Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Camp Pengungsian 4


__ADS_3

Saat kulihat Syamsa sedang menagis, aku sebenarnya ingin membujuknya untuk tidak sakit hati dengan semua tindakan Qomar. Aku tahu dia tidak sedang serius memperlakukannya kasar. Yang kutahu, Qomar bisa sangat lembut di hadapan Syamsa. Namun semua kuurungkan karena Lina menolak keinginanku.


“Jangan ikut campur urusan hati orang lain. Urusi saja hatimu !” pintanya sambil menarik tanganku. Aku menurut pada Lina yang terus saja membawaku berjalan menjauhi Syamsa. Aku tidak tahu Lina mau mengajakku kemana. Yang ingin kutuju hari ini adalah posko kesehatan untuk menemani Nina di sana. Belum sempat kakiku masuk ruang kesehatan, kulihat Firman sedang berdiri di bawah sebuah pohon manga yang besar. Dia sedang melihat seorang laki-laki yang sedang terus menerus meninjukan pukulannya ke tembok.


“Ada apa Kak?” tanyaku seraya mendekati Firman kakak liftingku di kampus matahari.


“Qomar.” Hanya itu yang dia katakan. Pandanganku masih tertuju pada laki-laki yang sedang mengutuk dirinya sendiri.


Firman mengajakku mendekat pada Qomar, sekedar untuk membuat laki-laki itu tak menyakiti diri sendiri.


“KAu memang benar-benar tak tahu malu, Risa. “


Aku terkejut mendengar umpatannya. Kulihat Firman memandangku. Aku hanya mengangkat bahuku, mengatakan bahwa aku tak mengerti dengan semua tingkah lakunya.


“ KAu bahkan tidak tahu bagaimana perasaanku saat melihatmu bercanda dengannya? Hhhh, betapa bodohnya.” Sekali lagi Qomar meninju tembok di hadapannya. Beberapa orang yang lewat di hadapannya hanya melihat sekilas, tanpa berani menegurnya. Aku dan Firman masih terpaku ditempat. Kami juga benar-benar tak mampu berbuat apa-apa. Focus pembicaraannya adalah diriku dan aku ingin sekali mendengar semua penuturannya agar aku paham apa yang seharusnya aku lakukan.


“KAu benar-benar bodoh atau kau pura-pura bodoh. Aku mencintaimu sejak dulu dan kau sama sekali tak mau tahu.”


Deg !


Jantungku seakan mau lepas dari tempatnya. Ada bahagia di hatiku saat mendengarnya namun cubitan kecil di hatiku masih sangat sakit. Bagaimana mungkin dia masih jatuh cinta padaku kalau dia selama ini selalu bermesraan dengan Syamsa?


“Kau bahkan sudah tak memperdulikan aku. Kau tak mau tahu bagaimana rasaku menyaksikan dirimu dikagumi dokter-dokter itu. Haaaah, betapa bodonya kau.” Sekali lagi tinju Qomar mendarat di tembok. Ada getaran sedikit setiap kali Qomar mendaratkan pukulan, namun aku tahu, bangunan sekolah shelter adalah bangunan yang sangat kuat. Tidak mungkin mudah runtuh hanya dengan pukulan dari sebuah tangan kekar seorang anak manusia.


“Kau sebaiknya pergi, Ris. Aku takut kalau Qomar melihat kehadiranmu, amarahnya bukan tambah reda malah tambah membara” pinta Firman dan langsung kuiyakan. Kupercayakan semua urusan Qomar pada Firman lalu dengan segera kuayunkan langkah menuju posko kesehatan menemui Nina.


***


“Kau tahu gadis manis ? Sejak aku melihat Mbak mu, hatiku mengatakan bahwa dia harus menjadi milikku.” Kata Dokter Irawan berapi-api. Dia bukan hanya cantik bahkan sangat menarik.” Sambungnya.


“I . . . iya, Dokter.” Hanya itu yang bisa Nina ucapkan. Wajahnya lesu tak secerah saat aku masuk ke ruang ini baru-baru ini. Sebelum dia melihatku, aku masih sempat menangkap betapa cerianya dia, dan dengan berapi-api mengatakan “ Aku akan membantumu Pak dokter.”


“Ah Nina. Kau masih terlalu kecil untuk sebuah penawaran bantuan yang berurusan dengan hati,” batinku.


“Ingat ya, kau sudah berjanji untuk membuatku bisa bersatu dengan Mbak Risa. Ok?” dokter Irawan belum menyadari kehadiranku. Dia terus saja membujuk Nina untuk tetap berada di pihaknya.


“ehem”


Dokter Wildan yang sejak tadi mengawasiku, mendehem. Dia mungkin berharap temannya bisa menyadari kehadiranku dan menghentikan semua ucapannya, namun dia gagal. Dokter Irawan masih terus saja bicara hingga akhirnya nina menendang perutnya.


“Kau . . kau menendang perutku anak manis ?” katanya masih dengan kalimatnya yang lembut.


“I . . iya, pak dokter, maafkan Ni . . .na” ucap Nina terbata-bata.


“Hey . . . kamu baik-baik saja kan ?” ucapnya sambil memegang tangan Nina. Nina yang sudah ketakutan padaku langsung mengulurkan tangannya.


“Mbak Risaaaa, maafkan Nina!”


Dokter Irawan terpaku. Dia tak berkutik sedikitpun menyaksikan diriku sudah duduk di kursi belakangnya.


“K . . kau sudah lama di situ ?” tanyanya gemetar.


Aku hanya mengangguk mengiyakan.


“Ma . . .maafkan aku bukan maksudku . . . .”


“Tidak apa-apa. “ sahutku sekenanya.

__ADS_1


“Ja . . . jadi kau menerimaku ?”


“ Apa ?”


Aku tak tahu harus bicara apa selain kata itu


“Ah, tidak-tidak. Semua yang kau dengarkan tidak benar.” Ucapnya seraya memalingkan wajahnya ke arah dokter Wildan. Dokter Wildan yang sejak tadi terpingkal-pingkal langsung terjungkal menyaksikan betapa lucunya wajah sahabatnya.


Dokter Irawan hendak beranjak dari duduknya, namun tiba-tiba


“Risaaaa hiks hiks hiks” Syamsa berlari ke arahku dan langsung menubrukku. Aku tak tahu mengapa dia melakukan itu


“Risa, Mas Qomar.” Hanya itu yang bisa dia katakan. Selanjutnya dia memandang ke sekeliling. Dia terpana melihat dokter Irawan yang sejak tadi mengurungkan niatnya menjauhiku.


“K . . .Kau ?” Syamsa memandang dokter Irawan tak percaya. “ Kenapa kau di sini ?”


“ Kau tak punya hak untuk melarangku kemanapun aku mau pergi. Memangnya siapa kau ?” wajah dokter Irawan Nampak merah menahan marah. Aku tak tahu apa yang terjadi dengan dua insan di hadapanku.


“Nina !” Nina menoleh ke arahku. Lalu menyerahkan tangannya kepadaku. Kugendok gadis kecilku dan melangkah keluar untuk menghindari dua orang manusia yang seakan hendak menumpahkan emosi di ruang kesehatan ini.


“Kita keluar dulu ya ?” kataku sambil menggendongnya. Dengan pelan kulangkahkan kaki menuju taman belakang. Aku tak mau Nina terkontaminasi dengan urusan orang tua sejak dini. Usianya yang baru Sembilan tahun, harus bersih dari segala masalah apapun karena masalah yang sedang ia hadapi jauh lebih berat.


“Kita duduk di sini saja ya sayang ?” tawaranku langsung dijawab dengan anggukan kepala mungilnya.


“Mbak.” Nina memandang wajahku penuh tanya.


“Ada apa ? Kau lapar ?” tanyaku. Dia hanya menggeleng pelan. Pandangannya menerawang jauh ke angkasa, melihat awan yang berarak di udara, seolah berebut tempat untuk memayungi belahan bumi kami.


“Ada apa dengan Mbak Risa dan Mbak Lina ? Tadi kok keluarnya lama?” tanyanya penasaran. Nampak sekali ia ingin mengetahui semua masalahku. Aku ingin menceritakan semua pada Nina, namun kuurungkan.


“Tadi pak dokter bilang kalau pak dokter ingin sekali datang ke rumah Mbak Risa.” Tambah Nina pelan. Ia Nampak takut. Pandangannya ia edarkan barangkali sosok yang sedang ia bicarakan akan muncul di hadapannya tiba-tiba. Tanpa sengaja, aku mengikutinya, menebarkan pandangan untuk memastikan bahwa dokter Irawan benar-benar tidak sedang berada di sekitar kami.


“Ayo, jawab Mbak. Apakah Mbak Risa juga merasakan yang sama ?” tegasnya sekali lagi.


“Tidak.” Jawabku singkat. Aku tidak ingin terlalu percaya diri dan tidak ingin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dokter Irawan dan dokter Wildan adalah orang baru yang bagiku hanya pantas untuk dihormati, bukan untuk dicintai.


“Mbak Risa.”


“Ya.”


Nina kebingungan. Dia menggaruk kepalanya pelan lalu memandangku kemudian menunduk. Karena gemas, akhirnya kurengkuh tubuhnya seraya mengacak rambutnya.


“Kau masih kecil. Jangan coba-coba menjadi nona comblang.” Kataku pelan.


“Apa itu nona comblang ?” tanyanya penasaran.


“Menurut Nina apa coba ?”


“Mbaaaak’


Nina menjerit histeris.


“Ya, ada apa sayang ? “ ucapku menggoda. Nina memukul lenganku.


***


“Risaaaaa . . . hiks . . . hiks . . .hiks”

__ADS_1


Syamsa berlari ke arahku sambil menangis. Aku segera melepaskan pelukanku di tubuh Nina dan berdiri dengan bingung. Syamsa menangis histeris lalu menubruk tubuhku tiba-tiba. Dia memelukku dan melampiaskan seluruh kesedihannya. Kucoba untuk memberikan ketenangan, dengan balas memeluk. Kuikuti irama tubuhnya yang bergundang hebat agar kami tidak terjerembab jatuh.


Ingin sekali kutanya mengapa dia menangis, namun segera kuurungkan niatku. Kubiarkan dia menangis entah untuk berapa lama sampai dia tenang. Nina yang sejak tadi memandang kami, akhirnya memanggilku.


“Mbak Risa.” Ucapnya sambil menunjuk kea rah Syamsa. Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku tidak tahu mengapa dia menjadi selemah ini.


“Mbak . . .” kucoba untuk memulai pembicaraan. Mendengar panggilanku, Syamsa melepaskan pelukannya dan duduk di kursi kayu di dekatku.


“Tolong rayu Irawan agar mau memaafkanku.” Kalimatnya bergetar. Aku masih belum paham dengan apa yang dia ucapkan. “Berjanjilah kau akan menolongku, Risa. Berjanjilah !” pintanya seraya menggoyang-goyangkan tanganku.


“Memangnya ada apa dengan dokter Irawan ?” tanyaku penasaran.


“ Katakan padanya aku tak sengaja.”sambungnya. aku mengerutkan dahiku


“Okey, Risa, aku akan bercerita. Dokter Irawan adalah teman kakakku. Kami mengenalnya lima tahun lalu. “ Syamsa menghentikan ceritanya. Pandangannya menerawang jauh. Air matanya mulai meleleh. “Aku memang manusia tak tahu diri, Risa. Aku selalu mempermainkan perasaan laki-laki.” Lanjutnya.


“Mbak, maaf,aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi antara dirimu dan dokter Irawan. Tolong jangan libatkan aku. Mbak Syamsa bisa menyelesaikan masalah Mbak dan dokter Irawan sendiri.”


“Tapi dia marah padaku, Risa. Dia marah. Dia tidak mau memaafkan aku. Please, Risa, please, bantu aku agar aku bisa hidup tenang.” Pintanya.


“Tapi apa yang sudah Mbak lakukan sehingga dia sangat marah ?”


“Aku membuat adiknya bunuh diri.”


“Astaghfirullah” aku tak pernah membayangkan kalau Syamsa sekejam itu. Aku hanya bisa diam tak tahu harus bagaimana untuk membuat dokter Irawan bisa memaafkannya.


“Kau sudah tahu semua masalahku. Sekarang bantu aku untuk mendapatkan maafnya, Risa. Tolong aku.” Syamsa menyatukan dua tangannya di depan dada, menandakan bahwa dia sedang benar-benar memohon padaku.


“Aku akan mencoba untuk bicara pada dokter Irawan, tapi aku tidak berjanji untk bisa berhasil.” Sahutku pelan. Aku sebenarnya ragu dengan kemampuanku. Namun melihatnya menghiba seperti itu, hatiku benar-benar tidak bisa diam.


“Terima kasih, Risa. Kau memang sahabat terbaikki. “ ucapnya sekenanya. Sahabat katanya ? Aku bahkan tidak merasakan bahwa dia adalah sahabatku sama sekali. Aku hanya bisa membatin, mengapa seorang sahabat tidak peka perasaan sahabatnya sendiri.


Aku tak pernah berfikir bahwa Syamsa telah membuat luka di hati banyak laki-laki. Di kampus kami, dia selalu gonta ganti pasangan. Aku tak tahu berapa kali. Yang jelas, dulu, sebelum kami dekat, aku selalu melihatnya menggandeng laki-laki dan berganti sebulan sekali. Aku sebenarnya tidak heran. Sangat mudah bagi seorang Syamsa yang kembang kampus untuk menemukan pria dengan berbagai model. Pria yang mau menjadikannya sebagai kekasih.


Dulu, saya mendengar mantan komandan resimenku patah hati karena dia berselingkuh di belakangnya. Mantan komandanku memergokinya sedang berdua bermesraan dengan seorang tentara di alun-alun dan seingatku, mantan komandanku sempat stress dan cuti kuliah selama satu semester.


Entah apalagi yang sudah terjadi, yang jelas hari ini tugasku adalah membantunya untuk mendapatkan maaf dari dokter rawan. Dokter muda yang dikirim oleh dinas kesehatan kabupaten P untuk membantu menangani korban longsor di kecamatan B.


“Risa, tolong ajak dia untuk menemuiku di belakang sekolah ini nanti sehabis ashar !” pintanya. Aku hanya mengangguk, meski aku sendiri tidak tahu bagaimana harus memulai.


***


Adzan ashar berkumandang di mushola sekolah shelter. Kuajak Nina untuk memenuhi panggilanNya. Kuambil mukenaku dan berjalan dengan menggandeng Nina bersamaku.


“Mbak, Nina tidak bawa mukena lho.’ Katanya.


“Tidak apa-apa, nanti bisa pinjam mukena yang ada di mushola.” Jawabku.


Setelah sampai di mushola shelter, aku dan Nina ke tempat wudhu dan membasuh bagian tubuh kami dengan air wudhu. Kami melangkah masuk ke tempat sholat putri. Kuambil satu mukena untuk Nina dan memakaikannya. Kuajak dia untuk sholat qobliyah ashar dan tanpa banyak bertanya, Nina mengikuti semua gerakanku.


Setelah qobliyah ashar, kulihat banyak pengungsi yang sibuk di tempat wudhu dan mushola. Ada yang baru masuk dan banyak yang sedang melaksanakan Qobliyah ashar. Sepuluh menit kemudian, imam datang dan memimpin shalat jamaah untuk relawan dan pengungsi.


Usai asharku, mataku kucoba mencari barangkali aku menemukan dokter Irawan diantara jamaah laki-laki. Ditengah pencarianku, kulihat perawat Susi dan teman-temannya memandangku sinis. Aku sudah bertekad untuk membantu Syamsa sehingga apapun dan bagaimanapun pandangan orang lain terhadapku, tidak kupikirkan.


Sesaat aku terpana. Ditengah pencarianku, kutemukan sosok yang kucari baru saja masuk ke mushola. Aku hanya bisa menarik nafas lega.


Kutunggu dokter Irawan selesai shalat sambil duduk memandang sekeliling mushola. Namun tanpa menghilangkan kesadaran bahwa aku sedang menanti seseorang. Kusapukan pandangan dengan pelan menikmati indahnya taman yang ada di mushola sekolah shelter ini, delapan buah kursi beton mengelilingi sebuah pohon yang rindang. Pohon rindang itu di balut oleh sebuah meja bundar yang dicat dengan warna coklat muda. Sedang kursi bundar itu berwarna coklat tua, mungkin itu karya anak- anak pramuka. Aku berdiri sambil menggandeng Nina untuk berjalan menuju kursi yang mengelilingi pohon rindang untuk menunggu orang yang baru saja menyelesaikan aharnya.

__ADS_1


Sejenak hatiku berdebar menyaksikan dokter Irawan berdiri. Sebelum dia melangkah keluar, kulihat dia memandang ke atas kea rah kubah mushola lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Aku tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Yang jelas, aku sudah bersiap untuk melaksanakan misi yang dibebankan Syamsa ke pundakku. walaupun sebenarnya hati ini bergetar, aku tetap pada janjiku.


__ADS_2