Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Pesan misterius


__ADS_3

Tahun baru tiba.


Aku ingin memperbaiki hidup. Kondisiku yang tak seberuntung teman-temanku yang membuat aku tetap semangat untuk meniti mimpi. Aku tak ingin karena cintaku tak terbalas, tujuanku kandas. Satu-satunya cara agar aku bisa terhindar dari masalah adalah menjauh sementara dan menyerahkan tugas dan jabatanku di satuan resimen mahasiswa pada yuniorku dengan alasan ingin segera menyelesaikan kuliah. Aku tahu ini tak bijak. Tapi tak apalah. Semua kulakukan agar aku tak terlalu sering melihat Qomar dan Syamsya di markas.


Aku merasa sangat nelangsa. Semua orang tak mau tahu perasaanku. Mereka tetap menggodaku ketika menemukanku murung di ruanganku. Mereka seolah bahagia melihatku sengsara. Seperti saat ini, Nur Janah dan ipung, menemuiku di ruang sekretaris.


“Kamu masih cemburu pada Syamsa, Sayang ?” tanya Nurjanah sambil memeluk pundakku. Dia mengerlingkan matanya mengejekku. Aku hanya bisa melengos. Ingin sekali kupukul lengannya kalau saja tidak kulihat Qomar mendekat.


“Apa kamu bilang Nur?” tanya Qomar penasaran. Aku melihat air muka Qomar tiba-tiba berseri memandangku sambil melangkah mengambil kursi dan duduk di hadapanku.


“Tolong katakan bahwa apa yang dikatakan Nurjanah benar!” ucapnya sambil melipat kedua tangannya.


“Tentang apa ?’ tanyaku pura-pura bodoh. Dalam hati aku mengutuk tindakan Nurjanah.


“Apa benar kamu cemburu pada istriku ?”


“Tidak!” ucapku tegas. “Kalau kalian melihatku sedang sedih ini karena . . .” kuhentikan kalimatku sejenak. Aku ingin memancing pertanyaan mereka.


“Karena apa ?” Tanya Qomar penasaran. Pancinganku kena sasaran.


“Karena kekasihku di Jogjakarta menikah. Dia menikahi teman karibku dan aku baru tahu tadi sore.” Kukarang cerita agar mereka tak menggodaku lagi.


“Apakah kau yakin ?” Nurjanah menyelidik.


“ Apakah aku pernah berbohong, Nung?” aku kesal dengan pertanyaan Nurjanah. Aku tahu ia curiga padaku. Tapi kali ini aku benar-benar tak ingin berdebat dengan siapapun.


“HAri ini aku harus mengundurkan diri dari resimen, “ kusodorkan surat pengunduran diriku pada Qomar, komandanku.


“Apa maksudmu?”


“Aku ingin fokus pada skripsiku. Mohon maaf kalau selama ini kinerjaku sangat buruk. Komandan bisa mencari gantiku mulai saat ini.” Aku segera berdiri dan mengambil tasku lalu pergi meninggalkan markas komando. Tak ada yang mencegahku dan aku merasa betapa mereka sangat tidak menghiraukanku.


Saat aku sedih aku akan selalu mencari tempat favorit untuk menyelesaikan masalah. Aku tahu dimana. Masjid kampus.


Ada banyak kenangan pahit tercurah di sana. Saat aku terluka karena aku didholimi dalam lomba pidato oleh yuri yang sudah disuap salah satu kontestan, saat hatiku terluka karena Meta mengira saya merebut kekasihnya dan masih banyak kenangan pahit yang kuadukan padaNya di tempat ini. Aku tahu aku keliru. Mengadu pada Yang Maha Kuasa hanya pada saat aku nelangsa, sedang ketika hati bahagia aku hanya bertahan lima hingga sepuluh menit saja.


“Oh Tuhan, maafkan hambaMu yang durhaka ini. Hari ini kucurahkan padamu semua masalah yang melandaku. Maafkan aku karena aku telah berbohong pada saudaraku tentang kekasihku yang dari Yogyakarta itu. Aku juga minta maaf karena aku telah mendustai hatiku. Tolonglah hambaMu agar bisa mengatasi masalah !”

__ADS_1


Kusudahi aktivitasku. Aku tahu jam bimbinganku sebentar lagi tiba. Meski malas, aku tetap ingin mengikuti. Kukembalikan pada niat awalku bahwa aku datang untuk belajar. Dengan bismillah, aku melangkah keluar masjid. Kuraih sepatuku di rak sebelah kanan pintu keluar lalu memakainya satu persatu dengan duduk di teras. Belum selesai aktivitasku, aku merasa ada sepasang mata mengawasiku. Namun dia seolah tak perduli.


Aku tak ingin terlalu berbaik hati pada siapapun hari ini. Ada banyak waktu dan kesempatan untukku menghindar karena jarak kami sangat jauh dan dipisahkan oleh jalan raya. Perlahan aku menyelinap ke selasar masjid. Kalau biasanya kulewati tangga sebelah timur dan menuju markas resimen, hari ini kulangkahkan kaki melewati rektorat dan turun melalui tangga putri menuju ruang pendaftaran mahasiswa baru. Aku ingin bersembunyi di sana dan keluar pada saat keadaan aman.


“Assalamualaikum Risa, Risa mau kemana ?” godanya. Sebuah pertanyaan bodoh. Dia seharusnya tahu, banyak lalu lalang mahasiswa di sekelilingnya dengan kegiatan akademiknya. Dia juga seharusnya sadar bahwa posisinya sekarang ada di wilayah kampus Matahari. Bukan di mall, di supermarket atau di hutan. “Iya saya tahu. Risa pasti akan ada bimbingan skripsi. Iya kan ?” sekali lagi ia menggodaku. “Kalau tidak salah Pak Amir dosen pembimbing sedang di luar kota.” Sambungnya.


Aku hanya bisa melotot. Mahasiswa kakak tingkatku yang bagiku sangat menyebalkan itu memandangku dan tertawa. Aku heran, bagaimana mungkin dia tahu kalau dosen pembimbingku sedang di luar kota. Dia pasti bercanda dan bagiku candanya sangat tidak menarik. Dengan keyakinan yang pasti bahwa dia keliru, kutinggalkan laki-laki yang dua kali ini menggodaku. Kutelusuri koridor kampus dan bergabung dengan teman-temanku mahasiswa psikologi semester 8.


“Kita ke kantin yuk !” ajak Lina penuh semangat.


“Ke kantin ? Kamu sedang tidak bercanda kan ? aku ada bimbingan skripsi jam 10.30 masa kamu mengajakku ke kantin itu bagaimana ? “ mendengar kalimatku Lina cemberut


“Makanya jadi orang itu jangan bersembunyi terus. Menghilangkan masalah dengan semedi di kesunyian, jadi tidak tahu kalau Pak Amir dan Pak Hasyim keluar kota. “ sahut Lina.


“Jadi benar yang dia katakan” batinku .


“Kamu sudah bertemu Mas Qomar belum ? Tadi dia mencarimu. Ada tugas yang harus kamu laksanakan.”


“Kak Qomar lagi, tugas lagi. “ desahku


“Tidak” jawabku cepat. “Aku tak ingin semua orang menganggapku seperti itu. Tak ada hubungannya antara aku dan Kak Qomar serta Mbak Syamsya. Mereka sudah mengambil jalannya dan aku harus ikhlas karena tak ada apa-apa antara aku dan dia titik.”


“Ih ndak usah sewot begitu. Tahu tidak, kalau kamu sewot semua akan mengatakan bahwa apa yang baru saja kamu dengar adalah nyata adanya.”


Aku diam. Memang benar yang dikatakan Lina. Kalau aku marah semua orang akan menganggap bahwa anggapan mereka tentangku benar. Aku tersenyum. Kucairkan pikiranku demi agar semua tidak menganggapku cemburu pada Syamsya meski sebenarnya aku tak pernah bisa membuang cemburu itu. Kugandeng lengan Lina dan kulangkahkan kaki dengan riang menuju kantin untuk makan.


“Kau katanya mengundurkan diri dari sekretaris?’ tanya Lina penuh selidik. Aku hanya menganggukkan kepala sambil menyeruput jus jambu yang baru saja dihidangkan.


“Bukan hanya mundur dari sekretaris, aku mundur dari resimen.” Sahutku.


“Yang benar ?”


“Surat pengunduran diriku ada di meja komandan. KAu bisa mengecek kebenarannya.”


“Kamu bukannya sebentar lagi akan wisuda ya ? kenapa harus mundur ? tanpa mundurpun kamu sudah bisa non aktif kok.” Pelayan datang membawakan pesanan makan siang kami. Bukan makan siang sebenarnya, karena jam masih menunjukkan jam sebelas kurang seperempat. Lina langsung mengambil soto dading yang baru saja dihidangkan. Dia tambahkan kecap dan sambal, lalu mengambil irisan jeruk nipis dan memeras airnya. Kulakukan hal yang sama lalu dalam diam kami menikmati makanan kami dengan lahap.


“Ngomong-omong, apakah kamu sudah memulai menyusun skripsi ?” Aku hanya mengangguk. Lina mengacungkan jempolnya. “ Sahabatku memang selalu hebat. Dia tahu kapan harus berbuat. Salut deh padamu” sambungnya.

__ADS_1


“Aku ingin segera meninggalkan kota ini. Kembali ke pangkuan ibuku kelihatannya lebih menyenangkan.” Sahutku.


Setelah kami selesai makan, Lina membayar makanan kami. Aku sebenarnya sudah menyiapkan uangku, namun dia menolak karena ia ingin berbagi rejeki katanya. Ia baru saja mendapat bonus dari seseorang katanya. Aku dan Lina keluar kantin dan kembali ke kos masing-masing.


***


Sisy kembali meminta tolong padaku untuk mengatakan pada laki-laki yang sekarang sedang menunggu di Gasebo timur laut alun-alun kota bahwa dia sangat mencintainya. Untuk kedua kalinya kulaksanakan perintahnya, dengan mengendarai beat merah milik Sisy. Sekali lagi kujepretkan kameraku ke lokasi dari jauh. Tak ada orang yang menanti Sisy hari ini dan foto kukirim via Whatsapp ke Sisy.


Kali ini Sisy meminta maaf bahwa laki-laki tersebut sudah menjemputnya dan mengajaknya ke rumah sisy. Aku menarik nafas lega, setidaknya ketidakhadirannya di Gasebo tidak membuat Sisy kecewa. Ku arahkan beat ke barat, menuju depan masjid kauman dan membeli sebungkus bakso. Lima menit kemudian, aku sudah kembali di kamarku dan menikmati bakso seorang diri.


Rumah kos sepi karena saat malam minggu semua temanku keluar rumah dengan berbagai alasan. Aku sengaja tidak ikut karena tak ada keinginan sama sekali untuk beraktivitas di luar saat malam.


“Kau adalah mawar. Indah bila dipandang, namun durimu akan menusuk saat kupegang. Kecuali kalau aku memakai sarung tangan untuk menghalalkanmu”


Sebuah pesan dari nomor baru masuk. Tak ada foto profil yang bisa kugunakan untuk mengenal si pengirim. Hati kecilku mengatakan bahwa Senolah si pengirim pesan tersebut dan bagiku tak ada alasan untuk membalas pesan itu. Tak akan kuhiraukan kemarahannya saat dia tahu aku tak merespon pesannya. Aku hanya ingin dia tak menganggapku sebagai gadis yang mudah masuk dalam jebak rayu laki-laki meski saya tahu hatiku tersanjung.


“ Hai, Adik apa kabar ? “ pesan kedua dari nomor yang sudah tersimpan milik Seno masuk. aku bisa menebak bahwa dia sengaja mengirim pesan dari dua nomor berbeda dengan harapan bisa membuatku penasaran.


“Aku bukanlah mawar yang indah bila dipandang, maaf.” Pesan balik kukirim lewat nomor lama milik Seno. Aku tak berharap dia melanjutkan godaannya.


“What are you talking about ?”


Balasan yang sangat tak kuharapkan. Sedetik aku berfikir, mungkinkah aku salah orang ? kulihat sekali lagi pesan yang kukirim lewat nomer Seno, dan sejenak kuinsyafi kesalahanku. Aku terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa Pesan pertama datang dari Seno dan kemungkinan besarnya aku keliru. Tak banyak yang bisa kuperbuat untuk menjawab pertanyaan Seno lewat pesan keduanya.


“Love you”


Jantungku bergetar membaca pesan Seno yang ketiga. Antara percaya atau tidak, kubaca beberapa kali pesan itu dan akhirnya kumatikan ponselku. Tak ada keberanianku untuk membalas ungkapannya. Aku belum mau pacaran. Bukan karena tak mau tapi lebih karena aku takut pada ayah. Beliau selalu memberiku pesan supaya menjauhi zina.


Pukul sembilan Sisy pulang. Ia bilang, orang yang dicintainya baru saja membawanya belanja di Sarinah, sebuah supermarket ternama di kota tempat belajarku. Banyak yang dia beli, dari perlengkapan mandi sampai make up, serta makanan ringan dan dia bilang mas Yoyo, kekasihnyalah yang membayarnya.


Aku tak habis pikir dengan keberaniannya memanfaatkan harta laki-laki non muhrimnya. Kulihat Sisy menata barang belanjanya, dan membuka sebungkus kacang kelinci lalu mempersilakanku untuk menikmati. Aku tak ingin menyentuhnya, kalau saja Sisy tak memaksaku untuk kesekian kali. Bukan apa-apa, meski halal, aku tak mau memakan makanan hasil pacaran. Kuambil sebutir lalu kukupas, dengan ragu kubuka mulutku, dan sebelum biji kacang itu masuk ke mulut, seseorang memanggilku.


“ Marissa”


Kuletakkan kacang yang sudah siap kumakan di atas meja belajar dan berlalu memenuhi panggilan Santi di luar kamar.


“Ada tamu yang ingin menemuimu” kata Santi.

__ADS_1


__ADS_2