lamunanku. Anganku melayang membayangkan bagaimana dokter Wildan mengatakan aku bodoh tadi. Mungkin memang yang dikatakannya benar. Bahwa aku memang bodoh, bahkan sangat bodoh.
Oh God.
Baru dua siung bawang merah yang kuiris, namun kurasakan kedua mataku pedas luar biasa. Dan di suing yang ketiga, sudah sangat sempurna, air mataku mengalir perlahan.
“Kamu menangis, Risa ?” Tanya Mita mengejutkan.
“ Mataku pedas sekali, Mit. “ jawabku pelan.
“ Ya sudah, jangan kau lanjutkan mengirisnya. Kau bisa mengerjakan yang lain. “ sambung Lina sambil terus memandangku.
“Kalau kau sakit jangan memaksakan diri, Ris. Kau boleh pulang ke kos. Bisa memeriksakan diri ke dokter lalu istirahat dengan tenang. Setelah kau sembuh, kau bisa ke sini lagi.” Ucap Sulis pelan.
“Aku tidak apa-apa, Lis. “
“ Baiklah kalau begitu. Sekarang ikut aku ke ruang kesehatan!” Ajak Lina setengah memaksa. Aku hanya menurut saja. Mengikutinya sampai ke ruang kesehatan menghadap dokter Wildan yang terperanjat melihat kedatangan kami.
“Ada apa Lina ? Apa yang terjadi pada tuan putri hari ini ? “ godanya.
“Dokter bisa mengeceknya sendiri. “ perintah Lina sambil mengerlingkan sebelah matanya pada dokter Wildan. Dokter Wildan akhirnya menyuruhku untuk tiduran di dipan pasien. Aku hanya diam, tak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan padaku.
“Ayo, tiduran di sini. “ perintah dokter Wildan sekali lagi.
“ Risa, kau tak mendengar perintah dokter ?” sapa Lina gemas.
“Bukan tidak mendengar. “ sahutku agak kesal. “ Aku hanya bingung mengapa dia menyuruhku untuk tiduran. Aku baik-baik saja dan tidak ada yang perlu di periksa pada tubuhku. “ sambungku.
“O iya ?” Goda Lina sekali lagi.
“ Dokter !”
“Ya, Nona.” Aku tersenyum mendengar jawaban dokter Wildan. Tak mengira kalau dia akan menggodaku sedemikian rupa.
“Kenapa tersenyum ?Kau tidak sedang berusaha untuk menggodaku kan? “ Tanya dokter Wildan penuh selidik.
Aku hanya bisa menggeleng. Suasana di ruangan ini benar-benar menegangkan. Ini membuatku merasa sangat tidak nyaman. Ingin rasanya aku menangis, namun aku tak tahu untuk alas an apa.dokter Wildan dan Lina menatapku penuh haru.
“Kau harus diperiksa, Ris. Aku tahu kamu kelelahan setelah beberapa hari ini menjadi relawan di sini.” Ucap Lina memelas. Tampak sekali kalau dia mengkhawatirkan kondisiku.
“Tapi aku baik-baik saja, Lin. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Tegasku.
“Lina, dia hanya butuh merenung. Kulihat tadi dia sangat cemburu melihat temannya sedang berdua dengan orang yang dicintainya. “ goda dokter Wildan pelan. Mendengar penuturan dokter Wildan, Lina memandangku tak percaya.
“Adakah yang sedang mengganggu pikiranmu tuan putri?”Tanya Lina sambil menunduk seraya memandangku penuh tanya. Ingin sekali aku tertawa melihat tingkah lakunya, namun segera kuurungkan karena kulihat dua orang perawat masuk.
“Ayo, kita ke dapur lagi, Lin!” ajakku seraya menyeret tangannya.
Dokter Wildan hanya geleng-geleng kepala menyaksikan pemandangan yang tak biasa tersaji di hadapannya.
***
“Jangan bilang kalau kamu cemburu pada dokter Wildan!” bentak Lina seraya memegang erat lenganku. Nampak sekali ia sedang menahan marah padaku.
“Santai saja, Lin. Aku tak ada rasa sama sekali padanya.” Sahutku santai. “Atau jangan-jangan kamu yang jatuh cinta padanya?” godaku.
Lina melotot.
__ADS_1
“Kamu bilang aku yang jatuh cinta ? KAmu tidak tahu wajah siapa yang hari ini bersedih ? Wajahmu kan ? Karena kau cemburu melihat perawat itu masuk saat dokter Wildan menggodamu?”
“What ?” Jeritku. “Jangan melempar batu pada orang lain. “ Aku bahkan sama sekali tidak ada rasa sama dokter itu. Karena aku masih waras, Lin. Tidak mungkin aku mencintai laki-laki yang sudah menikah.”
“KAu bilang dokter Wildan sudah menikah? Kupukul kepalamu kalau kau mengatakan itu lagi” ancam Lina sambil mengacak kerudungku. Sejenak ia termangu. Ragu kalau apa yang aku katakan benar adanya.
Dia menggandeng tanganku mengajakku duduk di bangku depan dapur.
“Siapa yang bilang ?” tanyanya lesu.
“Perawat di pos kesehatan.”
“Dan kamu percaya begitu saja ?”
“Lalu ?’ aku semakin penasaran pada Lina. Kulihat sekarang wajahnya mendung.
“Ada apa Lin? Apakah kau jatuh cinta pada dokter itu ?” tanyaku pelan. Takut orang lain mendengar.
“Tadinya aku mengira dia masih bujangan, Ris. “ jawabnya lesu.
“Jadi benar kau . . . . “ Kalimat kugantung. Aku tak ingin menyakiti hati sahabatku. Aku prihatin padanya. Dia tidak pernah jatuh cinta. Dan sekali jatuh cinta, dia harus menerima kenyataan bahwa orang yang dicintainya sudah ada yang memiliki.
“Kalau seperti ini, akulah yang patah hati, Ris. Bukan kamu.”Lina menunduk lesu. Perlahan aku melihat ada anak sungai yang mulai menghias wajah ayunya. Aku berdiri menghampirinya lalu kupeluk tubuhnya erat, ikut merasakan betapa sakitnya hati ini yang terluka karena cinta.
***
Entah berapa lama kami berpelukan.
Yang pasti, kami harus melepaskan pelukan kami setelah seseorang menjerit histeris memandang kami. Kulepaskan pelukanku dan melihat sumber suara yang ternyata Syamsa.
“Kalian apa-apaan sih ? Kok berpelukan ? Bukan anggota LGBT kan ? “ tanyanya penuh arti.
“Astaghfirullahaladziim” gumamku.
“Kenapa kau tega sekali menuduh kami LGBT Sa? “ tanya Lina penuh emosi.
“Ya, heran saja kalau ada dua perempuan saling berpelukan. Hii, ngeri,” katanya. Tentu saja Lina marah. Dia yang selama ini sangat memusuhi Syamsa karena sudah merebut perhatian Qomar, tiba-tiba menuduhnya sebagai anggota LGBT.
“Kelihatannya kita harus segera pergi dari desa ini, Ris. Aku takut, setelah beberapa hari kita bertempur tak karuan membantu mereka, keikhlasan kita menjadi ternoda karena kesalahpahaman mereka. “ Bisik Lina.
“Aku memang berniat pulang barang semalam untuk mengunjungi kos. Mas Kinkan bapak kosku sudah menanyakan kapan aku pulang berkali-kali via whatsapp.” Jawabku. “ Tapi tidak sesiang ini kan, Lin? Kita harus menyelesaikan tugas kita di dapur untuk makan malam.”
“Ih apaan sih kalian? Setelah tadi berpelukan, sekarang malah saling bisik. “ ucapan Syamsa benar-benar memerahkan telinga. Kami akan melemparkan sandal yang kami pakai kalau saja Qomar tidak dating melerai kami.
“Kalian bercandanya jangan kelewata, ah. “ kata Qomar sambil menarik lengan Syamsa.
“Habisnya mereka berdua benar-benar aneh, Mas. “ sungut Syamsa.
“Tapi tidak gitu juga dong Sa, masa kamu tega menuduh kami sebagai anggota LGBT?” protes Lina tidak mau kalah.
“Ah, sudah-sudah. Kita bubar. Kamu lagi, Ris. Kenapa kamu selalu membuat masalah ? Tadi malam absen dari koordinasi, e sekarang malah hamper berkelahi. “
“Apa katanya ?” tanya Lina sambil menarik lenganku masuk ke dapur.
“Sudah ! Semua yang dikatakan benar. Dia marah karena aku tidak ikut koordinasi tadi malam. Tapi seharusnya dia kan berusaha untuk bertanya dulu, mengapa aku tidak ikut. Bukan asal marah.”
Syamsa memandangku.
“Maafkan Mas Qomar ya Ris. Dia khilaf. Dia tidak tahu kalau kamu agak kurang enak badan semalam.” Ucap Syamsa penuh sesal.
“Kalau kamu tahu mengapa kau tidak menjelaskan padanya?” Lina tambah emosi.
“TApi aku sungguh tidak tahu kalau Mas Qomar memarahi Risa, Lin. Kalau aku tahu, pasti aku akan menjelaskan.
“Ah, sudahlah. Ayo kita ke dapur !” ajak Lina
Di dapur, semua persiapan makan siang pengungsi dan relawan sudah siap. Sulis kulihat sangat sibuk dengan nasi dan wadahnya. Mita yang sejak tadi mengelap piring, segera berhenti melihatku dan Lina berjalan dengan diam.
“Ada apa kalian ? Kelihatannya ada yang serius ?” sapanya penasaran.
“ Tidak ada apa-apa, Mit. Aku hanya kesal,” sahut Lina sambil menyentuh piring lalu membawanya ke ruang makan.
Selesai dengan kegiatan makan siang, relawan dan pengungsi duduk di ruang dalam balai desa karena hujan deras kembali mengguyur. pukul dua siang, Aku dan Lina memutuskan untuk kembali ke kos kami masing-masing dengan mengendarai sepeda motor Lina.
__ADS_1
Banyak yang mengira kami pulang karena marah pada Syamsya setelah pertengkaran itu, tapi akhirnya mereka paham setelah aku menjelaskan alasan kepulangan kami berdua. Aku harus jujur mengatakan bahwa banyak yang harus kulakukan dan kupelajari untuk membuat diriku lebih dewasa.