
Sisy sudah kembali ke rumah setelah dokter spesialis menyatakan dirinya sembuh. Meli dan Syaiful sudah menyiapkan kamar Sisy menjadi lebih rapi. Selain untuk menerima kedatangan Sisy, mereka juga
beranggapan bahwa sebentar lagi akan ada penghuni baru di rumahnya.
Setelah turun dari mobil, Meli menuntun Sisy masuk, dan merebahkan tubuhnya di ranjang king size.
“Kau tidak ingin mencuci kaki atau tanganmu dulu, Sy?” tanya Meli sambil memandang Sisy. Sisy menggeleng. Ia sama sekali tidak ingin ke kamar mandi. Ia yang merasa lelah segera menarik selimut dan menutupkannya di tubuhnya.
Meli hanya menggelengkan kepalanya. Heran dengan sikap Sisy yang seolah ingin semaunya sendiri. Ia sungguh berbeda dengan ketika dia masih berada di kos Flamboyan. Dulu, Sisy adalah gadis manis yang selalu menghargainya, dan selalu membantunya dengan suka rela. Setelah keluar dari sana, ia menjadi gadis yang pendiam. Suka memberontak dan suka semau sendiri.
Tak jarang ia juga bersikap sedikit kasar terhadap Meli. Apalagi ketika keinginannya tidak dituruti. Ia pasti akan
mendiamkannya selama ia mampu. Meli mendesah melihat perubahan sikap anak semata wayangnya. Dokter syaraf mengatakan kalau dia sudah membaik. Tidak ada fungsi syarafnya yang terganggu.
“Ibu mengapa masih di situ? Sisy ingin sendiri, Bu. Tidak ingin diganggu siapapun termasuk Ibuku sendiri.”
“Baiklah. Ibu akan pergi.” Meli segera meninggalkan kamar Sisy dengan kecewa. Ia merasa tidak mengenali anaknya. Batinnya menjerit. Dengan tergesa ia berlari ke kamar tidurnya dan menumpahkan segala sakit hatinya di sana.
Melihat Meli masuk kamarnya dan menangis, Syaiful yang sedang mengganti pakaian segera mendekat. Ia elus punggung istrinya dan menciumnya lembut.
“Apa yang terjadi?’
“Hiks, anak kita seperti bukan Sisy, Ayah. Hiks. Dia nampak sangat berbeda dari Sisy sebelumnya.”
“Apakah kau tahu kenapa?” Meli menggeleng. Ia sama sekali tidak mengerti alasan perubahan tingkah laku anaknya. Syaiful yang tahu hanya diam. Ia pandang wajah istrinya dan segera meraih tangannya dan
menatapnya dengan sorot mata tajam.
“Ini semua karena kau tidak bisa membimbingnya.”
“Aku? Mas menyalahkan aku? Mengapa? Apakah karena Mas merasa bahwa Mas sudah bekerja sehingga segala tanggung jawab pendidikan Sisy mutlak berada di tanganku begitu?”
“Tentu saja. Siapa lagi yang bertanggung jawab selain ibunya.”
“Ayahnya juga bertanggung jawab. Kemana selama ini dirimu? Sibuk?Kalau begitu aku juga bisa sibuk.”
Plak
__ADS_1
Tangan Syaiful reflek mendarat di pipi Meli dengan sempurna membuat si pemilik wajah memegang tangannya dan menangis lebih keras. Syaiful melangkah meninggalkan kamarnya dan Meli segera
menguncinya dari dalam. Ia tumpahkan semua kekesalannya di bantal kesayangan. Menangisi nasibnya.
Sementara Syaiful yang hanya keluar ingin mengambil sesuatu di ruang tengah, nampak kesal ketika ia hendak membuka pintu kamarnya yang terkunci.
“Kau buka pintunya atau kudobrak dari luar.” Ucapnya sambil menendangng daun pintu dengan keras.
Sisy yang hendak terlelap segera bangkit, mengintip kejadian di rumahnya dengan perasaan was-was. Ini memang bukan hal pertama yang ia lihat di kehidupan keluarganya. Ayahnya yang merasa sebagai kepala keluarga sering melampiaskan kekesalannya pada ibunya. Sisy kembali merebahkan tubuh lelahnya.
“Ayah selalu saja seperti itu. Mengutamakan egonya dibandingkan dengan kepentingan orang lain.’ Gumamnya.
“Aku tidak mau menghitung untuk kesekian kali padamu. Apalagi memohon agar kau mau membukakan pintu untukku, Meli.”
Meli segera bangun. Tidak ada kekuatan untuknya menolak semua kalimat suaminya karena baginya sangat sia-sia. Ia buka pintunya dan segera keluar, melangkah menuju kamar kosong di sebelah kamar Sisy dan menutupnya dari dalam.
“Apa maumu, Meli. Aku sama sekali tidak habis pikir dengan semua sikap dan tingkah lakumu.” Ucap Syaiful.
Sisy menangis. Ia mengingat saat-saat terakhir di rumah sakit. Ia melihat betapa ayahnya sangat manis meggoda ibunya yang sedang menata dan merapikan berkas administrasinya di atas meja pasien.
“Ah, apakah semua laki-laki seperti ayah? Selalu manis dan kadang kasar seperti itu. Mas Seno, apakah dia juga sama dengan Ayah? Semoga saja tidak. Aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi sikap laki-laki
Beberapa kali ia mengirim pesan pada sahabatnya, mencoba mencari solusi atas masalah yang sedang ia hadapi, namun Rosa belum juga menerima pesannya. Centang satu masih terlihat. Ia segera mengirim pesan ke Sulis. Mencoba menghilangkan penatnya, dekedar untuk berbasa basi, mencari teman yang bisa ia ajak untuk berbicara.
“Kau sibuk Lis? Rosa juga. Beberapa pesanku belum diterima.”
Sulis yang sedang makan bersama Sari segera mengambil ponselnya dan membaca pesan Sisy.
“Aku sedang makan, Sy. Apakah kau sudah sembuh? Maaf aku tidak menengokmu lagi karena agenda konsultasi skripsiku dilaksanakan selama seminggu ini.”
Sisy tersenyum. Ia segera mengetikkan beberapa kalimat dan mengirimnya sebagai balasan.
“Selamat atas disetujuinya proposalmu. Aku berharap segera menyusulmu”
“Memangnya selama ini kau dimana? Ingin kuajak maju bersama tapi aku tak sabar menunggumu nongol di kampus.”
“Aku ke Jakarta dan Bandung bersama Mas Seno.”
__ADS_1
“ O iya? Ngapain?”
Sisy diam. Ia bingung harus menjawab apa. Sedangkan untuk jujur dia sangat takut. Ia tidak ingin orang tahu apa yang baru saja ia alami.
“Sy, apakah kau masih di sana?”
Sulis mendesah. Ia sama sekali tidak tahu kalau kalimat yang baru saja dia tulis menyinggung perasaan Sisy. Sari yang melihat gelagat Sulis hanya bisa diam.
“Ada apa dengan Sisy ya, Ri? Dia chat tapi setelah kujawab sekarang diam saja.” Sari melihat ponsel Sulis dan membaca chatnya dengan seksama.
“Kelihatannya dia sedang memiliki masalah ya.” Sulis mengangguk.
“Iya. Ada yang aneh dengannya. Pergi selama satu bulan lebih dan pulang dalam keadaan koma.”
“O iya? Kapan?”
“Seminggu lalu. Ibunya mengundangku untuk datang menjenguknya di rumah sakit DKT. Kami datang dan dia masih belum sadar.”
“Sekarang dia sudah sadar, buktinya dia bisa mengirim pesan padamu.”
“Iya, tapi aku tetap merasakan aneh. Kelihatan ada yang disembunyikan dariku.”
“Kau mungkin yang terlalu sensitif.”
“Aku yang sensitif ya? Ah entahlah. Au yang sensitif atau dia yang . . . sudahlah, Ri. Kita lanjut saja kerjasamanya ya. Kita selesaikan bab kedua dan bimbingan skripsi akan lancar besok.”
“Begitu lebih baik, Lis. Aku juga sudah terlanjur malas untuk menghindar dari pertanyaan Mamahku. Dia selalu bertanya kapan aku akan menyelesaikan skripsi dan wisuda.”
“Wisuda ya? Asik sekali ya kalau kita bisa ikut wisuda besok bersama Marissa.”
“Iya. Dia menjadi mahasiswa terbaik di angkatannya. Di wisuda rektor dan mendapat penghargaan kampus. Dapat anugerah menjadi dosen lagi.”
“Apakah Pak Aditya mengijinkan?”
“Entahlah. Aku berharap Pak Adit mengijinkan. Semua kan demi kebaikan umat. Iya kan? Kalau orang cerdas seperti Marissa tidak dimanfaatkan dalam dunia pendidikan, aku yakin ilmunya akan mentok di Marissa saja. Sedangkan generasi muda membutuhkannya.”
“Kita doakan saja Pak Aditya mengijinkan. Ok?”
__ADS_1
“Aamiin”