Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Apapun Untuk Putriku


__ADS_3

Sisy sudah dipindahkan ke kamar perawatan. Ruang VVIP, sesuai dengan asuransi kesehatan ayahnya yang seorang perwira menengah. Kesehatannya sudah mulai membaik seiring dengan persetujuan yang dibuat oleh sang ayah yang bersedia meminta Seno untuk menikahi putrinya.


Kemarin sore, Syaiful dan Seno baru saja bertemu di sebuah restoran tak jauh dari asrama. Mereka membicarakan rencana yang akan dibuat beberapa minggu ke depan.


“Pokoknya apapun yang Komandan inginkan dari kami, kami akan menurut. kami pihak perempuan tidak akan mempersulit keinginan Komandan. Hanya satu yang aku minta dari Komandan, jangan pernah sakiti anak perempuanku.”


Seno tersenyum. ia merasa bahwa permintaan Syaiful terlalu berlebihan.


“apakah itu tidak berlebihan, Kapten? Aku tahu semua kelemahan dan kelebihan putrimu bahkan melebihi Kapten sendiri. Dengan begitu, apapun yang akan kulakukan padanya adalah hakku. Aku tidak ingin diatur-atur apalagi oleh bawahanku sendiri.” Syaiful mendesah. ia merasa terpojok. Memang benar, ia bawahan dari Seno, namun ia sangat menyesalkan, seorang komandan Batalion seperti dirinya tidak memiliki sopan santun sama sekali pada orang tua sepertinya.


“Lalu apa yang harus kulakukan Komandan? Apakah aku harus menyerahkan begitu saja putri kesayanganku pada laki-laki yang tidak mencintainya?’


Sekali lagi Seno tersenyum. ia sangat tidak suka dengan tingkah Syaiful saat ini. andai ia bisa, ia akan mendepaknya dari battalion. Namun lagi-lagi ia harus mengekang keinginan dan mengendalikan emosi demi reputasinya di lingkungan kerjanya.


“Aku akan menikahinya.”


Syaiful terpana. Sama sekali tidak mengira bahwa orang yang selama ini digadang sebagai menantu benar-benar akan mewujudkan cita-citanya dengan mudah.


“BEnarkah, Komandan? Apakah Komandan tidak sedang bercanda?’


“Apakah aku ada wajah bercanda denganmu, Kapten?” Seno menatap Wajah Syaiful dengan sorot mata tajamnya. Mencoba mencari tahu rasa di balik wajah bulat sang bawahan.


“Ten-tentu saja tidak Komandan. Aku tahu apapun yang Komandan katakan, adalah nyata kebenarannya.”


“Itu yang tidak kusuka darimu, Kapten.”


“Ma-maksudnya?”


“KAu terlalu naïf. Kerjamu sudah kuketahui, bahwa kau hanya mementingkan atasanmu senang tanpa memikirkan bagaimana seharusnya kau bekerja yang benar. Itulah mengapa putrimu menjadi sangat keras kepala sepertimu.”


“Saya Komandan. Saya minta maaf atas sikap saya selama ini. saya juga minta maaf atas kelancangan putri saya pada Komandan. Ia seharusnya tahu diri. Tidak mencintai laki-laki terhormat seperti Anda apalagi mencoba mengganggu Komandan.”


“Apa yang kau tahu tentang hubunganku dengan putrimu?”


Syaiful terdiam. Ia tahu bahkan sampai sedetail mungkin. Meski anaknya belum menceritakan semuanya, anak buahnya telah melakukan investigasi dan melaporkan kelakuan putrinya padanya.


“Katakan!”


“Maaf, Komandan, saya tidak tahu apa-apa.”


“Bagus kalau begitu. Lalu kapan Kapten akan melaksanakan pernikahan kami?”


“Secepatnya setelah putri saya sembuh, Komandan. Kita juga harus mengajukan permohonan ke Pangdam. Setelah semua selesai, saya akan segera menggelar pestanya.”

__ADS_1


Seno mengangguk. ia tahu hatinya tidak menginginkan Sisy, namun ia yakin bahwa apa yang dikatakan Syaiful tidak selamanya benar. Seno tahu, Syaiful sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi pergerakannya, dari


menghilangnya Sisy sampai kembalinya dia dan kronologi dirawatnya sang anak sampai hari ini tidak ada yang luput dari pemantauan Syaiful.


Seno tahu, apapun akan meledak pada waktunya, jika hari ini dia tidak segera mengambil tindakan.


“Aku akan kembali.” Syaiful terperangah. Pesanan makanannya belum datang dan mangsanya sudha akan meninggalkannnya.


“Apakah Komandan tidak ingin menerima hidangan yang saya sajikan di restoran ini?”


“Tidak.”


“Sebentar lagi semua selesai Komandan.”


“Nikmatilah sesukamu. Aku tidak memiliki selera untuk makan bersamamu, Kapten.”


Seno meninggalkan restoran dengan tergesa. Sedangkan Syaiful segera melangkah menuju kasir yang sedang sibuk melayani sang pelanggan.


“Kalau karyawan di sini sudah tidak bisa bekerja dengan baik lebih baik kalian tutup saja restoran ini.” Syaiful menggebrak meja dan membuat beberapa karyawan menunduk. mereka tahu siapa dan bagaimana posisi laki-laki di hadapannya. tidak ada yang berani mengangkat wajahnya termasuk nasabah yang sedang melakukan pembayaran.


“Aku memesan makanan terbaik hanya dua porsi, waktu yang kusediakan sepuluh menit, tidak pakai lama dan tidak pakai bantahan. Mengapa kalian gagal melaksanakannya?”


“Ampun Kapten. Kami bena-benar sedang menyiapkan sajian ini. kami harus memastikan bahwa apapun yang kami hidangkan akan membuat pelanggan puas. Tidak ada . . .”


“Diam!”


“Kau?” Syaiful hampir menampar wajah laki-laki tampan di hadapannya kalau saja ia tidak melihat di belakangnya ada seorang wanita anggun berhijab panjang. Ia memandang wanita tersebut dan mencoba mengenali siapa pemilik wajah tenang yang hadir di sana.


“MAaf, Kapten, ada yang bisa kami bantu? Kami pemilik restoran ini, mohon maaf apabila karyawan kami melakukan kesalahan.” Marissa segera memandang jam tangannya lalu mengalihkan pandangan ke lembaran yang dipegang suaminya.


PEsanan datang tepat di jam 16. 15. Anda meminta untuk menyiapkan makanan selama sepuluh menit. Sekarang waktu menunjukkan pukul 16 30, itu pun terjadi karena Kapten marah-marah dulu pada karyawan. Kalau Kapten memberikan sedikit saja waktu untuk kami menghitung, saya pastikan bahwa karyawan kami


melaksanakan perintah KaApten tepat waktu.”


“Sudahlah, Nona. Saya tidak ingin berdebat dengan wanita.” Syaiful merogoh sakunya, mencoba untuk mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan.


“Maaf Kapten tidka perlu membayar makanan yang sudha membuat Kapten kecewa. Kami berikan Cuma-Cuma sebagai permohonan maaf kami atas pelayanan yang tidak memuaskan ini.”


“Bungkus semuanya dan aku tidak mau makanan gratis.”


“Mbak Mila, tolong laksanakan semua keinginan Kapten.” Ucap Marissa sambil meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Aditya. Syaiful terpana menyaksikan kepergian Marissa.


“KAu tahu siapa dia?” tanyanya pada sang kasir.

__ADS_1


“Tentu saja Kapten. Mereka berdua adalah pemilik restoran ini.”


“Aku tidak mau jawaban yang itu.”


“Lalu jawaban seperti apa yang Kapten inginkan?”


“Siapa nama pemilik restoran?”


“Nona Marissa dan Tuan Adit”


“Marissa? Sepertinya aku tidak asing dengan nama itu.” Gumam Syaiful sambil emnerima kembalian dan bungkusan makanannya. Ia segera meninggalkan restoran dan melangkah menuju mobilnya.


“Komandan sialan. Kalau kau bukan komandanku, aku sudah pastikan dirimu celaka karena aku. Sayangnya juga, aku tidak bisa melukaimu karena nasib anakku ada di tanganmu.”


Syaiful segera menyalakan mobil dan melajukannya menuju rumah sakit dimana Sisy dirawat. Setelah masuk ruang perawatan, ia segera menyerahkan makanan pada Meli yang sedang menunggunya dengan cemas.


“Apakah kau sudah bertemu dengannya?”


“Hem”


“Lalu?’


“Mereka akan segera menikah setelah pengajuan disetujui Pangdam.”


“Benarkah Ayah?” Mata Sisy berbinar bahagia. ia sama sekali tidak mengira kalau dirinya akan menerima kaba bahagia itu secepatnya.


“Ayah tidak akan pernah membuat putri Ayah kecewa.”


“TErima kasih, Ayah. Ayah memang selalu yang terbaik.”


“Dengan satu Syarat.”


“Syarat? Syarat apa, Ayah?”


“Kau tidka boleh terlalu mencintai suamimu.”


“Apa?”


“KAlau kau tidka mau, aku bisa mengurungkan semuanya sebelum terlambat.”


Sisy diam. ia sama sekali tidak tahu mengapa ayahnya mengajukan syarat yang baginya sangat sulit. Menikah dengan Seno adalah keinginan terbesarnya. Melayani suami adalah kebahagiaan yang harus dia lakukan,


mencintai Seno sudah ia lakukan bahkan sebelum ayahnya mengetuk palu persetujuan, namun syarat yang diajukan ayahnya sangatlah tidak masuk di akal. Mengapa ada seorang istr tidak boleh terlalu mencintai suaminya? Sisy mendesah. tidak ada pilihan lain selain mengangguk, mengiyakan apa yang menjadi keinginan

__ADS_1


ayahnya.


“Aku akan melakukan apa yang ayah inginkan.”


__ADS_2