Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Ibukota 1


__ADS_3

Tiba di ruang tunggu gate 3, aku dan Maulana memisahkan diri dari Pak Junaidi dan Bu Merlin. Maulana sengaja menarikku untuk melanjutkan pembicaraan kami yang terputus karena proses check ini bandara.


“Apakah kau tidak sakit hati menerima perlakuan Qomar padamu ?” Maulana memandangku aku hanya menatapnya lalu menggeleng.


“Dia bukan apa-apaku. Aku tidak punya hak apapun padanya.” Maulana memandangku trenyuh. Dia menggeleng lalu sekali lagi menatapku.


“Bukannya kau kekasihnya ?”


Aku tersenyum hambar.


“Kekasih siapa ? Qomar ?” dia mengangguk.


“Siapa yang bilang kalau aku dan Qomar kekasih ? Sejak kapan ?”


“ Banyak yang bilang, Cuma aku tak percaya dengan yang mereka katakan. “ ucap Maulana acuh.


“ Aku bahkan tak pernah bisa menyentuh hatinya.” Sahutku sekenanya.


“Kalian sama –sama tak bisa saling menyentuh.” Tegasnya. Ada nada ketus di setiap ucapannya dan bagiku itu menyakitkan.


“Apa maksudmu ?”


“Sebenarnya kalian saling mencintai. Namun ego kalianlah yang membuat kalian tidak saling bisa menyentuh.”


“Tapi itu prinsipku, Mal. Aku tidak akan pacaran sebelum menikah. “


“Tapi untuk saling mengungkapkan perasaan apakah dilarang ?” Suara MAulana semakin ketus. Ia seolah menyalahkan semua tindakan dan prinsip yang sudah kupegang selama ini.


“Apakah kalian kaum laki-laki menginginkan perempuan lebih dulu mengungkapkan isi hati ? Apakah kau juga akan menjamin setelah kami sama-sama tahu perasaan masing-masing kami tidak akan terjebak dalam pacaran ?” Suaraku yang semakin meninggi membuat Pak Junaidi dan Bu Merti mendekat. Aku menunduk. Bukan takut mereka marah, tapi malu karena sudah mengundang mereka datang dan melerai kami.


“Ssst, apa yang kalian bicarakan ?” tanya Bu Merty sambil memeluk pundakku. Pak Junaidi memandangku sejenak lalu duduk di hadapanku. Aku merasa seperti sedang menjadi seorang terdakwa.


“Kelihatannya kalian sedang ada masalah ?” tanya Pak Junaidi. Kulemparkan pandanganku ke arah MAulana lalu menunduk.


“Ada apa Maulana ? Kau marah pada Risa ?” Kali ini Bu Merty yang bertanya. Maulana hanya menarik nafas. Dia kelihatan bingung untuk memulai pembicaraan.


“Ayolah damaikan hati kalian karena sebentar lagi kita akan take off, dan check in di Jakarta. Selama empat hari kalian akan bergelut dengan kerasnya perdebatan untuk mempertahankan ide serta melakukan yang terbaik demi almamater kampus. Kalau kalian mengotori dengan hal-hal sepele, kami yakin kalian akan kalah.”


“Mohon maaf, Bu. Kami sedang membicarakan longsor di kecamatan B dan pernikahan Qomar komandan Resimen Mahasiswa dengan Syamsa.” Maulana membela diri. Dia mungkin tidak ingin kalau dosen kami berpendapat kami sedang bertengkar. Mendengar ucapan Maulana, Bu Merty dan Pak Junaidi langsung menatapku seolah meminta penjelasan tentang apa yang baru saja diucapkan oleh Maulana.


“Apa benar Syamsa dan Qomar sudah menikah, Risa ?” Pak Junaidi menunggu jawabanku. Aku hanya bisa mengangguk. Lalu menegaskan dengan kalimatku.


“ Benar Pak.” Sahutku singkat.


“Kapan mereka menikah, Risa?” Bu Merty juga nampak sangat penasaran. Beliau langsung duduk di hadapanku di sebelah pak Junaidi. Aku merasa sedang diinterogasi, seperti pesakitan yang harus siap untuk menuturkan kejujuran.


“Kemarin, Pak. Semua terjadi setelah kedua orang tua Syamsa dan saudaranya ditemukan. Bibinya Syamsa mendekati keponakannya saat ia menangis di depan peti jenazah keduanya dan mengatakan untuk segera meminta kekasihnya menikahinya saat itu juga di hadapan jenazah. Syamsa lalu mengatakan kalau orang yang dicintainya adalah Kak Qomar dan langsung diiyakan oleh Kak Qomar. Aku terpana saat tahu kesediaannya menikah dengan Syamsa. Setahuku Qomar tidak pernah jatuh cinta pada Syamsa sebelumnya.”aku sengaja berhenti. Kulihat ekspresi wajah ketiga orang di hadapanku yang masih sangat syok. Aku tak tahu mengapa mereka sangat perhatian terhadap kedua seniorku. Yang kutahu hari ini, hatiku teriris melihat betapa perhatiannya mereka pada kasus Qomar dan Syamsa.

__ADS_1


“Kau tidak melakukan apa-apa ? “ Tanya Pak Junaidi mengagetkanku. Aku tak tahu apa yang ada di dalam benak beliau.


“Maksud Bapak ?”


“Kudengar kau dan Qomar berpacaran. Mengapa kau membiarkan mereka menikah ?”


Aku hanya tersenyum getir.


“Mengapa, Risa ? “ Maulana menegaskan. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang sudah kulakukan menghadapi pernikahan mereka.


“Karena yang sesungguhnya kami bukan pacaran. Kalau kami dekat, itu hanya sebatas kedekatan antara atasan dan bawahan. Kak Qomar komandan dan aku sekretaris. Itu saja.”


“Kamu yakin ?” Bu Merty menyelidik. Beliau sekan tidak percaya dengan apa yang baru saja kukatakan.


“Sangat yakin, Bu. “


“Bukankah hatimu juga merasakan sakit, Risa ? “ Maulana mencemooh kebodohanku. Dia menatapku dengan senyum getir yang sejak tadi menghiasi bibirnya.


“Memang sangat sakit, Mal. Tapi aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Allah sudah memberikan takdir kita masing-masing dan Dia tidak akan salah memasangkan makhluknya dengan jodoh yang salah. Kuharap kau juga harus berusaha untuk melupakannya, Mal. Semoga kelak ada bidadari yang bisa menggantikan posisi Syamsa, bidadari yang lebih baik dari Syamsa secara lahir maupun batin.”


“Aamiin. Jangan bilang kalau kau mencintai Syamsa Maulana” kali ini Bu Merty menatap wajah Maulana dengan serius. Maulana hanya bisa menunduk. Dia mungkin malu ketika dosen pembimbingnya mengetahui perasaannya.


“Sudah harus kuhapus, Bu Mer.” Sahut Maulana dengan tersenyum.


“ Bagus kalau begitu. Ibu kira Marissa juga tidak kalah cantik dengan Syamsa. “ Sahut Pak Junaidi. Maulana langsung memandangku yang sedang terkejut. Kurasakan pipiku sangat panas. Mungkin mereka melihat betapa aku malu mendengar penuturan Pak Junaidi.


***


Petugas bandara mengumumkan bahwa penumpang pesawat Garuda nomor xxx tujuan Soekarno Hatta segera naik karena pesawat akan segera lepas landas. Setelah pengumuman itu kami berdiri membawa barang bawaan kami masing-masing. Setelah melewati gate 3, kami berjalan kea rah pesawat berwarna putih yang sudah siap menampung para penumpang menuju Ibukota. Memasuki pintu pesawat seorang pramugari dengan ramah menyambut dan mempersilahkan kami untuk masuk dan menawarkan buku dan majalah serta surat kabar untuk bahan bacaan kami.


APak Junaidi mengambil the Jakarta Post, Surat kabar berbahasa Inggris, Bu Merty mengambil majalah dan Maulana mengambil Surat Kabar lokal. Aku tak tertarik untuk mengambil apapun. aku lebih baik menikmati keadaanku di atas permukaan bumi sampai sekian kaki dan melihat pemandangan yang terhampar di bawahku. Meski pemandangan yang terhampar lebih banyak berupa awan, namun aku selalu menikmatinya.


Setelah duduk di kursi sesuai dengan nomor yang tertera di boarding pass, kuletakkan tas berisi laptop di bawah kursi, membuka tempat untuk bertumpu kaki dan mulai memandang ke bawah, dimana beberapa petugas sedang mengalihkan tangga dan mobil barang sudah meninggalkan pesawat. Pramugari segera memberi petunjuk untuk semua penumpang, bagaimana memasang seat belt, mematikan ponsel dan laptop dan tidak melepaskan seat belt sebelum pesawat lepas landas dengan sempurna dan masih banyak lagi yang lainnya. Pramugari juga mengatakan lama perjalanan yang akan ditempuh, dan apa saja yang harus dilakukan apabila pesawat mengalami masalah. Kubaca doa naik kendaraan, semoga dengan bacaan doaku aku dan semua penumpang pesawat bisa mendarat dengan aman tanpa ada halangan suatu apapun.


“Subhaa nalladzi sakhorolana hadzaa wama qunna lahu mukrinin wainna ilaa robbina lamunqolibuun. Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.”


Kupasang seatbeltku dan kututup mataku. Kutarik nafas dalam sekedar untuk menenangkan jiwaku. Pramugari menutup semua locker yang menyimpan barang bawaan penumpang satu persatu, lalu kembali ke tempatnya dan tak berapa lama pesawat mulai bergerak pelan. Pelan dan pelan mengelilingi landasan dan akhirnya setelah beberapa kali putaran, pesawat melesat di landasan dengan kecepatan luar biasa lalu kurasakan seperti menghentak dan hentakan itu berlangsung selama beberapa menit.


Kupandang hamparan rumah dibawahku yang nampak miring. Jalan protocol semuanya nampak kecil dan tetap miring. Aku tidak tahu apakah pemandangan miring juga dirasakan oleh semua penumpang atau hanya aku yang merasakannya.


Setelah pesawat lepas landas dan melintasi lintasannya entah di berapa ribu kaki, kurasakan taka da gerakan berarti. Yang kulihat hanya awan putih di bawahku dan beberapa pemandangan yang berwarna biru jauh di bawah. Pramugari mengumumkan bahwa kami bisa melepaskan seat belt, namun aku tak ingin melakukan itu. Aku tetap harus memasangnya karena bagiku seat belt bukan hanya sekedar accessories tapi benar-benar sebagai pengaman.


Beberapa saat kemudian, kulihat pramugari mendorong troli, menawarkan minuman dan memberikan snack box pada kami.


“Selamat siang, boleh memilih minuman selahkan. Ada kopi, susu, jus , teh “ ramah sekali mereka dalam menawarkan jasa pada penumpang pesawat. Berbeda sekali dengan mereka para penarik angkot yang kadang semena-mena terhadap penumpang. Andai dunia ini bisa lebih familiar kepada para miskin, tentu rasa aman akan bisa dirasakan oleh siapapun yang hidup di dunia ini.


Aku memilih jus untuk minumku kali ini.

__ADS_1


“Jus jambu” jawabku pada pramugari yang menawari minuman padaku. Seorang wanita cantik langsung menuangkan jus sesuai pesananku di gelas lalu menyerahkan padaku.


“Terima kasih”


Sang pramugari tersenyum lalu mengalihkan perhatiannya pada pria di sebelahku. Dia seorang pria paruh baya yang sejak tadi hanya membuka lembaran surat kabar tanpa membacanya. Berkali-kali ia balik, namun aku tahu ia sama sekali tidak membaca satu barispun. Kulihat dia juga memesan jus jambu sepertiku. Setelah kuteguk semua isi gelasku, kuletakkan gelas kosong di ke plastik yang sudah kubawa dari rumah. box snack kubuka dan kunikmati isinya dalam diam. Ingin sekali kutengokkan wajahku ke belakang, melihat Maulana namun kuurungkan. Aku tak mau mempermalukan diriku dengan menoleh seolah meminta perhatian pada para penumpang untuk melihatku.


Tidak. Itu bukan kebiasaanku menarik perhatian orang lain. Aku selalu ramah pada siapapun yang ramah padaku dan akan diam pada mereka yang pernah menghargaiku. Aku tak pernah merendahkan diri di hadapan banyak orang hanya untuk membuat mereka memperhatikanku. Aku juga tidak akan pernah untuk mengemis cinta dan kasih sayang seseorang. Alasan pertama karena itu memang bukan aku dan yang kedua berdasarkan nasihat ayah, yang selalu mengatakan bahwa diriku harus menjadi diri sendiri, bergaul tanpa terpengaruh oleh orang lain.


Pukul 11.00 pramugari mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara soekarno Hatta, dia juga mengatakan bahwa tidak ada perbedaan waktu antara Jogjakarta dan Jakarta, serta beberapa petunjuk yang harus dilakukan oleh penumpang setelah pesawat mendarat. Aku segera menyiapkan barang bawaanku. Ketika pesawat benar-benar sudah mendarat dan pintu terbuka semua penumpang berdiri. Melihat jalan masih sangat penuh, aku memutuskan untuk tetap duduk menunggu penumpang lewat dan turun. Setelah semua berdiri, dan berjalan beriringan, aku bangkit dari tempat dudukku diikuti MAulana, Bu MErty dan Pak Junaidi. Berempat kami beriringan menuruni tangga pesawat dan berjalan dengan barang bawaan masing-masing. Kami dijemput oleh kendaraan yang akan mengantar kami menuju pintu keluar.


***


Kami berpisah di bandara. Aku dan Pak Junaidi menuju Hotel ML sedang MAulana dan Bu Merty menuju hotel IB. Setengah dua belas kami sampai di hotel ML Satpam hotel membukakan pintu taksi online kami dan menanyakan keperluan kami. Kami berjalan menuju tempat check in sesuai petunjuk dari security hotel. BAnyak peserta yang sedang antri, mencari kamar sesuai daftar peserta yang sudah tertera di meja receptionist.


“Permisi, Mbak peserta Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa ?” tanya seorang gadis ayu kepadaku ? aku mengangguk sambil tersenyum. “ Benar check in di sini ya ?” sambungnya.


“Iya. Mbak darimana ? “ sapaku sambil mengulurkan tanganku.


“Aku dari Kota Palembang. Universias SW. Mbak darimana ?” gadis berkerudung biru memandangku menunggu jawaban dengan penasaran.


“Jawa Tengah. Universitas Matahari.”


“Wajah Mbak sangat khas. Cantik dan lembut. Tidak sepeti aku.” Ucapnya. Aku hanya tersenyum malu. Berani sekali dia memujiku di hadapan orang banyak tanpa ada rasa canggung sama sekali.


“Terima kasih.” Kulihat antrian sudah sampai kepadaku. Akhirnya receptionis menyodorkan daftar namaku dan mengatakan bahwa kamarku di lantai lima belas, di kamar nomor 245. Aku terpaku merana membayangkan betapa tinggi posisiku nanti.


“Teman sekamar saya berarti belum datang, Mbak ? “ sapaku pelan.


“Mbak nanti akan bersama Mita Maharani dari Palembang, “ katanya.


“Saya Mbak ? Saya Mita Maharani. “ Gadis yang sejak tadi mengantri di belakangku langsung maju.


“ Mbak akan bersama dengan Mbak Marissa di kamar 245. Ini kartunya dan Mbak berdua bisa langsung menuju kamar lewat lift di sebelah kanan tangga.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Aku dan Mita mundur dan berjalan menuju lift, namun sebelumnya kuperintahkan dia agar menungguku karena aku ingin berpamitan dengan Pak Junaidi dosen pembimbingku.


Setelah berpamitan aku dan Mita teman baruku melangkah menuju lift yang sudah banyak orang mengantri di sana.


Sampai di kamar 245, Mita memasukkan kartu lalu membuka kamar kami. Dengan mengucapkan salam aku masuk ruangan berukuran tujuh kali Sembilan yang dilengkapi dengan satu buah bed besar dan perlengkapan lain. Kulepas sepatuku dan meletakkannya di rak sebelah kamar mandi. Kulepas kerudungku lalu mengeluarkan semua perlengkapan yang kubawa dari rumah dan menata di lemari pakaian yang tersedia di sana. Kupandang sekelilingku lalu kututup korden dan kumatikan lampu.


“MAaf ya, aku ingin mengecek apakah kamar ini dilengkapi dengan cctv atau tidak. “ ucapku pada Mita. Dia hanya bisa memandang semua tingkahku dan membiarkan aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Aku harus waspada pada semua kemungkinan. Jangan sampai aku merasa aman pada suatu tempat padahal sebenarnya sangat tidak aman. Kuarahkan kamera ponsel ke seluruh ruangan yang sudah gelap.


“Alhamdulillah, insya Allah tidak ada CCTV di sini. “

__ADS_1


__ADS_2