Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Kembali Menjadi Teman


__ADS_3

“ Selamat ya, akhirnya kakakku yang ganteng abiz itu menemukan gadis yang dia sukai.” Kata dokter cantik di hadapanku.


“Apa maksudnya dokter ? “ tanyaku penasaran.


“ Kelihatan kan ? Kalau kakakku mencemaskanmu. Padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti itu pada gadis manapun. Aku yakin Mbak Risa juga mencintainya. Terbukti dari tadi Mbak percaya sekali pada Kak Adit dan oh semuanya nampak sempurna. Semua sempurna dengan keunikan yang bisa membuat masing-masing saling penasaran.”


“Jangan tergesa-gesa, Dok. Kami sama sekali tidak saling mengenal“ sanggahku.


“Marissa memang belum mengenalku, tapi aku sudah sangat mengenalnya. Dia mahasiswa fakultas psikologi, asisten dosen dan penulis. Kami baru bertemu hari ini, Nancy. Tapi aku tahu semua kebiasaannya. Dia selalu ke masjid jika punya masalah dan tidak pernah berkeliaran di mall atau di tempat hiburan. I love her, Nancy. Satu kalimat yang baru bisa aku katakan pada seorang gadis, karena selama ini sulit bagiku mengungkapkan kalimat tersebut pada gadis manapun yang aku sukai. Inilah mungkin takdirNya untukku. Dan semoga Allah mengijinkan aku memilikinya.”


“ Aamiin” Aditya dan dokter Nancy kompak.


Dokter Nancy memandangku. Aku tak tahu, apa yang harus kuucapkan. Tak ada satu keinginanku membalas kalimatnya. Aku tahu orang yang mudah mengungkapkan cinta belum tentu sama dengan hatinya. Aku tak ingin kegeeran. Aku juga ingat peristiwa malam satu bulan yang lalu, saat dua laki-laki datang ke tempat kosku dengan mengatakan mendapatkan amanah dari Irawan adityawarman dan ungkapan Seno tentang perasaannya padaku. Aku tak ingin memutuskan untuk menerima dua laki-laki yang sama-sama mempunyai rasa cinta untukku. Tidak mungkin kuterima satu dari mereka dengan tergesa.


“ Dokter, kalau boleh saya meminta tolong’ pintaku pelan. Dokter Nancy dan Aditya memandangku seraya menganggukkan kepalanya. “ Tolong hubungi teman-teman saya, biar mereka yang menjaga saya. Pak Adit boleh pulang dan ijinkan saya disini dengan tenang. Pak Adit tidak perlu bertanggung jawab atas musibah yang saya alami, karena semua atas keteledoran saya. Terima kasih atas pertolongan yang sudah Bapak berikan, semoga Allah membalas budi baik Bapak.”


“Tenang saja, Mbak. Kakakku adalah lelaki siaga. Siap antar jaga. Dia akan sangat rela meluangkan waktunya untuk orang yang sangat dicintainya.”


“Tidak, dokter. Saya lebih nyaman bersama dengan teman-teman saya yang putri. Atau ijinkan saya pulang sekarang.”


Aditya menarik nafas dalam.


“Utusanku telah memberitahu teman-temanmu. Sebentar lagi mereka pasti sampai.”Aditya kelihatan sangat kecewa setelah mengucapkan kalimatnya.


“Assalamualaikum, Dokter, hasil rongent sudah dibaca dokter ahli,” seorang perawat mengantarkan amplop berwarna hijau bergambar logo rumah sakit. Dokter Nancy segera membuka dan menunjukkan hasilnya ke Aditya.


“ Semuanya aman, Kak. Tidak ada yang retak, berarti Mbak Marissa hanya terkilir. Kakak bisa memijitnya supaya rasa sakitnya berkurang. “ Kata Nancy sambil dengan mengulurkan tangannya kepadaku mempersilakan Aditya untuk mendekatiku.


“Terima kasih, Nancy. “ Aditya segera memandangku.


“Alhamdulillah tidak ada yang retak, Marissa. Sekarang ijinkan saya memijat kakimu yang terkilir, semoga segera sehat. “ tanpa menunggu jawabanku, Aditya menyentuh kakiku. Aku hanya bisa meringis menahan sakit.


Setengah jam pijitan di kaki dan tanganku selesai, aku sudah mulai bisa menggerakkan kaki dan tanganku meski perlahan.


“Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu. Meskipun sekarang sudah agak enakan, tapi bukan berarti kondisimu sudah stabil seratys persen.” Aku hanya mengangguk. Tak ada kata yang bisa kuucapkan menerima semua perhatiannya.


Aditya pamit hendak mengambil baju ganti di rumah. Sepuluh menit kemudian, Sisy, Rosa, Santi dan Lina datang.


“Assalamualaikum, Marissa. Tolong maafkan aku. “ Ucap Sisy sambil memelukku erat. “Aku seharusnya tak marah padamu, Ris. Maafkan aku.” Sambungnya. Dia menangis di pelukanku. “Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa ketika aku tahu Kak Yoyo mencintaimu, Risa.”


“Sudahlah, Sy, saya sudah memaafkanmu kok. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. “ aku mencoba untuk menenangkan SIsy agar ia tak terlalu merasa bersalah.

__ADS_1


“Tapi mengapa kamu tak pernah mau menyapaku, Ris ? Kamu juga sering pergi dari rumah tanpa memberitahu kami. “ sambung Rosa.


“Aku hanya enggan menjelaskan sesuatu yang sama berulang-ulang, sedangkan kalian tak pernah mau mengerti aku, terutama kamu Sy. Kalian hanya terbawa emosi dan bagiku tak ada gunanya memintamu untuk mengerti. Aku yakin, suatu hari nanti kita akan bersama lagi. Dan inilah bukti dari semuanya. Bagaimanapun caranya Allah memberi jalan keluar untuk masalah kita.”


“Eh ngomong-omong, kamu jatuh dimana sih ? Kok sampai Pak Adit yang menelpon kita untuk datang ke sini ?” tanya Lina penuh selidik.


“Memangnya kamu mengenal Pak Adit ? “tanyaku.


“ Kamu kali yang tidak kenal. Semua mahasiswa mengenal beliau dengan baik. Terutama karena elok parasnya. Iya kan Rosa ?”


Digoda Lina, Rosa hanya tersipu. Kupandang Rosa dan dalam hatiku hanya bisa berkata, jangan-jangan setelah Sisy, Rosa yang akan marah padaku kalau dia tahu Pak Adit sudah melamarku.


“Memangnya ada apa dengan Rosa dan Pak Adit, Lin ? “bisikku saat kedua temanku, Rosa dan Sisy meninggalkan ruangan.


“Dia jatuh cinta pada Pak Adit masa kamu tidak tahu ?” sahut Lina. Aku hanya menggeleng. Muncul kesedihan yang mendalam di hatiku saat kudengar penjelasan Lina. Aku ingin sekali mengutarakan semuanya tentang Aditya namun kuurungkan karena Sisy yang entah darimana, masuk ruangan dengan tergesa.


“Ada Pak Adit Lin. Mengapa beliau di sini ?” tanyanya penasaran. Lina hanya mengangkat bahu. Aku memandang Sisy dan mengalihkan ke pintu. Aditya sudah berganti pakaian, sebuah kaos berkrah warna coklat susu ia padukan dengan celana panjang warna coklat tua yang ia kenakan nampak sangat cocok dengan kulit sawo matangnya.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikum salam warahmatullah, Pak Adit.”


Aditya mengucapkan salam lalu segera menuju sofa yang berjajar dengan bed pasien. Ia letakkan tasnya lalu memandangku dan mendekat.


“Alhamdulillah sudah membaik, Pak. Kalau bisa hari ini saya ingin pulang.” Ucapku.


“Nancy sudah menelponku kalau hari ini kau bisa pulang. Alhamdulillah tidak ada yang bermasalah. Kamu hanya butuh istirahat ! Manfaatkan waktu sebaik mungkin. “


“Terima kasih, Pak. Bagaimana kami harus membayar administrasi rumah sakit ?” tanya Lina mewakiliku.


“Semua sudah beres. Kecelakaan ini tanggung jawabku, jadi kalian tidak perlu repot-repot untuk biaya administrasi. O iya, mobil sudah siap mengantar di depan, mau pulang sekarang atau ada yang perlu di tanyakan ?”


“Sekarang saja, Pak. Terima kasih untuk semuanya. “Sahutku cepat. Mendengar jawabanku, Aditya langsung tersenyum. Ada binar indah di matanya yang kutangkap. Aku tersenyum. Dia mengulurkan tangannya hendak menggendongku, namun aku menolak. Aku tak ingin dia terlalu ringan tangan padaku sedangkan kami bukan muhrim. Allah tak mengijinkan kami untuk saling menyentuh sebelum pernikahan dilaksanakan.


Dibantu Lina, saya bangun. Kucoba untuk berjalan meski tertatih, tangan kananku dituntun Lina sedang tangan kiriku dituntun Sisy. Rosa dan Santi membawa tas kecilku yang berisi telepon selulerku.


***


Hari-hari selanjutnya saya jadi sering bertemu dengan Aditya. Dia selalu menemuiku seperti siang ini, dari jauh sebenarnya saya sudah melihatnya dan sudah kucoba untuk menghindar. Aku tidak ingin terlalu sering berbicara dengan makhluk yang namanya laki-laki, namun semakin kuhindari dia semakin sering mendekati.


Di perpustakaan kampusku.

__ADS_1


Dari dalam aku sudah tahu kalau Pak Adit sedang menuju ke arahku, dan aku sengaja menenggelamkan diriku ke dalam kerumunan teman-temanku. Saat dia berlalu masuk, aku keluar dari persembunyian dan berjalan menjauhi kampus. Aku sengaja mencari jalan pintas untuk menuju rumah. Namun sayang, baru beberapa langkah kaki melangkah, tiba-tiba sebuah salam ditebar.


“Assalamualaikum” Sapanya sambil tersenyum penuh arti.


“Pak Adit dari mana kok lewat sini ? Jalan kaki lagi.” Kuberanikan diri menatap wajahnya. Pak Adit tersenyum. Ia tahu kalau aku hanya berpura-pura.


“Saya dari belakang mau ke rumah teman. Rumahnya dekat-dekat sini saja jadi ya, nggak ada salahnya kan kalau saya jalan kaki ?”


“ O. “ hany itu yang bisa kukatakan.


“Kok hanya O ya reaksinya ?” godanya.


“Em, . . . .” kucoba untuk mengungkapkan pendapat, namun kuurungkan karena kami kebetulan hendak bicara bersama. Berdua kami tersenyum, karena mengucapkan kata yang sama bersama.


“ Pak Adit dulu saja yang bicara.”


“ Tidak, silahkan Marissa saja.” Kulihat wajahnya berseri. Senyumnya mengembang lalu memandangku dengan lembut.


“ Maaf, saya sudah lupa mau bicara apa, Pak.’


“ Sama aku juga lupa.”


Kok sama sih kan nggak seru. Kompak banget. Padahal sungguh kami tidak diskusi dan janjian untuk lupa bareng.


“ Kok melamun ?”


“ Pak Adit tidak ada kegiatan hari ini ? “


Sejenak dia diam.


“ Tidak. Mau diajak ke mana ?” godanya.


“ Ya ndak kemana-mana. Cuma tumben saja siang-siang begini di jalan. Biasanya kan mungkin di perpustakaan atau di kampus, Pak.”


“ Kok pakai mungkin?”


“ Ya soalnya saya sendiri tidak pernah tahu kegiatan Pak Adit. Cuma menebak saja barangkali benar.”


“ O “


Berdua kami diam dan sebelum semua terlanjur jadi patung, kuberanikan diri untuk mohon diri. Meski basa basi, kutawari dia untuk mampir ke rumah.

__ADS_1


Dia tersenyum dan mengatakan, kalimat yang saya sendiri tak mendengarnya. Suara mobil di sebelah kami yang menghalangi pendengaranku. “Ya Tuhan, aku takut aku sudah jatuh cinta padanya.”


***


__ADS_2