Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Koma


__ADS_3

Sulis dan Rosa baru masuk ke pekarangan rumah orang tua Sisy ketika seorang tentara menyapanya.


“Selamat siang, Mbak. Apakah Mbak yang bernama Sulis dan Rosa?” mereka mengangguk.


“Iya, Pak. Saya Sulis dan ini teman saya, Rosa. Kami datang karena diundang oleh ibunya Sisy.”  Tentara di


hadapan Sulis mengangguk.


“Nyonya memberitahukan saya agar menjemput Mbak berdua untuk masuk. Nyonya masih di luar dan  sebentar lagi akan segera pulang. Mari silakan, Mbak.” Sulis dan Rosa mengikuti langkah tentara, menuju taman belakang, dimana di sana terdapat delapan kursi yang ditata melingkari meja bundar. Mereka memandang setiap sudut taman, mengagumi keindahannya tanpa bermaksud mendahului untuk duduk.


“Silakan duduk, Mbak. Saya akan segera kembali.” Tanpa menunggu perintah kedua, Sulis dan Rosa segera mengambil posisi. Duduk di kursi yang berada tepat di bawah pohon ketapang. Sedangkan sang tentara segera berlalu menuju halaman depan.


“Ternyata Ibunya Sisy mengundang kita ketika beliau tidak berada di rumah ya, Lis. Ada apa sebenarnya?’


“Aku tidak tahu, Ros. Apapun tidak dibicarakan di telpon padaku.”


“Seharusnya kau bertanya tadi. Ada masalah apa. Coba kalau kita datang untuk dimarahi. Bisa berabe kan kita. Mana kita sekarang berada di sarang tentara lagi.”


“Kau takut?”


Rosa mengangguk. ia memang merasa sedikit gemetar ketika menatap tentara yang mengantarnya. Meskipun nampak ramah pada mereka, namun sikap tegasnya masih belum mampu membuat perasaan Rosa tenang.


“Selama kita tidak bersalah mengapa harus takut? Kita bisa mengatakan yang sebenarnya kalau ibunya Sisy akan marah. Selama ini kan kita sama sekali tidak tahu menahu tentang kepergiannya, tentang masalah atau


tentang apapun.”


Rosa diam. mencoba menelaah ucapan Sulis. Ia mengakui kedewasaan Sulis memang lebih bagus dari dirinya yang masih setengah-setengah. Bahkan belum bisa dikatakan dewasa.


“Lis.”


 “Ada apa?”


“Aku merasa merinding.”


Sulis memandang Rosa yang mulai memucat. Ia tidak mengerti mengapa terjadi pada sahabatnya. Suasana yang terang, asri dan taman yang menyenangkan, justru membuat dirinya sangat nyaman. Menikmati suasana yang selalu ia rindukan. Namun berbanding terbalik dengan sahabatnya yang justru mulai


ketakutan.


“Jangan bercanda, Ros. Ini sangat bagus. Tamannya juga asri, angin berhembus sepoi-sepoi, menyibak kerudungmu yang melambai, seolah meminta lelaki pujaanmu hadi di sisimu. Kenapa kau ketakutan?”


“Come on, Sulis. Please. Pahami diriku. aku benar-benar takut.”

__ADS_1


Sulis memandang Rosa yang mulai menundukkan kepalanya.


“Kita bersabar sejenak. Menunggu kehadiran Ibunya Sisy, setelah itu kita segera kembali, OK?”


“Baiklah. Aku akan bersabar.”


“Kuharap ibunya Sisy tidak lama lagi . . .”


“Assalamualaikum. Kalian sudah menunggu lama?” Tiba-tiba seorang wanita anggun menyapa mereka. entah darimana asalnya, yang jelas kedatangannya membuat Sulis dan Rosa sedikit lega.


“Waalaikum salam, Bu. Saya Sulis,” Sulis berdiri lalu mengulurkan tangannya mencium punggung tangan Meli, ibunya Sisy.


“Saya Rosa, Bu.” Ucap Rosa sambil melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Sulis.


“Anak-anak yang manis. Kalian sudah menepati janji, dan aku sangat bahagia.”


“Mohon maaf, memangnya, Ibu mengundang kami dalam rangka apa ya?” Meli mencoba tersenyum. Walau hatinya menyimpan banyak kesedihan. Memandang dua gadis belia di hadapannya, ia teringat anaknya yang kini sedang terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit.


“Ibu minta maaf karena telah menyusahkan kalian. Seharusnya kalian sedang belajar atau sedang beristirahat. Tapi aku meminta kalian datang.”


“Sebenarnya ada apa, Bu? Apa yang terjadi pada Sisy? Mengapa dia tidak pernah berangkat kuliah?’


“Ibu . . .” Meli memandang Sulis. Tangan kanannya sesekali menyeka air matanya.


“Sisy sedang koma di rumah sakit. Hiks. Ia di ruang ICU sekarang.”


“Koma di ICU?” tanya Sulis dan Rosa bersamaan. Meli mengangguk. ia sama sekali tidak tahu harus memulai dari mana untuk membuat dua sahabat anaknya mengerti.


“Ceritakan pada kami apa yang terjadi, Bu. Ajak kami juga untuk berkunjung ke ruang perawatan Sisy.” Meli mengangguk.


“Iya, makanya aku menyuruh kalian datang kemari.”


“Mengapa tidak langsung meminta kami untuk datang ke rumah sakit? Kalau seperti ini kan merepotkan Ibu. Ibu harus mondar mandir rumah sakit dan asrama.”


“Tidak apa-apa, Sayang. Ibu juga harus mengambil beberapa barang Sisy.”


“Sejak kapan Sisy masuk rumah sakit, Bu?”


“seminggu yang lalu.”


“Seminggu yang lalu, dan Ibu baru memberitahu kami?”

__ADS_1


“Ibu hanya tidak mau kalian terlalu repot. Ibu tahu kalian sedang belajar.”


“Marissa kemarin datang dan menanyakan Sisy, Bu. Dia mengajak kami untuk datang ke rumah ini, namun kami tidak tahu Sisy di rumah sakit.”


Meli menggeleng.


“Jangan beritahu dia. Ibu tidak mau.”


“Kenapa, Bu? Diantara kami, dialah yang paling peduli pada Sisy. Dia berhak tahu keadaan sahabatnya, Bu.”


“Pokoknya jangan beritahu dia. Dia yang membuat Sisy seperti ini.”


Sulis dan Rosa menggeleng.


“Ini tidak benar, Bu. Rissa adalah gadis yang baik. Dia selalu berkorban untuk kami semua, termasuk berkorban untuk Sisy. Setelah dia tahu Sisy mencintai Pak Seno, dia mundur teratur. Dia bahkan memilih menerima pinangan Pak Aditya. Dosen yang saa sekali tidak dia kenal.”


“Apakah tidak kebalik, Mbak Sulis? Sisy yang banyak berkorban demi kebahagiaan Marissa? Selama ini Sisy bilang bahwa memiliki teman bernama Marissa, gadis egois yang maunya menang sendiri. Dia telah merebut Seno dari tangan anakku. Dia juga yang sudah menghancurkan hubungan Seno dan Sisy. Aku tidak mau mendengar namanya apalagi melihatnya datang menengok Sisy.”


Sulis dan Rosa saling pandang. Mereka tidak percaya pada apa yang baru saja mereka dengar. Sulis menarik nafas dalam. Mencoba menerima kenyataan pahit tentang penilaian Meli pada sahabat terbaiknya bernama Marissa.


“Sisy tidak ingin Marissa menengoknya.”


Sulis dan Rosa menarik nafas. Kecewa dengan keputusan yang diambil. Selama ini yang mereka tahu, Marissa dan Sisy sudah saling memaafkan. Sama sekali tidak ada dendam dan kebencian.


“apakah kami bisa langsung menengok Sisy sekarang? Kami khawatir kemalaman. Kami masih ada janji dengan teman di kampus.” Rosa mencoba memutuskan benang merah kebencian di hati Meli pada Marissa. Bagaimanapun memang semua harus di luruskan, dan sekarang bukan saat yang tepat untuk itu.


“Baiklah. Mari kita berangkat.” Meli berdiri dan melangkah menuju rumahnya. Sedang Sulis dan Rosa berjalan melalui samping rumah menuju halaman depan, dimana di sana sudah ada sebuah mobil yang dinyalakan, siap membawa mereka ke rumah sakit Khusus keluarga Tentara.


Sulis menghampiri motornya yang dia parkir di sudut halaman, menuntun dan menghidupkannya, setelah melihat Meli keluar rumah.


“Kalian tidak ingin ikut bersamaku di mobil?”


“Terima kasih, Bu. Kami pakai motor saja.’


“Baiklah. Ayo Pak Karman kita berangkat”


“Baik Bu.” Karman yang sejak tadi  berdiri segera membukakan pintu untuk Meli, lalu melangkah menuju pintu kemudi.


Setelah beberapa menit mereka sampai di rumah sakit. Mereka memasuki gerbang rumah sakit dimana di sana banyak sekali wajah-wajah tegang sedang berkerumun. Sulis dan Rosa hanya memandang mereka sekilas sambil tetap mengikuti langkah Meli menuju ruang ICU.


“Kamu Sulis, Kan?’

__ADS_1


__ADS_2