
Satu bulan lebih aku tak bertemu dengan Adit. Dia tidak pernah muncul secara misterius lagi di sekelilingku. Dia sama sekali tak pernah mengirim pesan setelah aku tak membalas pesannya saat itu.
Apapun alasan sebenarnya, aku sudah mulai melupakan semua memori tentangnya. Satu bulan waktu yang diberikan olehnya sudah berlalu dan sejak kecelakaan itu dia tak pernah lagi meminta konfirmasiku. Kuanggap semua telah berlalu. Fokus utamaku hanya pada pendadaran skripsi yang sebentar lagi akan kujalani bersama Fifi. Dia mengajakku ujian hari ini. Hari senin, tepat disaat aku berusia dua puluh tiga tahun.
Sejak semalam aku menyiapkan materi. Semua data penelitian kukumpulkan dengan harapan, saat dosen penguji memintaku memaparkan hasil aku siap. Saat pagi tiba, kusiapkan penampilan diri serapi mungkin. Aku harus tampil prima bukan hanya saat menyajikan presentasi, tapi prima juga dalam penampilan. Kuoleskan pelembab ke wajahku setelah duha kudirikan seperempat jam lalu. Kusapukan bedak dan kuhias bibirku dengan lipstik warna merah bata. Aku tak ingin terlihat pucat. Ini memang pertama kalinya saya memakai lipstik. Hari spesial yang harus kuhadapi dengan spesial.
Jam delapan tiga puluh, pendadaran dimulai. Undian yang kuambil menunjukkan angka satu untukku. So, saatnya aku memasuki ruangan dan mempresentasikan karya ilmiahku. Pembawa acara hanya memberi waktu lima belas menit untukku presentasi upaya mengatasi agresifitas negatif melalui pemberian layanan bimbingan individu dengan subyek penelitian anak-anak korban bencana di Kemanukan. Kukemukakan dua variabel X agresifitas negatif dan variabel Y adalah layanan bimbingan individu, penetapan indikator kinerja, prosedur penelitian sampai dengan teknik pengumpulan data dan hasil yang ditemukan.
Alhamdulillah semua lancar. Banyak pertanyaan dari empat dosen pengujiku bisa kujawab dengan baik dan dua jam kemudian, saat Pak Junaedi mengatakan bahwa ujianku sudah cukup, semua hadirin memberikan aplaus padaku. sujud syukur kulakukan di ruangan di hadapan pengunjung tanpa sadar. Kukemas laptopku dan dengan gembira aku berjalan menuju kursi pengunjung memberi dukungan kepada Fifi.
Subhanallah !
Peristiwa yang menegangkan. Sebuah sejarah indah telah kuukir rapi dan akan kusimpan dalam memori sepanjang hayatku. Pukul sebelas tiga puluh, Fifi menyudahi ujiannya, beberapa temanku masuk, menyajikan makan siang. Aku dan Fifi duduk sambil berpegangan tangan menanti dosenku mengumumkan nilai yang kami dapat hari ini.
“selamat ya, semoga kita bisa lulus dengan indeks prestasi yang cumlaude.”kata Fifi pelan. Wajahnya berangsur memerah, tidak pucat seperti saat ia masih di mimbar ujian.
“Aamiin Yaa Rabb, “ ucapku. “Kita keluar yuk! Kita lihat dunia fana ini dengan ringan karena beban di pundak kita telah diletakkan.”
Fifi berdiri setelah memasukkan laptopnya ke backpacknya. Dia tuntun tanganku dan kami meminta diri pada dosen penguji untuk keluar ruangan. Di luar, beberapa temanku sudah menanti kedatanganku. Banyak yang memeluk kami dan mengucapkan selamat atas suksesnya pendadaran kami. Aku ingin sekali membasuh wajahku, menghilangkan bedak yang kurasa masih menempel di pipiku dengan setia, tapi aku sedang berhalangan sehingga niatku kuurungkan.
“Kita rayakan keberhasilan kita berdua yuk !” Ajak Fifi dengan riang.
“Dimana ?”
“Kau ajak aku ke tempat yang sejuk, yang barangkali bisa membuat otak kita kembali segar setelah terhimpit beban berat.”pintanya. kubayangkan beberapa tempat yang pernah kukunjungi. Namun tak satupun yang ingin kusinggahi. Tapi . . . anganku tiba-tiba mengajak untuk membayangkan sebuah tempat paling indah yang pernah kulihat di Gebang rejo. Sebuah sungai dengan aliran air jernihnya dengan hamparan pohon pinusnya dan dilengkapi dengan sawah dengan terasering indah dan pemandangan sebuah miniatur negeri yang terpampang rapi di sebuah sekolah negeri yang sangat ngangeni.
“Kamu bawa motor ?” tanyaku pelan. Fifi mengangguk. “ Kamu shalat dhuhur dulu, biar aku menunggu dosen di sini. Saya sedang berhalangan.”
“Ok, saya pergi dulu ya, titip tasku ”
__ADS_1
Fifi pergi dan aku hanya duduk di teras. Hayalanku kembali kubawa ke situasi dimana aku berada tak jauh dari air sungai saat itu. Aku sedang didiamkan teman-teman kosku yang sangat setia hanya karena salah paham atas cinta seorang pemuda bernama Suseno. Oh, Suseno, bagaimana kabarmu? Mengingat namanya tiba-tiba rasa kangen menyeruak masuk ke hatiku. Dia mungkin sedang sibuk dengan tugasnya di Timika dan membuka luka lama yang sudah kuikat rapi agar tak berdarah lagi.
Di gebang rejo, ada juga pemuda tampan yang saat itu menemuiku dan menemani. Aku hanya bisa tersenyum sendiri membayangkan betapa indahnya pertemuan kami.
Aku tak tahu berapa lama aku merenung, yang kutahu tiba-tiba Fifi datang dengan membawa dua lembar hasil pendadaran kami dari ruang ujian.
“Kamu keterlaluan ya Ris, dosen memanggilmu beberapa kali kok tetap di sini. Nih, hasilmu kuambilkan. Pak Amir bilang jangan kebanyakan melamun, “
“Oh my God. Beliau melihatku melamun ?” tanyaku sambil menahan malu.
“Bukan hanya melihatmu melamun, tapi melihat kamu seperti orang gila yang tersenyum-senyum sendiri. Sudah yuk, kita mau kemana sekarang ?” tanya Fifi. aku tidak langsung menjawab karena konsentrasiku tertuju pada hasil pendadaranku yang mendapat 94, dan angka A terukir indah di sana. Fifi menunjukkan hasilnya padaku yang berada dua tingkat di bawahku. Dia mendapat sembilan puluh dua. Luar biasa. Dia memang mahasiswa cerdas yang selalu bisa membuat semua yang berada di sekitarnya tercengang.
“Yuk ! aku sudah menyiapkan tempat indah untuk kita. Sebuah tempat yang membuat saya tersenyum sendiri.” Fifi mengikutiku menuju ke tangga dan dengan cepat kami menuruni tangga menuju tempat parkir. Fifi menghidupkan motornya dan satu menit kemudian kami sudah berada di jalan raya. Kutunjuk arah kanan atau kiri memberi instruksi pada Fifi yang sedang mengendalikan kendaraannya dengan pasti. Aku rindu pada Gebang rejo, pada air sungai dan semuanya.
Setengah jam, kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku heran, desa ini masih sepi dan dingin masih menusuk tulang meski hari sudah melewati dhuhur. Sejenak aku terpaku, menyadari kebodohanku menyusuri kembali masa lalu yang sudah mengukir sebuah pengalaman baru berpetualang bersama seorang Aditya, meski tanpa sengaja.
Aku hanya bisa meletakkan telunjukku ke bibirku.
“Parkirkan dulu di bawah pohon itu, baru kamu akan tahu betapa indahnya alam kita, Indonesia. Fifi menuruti permintaanku, memarkir motornya di tempat yang kutunjuk lalu kugandeng dia menuju tempat yang kujanjikan.
“Ini tempatnya. “ kataku pelan. Fifi memandangku takjub. “Subhanallah, kamu pintar sekali mencari lokasi, Ris, “ucap Fifi histeris. Ia mengambil hapenya dan berkali-kali ia jepretkan kamera mengabadikan pemandangan di hadapannya. Aku hanya bisa duduk dan bergegas melepas sepatuku hendak menuju sungai. Keberanian kumunculkan karena hari ini temanku adalah seorang perempuan. Aku ingin menikmati beningnya air sungai yang langsung berasal dari gunung. Bening airnya yang mengalir deras menciptakan sebuah irama yang seakan melambai mengajak siapapun yang mengunjunginya untuk mendekat dan menikmati kesegarannya. Kududukkan pantatku di batu besar tak jauh dari motor menanti Fifi yang masih asyik dengan kegiatan memotretnya.
Aku baru saja berdiri dari dudukku, saat sepasang kaki bersandal jepit berdiri tegap di hadapanku. Kupandang sepasang kaki itu agak lama sebelum akhirnya kutengokkan wajahku ke atas. Sebuah wajah yang sudah sangat kukenal akrab tersenyum.
“Assalamualaikum, Marissa.”
“Wa . . . alaikum . . . . sa . . .lam” pelan sekali kuucapkan jawabanku karena hatiku sungguh-sungguh syok. Aku sama sekali tak mengira kalau dia mengikutiku kemari.
Tuhan !
__ADS_1
“Marissa bagaimana kabar ?Sudah lama tidak berkunjung kemari, lama juga kita tidak bertemu.”kuarahkan pandangan ke hamparan terasering persawahan dengan penuh emosi. Aku ingin marah membabi buta padanya, mengomelinya sepuasku memukul seluruh tubuhnya sampai semua kebencianku sirna, namun semua kuurungkan. Aku merasa dia sedang mempermainkan perasaanku.
“Risa ! Kamu bicara sama siapa ? Ayo ke sini !” pinta Fifi masih dengan kegirangannya. Kutinggalkan laki-laki di hadapanku yang masih terpana memandangku. Dia mungkin tak pernah menyangka menghadapi sikapku hari ini. Ia mengikutiku sambil tetap berkata-kata.
“Marissa ? Kenapa ?” tanyanya sambil berusaha memegang tanganku mencegah kepergianku. “Kamu cantik sekali dengan lipstik tipis hari ini,” kalimat yang baru saja ia ucapkan membuatku menjadi tambah emosi. Aku baru sadar kalau pandangannya ke arahku tadi karena dia terpesona memandangku memakai lipstik. Oh my God, ternyata seperti ini dirinya. Mudah tergoda pada perempuan berlipstik. Aku masih diam
“Marissa, apakah salahku terlalu fatal sehingga kamu sebegitu marahnya ? Kalau aku telah berbuat keliru, aku mohon maaf”
“Risa ! “ Sekali lagi panggilan Fifi sampai di telingaku. “Ayo ke sini ! Kita foto berdua, sebentar lagi kita wisuda kan ? Ayo kita foto berdua! Kita minta mas di sebelahmu memotret kita.“Kata Fifi masih tanpa melihat kearahku.
Sesaat setelah aku tiba didekatnya bersama Aditya, dia melonjak kegiranagn.
“Pak Adit ? Mengapa Pak Adit ikut ke sini ? Bukannya Pak Adit sedang ke Medan ya mengikuti sarasehan.”
“Pak Adit memang baru dari Medan, Fi. Baru tadi pagi sampai rumah.” Sahutnya kalem. Aku tak habis pikir, mengapa hampir semua temanku tahu kegiatan dosen yang satu ini, sementara diriku . . . aku tak tahu sedikitpun tentangnya. Aku segera berjalan mendekati Fifi. Aditya menuruti permintaan Fifi. Dia berjalan di belakangku menuju pinggir sungai dan sejenak mereka berpandangan.
“Mohon maaf Pak, boleh minta tolong difotokan kami berdua ya ? Sebentar lagi kami wisuda dan saya akan kembali ke Palembang ke kampung halaman saya. Saya yakin Risa juga akan ke Jogjakarta untuk mengabdi di kampung halamannya.”
“Marissa tidak akan ke kampong halaman, Fi. Dia akan tetap di kota ini. katanya.
“Apakah benar Marissa ?” Fifi memandangku penuh tanya.
“Hanya Allah yang tahu.” Sahutku kesal. Aditya menerima hape Fifi dan menunggu kami berpose. Aku enggan sekali menuruti permintaan Aditya untuk action, kalau saja Fifi tak memaksaku.
“Fi, mohon maaf, rasanya aku tidak bergairah untuk berfoto di sini saat ini. Besok saja ya. “pintaku pelan.
“Kamu ada masalah dengan Pak Adit ?” bisiknya. “Sekali saja ya, kasihan Pak Aditnya, sudah berjalan kesini kok tidak jadi. “ aku hanya bisa mengangguk pelan. sebenarnya aku kasihan pada Aditya, tapi rasa itu sudah terkalahkan oleh rasa marahku menghadapi kenyataan tentang ketidaktahuanku. Fifi meminta hapenya dan Aditya menyerahkan pada Fifi sambil memandangku. Wajahnya lesu.
“Aku mungkin sudah membuat kesalahan besar padamu. Mohon maaf bila sudah membuat kamu sakit hati. Kepergianku yang satu bulan tanpa pamit mungkin sudah membuatmu tidak nyaman. O iya, selamat atas pendadaran skripsimu yang luar biasa, selamat atas wisudanya, meskipun belum terlaksana. Assalamualaikum” dia meninggalkan kami. Fifi membuka file fotonya dan dia mengatakan banyak foto kami sudah diambil Aditya dengan berbagai pose yang sangat natural.
__ADS_1