
Pagi ini usai subuhku, kukumpulkan pakaianku dan suamiku. Kubawa ke tempat cuci dan kurendam dengan detergent yang tersedia di sana. Melihat kegiatanku, Bi Tijah melarang.
“Biarkan saja di situ, Mbak Risa. Biar Sindi yang mencucinya.”
“Tidak Bi. Tolong jangan kau cuci rendaman ini. Biar aku yang melakukannya.”
“Mbak . . . di rumah ini sudah ada banyak pembantu dengan tugas masing-masing. Jadi Mbak Risa tidak perlu mencuci. “ Bi Tijah sekali lagi meraih tanganku agar tak menyentuh cucianku lagi. Mendengar keributan di ruang cuci, Aditya, suamiku datang dan melakukan hal yang sama dengan Bi Tijah.
“Benar yang dikatakan Bik Tijah, Sayang, biarkan baju itu dicuci Sindi.” Aku cemberut.
“Sayang, kau bisa melakukan hal lain untukku, ya. Ayo kita ke dapur. Ibu yang sedang masak butuh bantuan lho. Di rumah ini semua dikerjakan pembantu, kecuali memasak. Ayah tidak mau memakan masakan kecuali masakan ibu. Aku pun sama. Aku tak akan membiarkan orang lain menghidangkan makanan untukku kecuali istriku.”
“Aku juga punya prinsip. Siapapun tak boleh menikmati wangi pakaian suamiku, jadi tak ada orang yang boleh mencuci pakaian suamiku kecuali aku.” Aditya tertegun. Dia tidak pernah mengira kalau aku bisa setegas itu.
“Seperti itu ?”
“Jangan pernah berfikir bahwa mencuci tidak ada syariatnya dalam islam. Dari cucian, shalat kita bisa sah dan tidak sah. Aku tak mau ambil resiko. Bukannya aku tak percaya pada Sindi, tapi tolonglah, istrimu ini benar-benar tidak rela ketika ada orang lain menikmati aroma pakaian suamiku.”
“Sayang . . . maafkan aku ! Aku tak tahu kalau istriku ternyata seposesif itu.” Aditya memelukku erat. “ Oke, mulai hari ini, istriku yang akan mencuci pakaianku.” Aku tersenyum mendengar kalimatnya. “Tapi kau tetap harus mengijinkan aku membantumu.” Sambungnya.
“Kakak kan tak pernah bekerja, mana mungkin bisa membantu mencuci. Biar aku saja.”
“Kalau kau melarang, biarkan Sindi yang mencucinya.” Suamiku menarik tanganku.
“Oke, oke, Kakak boleh melihatku”
Suamiku mengacak kerudungku. Akhirnya kami berdua menyelesaikan cucian bersama, lalu menjemur bersama dan menikmati pagi bersama dengan memasak makanan kesukaan kami di dapur.
“Sejak kau menghidangkan gurami telur asin di rumah Bi Ijah, aku kok ingin makan gurami ikan telur asin setiap hari, Sayang. Maukah istriku memasaknya untukku hari ini?”
Kubuka kulkas dan kulihat isinya, namun tak kutemukan ikan di sana.
“Hanya ada ayam dan daging. Taka da ikan di sini, Kak.”
“Ya sudah, hari ini seadanya. Lain kali saja kau masakkan aku ikan gurami telur asinnya.” Kukeluarkan ayam dari freezer, lalu kudiamkan agar ayam tidak beku lagi. Kuhaluskan bumbu rica-rica dan kusiapkan ayam yang sudah tidak beku dengan memotong kecil-kecil. Kupanaskan air dengan panic presto, lalu kuletakkan potongan ayam di sana. Kupasang tutup dan kuhidupkan kompor dan kupanaskan ayam.
Sambil menunggu ayam matang, kusiangi bayam hijau lalu kucui dan kurebus dalam air mendidih yang sudah kuberi garam. Sepuluh menit kemudian, panci presto berdesis. Kumatikan kompor dan kubuang uap dalam panic dengan memasang sendok di tombol kecil yang ada di puncak tutup panic presto. Kuangkat bayam rebus dan kuletakkan di piring lonjong yang sudah kusiapkan sejak tadi. Kumasukkan potongan wortel dan taoge ke dalam air bekas rebusan bayam selama lima menit. Setelah lima menit, kuletakkan bersama dengan bayam.
Kusiapkan wajan dan kugoreng bumbu rica-rica lalu kumasukkan ayam yang sudah empuk di bumbu rica-rica yang sudah matang.setelah semua siap, kutata masakanku di meja makan. Suamiku menyiapkan piring dan sendok lalu menatanya di meja makan.
“Masya Allah, kerja sama yang menakjubkan !” Ibu mertuaku terkejut melihat aktifitas kami berdua. Ayah mertua dan nenek tersenyum melihat tingkah Ibu.
“Semua nampak sempurna, Sayang,” kata nenek yang sejak tadi menatapku.
“Terima kasih Nek. Saya sebenarnya tidak mengijinkan Kak Adit membantu, tapi KAk Adit memaksa, Nek. Mohon maaf atas kelancangan saya.” Ucapku sambil menahan malu. Aku khawatir kalau mereka bertiga tidak berkenan dengan semua yang kami lakukan.
“Tidak sayang. Biarkan dia membantumu. “Kata Ibu sambil memeluk tubuhku. “Ibu percaya kau bisa mengubah sifat manjanya.”
__ADS_1
“Aku bukan anak manja, Ibuku sayang.” Ucap Kak Adit sambil memeluk ibunya. Kami hanya tersenyum
“Iya, sejak kau mengenal Marissa, kau berubah seratus delapan puluh derajat,” sambung ayah. Semua tertawa melihat sikap Aditya yang menepuk dahinya.
“Kau jangan percaya pada mereka ya sayang. Sejak dulu sebenarnya Kakak anak yang mandiri, Cuma kedua orang tuaku saja sering memanjakanku, jadinya begini deh diriku.”
“Sudah-sudah, ayo kita sarapan !” Ajak nenek sambil mendorong kursi rodanya menuju meja makan. Kulayani suamiku lalu aku melayani nenek. Setelah itu, kuambil piring yang sudah disiapkan suamiku, dan kami makan dalam diam.
***
“Sayang, hari ini Kakak ingin menunjukkan sesuatu padamu,”
Aku hanya mengernyitkan dahiku. Tidak mengerti apa yang dikatakan Kak Adit padaku.
“Kakak ingin menunjukkan palagi padaku ?”
“Berdandanlah yang cantik karena aku akan mengenalkan istriku ini pada teman-temanku.” Ucapnya sambil mengenakan kemeja yang sudah kusiapkan. Setelah mandi kuganti pakaianku dengan gamis warna biru. Kukenakan kerudung motif dan kuoles wajahku dengan sedikit pelembab. Kupoleskan bedak tipis dan kuoles lipstik warna merah bibir. Tanpa bermaksud menunjukkan wajahku pada siapapun, akhirnya kukenakan masker wajah.
“Kau tidak memakai cadar sekalian, Sayang ?” kalimat suamiku membuatku ragu. Apakah dia tidak berkenan dengan maskerku atau dia benar-benar menginginkanku menggunakan cadar.
Aku segera menuju kamar mandi dan mencuci wajahku lalu keluar menemui Aditya. Melihat semua make up kubersihkan, dia mengernyitkan wajahnya.
“Yuk kita berangkat !” aku mendahului suamiku menuruni tangga.
“Tunggu !” kuhentikan langkah tanpa menoleh.
“Kali ini berdandanlah ! Kau akan kukenalkan dengan semua temanku di tempat kerjaku.”katanya sambil menggandengku dan mendudukkanku di kursi depan meja riasku.
“Aku sudah cantik, tidak perlu make up sama sekali.” Ucapku kesal.
“Wanita sholihah tak akan pernah menolak keinginan suaminya.” Akhirnya kuraih pelembabku, dan kutuang sedikit di telapak tanganku. Kuoleskan perlahan ke wajahku, setelah kering kupoles sedikit bedak dan lipstick seperti yang baru saja kuhapus.
Setelah semua selesai, aku berdiri.
“Ini yang kusuka darimu. Kau selalu patuh pada semua perintahku. Terima kasih, Istriku.” Digandengnya tanganku dan kami berjalan menuju teras belakang menemui mertua dan nenekku. Setelah berpamitan, kami berangkat dengan Honda Jazz silver.
Mobil berhenti di sebuah restoran di jalan lingkar yang menjadi jalan utama menuju ibukota propinsiku.restauran bernuansa anak muda. Dengan selvi corner dan taman indah di setiap sudutnya. Ada kolam ikan, dan balai kambang, yang bisa digunakan untuk memancing sekaligus memasak oleh pengunjung. Restoran yang sudah mulai ramai di waktu menjelang makan siang. Kami masuk dan duduk di meja yang sudah di pesan Aditya.
“Tolong lihat setiap sudut restoran ini!” titahnya. Aku merasa enggan dengan apa yang dia instruksikan. Aku merasa taka da yang perlu kulihat karena sejak awal masuk mataku sudah mengelilinginya.
“Mengapa kau diam, Sayang ? Apakah istriku tidak menyukai tempat ini ?”
Kulihat wajahnya sejenak.
“KAtanya ingin menunjukkan sesuatu padaku, lalu mengapa Kakak mengajakku makan ? Risa sedang tidak ingin makan, Kak.” Suamiku mendekatiku. Dia pegang kepalaku dan mulai memutar ke kanan, di sana kulihat banyak orang berdiri dengan seragam yang berbeda. Lalu dia memutar kepalaku untuk mengelilingi seluruh penjuru mata angina, dan yang kutemukan sama. Banyak orang berdiri di sekelilingku. Jumlah mereka mungki sekitar lima puluh orang. Aku masih tak mengerti dengan apa yang sudah ditunjukkan oleh suamiku.
Setelah beberapa menit mengelilingi penjuru ruangan, akhirnya beberapa orang membuka banner bertuliskan “Selamat datang Nyonya Irawan Adityawarman”
__ADS_1
Kupandang wajah suamiku dengan penuh tanya.
“Kami siap bekerja sama dengan Anda Nyonya Aditya.” Serempak mereka bicara. Aku semakin tak mengerti dengan apa yang baru mereka katakan.
“Apa maksudnya ?”
Aditya tersenyum. Dia pegang kedua tanganku dan diciumnya berkali-kali.
“Kau katakan saja padaku, apa yang kurang dari restoran ini ?” aku hanya menggeleng.
“Semua sudah sempurna. kalian sempurna membuatku bingung, tak mengerti dengan semuanya.”
“Sayang. Ini milikmu !”aku terkejut mendengar semuanya.
“Kalau bercanda jangan berlebihan, Kak. Bagaimana mungkin ini milikku.”
“Sayang, bisnis ini sudah kubangun sejak lima tahun lalu. Ayah dan ibu tidak tahu. Kalau mereka tahu, mereka pasti akan menghalangiku. Karena ayah menginginkan aku mewarisi usahanya di bidang desain tata ruang kota. Maukah istriku berjanji padaku untuk membantuku mengembangkan ini ?”
Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak pernah mengira kalau suamiku ternyata punya kekayaan yang lebih dari apa yang kulihat sejak kemarin. Aku bahkan tak pernah berfikir bahwa dia merintis sebuah usaha.
“Sayang, apakah kau marah padaku?” dia memandangku penuh rasa khawatir. Wajahnya pucat dan untuk menutupi kegugupannya dia menunduk.
“Aku benar-benar tidak tahu harus bicara apa.”
“Aku minta maaf karena tak pernah jujur selama ini. Ini kulakukan murni karena aku ingin mendapatka istri yang benar-benar mencintaiku apa adanya, bukan ada apanya. Please, berjanjilah untuk membantuku mengembangkan bisnis ini. Kakak ingin anak-anak kita kelak bisa menikmati hidup yang lebih baik, dan memiliki pendidikan terbaik, Sayang.”
“Terima kasih, Kak. Istrimu ini tidak bisa berkata apapun melihat betapa Suamiku adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Aku bersyukur Allah telah mengirimkan Kakak dalam hidupku.”
“Kakak yang harus bersyukur pada Allah, karena Dia telah mengirimkan bidadari yang siap mendampingi Kakak apapun dan bagaimanapun keadaannya. Tak melihat jumlah harta yang dimilikinya dan tak melihat kasta suaminya.”
Usai mengunjungi restoran, suamiku sekali lagi mengajakku ke sebuah tempat. Kali ini enuju arag Gebang rejo. Aku senang karena dia mengajakku ke tempat pertama kali kami bertemu. Namun ternyata dugaanku keliru. Sebelum menuju ke sungai dengan terasering yang indah, Aditya mengajakku ke sebuah peternakan. Dia memberiku sebuah masker. Sekali lagi kulihat beberapa orang menyambut kedatangan kami.
“Selamat datang Nyonya Irawan Adityawarman, kami siap bekerjasama dengan anda.”
Kutarik lengan suamiku dan menjauh dari orang-orang yang baru saja menyambutku.
“Jangan bilang kalau ini adalah peternakan Kakak!”
“Ini memang punya kita, Sayang. Maafkan suamimu!”
Sekali lagi aku syock, dengan apa yang baru saja kulihat.
“Ya Rabb, terima kasih telah kau kirim seorang suami yang menyembunyikan kekayaannya pada orang lain. Meski dia kaya, semoga tetap istiqomah melaksanakan semua kewajiban sebagai hambaMu.”
“Aamiin. Aku berjanji padamu untuk tetap sederhana seperti keinginan Nyonya Adityawarman.”
“Jangan sesuai keinginan Nyonya Adityawarman, tapi sesuai tuntunan Syariat Allah.”
__ADS_1
“Iya, sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah karena perintah Allah. Insya Allah”