
Camp Pengungsian, tempat dimana banyak pengungsi dan relawan berkumpul. Tempat baru yang bagiku menjadi sebuah tempat yang menyenangkan, hangat dan selalu membuat hati rindu. Bukan karena banyak korban yang membuat kami rindu tempat yang berada di 850 meter di atas permukaan laut, tapi lebih karena rasa persatuan yang kuat telah terbentuk di sini. Tempat dimana banyak jiwa bersatu, menjadi satu keluarga dan mempunyai satu tujuan hidup untuk senantiasa bersama mengemban tanggung jawab demi terwujudnya masyarakat yang damai, tenteram dan sejahtera.
Banyak pasang mata menatap, menyongsong kedatangan kami, relawan kampus matahari. Sudah tak ada kebencian yang mereka tunjukkan pada Syamsya, gadis cantik di sebelahku. Yang ada hanyalah tatapan senang yang mereka iringi dengan senyum dan pelukan.
“ Assalamualaikum”ucapku pelan.
“ Wa alikumsalam”Semua menyambut salamku. Bu Hamimah berlari mendekat. Dengan ragu ia ulurkan tangan untuk menyalami Syamsya, yang mulai hari ini mau keluar kamar dan menemui warga.
“ Mbak Syamsya .”Hampir saja dia peluk gadis itu, namun akhirnya ia mengurungkan niat. Entah mengapa. Ibu setengah baya itu menunduk dan saat dia hampir meninggalkan kami, Syamsya justru menubruk dan menangis di pelukannya.
“ Maafkan saya dan keluarga Bu Hamimah. Mungkin banyak tingkah laku kami yang sering membuat Bu Hamimah dan tetangga yang lain marah. “
“ Kami sudah memaafkan, Mbak Syamsya. Kita hidup bersama sekarang, Mbak. Tapi inilah cobaan, atau mungkin laknat dari Yang Maha Kuasa, sebagai teguran pada kita, yang sudah sombong dan tak mau mensyukuri nikmatNya. “ kata Bu Hamimah lirih. Pelan ia lepaskan pelukan gadis ayu dan memberi kesempatan kepada warga lain untuk menyapa Syamsya.
Satu persatu menyalami dan memeluk Syamsya. Semua menangis, dan inilah awal perubahan sikapnya. Semua Nampak serius, membicarakan peristiwa yang baru mereka alami begitu juga dengan Syamsya. Dengan linangan air mata yang selalu membasahi pipinya, ia ceritakan semua kejadian malam naas saat terakhirnya bersama keluarga.
“ Sekarang saya sebatang kara, Bu. Tidak punya siapa-siapa.”ujarnya sambil menyeka airmata dengan tangannya.
“ Mbak Syamsya masih punya kami. Kita bisa hidup bersama di sini. ‘kata Bu Hamimah pelan. Syamsya memandang semua sudut ruangan dengan cemas.
“ Kita akan selamanya di sini, Bu?” tanya Syamsya was-was.
“ Semoga tidak. Kita semua berharap pemerintah membangunkan rumah kembali dan kita bisa kembali hidup seperti kemarin meski tidak di lokasi yang sama.”
"Apa kita hanya akan menunggu bantuan pemerintah saja, Bu? " tanya Syamsya cemas.
" Lalu bagaimana lagi, Mbak. "
"Yaa Allah, semoga Kau berikan kekuatan kepada kami, untuk bisa lepas dari segala masalah dengan mudah."
***
Hari ini Syamsya tidak mengijinkanku kembali ke kos. Ia memintaku untuk menemaninya menginap di pengungsian. Dia bilang ingin berbagi pengalaman dan menggali ilmu agama dariku. Kusambut semua niat baiknya. aaku berharap dengan kehadiran kami, teman-teman kampusnya bisa meringankan bebannya.
Ba’da maghrib, setelah kami berjamaah bersama seluruh relawan, kubaca ayat-ayat suci Al Quran sebentar. Kulihat syamsya menyimak dan kalau aku tak salah, ada tetesan air mata mengalir di pipinya. Kuhentikan aktifitasku dan kulihat dia menunduk.
“ Mbak Syamsya kenapa ? Kok menangis ?’ kututup mushaf Alquranku, pelan kumasukkan ke dalam tas dan duduk menghadapnya. Kutatap wajah ayunya yang kemudian berubah merah karena menahan air mata.
“ Aku teringat semuanya. Ayah, ibu dan kakakku yang sekarang mungkin sudah tenang di alamnya.” Tatapannya mengarah ke bawah.
“ Kita doakan mereka ya semoga Allah memberi tempat terbaik. Jangan Mbak tangisi lagi, sebab tangis Mbak hanya akan membuat mereka gelap. “ ucapku sambil mengelus punggungnya.
“ Astaghfirullah, Aku tak ingin mereka menderita di sana. “ tandasnya sambil mengelap air mata. Ia segera membenahi duduknya dan mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa. Sesaat setelah doanya usai, ia diam. Ia arahkan pandangan keluar ruangan.
“ Lebih baik Mbak ikhlaskan, dan doakan terus setiap hari, sebab hanya doa anak sholeh yang akan selalu menyertai orang tua.” sambungku. Kali ini kulihat dia menunduk.
“ Baru saja gelar sarjana kusandang. Sehari sebelum longsor datang meluluhlantakkan keluargaku. Aku baru saja merayakan kemenanganku, bersama mereka, saat tiba-tiba badai ini datang mengejar dan . . . “nyaris Syamsya memukulkan tangannya ke kepala. Kupeluk dia dan sejenak setelah dia tenang ia kulepaskan.
__ADS_1
“ Sudahlah, kita bicara hal lain. Jangan sampai Mbak menangis lagi.”
“ Dhik Risa, aku tahu bahwa kamu mahasiswa yang baik dan cerdas. Mahasiswa dambaan dan idola kampus. ’ucap Syamsya pelan.
“Siapa yang bilang ? Mbak Syamsya yang bunga kampus, lebih terkenal dari saya.”
“Tidak Dik, kamulah yang terkenal. Mahasiswa di fakultas ekonomi selalu mengelu-elukanmu, banyak temanku yang sering membicarakanmu. Banyak teman laki-lakiku ingin mengenalmu. Mengapa ? “
“Sudahlah, Mbak. Tidak usah kita bahas. Kita istirahat ya. Hari ini saya lelah sekali. “ kubuka tikar pandan yang teronggok di sudut ruangan dan kugelar untuk merebahkan tubuhku yang sudah mulai penat. Tiga hariku menunggu Syamsya kemarin membuatku kurang tidur dan tubuhku mulai merasakan sedikit bermasalah. Kepala kurasakan pusing dan sangat berat. pelan kurebahkan badanku dan aku mencoba untuk tidur. Melihat tindakanku Syamsya keluar ruangan. aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. mungkin dia ingin mengobrol dengan teman-temanku di luar. Bukan aku tak ingin memperdulikan dia, tapi aku benar benar ingin fokus pada kesempatan untuk mengobati pusing di kepala ku.
Jam tiga pagi ini, aku bangun. Seperti biasa kurasakan sesuatu membangunkanku seperti hari-hari lalu. Perlahan aku duduk dan kulihat Syamsya dan teman-temanku masih dalam tidurnya. kulihat satu persatu mereka masih lelap. Akhirnya kufokuskan pandangan pada Syamsya si kembang kampus.
Cantik. Sangat cantik.
Mungkin yang membuat Qomar merasa harus menjadikan dia sebagai upahnya. Wajah ovalnya yang sayu, nampak lelap dalam buaian malam yang sunyi. Hanya suara air hujan yang sejak siang mengguyur bumi kami yang setia menemani kami saat ini. Kudengar masih ada suara orang mengobrol di luar. Mungkin mereka yang sedang berjaga, mengawasi kondisi barangkali terjadi longsor susulan.
Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi di sudut balai desa untuk berwudhu dan mendirikan shalat malamku.
“ Syamsya tidak kau ajak ?” Qomar tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku. Tubuh tegapnya dibalut dengan jaket tentara yang tak pernah ia kenakan di kampus sebelumnya. Ia memandangku lalu mengalihkan pandangan ke salah satu ruang di balai desa yang kami fungsikan sebagai kamar putri. Kuikuti arah pandangnya dan kulihat pintu yang tertutup nampak terbuka. Aku tahu selot pintu sudah mulai aus. Butuh tekanan yang kuat agar pintu bisa tertutup sempurna.
“ Besok saja. Hari ini biar dia istirahat agar segera pulih dari sakit.”jawabanku yang terlambat kuucapkan membuat dia mengangguk dan menyisih memberiku jalan.
“ Tapi janji ya besok kau ajak dia bersamamu.”
“ Insya Allah.” Aku segera berlalu. Tak banyak yang ingin kubicarakan dengannya, apalagi akhir-akhir ini pembicaraan kami hanya seputar Syamsya. Aku bosan.
“ Kamu mau shalat dimana ?, ”
“Di kamar. Tak banyak perempuan yang tidur di ruang kami, sehingga saya kira sangat aman untuk kujadikan tempatku menyembahNya.”
***
Kusudahi Tahajjudku dengan doa dan kulanjutkan dengan membaca surat Arrahman pelan. Kubayangkan kejadian demi kejadian, satu persatu menjadi sebuah alur kehidupan yang indah dan mengharukan. Dalam hitungan waktu Tuhan menciptakan sebuah peristiwa dan dalam sekejap Dia mengirimkan banyak sekali jalan keluar. Dalam sekejap Tuhan memporakporandakan Kemanukan dan dalam sekejap pula banyak relawan mengulurkan tangan, membantu meringankan beban para korban. Mereka rela menghabiskan waktu untuk mencari para korban yang tertimbun, memberi bantuan moral maupun spiritual padahal diantara mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka belum mengenal satu sama lain, namun mereka begitu gigih. Qodarullah, semua karena campur tangan Allah. Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang engkau dustakan ?
Pagi ini, dengan qodar Illahi, kutuntaskan semua waktuku untuk merenung, berdzikir dan bermuhasabah di hadapanNya hingga adzan subuh berkumandang. Kudirikan shalat subuhku dalam ruangan yang sama.
Ba’da subuh kusinggahkan pantatku di dipan tak jauh dari tungku. Disana ada Yu Rasih yang sedang mengupas bawang merah sendiri. “Kubantu boleh yu ?”
Yu Rasih memandangku seraya tersenyum.
“Kalau mau membantu, itu saja Mbak, kupas tempe. Jangan di bawang merah, nanti Mbak Risa yang baik akan beraroma bawang. Ndak enak.” Katanya.
“Tidak apa-apa Yu, saya sudah biasa kok. Di rumah tugasku memasak, jadi saya biasa berurusan dengan bawang.” Sahutku pelan.
“ Ya sudah kalau begitu. Ini pisaunya, Mbak !” Yu Rasih menyodorkan pisau padaku. Sejenak pandangannya tertuju pada Syamsya yang sedang duduk.
“Dia mana bisa bekerja di dapur.” Bisik Yu Rasih padaku.
__ADS_1
“Memangnya kenapa ? Yu Rasih masih marah padanya ?”godaku pelan.
“Buat apa marah ? Walaupun berkali-kali dia menyakiti kami, manusia miskin yang katanya selalu merepotkan keluarganya, aku tak akan marah. Karena sekarang, justru dia yang wajib dikasihani. “
“Syukurlah kalau Yu Rasih sadar.”
“Ya sadarlah, masa pingsan terus. “ aku tersenyum mendengar jawaban Yu Rasih. Memang benar yang dia katakan, tidak baik kalau manusia memendam dendam.
“Maksudku bukan itu, syukur Alhamdulillah kalau yu Rasih masih bisa melupakan perangainya.”
“Sebenarnya sih tidak, yu Rasih cuma kasihan melihat anak orang kaya sekarang sengsaranya sama dengan saya.” bisiknya.
“Kita doakan semoga ia bisa menjadi gadis yang lebih baik Yu.”
“Iya, Mbak. Amin Mbak. O iya, Kalau Mbak Risa sudah selesai mengupas dan mengiris bawangnya, Mbak bisa mulai mengupas tempe dan menggorengnya. Bumbu sudah saya siapkan.” kata Yu Rasih sambil memasukkan sayur ke wadah besar. Aku segera berbenah dengan lincah. Kusudahi mengupas bawang dan melakukan semua instruksi Yu Rasih lalu kutata piring yang sudah dicuci kemarin sore di meja panjang yang biasa digunakan untuk meletakkan makanan untuk para korban dan relawan. Hujan masih mengguyur bumiku. Sampai hari ini sudah tujuh warga tertimbun ditemukan. Semua korban yang ditemukan kemarin sudah diserahkan ke keluarga dan sudah dimakamkan. Aroma tak sedap yang beberapa hari ini menyelimuti lingkungan kami, sekarang menjadi semakin kuat. Walau hidungku sudah terbiasa, namun ternyata tetap membuatku agak sesak nafas.
Waktu masih menunjukkan pukul lima tiga puluh. Beberapa dari relawan laki-laki masuk dapur.
“Maaf Bu, kalau boleh kami minta minum hangat. “Seorang laki-laki mendekati Yu Rasih.
“ Iya, Mas. Insya Allah sebentar lagi. Ini sudah dibuat. “Yu Rasih meletakkan ceret berisi teh dan kopi panas. Aku segera mengulurkan tangan dan meraih satu ceret seraya mengikuti Yu Rasih keluar dapur menuju aula balai desa. Yu Rasih segera meletakkan ceretnya, dan menerima ceretku lalu menyuruhku untuk mengambil gelas di sudut ruangan.
Gelas-gelas yang tadi tertata rapi di wadah, kulap dan dengan cepat kutuang minuman ke gelas. Kuangkat baki dan kuhidangkan ke banyak orang yang sedang duduk di aula.
“Maaf, Mbak. Kau ambilkan minum untuk komandanku di kursi sebelah sana bisa ?” seorang anggota TNI memberitahuku dengan suara pelan. Kuikuti arah tangannya dan akhirnya aku mengangguk. Ada rasa malu sebenarnya berada di antara kaum laki-laki yang sedemikian banyak. Namun dengan bismillah kuniatkan diri untuk ikhlas. Mereka orang-orang yang menolong warga, dan saudara kami. Sudah selayaknya mereka mendapat pelayanan yang terbaik.
“ Mohon maaf Pak, silahkan kopinya.” Kuletakkan beberapa gelas kopi di meja panjang yang kira-kira ditempati oleh belasan perwira TNI dan relawan lain. Pastinya aku tak tahu, dari instansi mana mereka berasal, yang jelas beberapa dari mereka memang berseragam TNI dan yang lainnya warna-warni.
“Terima kasih, Mbak. “ Seorang bapak paruh baya tersenyum menerima minuman dan di belakangku, Syamsya membawakan nampan berisi makanan ringan.
“ Jadi sibuk ya, Mbak ? Seharusnya anda semua kuliah, ya ?” tanya seorang TNI padaku.
“Tidak apa-apa, Pak. Ini sudah menjadi kewajiban kami, menolong sesama yang sedang dalam kesulitan. TNI di hadapanku tersenyum.
“Terima kasih. Mbak kuliah di mana?”
“Di Ahmad Dahlan Pak.” Jawabku singkat sambil mengambil gelas kosong dan bersiap menuju ke dapur.
“ Panggil saya Pak Hasan. Mbak siapa ? ”
“Saya Marissa Pak. Mohon maaf Pak Hasan, saya kembali ke dapur dulu” Segera kusudahi pembicaraan kami karena hatiku merasa tidak nyaman. Ada seorang tentara muda di meja yang sama dengan Pak Hasan sedang memperhatikanku.
“Silakan, Mbak Marissa.Selamat bekerja”
“Terima kasih, Mari !”
Alhamdulillah lepas dari pandangan kaum adam. Dengan cepat kuletakkan nampan dan kembali ke aktifitasku di dapur.
__ADS_1