
“Apa maksudmu dengan kau tidak setuju, Meli?” Saiful nampak sangat kaget mendapat penolakan Meli yang tiba-tiba masuk ke ruangan Sisy. Ia memandang istrinya dengan wajah tak suka. Selama ini ia ingin anaknya menikah dengan Seno. Pemuda yang diincarnya karena dia memiliki keistimewaan disbanding prajurit-prajurit yang lain.
“Aku tidak setuju kalau Sisy menikah dengan Seno. Titik.”
“Hiks, Ibuuu . . . “ Sisy menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya. Tubuhnya yang masih lemah kini bertambah lemahtangan yang tadi ia gunakan untuk menutup wajahnya, kini lepas dan jatuh di dadanya.
“Sisy, Sayang.” Meli segera berlari menuju Sisy yang menangis.
“Apakah Ibu memang benar-benar tidak menginginkan aku bahagia?”
“Bu bukan begitu, Sayang. Ibu benar-benar ingin melihatmu bahagia. tapi mendengar kau mengatakan kalau kau membenci Seno, Ibu menjadi khawatir.”
“Aku mengatakan kalau membenci Mas Seno? Kapan?’ Sisy menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan
dirinya agar tidak terlalu terbawa emosi. ia tidak pernah merasa bahwa dirinya mengatakan hal seperti yang diucapkan ibunya.
“Ketika kau sedang koma, Sayang. semua petugas juga tahu kalau kau mengatakan itu.”
“Hiks, . . .” Sisy mulai menangis. Ia sama sekali tidak pernah tahu kalau dirinya akan mengatakan hal yang sesungguhnya berlawanan dengan apa yang dia rasakan saat ini.
Memiliki Seno adalah impian terbesarnya. Apapaun akan dia lakukan demi mendapatkan laki-laki yang dicintainya, termasuk menyingkirkan wanita-wanita yang pernah menjadi penghalangnya.
Sisy memandang Syaiful dan Meli bergantian, emncoba menganalisa perasaan kedua orang tuanya. Ia tahu dirinya terlalu egois. Ia juga tahu, beberapa cara licik yang sudah ia gunakan untuk membuat Seno jatuh cinta
padanya, pasti akan membuat mereka kecewa saat ia menceritakan semuanya.
Namun ia sudah terlanjur basah. Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Bukan untuk menyesali bubur yang sudah terbentuk, namun ia hanya butuh menghias agar bubur tersebut enak untuk dinikmati.
“Bagaimana, Sayang? Apakah yang dikatakan ibumu itu benar?’ Syaiful mencoba meyakinkan Sisy untuk membenarkan semua tindakan yang akan dia lakukan selanjutnya. Sekarang memang ia belum tahu posisi Seno. Sejak kepergiannya dalam tugas lima bulan lalu, ia hanya mendengar bahwa Seno akan mendapat tugas
di tempat yang baru.
“Sisy tetap iingin menikah dengan Mas Seno, Ayah. Tidak ada laki-laki lain yang bisa membuat Sisy bahagia.” Syaiful memandang meli yang kini menunduk.
“Bagaimana, Bu? Apakah kau sudah mendengar perkataan anakmu?” Meli mengangguk tanpa berani mendongakkan wajahnya sekedar untuk melihat wajah Syaiful.
“Semua tersetrah padamu, Mas. Aku menurut saja mana yang terbaik.”
“Baiklah kalau begitu. Karena kebahagiaan putriku diatas segalanya, aku tetap berharap bisa mewujudkan cita-cita anakku. Ayah akan mencoba menghubungi Seno setelah ini. pastikan kau cepat sehat, OK?” Sisy mengangguk bahagia. tatapan matanya menyeringai. Bangga pada pencapaian akhirnya, memenangkan Seno atas bantuan sang Ayah tercinta.
Di tempat lain, Seno yang sedang duduk di ruang kerjanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya mendapat laporan dari beberapa prajurit yang menjadi bawahannya. Ia memandang hasil laborat milik Sisy yang baru ia dapat dari Amran. Dokter militer yang menjadi sahabatnya semasa kulaih dulu.
__ADS_1
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” batinnya. Pikirannya buntu. Tidak bisa ia ajak berfikir jernih untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya tidak perlu terjadi.
“Tok tok tok”
Sebuah ketukan terdengar dari pintu tak jauh dari tempatnya duduk. Pandangan Seno mengarah ke pintu,
dimana disana berdiri seorang prajurit.
“Masuk”
“Terima Kasih, Komandan.” Prajurit tersebut membri hormat lalu melangkah masuk. Ia berdiri di hadapan Seno, tanpa berinisiatif untuk duduk.
“Duduk!” Sang prajurit langsung melaksanakan perintah.
“Siap”
“Katakan apa yang terjadi!” Seno memandang prajurit yng kini sedang menatapnya.
“Kami mengetahui kalau Mayor Syaiful sudah kembali, Ndan.”
“Bagus kalau seperti itu. Apakah dia sedang di rumah sakit?”
“Katakan padanya aku ingin bertemu sore ini.”
“Siap.”
“Kalau begitu silakan keluar. Aku harus menyiapkan meeting dengan komandan setelah ini.” Prajurit Marsan segera meninggalkan tempat dengan sebelumnya melakukan penghormatan pada atasan. Ia keluar menuju pos penjagaan, menemui teman-temannya yang masih memandangnya. Penasaran dengan apa yang baru saja ia alami di ruangan Seno.
“Apa yang terjadi?’
MArsan diam. dia melangkah menuju kursi yang semula ia duduki dan mendaratkan pantatnya di sana.
“Ndan Seno memita informasi terkait kepulangan Kapten Syaiful.”
“Kau mengatakannya?” MArsan mengangguk.
“Kau sedang tidak mencoba untuk memecah belah persatuan kan? Kapten Syaiful meminta kita untuk merahasiakan kepulangannya karena beliau tidak ingin Ndan Seno tahu. kenapa kau bodoh sekali.”
Marsan terperanjat. Ia saa sekali tidak menyangka bahwa laporannya pada Seno akan membawa bencana besar bagi dirinya bahkan mungkin untuk persatuan dan kesatuan satuannya.
“Apa yang harus kulakukan?’
__ADS_1
“Pikir saja sendiri. Aku sudah bosan berurusan dengan politik orang-orang atas. Aku ingin keluargaku hidup tenteram dan damai tanpa ada masalah.”
“Please, jangan jahat seperti itu. Aku tidak mau keluargaku dalam masalah. Aku melaporkan itu karena aku benar-benar ingin melindungi keluargaku. Tapi mengapa kau mengatakan aku bodoh?”
“Kau tahu kan kalau Kapten Syaiful sedang mengincar Ndan Seno untuk menjadi menantunya? Kalau Ndan Seno tahu dia sudah kembali, Ndan Seno pasti akan menghindar. Dia tidak akan mau dipaksa-paksa, apalagi untuk urusan menikah dengan wanita yang sama sekali tidak diinginkannya.”
“HEi, darimana kau tahu? Tadi Ndan Seno bilang kalau nanti sore ia ingin menemui Kapten.”
“Benarkah?”
“Apakah kau pikir selama ini aku sering bercanda ?’
“Tidak, bukan itu maksudku. Aku kira Ndan Seno akan marah kalau tahu Kapten Syaiful pulang.’
“Sudahlah. Kita tidak usah terlalu ikut campur. Pikirkan nasib kita masing-masing. Jangan ada campur tangan kita pada keluarga orang-orang atas seperti mereka. salah-salah kita sendiri yang kena masalah. Bukan dipecat, tapi kita akan dikucilkan. Apakah kau mau?”
MArsan menggeleng.
“Aku janji tidak akan campur tangan lagi.” Ucapnya lemah.
“Ha ha ha, apakah kau takut?” goda prajurit lain. Marsan nampak mengacak rambutnya.
“Bukan takut. Aku menyesal telah masuk dalam ranah yang seharusnya tak kumasuki.”
“Karena sudah terlanjur, kau harus menyiapkan mentalmu seperti baja, Bro. jangan menyerah dan tetap waspada Ok?”
Marsan memukul bahu temannya keras
“Auw. Kau ingin bermain denganku?”
“Tidak. Jangan macam-macam karena aku penembak jitu. Sekali dor, kau akan terkapar dan keluargamu akan kehilangan mata pencaharianmu.”
“Jangan sembrono seperti itu. Hati-hati kalau bicara. Walau kau penembak jitu, pelurumu tidak boleh kau sarangkan ke tubuh kawanmu, Sobat.’
Marsan diam. dia mengambil ponselnya dan mulai berselancar dengan dunia mayanya. Media sosial yang membawanya mengenal satu orang wanita yang begitu ia kagumi. Meski berkali-kali dia mengatakan bahwa dirinya sudah menikah, sang wanita tetap menerimanya dan mengatakan bahwa dia bersedia menjadi yang kedua dalam hidupnya.
Marsan mencoba melihat aktivitas sang wanita yang kini memasang status baru di linimasanya. Beberapa foto dengan pose yang sangat apik terpampang indah di sana. Beberapa like sudah ia dapatkan dari teman-temannya membuat Marsan merasa sedikit emosi.
“Kau ternyata selalu mampu menarik perhatian banyak penggemarmu daripada menarik perhatianku, Sayang.” gumamnya. Ia cek satu persatu likers milik wanitanya yang hampir semua laki-laki.
“Shit. Aku kenapa selalu terlambat?’ batinnya sambil memencet tombol hati untuk foto sang wanita dengan sedikit terpaksa. Teman-temannya terkikik geli menyaksikan aktivitas Marsan yang sangat menggemaskan. Menggumam sendiri, memukul meja atau bahkan pahanya sendiri, menjambak dan entah apa lagi.
__ADS_1