
Hi Readers !
Kangen dengan Marissa dan Irawan kan ? Alhamdulillah, author bisa up lagi. di Senyum Tuhan Untuk Marissa Seaseon 2. Happy reading !
******
Sore ini Marissa dan Adit kembali ke rumah utama di Kauman.
Mereka segera menemui Mustafa dan Meisya, orang tua Adit.
“Assalamualaikum Ayah, Ibu. “ Marissa menyalami kedua
mertuanya dan mencium punggung tangan Mustafa dan Meisya.
“Waalaikum salam warahmatullah, Sayang. Dari mana saja
seharian tidak pulang ? Ibu kangen banget ingin mengobrol dengan menantu.”
Marissa tersenyum. Dia segera duduk dan memandang
Aditya, suaminya yang juga mengikuti kegiatannya.
“Kami baru saja mengunjungi sebuah restoran, Ibu. Kak
Adit yang mengajakku. ‘ Meisya nampak penasaran dengan apa yang baru saja dia
dengar.
“Restoran ? “ Marissa mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Restoran siapa sampai-sampai kalian melupakan pulang
?” Aditya menarik nafas dalam. Ia ingin menceritakan semua pada orang tuanya.
Nenek Lusi yang sejak tadi duduk di kursi rodanya segera mendekat.
“Restoran yang baru kami kunjungi itu restoranku, Bu.
“
“Kau punya restoran ?” Aditya mengangguk.
“Adit mendirikannya lima tahun lalu, Bu. Setahun
setelah Adit meluluskan pasca sarjana. Saat itu, aku mencoba peruntungan dengan
beternak ayam dan bebek. Setelah semua besar, aku mencoba untuk menjual ke
pedagang, namun semua tidak sesuai dengan harga yang kukeluarkan untuk memberi
makan mereka. Akhirnya, dengan bismillah, kuputuskan untuk merintis sebuah kaki lima di alun-alun yang di kelola oleh
Yudha dan teman-teman. Hingga akhirnya kaki limaku berkembang pesat dan aku
mendirikan restoran seperti sekarang.
“Subhanallah, pantas saja kau tidak pernah pulang ke
rumah ini, Sayang. Ternyata kau memiliki rumah lain yang kau singgahi.”
“Tapi mulai sekarang kami akan tinggal di sini
menemani Bapak dan Ibu serta Nenek.”
“Apakah itu benar, Sayang ? Nenek bahagia sekali
mendengar penuturanmu. Nenek juga berharap akan segera lahir cicit-cicit yang
banyak yang akan meramaikan rumah besar ini, iya kan Mei.”
Meisya mengangguk. ia benar-benar bahagia menerima
kehadiran menantu yang sangat lemah lembut di rumahnya.
“Semoga kehidupan anakku akan langgeng selamanya Yaa
Allah. Agar anakku selalu tersenyum seperti hari ini.”
***
Azan maghrib berkumandang di masjid kauman. Adit mengajak Marissa untuk
ikut serta menunaikan ibadah di masjid, meramaikan rumah Allah sambil tetap
bersilaturahim dengan tetangga di sekeliling mereka. Mereka menghabiskan
waktunya sampai isya datang.
Setelah menyelesaikan dzikir isya dan salat ba’da isya, Adit menunggu istrinya
yang masih duduk bersimpuh, bersama seorang nenek yang sedang menceritakan
sesuatu padanya. Saat ia melihat suaminya datang, Marissa segera memohon diri
pada sang nenek dan melangkah meninggalkan masjid menuju Aditya yang masih
setia menunggunya di teras.
“Sudah selesai ceritanya, Sayang ?”
Marissa mengangguk.
“Sudah, Kak. Tadi Nenek bertanya
dimana rumahku kok baru lihat. Aku bilang bahwa aku adalah menantu Pak Mustafa,
dan sang nenek terpesona padaku. Beliau sudah ingin menemuiku sejak awal kedatanganku
__ADS_1
namun beliau sakit. “
“Apakah beliau Nenek Sinta ?” Marissa mengangguk.
“Iya.”
“Pantas saja Nenek Sinta tidak kelihatan saat resepsi. Ternyata sakit.
Yuk kita pulang. Aku ingin segera menikmati malam ini dengan istri cantikku.”
Rissa mencubit pinggang suaminya dan menggelayut manja di lengan Aditya.
“Jangan menggodaku di sini, Sayang. “
“Aku tidak menggoda, Kak. Tidak berbuat apapun kok.”
Adit tersenyum.
“Walau tidak berbuat apapun, tetap saja melihatmu aku tergoda.’
Aditya segera menggandeng tangan Rissa dan melangkah menuju rumah besar.
Mereka segera masuk kamar setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya yang
masih duduk bercengkerama dengan neneknya di ruang tengah.
Sampai di kamar, Aditya segera masuk kamar mandi untuk mencuci kaki dan
tangannya. Marissa segera mengikuti jeja suaminya setelah Aditya keluar, dia
masuk kamar mandi dan mencuci tangan dan kaki serta menyikat gigi. Ia segera
mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang dibawanya dari rumah kos.
Aditya memandang Marissa yang baru saja keluar kamar mandi. dia segera
melangkah dan naik di ranjangnya dan segera merebahkan tubuhnya di samping
suaminya. Aditya segera memeluk tubuh istrinya, mencium keningnya dan sesekali
mengusap wajahnya.
“Sayang, aku ingin.”
Marissa mengangguk. aditya
tersenyum.
“memangnya kau tahu aku ingin apa ?’ Marissa mendongak. Ia mencoba
menatap suaminya yang masih menatapnya dengan tatapan menggoda.
“Katakan ingin apa !” Marissa mulai emosi. ia merasa dipermainkan
sehingga ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya.
sambil memeluk tubuh istrinya dan membalikkan tubuh Marissa lalu mengecup
keningnya. ia bangkit. Melangkah menuju meja dan mengambil botol minuman yang
sejak tadi ia siapkan. Membuka tutup lalu meneguknya. Marissa ikut duduk. Ia
memandang Aditya dan menelan ludahnya.
“Apakah istriku mau ?” Marissa tersenyum.
“Ini
! Minumlah dari bekas bibirku ya.” Aditya mengulurkan tumbler dan membimbing
Marissa minum. Usai minum, Aditya membaringkan tubuh istrinya. Tangannya mulai
bergerilya, mengabsen satu persatu bagian-bagian sensitive. Marissa tak punya
pilihan lain selain mengikuti permainan suaminya. meski masih malu-malu,
akhirnya malam itu Aditya berhasil mencetak gol pertamanya setelah satu minggu
gagal karena tidak menemukan lubang gawangnya.
***
Satu
minggu setelah kepindahan Marissa ke rumah suaminya, ia
berkunjung ke rumah kosnya di flamboyan. Tak banyak yang berubah. Pohon mangga di sudut
halaman dekat dengan aliran air kecil masih gagah berdiri di sana. Yang berbeda
adalah posisi pot-pot bunga yang biasa disiram
setiap hari, kini berpindah tempat di sudut teras sebelah kanan rumah.
Sebelumnya mereka berada di pagar pembatas rumah kos dengan rumah mbak Narti
tetangga kos.
Marissa mengetuk pintu rumah pelan karena bel di pintu tak berfungsi dan tak
terdengar suara apapun di dalam. Lima menit belum ada jawaban, Adit suaminyamengetuk untuk kedua kalinya.
“Barangkali
mereka sedang pergi, kita pulang dulu dan nanti sore kuantar dirimu kemari,
Dik.” Kata Aditya seraya menggandeng tangan istrinya hendak mengajaknya meninggalkan
teras rumah flamboyan. Belum lagi kaki mereka melangkah, mereka mendengar seseorang membuka pintu dan mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk.
__ADS_1
“Rissa,
Pak Adit, silahkan masuk ! “ Rosa segera membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan Adit dan Marissa masuk mengikuti langkahnya.
“Sepi
sekali, Ros. Teman-teman kemana ?” Tanya Marissa sambil mencari tempat duduk. Marissa duduk di sebelah Rosa dan suaminyaduduk membelakangi pintu menghadap ruang tengah.
“Sulis
pulang dan Sisy sudah keluar, Ris.”
“Sisy
keluar ? Tidak kos lagi maksudmu ?”
“
Iya, dia kembali ke rumah orang tuanya. Beberapa hari ini dia sering sakit.
Tubuhnya kurus dan konsentrasinya hilang. Di kamar dia selalu merenung, entah
apa yang dia pikirkan.”sambung Rosa.
“
Kau sudah menjenguknya Ros?”
Rosa
menggeleng sambil membetulkan posisi duduknya.
“Kita
menengok Sisy yuk !”
“Sulis
pernah ke sana, Ris. Tapi Sisy sudah tidak bersama orang tuanya. Mereka bilang
Sisy di rumah neneknya di Cianjur.”
“Ke
Cianjur ? Lalu bagaimana dengan kuliahnya? Dia mahasiswa semester akhir dan
sebentar lagi akan menempuh skripsi, mengapa harus meninggalkan kuliah ?” Rosa
mengangkat kedua tangannya tanda ia tidak tahu jawaban atas semua pertanyaan Marissa. Ia memang jarang ke kampus karena wisuda baru akan dilaksanakan satu bulan lagi
dan Aditya,
melarangnya mengajar di kampus lagi. Marissa hanya boleh beraktifitas di dalam rumah,
menjahit, menemani mertua dan menulis buku. Tak lebih dari itu karena kedua
mertuanya ingin agar ia segera hamil. Tak ada pilihan lain bagi Syamsa selain
mengikuti perintah suaminya. karena surga istri ada pada ridha suami.
“Ok kalau begitu, Rosa. Terima kasih atas
informasi yang kau berikan. Kuharap semoga Allah memberikan jalan keluar atas
masalah yang sedang dihadapi Sisy. “
“Aamiin,
kau doakan juga agar aku bisa segera wisuda, Ris. Bersamamu kelihatannya lebih asik.”tambahnya.
“Bukankah
tinggal satu bulan lagi digelar wisuda, Ros ? Semoga kau menyelesaikan skripsi secepatnya dan kita wisuda
bersama. “Sambungnya.
“Aamiin,
terima kasih.”
“O iya, aku datang karena aku ingin mengambil barang-barang
dan bukuku. “ Marissa dan Rosa melangkah meninggalkan Aditya yang masih duduk
memegang ponselnya.
Rosa membantu Marissa menata semua barangnya kecuali
beberapa barang yang masih dibutuhkan teman-temannya di kos, seperti alat makan
dan alat masak yang ia tinggal.
“Ini untuk kenang-kenangan ya”
“Terima kasih.”
“Aku
pulang dulu ya, hati-hati di rumah. Assalamualaikum”
“Waalaikum
salam warahmatullah.”
Marissa
keluar kamar membawa dua buah koper berisi pakaian dan buku-bukunya. Aditya
segera membantunya mengangkat dan memasukkan ke dalam mobil.
__ADS_1