Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
S2 Hal Baru di Kos Flamboyan


__ADS_3

Hi Readers !


Kangen dengan Marissa dan Irawan kan ? Alhamdulillah, author bisa up lagi. di Senyum Tuhan Untuk Marissa Seaseon 2. Happy reading !


******


Sore ini Marissa  dan Adit kembali ke rumah utama di Kauman.


Mereka segera menemui Mustafa dan Meisya, orang tua Adit.


“Assalamualaikum Ayah, Ibu. “ Marissa menyalami kedua


mertuanya dan mencium punggung tangan Mustafa dan Meisya.


“Waalaikum salam warahmatullah, Sayang. Dari mana saja


seharian tidak pulang ? Ibu kangen banget ingin mengobrol dengan menantu.”


Marissa tersenyum. Dia segera duduk dan memandang


Aditya, suaminya yang juga mengikuti kegiatannya.


“Kami baru saja mengunjungi sebuah restoran, Ibu. Kak


Adit yang mengajakku. ‘ Meisya nampak penasaran dengan apa yang baru saja dia


dengar.


“Restoran ? “ Marissa mengangguk.


“Iya, Bu.”


“Restoran siapa sampai-sampai kalian melupakan pulang


?” Aditya menarik nafas dalam. Ia ingin menceritakan semua pada orang tuanya.


Nenek Lusi yang sejak tadi duduk di kursi rodanya segera mendekat.


“Restoran yang baru kami kunjungi itu restoranku, Bu.



“Kau punya restoran ?” Aditya mengangguk.


“Adit mendirikannya lima tahun lalu, Bu. Setahun


setelah Adit meluluskan pasca sarjana. Saat itu, aku mencoba peruntungan dengan


beternak ayam dan bebek. Setelah semua besar, aku mencoba untuk menjual ke


pedagang, namun semua tidak sesuai dengan harga yang kukeluarkan untuk memberi


makan mereka. Akhirnya, dengan bismillah, kuputuskan untuk merintis sebuah  kaki lima di alun-alun yang di kelola oleh


Yudha dan teman-teman. Hingga akhirnya kaki limaku berkembang pesat dan aku


mendirikan restoran seperti sekarang.


“Subhanallah, pantas saja kau tidak pernah pulang ke


rumah ini, Sayang. Ternyata kau memiliki rumah lain yang kau singgahi.”


“Tapi mulai sekarang kami akan tinggal di sini


menemani Bapak dan Ibu serta Nenek.”


“Apakah itu benar, Sayang ? Nenek bahagia sekali


mendengar penuturanmu. Nenek juga berharap akan segera lahir cicit-cicit yang


banyak yang akan meramaikan rumah besar ini, iya kan Mei.”


Meisya mengangguk. ia benar-benar bahagia menerima


kehadiran menantu yang sangat lemah lembut di rumahnya.


“Semoga kehidupan anakku akan langgeng selamanya Yaa


Allah. Agar anakku selalu tersenyum seperti hari ini.”


***


Azan maghrib berkumandang di masjid kauman. Adit mengajak Marissa untuk


ikut serta menunaikan ibadah di masjid, meramaikan rumah Allah sambil tetap


bersilaturahim dengan tetangga di sekeliling mereka. Mereka menghabiskan


waktunya sampai isya datang.


Setelah menyelesaikan dzikir isya dan salat ba’da isya, Adit menunggu istrinya


yang masih duduk bersimpuh, bersama seorang nenek yang sedang menceritakan


sesuatu padanya. Saat ia melihat suaminya datang, Marissa segera memohon diri


pada sang nenek dan melangkah meninggalkan masjid menuju Aditya yang masih


setia menunggunya di teras.


“Sudah selesai ceritanya, Sayang ?”


Marissa mengangguk.


“Sudah, Kak. Tadi Nenek  bertanya


dimana rumahku kok baru lihat. Aku bilang bahwa aku adalah menantu Pak Mustafa,


dan sang nenek terpesona padaku. Beliau sudah ingin menemuiku sejak awal kedatanganku

__ADS_1


namun beliau sakit. “


“Apakah beliau Nenek Sinta ?” Marissa mengangguk.


“Iya.”


“Pantas saja Nenek Sinta tidak kelihatan saat resepsi. Ternyata sakit.


Yuk kita pulang. Aku ingin segera menikmati malam ini dengan istri cantikku.”


Rissa mencubit pinggang suaminya dan menggelayut manja di lengan Aditya.


“Jangan menggodaku di sini, Sayang. “


“Aku tidak menggoda, Kak. Tidak berbuat apapun kok.”


Adit tersenyum.


“Walau tidak berbuat apapun, tetap saja melihatmu aku tergoda.’


Aditya segera menggandeng tangan Rissa dan melangkah menuju rumah besar.


Mereka segera masuk kamar setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya yang


masih duduk bercengkerama dengan neneknya di ruang tengah.


Sampai di kamar, Aditya segera masuk kamar mandi untuk mencuci kaki dan


tangannya. Marissa segera mengikuti jeja suaminya setelah Aditya keluar, dia


masuk kamar mandi dan mencuci tangan dan kaki serta menyikat gigi. Ia segera


mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang dibawanya dari rumah kos.


Aditya memandang Marissa yang baru saja keluar kamar mandi. dia segera


melangkah dan naik di ranjangnya dan segera merebahkan tubuhnya di samping


suaminya. Aditya segera memeluk tubuh istrinya, mencium keningnya dan sesekali


mengusap wajahnya.


“Sayang, aku ingin.”


Marissa mengangguk.  aditya


tersenyum.


“memangnya kau tahu aku ingin apa ?’ Marissa mendongak. Ia mencoba


menatap suaminya yang masih menatapnya dengan tatapan menggoda.


“Katakan ingin apa !” Marissa mulai emosi. ia merasa dipermainkan


sehingga ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.


sambil memeluk tubuh istrinya dan membalikkan tubuh Marissa lalu mengecup


keningnya. ia bangkit. Melangkah menuju meja dan mengambil botol minuman yang


sejak tadi ia siapkan. Membuka tutup lalu meneguknya. Marissa ikut duduk. Ia


memandang Aditya dan menelan ludahnya.


“Apakah istriku mau ?” Marissa tersenyum.


“Ini


! Minumlah dari bekas bibirku ya.” Aditya mengulurkan tumbler dan membimbing


Marissa minum. Usai minum, Aditya membaringkan tubuh istrinya. Tangannya mulai


bergerilya, mengabsen satu persatu bagian-bagian sensitive. Marissa tak punya


pilihan lain selain mengikuti permainan suaminya. meski masih malu-malu,


akhirnya malam itu Aditya berhasil mencetak gol pertamanya setelah satu minggu


gagal karena tidak menemukan lubang gawangnya.


***


Satu


minggu setelah kepindahan Marissa  ke rumah suaminya,  ia


berkunjung ke rumah kosnya di flamboyan. Tak banyak yang berubah. Pohon mangga di sudut


halaman dekat dengan aliran air kecil masih gagah berdiri di sana. Yang berbeda


adalah posisi pot-pot bunga yang biasa disiram


setiap hari, kini berpindah tempat di sudut teras sebelah kanan rumah.


Sebelumnya mereka berada di pagar pembatas rumah kos dengan rumah mbak Narti


tetangga kos.


Marissa mengetuk pintu rumah pelan karena bel di pintu tak berfungsi dan tak


terdengar suara apapun di dalam. Lima menit belum ada jawaban,  Adit suaminyamengetuk untuk kedua kalinya.


“Barangkali


mereka sedang pergi, kita pulang dulu dan nanti sore kuantar dirimu kemari,


Dik.” Kata Aditya seraya menggandeng tangan istrinya hendak mengajaknya meninggalkan


teras rumah flamboyan. Belum lagi kaki mereka melangkah,  mereka mendengar seseorang membuka pintu dan mempersilahkan  sepasang suami istri itu masuk.

__ADS_1


“Rissa,


Pak Adit, silahkan masuk ! “ Rosa segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Adit dan Marissa  masuk mengikuti langkahnya.


“Sepi


sekali, Ros. Teman-teman kemana ?” Tanya Marissa  sambil mencari tempat duduk. Marissa duduk di sebelah Rosa dan suaminyaduduk membelakangi pintu menghadap ruang tengah.


“Sulis


pulang dan Sisy sudah keluar, Ris.”


“Sisy


keluar ? Tidak kos lagi maksudmu ?”



Iya, dia kembali ke rumah orang tuanya. Beberapa hari ini dia sering sakit.


Tubuhnya kurus dan konsentrasinya hilang. Di kamar dia selalu merenung, entah


apa yang dia pikirkan.”sambung Rosa.



Kau sudah menjenguknya Ros?”


Rosa


menggeleng sambil membetulkan posisi duduknya.


“Kita


menengok Sisy yuk !”


“Sulis


pernah ke sana, Ris. Tapi Sisy sudah tidak bersama orang tuanya. Mereka bilang


Sisy di rumah neneknya di Cianjur.”


“Ke


Cianjur ? Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Dia mahasiswa semester akhir dan


sebentar lagi akan menempuh skripsi, mengapa harus meninggalkan kuliah ?” Rosa


mengangkat kedua tangannya tanda ia tidak tahu jawaban atas semua pertanyaan Marissa. Ia memang jarang ke kampus karena wisuda baru akan dilaksanakan satu bulan lagi


dan  Aditya,


melarangnya mengajar di kampus lagi. Marissa  hanya boleh beraktifitas di dalam rumah,


menjahit, menemani mertua dan menulis buku. Tak lebih dari itu karena kedua


mertuanya ingin agar ia segera hamil.  Tak ada pilihan lain bagi Syamsa selain


mengikuti perintah suaminya. karena surga istri ada pada ridha suami.


“Ok kalau begitu, Rosa. Terima kasih atas


informasi yang kau berikan. Kuharap semoga Allah memberikan jalan keluar atas


masalah yang sedang dihadapi Sisy. “


“Aamiin,


kau doakan juga agar aku bisa segera wisuda, Ris. Bersamamu kelihatannya lebih asik.”tambahnya.


“Bukankah


tinggal satu bulan lagi digelar wisuda, Ros ? Semoga kau menyelesaikan skripsi secepatnya dan kita wisuda


bersama. “Sambungnya.


“Aamiin,


terima kasih.”


“O iya, aku datang karena aku ingin mengambil barang-barang


dan bukuku. “ Marissa dan Rosa melangkah meninggalkan Aditya yang masih duduk


memegang ponselnya.


Rosa membantu Marissa menata semua barangnya kecuali


beberapa barang yang masih dibutuhkan teman-temannya di kos, seperti alat makan


dan alat masak yang ia tinggal.


“Ini untuk kenang-kenangan ya”


“Terima kasih.”


“Aku


pulang dulu ya, hati-hati di rumah. Assalamualaikum”


“Waalaikum


salam warahmatullah.”


Marissa


keluar kamar membawa dua buah koper berisi pakaian dan buku-bukunya. Aditya


segera membantunya mengangkat dan memasukkan ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2