Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

Selesai makan bubur ayam, aku dan keempat temanku pulang ke kos. Aditya kembali ke rumahnya dengan sepeda yang dia kayuh pean. Sebelum meninggalkanku, dia memandangku dengan senyum yang menghias wajahnya. Dia nampak sangat bahagia dan melihatnya aku tersipu.


“Kita ketemu ba’da duhur ya” pintanya seraya melambaikan tangannya padaku.


Aku tak menjawab apapun. aku hanya menunduk danteman-temanu bingung memandangku yang tak bereaksi pada ucapan Adit.


Kami berjalan dalam diam. Namun aku sadar teman-temanku sedang memandang ke arahku.


“Kau tak mendengar tadi Pak Adit bicara apa Ris?” Maulida memandangku. Sedang yang lain yang gemas menarik lenganku, bahkan ada yang memencet hidungku.


“Auw,” aku kesakitan namun tak sedikitpun mereka membebaskanku.


“Kamu kemana sih konsentrasinya Risa? “Sisy sekali lagi menarik hidungku. Kalau saja ada cermin aku mungkin sudah bisa melihat hidungku memerah karena ulah mereka.


“Memangnya aku salah apa pada kalian ?” aku memang merasa bodoh. Tak hisa berfikir jernih menerima perlakuan mereka. Aku tahu ini terjadi karena hatiku sedang berbunga bahagia.


“KAu bahkan tak menyadari apa kesalahanmu ?” tanya Maulida sambil melototkan matanya.


Aku hanya bisa menggeleng. Mungkin aku harus belajar dari mereka yang sudah banyak pengalaman yang berhubungan dengan laki-laki.


“Pak Adit mengajak kamu ketemu ba’da duhur, masa kamu tidak dengar ?” Susi tertawa terpingkal-pingkal.


“Aku dengar,” sahutku singkat. “Lalu apanya yang salah ?”


“Marisa, jadi kau mendengar yang diucapkan Pak Adit tadi ?” aku mengangguk.


“Lalu mengapa kau tidak menjawab ?” sambung Santi.


“Aku tak tahu harus menjawab apa.” Kalimatku kuucapkan dengan lirih.


“ha ha ha “ berempat mereka terpingkal-pingkal. Saking gelinya mungkin, sehingga mereka tidak bisa mengontrol tawanya. Bahkan Susi sempat tidak bisa menahan kencingnya. Dia jongkok di trotoar sebelah sekolah dasar belakang rumah kos. Lalu kulihat dia berlari mendahului kami.


“Memangnya ada yang lucu ya ?”


Kali ini semua tambah terpingkal-pingkal. Aku hanya bisa diam dan melihat mereka semakin terpingkal-pingkal. Aku berjalan mendahului teman-temanku yang masih duduk di trotoar. Aku malu pada pengguna jalan yang menyaksikan mereka tertawa namun aku hanya bisa diam dan tak bisa ikut tertawa. Mereka mungkin mengira aku idiot, sehingga tidak mengimbangi tawa teman-temanku.


Sampai di rumah kos, aku langsung menuju kamar mandi. Meski sebelum subuh aku selalu mandi, tapi keringat yang belum mongering di tubuhku membuat tubuhku terasa lengket dan aku sangat rishi.


Setelah semua kegiatan mandi kuselesaikan, aku mengambil air wudhu dan mendirikan duhaku.


“ O mari Bu, silakan masuk,” disela dzikirku, kudengar seseorang mengetuk pintu dan tak lama salah satu temanku menyuruh sang tamu masuk.


“Mohon maaf, ibu mau bertemu siapa ya ?”


“Saya ingin bertemu Marissa. Apakah ada ?” hatiku bergetar saat kudengar sang tamu mencariku. Rasanya aku tak punya kenalan ibu-ibu. Meski belum kulihat siapa sang tamu, dari suaranya sangat jelas kalau ia adalah seorang wanita paruh baya.


“Sebentar,Bu. Saya panggilkan. Kalau tadi kelihatannya sedang shalat duha. Semoga sekarang sudah selesai.”


Kusudahi doaku dan kulipat mukenaku lalu kuletakkan di atas kasurku. Kupakai kerudungku dan Sisy lalu masuk kamar memberitahuku bahwa ada ibu-ibu yang mencariku. Aku segera keluar untuk menemui tamuku. Seorang ibu memakai gamis warna ungu dipadu dengan kerudung motif. Meski nampak sederhana, namun ibu di hadapanku nampak sangat anggun. Aku merasa tak mengenal dia sebelumnya. Meski ragu, akhirnya kutemui dengan mengucapkan salam.


“Assalamualaikum, mohon maaf ibu mencari Marissa ?” tanyaku sambil menyalami sang ibu dan mencium tangannya khidmat.


“Waalaikum salam warahmatullah. Apakah kamu Marissa ?” tanyanya takjub.


Aku hanya mengangguk. Kusarangkan pantatku di sofa dekat dengan sang ibu yang sejak tadi terus memandangku.


“Kamu cantik sekali sayang. Selain cantik wajahmu juga berseri. Temanmu tadi mengatakan kau baru saja shalat duha ? Benarkah ?


Aku hanya tersenyum.


“Mohon maaf, Ibu mencari saya ada keperluan apa ya ? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu? “ Apapun dan bagaimanapun pendapatnya tentangku aku tak peduli. Aku memang merasa bahwa selama ini belum pernah bertemu.


“Bahkan dalam mimpi pun belum, Sayang. Tapi entah mengapa saat bertemu denganmu tadi, aku sudah langsung merasa cocok.”


“Cocok ? Cocok bagaimana maksud Ibu? Mohon maaf kalau saya tidak mengerti semuanya.”

__ADS_1


Sang ibu memelukku. Dia mencium keningku dan aku hanya bisa diam menerima semua perlakuan lembutnya.


“Aditya sudah bilang kalau dia baru saja mendapatkan gadis ayu impian hatinya.”


“Ja . . .jadi ibu adalah . . . .”kuputus kalimatku dan ibu di hadapanku mengangguk lalu tersenyum.


“Kita bersiap yuk ! Kita harus ke rumah sekarang. “


“Ke rumah ?” ah betapa bodohnya aku ini.


“Kita ngobrol di rumah ya ? Ibu ingin sekali bicara banyak denganmu.”


“Tapi Bu. . . saya . . . “


“Ayolah ! Aditya tidak sedang di rumah kok.”


Meski ragu akhirnya aku berpamitan pada ibunya Aditya dan menuju kamarku untuk mempersiapkan diri. Sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di becak motor menuju ke rumah Ibunya Aditya.


Sepuluh menit perjalanan, becak motor masuk ke sebuah rumah sederhana di seberang taman kota. Rumah yang sering kulihat saat aku mampir beberapa kali di taman kota. Rumah kecil namun nampak bersih dan asri.


“Ayo masuk !”


Aku mengikuti sang ibu dengan ragu. Dari luar nampak sepi, dan saat masuk, aku juga merasakan sangat sepi. Aku duduk di ruang tamu berukuran dua kali tiga meter seperti perintah sang ibu. Kulihat wanita paruh baya itu masuk dan tak lama kemudian, keluar bersama dengan seorang laki-laki paruh baya dan seorang nenek yang duduk di kursi roda.


“Assalamualaikum” Bapak paruh baya yang memakai celana pendek menyapaku dan langsung kusambut dengan jawaban salamnya.


“Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh”


Kusalami nenek di kursi roda dan kutundukkan kepala dan menangkupkan tanganku pada bapak paruh baya di hadapanku.


“Inikah calon cucuku Meisya ?” tanya nenek sambil memandangku. Ibu yang ternyata bernama Meisya mengangguk.


“Kamu cantik sekali, Nak. Pantas kalau cucuku Aidtya jatuh cinta padamu.” Nenek Aditya memelukku.


“Nenek terlalu berlebihan.” Ucapku pelan. Sang nenek tersenyum.


“Berjanjilah kau akan membahagiakan Aditya, Nak. Dia cucu nenek satu-satunya.” Sang nenek memegang tanganku.


“Saya tidak bisa berjanji, Nek. “


“Mengapa ?’ tanya nenek kecewa. “ Apa karena kau memandang rumah kami yang sangat sederhana ini ?” sambung nenek


“Marisa tidak memandang harta, Nek. Marissa akan berusaha maksimal untuk melakukan yang terbaik. Tapi Marissa tidak bisa menjamin kebahagiaan cucu nenek.”


Sang nenek memelukku erat.


“Sayang ! Nenek bahagia mendengar jawabanmu. “


“Terima kasih, Nek. “


“Aku jadi tidak sabar menunggu saat dimana kalian menikah dan pindah ke rumah kami.” Nenek masih memelukku.


“Marissa, sudah siang, ibu mau masak dulu ya. Ibu harus menyiapkan makan siang untuk keluarga.” Bu Meisya melangkah meninggalkanku di ruang tamu.


“Boleh Marissa membantu, Bu?” Ibu Meisya tertegun mendengar tawaranku.


“Apakah kau bisa masak ?


`”Insya Allah”


“kalau begitu cepatlah ! Sebentar agi Aditya pasti datang.” Ibumenggandeng tanganku mengajak ke dapur.


Sampai di dapur, Bu Meisya langsung menyiapkan semua yang akan dimasak untuk makan siang. Ikan gurami besar ia keluarkan dari kulkas.


“Kau punya ide mau dimasak apa ikan ini, Sayang ?’

__ADS_1


Aku berfikir sejenak.


“Bagaimana kalau Gurami telur asin dan sambal Matah Bu?” sahutku sekenanya.


“Kau bisa membuat sambal matahnya ?”


“ Insya Allah “


Kuambil gurami lalu ku filet. Kucuci sebentar lalu kuberi air perasan jeruk nipis, lalu kudiamkan beberapa saat. Kubuat bumbu Kentucky, lalu kulumuri ikan dengan telur lalu kugulingkan di tepung lalu kugoreng. Begitu seterusnya sampai semua ikan termasuk duri sudah selesai kugoreng. Kusiapkan telur asin mentah dan kusiapkan bumbu. Kugoreng bumbu dan kucampurkan dengan telur asin dan kumasukkan ikan goreng ke dalam bumbu telur asin. Kuracik sambal matah dan kusiapkan di mangkuk. Ikan gurami bumbu telur asin yang sudah kuletakkan di duri sisa filet, kuletakkan di piring panjang. Lalu kutaburi bawang goreng dan kuhias dengan irisan tomat dan daun selada.


Untuk menghindari kebosanan aku juga menyiapkan saos asam manis sebagai menu alternatif. Bu Meisya menyiapkan lalapan dan kutambah dengan urap. Setelah semua selesai, aku membantu Bu MEisya menyiapkan meja makan.


“Alhamdulillah selesai, Sayang. Ternyata kau hebat ya. Menata meja makan dengan gaya ala-ala resto seperti ini. Sekarang kau boleh memanggil semuanya untuk makan.”


“Baik, Bu.” Kulangkahkan kakiku ke ruang tamu untuk memanggil nenek dan bapak. Sampai di ruang tamu, kulihat Aditya sudah ada di sana.


“Mohon maaf, Pak, Nenek makan siang sudah siap.” Ucapku sambil memandang Aditya yang masih duduk.


“Aku tidak ditawari makan siang, Sayang ?””goda Aditya.


“Ha ha ha” yang tadi pasti sudah termasuk dirimu, Adit. Jangan marah. Marissa pasti grogi karena ada kamu di sini.” Nenek menggodaku.


“I . . iya, Pak. Undangan yang tadi sudah termasuk untuk Pak Adit.”


“Apa ? Calon menantuku memanggil suaminya dengan sebutan, Pak ? “ Bu Meisya terkejut dan langsung disambut tawa renyah nenek dan bapaknya Aditya.


“Lalu saya harus memanggil Pak Adit dengan sebutan apa, Nek ?” tanyaku dengan sikap yang masih polos.


“Dia kan sebentar lagi akan menjadi suamimu, Nak. Panggil dia Mas atau apa yang penting jangan Pak.” Pinta Bu Meisya.


Aku hanya bisa mengangguk.


“Ayo, panggil aku dengan apa? “ Aditya menggodaku.


“Ayo kita makan, Kak.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Disambut tawa semuanya. Kami berjalan menuju ruang makan.


***


“Wow, ada yang baru di tatanan makan siang kita Nek.’ Aditya berdecak kagum.


“Semua Marissa yang menata, Ibu hanya membantu saja.” Jawab Bu Meisya.


“Tidak, ibu juga bekerja. Kita sama-sama bekerja kok.”


Bu Mesiya menarik kursi untuk suaminya lalu mendorong kursi roda nenek ke tepi meja. Aditya menarik kursi untukku dan menarik kursinya sendiri. Ibu meladeni bapak dan nenek, sedang aku masih diam tak bergeming memandang pemandangan di hadapanku.


“Kalau seperti ini setiap hari, nenek rasanya ingin sekali hidup seribu tahun lagi.” Ucap nenek. “Apalagi kalau Marissa nanti berhasil memberi nenek cucu yang banyak. Alangkah indahnya hidup ini. “


“Memangnya berapa cucu yang nenek inginkan ?” tanya Aditya sambil memandang kearahku.


“Empat.”


Aku hanya tersenyum mendengar permintaan nenek.


“Apakah kau sanggup, Sayang ?” Aditya menggodaku.


“Apa ?” lagi-lagi aku bodoh. Tak bisa langsung tanggap dengan pertanyaan Aditya.


“Nenek ingin kita memberi cucu empat. Apakah kau sanggup ?”


“ Insya Allah.”


“Alhamdulillah’ semua bicara bersama menyambut jawabanku. Aku tak mau ambil pusing dengan gurauan mereka, karena sebagai manusia kita hanya bisa merencana Allahlah yang menentukan.


Adzan berkumandang di masjid Agung, lalu kami menyudahi makan siang kami.

__ADS_1


“Besok kau boleh datang lagi ke sini dan memasak menu special untuk kami, ok ?” Aditya sengaja menggodaku dan dijawab dengan acungan jempol seluruh anggota keluarga, sebelum akhirnya semua berkemas menuju masjid.


***


__ADS_2