
Aditya dan Marissa masih duduk bersama Rosa, sedang Sigit sudah meninggalkan mereka dalam diam. Aditya
memandang dua wanita di hadapannya, mencermati perubahan wajah mereka dan memastikan bahwa mereka baik-baik saja dengan perlakuan Sigit.
“Siapa dia Sayang?” tanya Adit sambil mencubit lengan Marissa.
“Auw, Sakit Kak. Masa istri sendiri dicubit sih,” Rosa merasa illfill melihat sepasang suami istri yang selalu memamerkan kemesraannya.
“Katakan padaku siapa, dia.”
“Dia temannya Sisi dan Mas Seno, Sayang. Temannya Rosajuga.”
‘Teman istriku jugakah, Ros?’ Rosa mengangguk. Aditya melotot melihat pengakuan Rosa. Marissa terkekeh melihat tingkah suaminya.
“Kalau dia temannya Rosa dan Sisy tentu saja dia juga temanku, Kakak Aditya. Apakah ada yang salah
dengan dirinya?” Aditya menggeleng perlahan. Tidak rela rasanya kalau gadis-gadis berteman dengan pria arogan seperti Sigit. Baru saja menjadi Abdi Negara sudah besar kepala dan itu sangat bertentangan dengan sikap Aditya yang selalu lemah lembut pada siapapun.
“Kita pulang yuk, Sayang. Lama-lama di sini Mas smenjadi kekeringan nanti.”
“Mas? Mengapa berubah panggilannya?”
“Kau yang selalu lupa bahwa suamimu ini lebih suka dipanggil Mas daripada Kakak.”
“Ok aku yang lupa. Maaf.”
“Kita pamit dulu sama Seno apa tidak, Sayang?”
“Pamit dong. Masa iya tidak pamit. Kita ini tamu, datang tak diundang pulang meski tidak diantar jangan kayak jaelangkung, harus pamit, Ok?”
Aditya mengangguk. ia segera menuntun istrinya menuju pelaminan, meminta diri pada Seno dan Sisy
serta kedua orang tuanya.
“Marissa, Sayang. aku kangen sekali.’ Seorang gadis yang memakai gaun berbahan brukat ungu menghampiri Marissa dan Aditya.
“Lina? Kamu kapan datang? Mengapa terlambat sih? Aku sudah pamit tadi sama Sisy.”
“Aku kan tidak tahu kalau Sisy menikah sekarang. Dia baru saja telpon aku tadi malam, makanya aku
baru berangkat tadi pagi.”
“Kamu mampir ke rumahku ya. kita biar ngobrol banyak nanti malam.” Lina mengeleng. Ia tidak mau
menganggu kebersamaan mereka berdua. Meski dirinya belum wisuda, ia teta saja meninggalkan kampus dan mengikuti Kakaknya di Bandung.
“Tidak boleh, Sayang.Aku tidak mau kalau terganggu oleh gadis lain.” bisik Aditya membuat Marissa
memandangnya sedikit kesal.
__ADS_1
“Tidak boleh kan sama Pak Adit?”
Marisa tersenyum. ia tidak bisa mengatakan apa yang dikatakan suaminya pada Lina.
“Lagi pula dia kan punya rumah yang dekat sini, Sayang. masa iya dia tidak ingin menginap dengan ibunya sih.”
“Iya, Pak Adit. Aku tahu kok. Lagipula siapa yang akan menginap di rumah orang. Ibuku sudah bilang kalau
aku tidak boleh terlalu lama pergi. aku harus membantu ibu menyiapkan acara selamatan Kakek.”
Aditya tersenyum bahagia karena dia tidak jadi merasa terganggu karena kehadiran Lina di rumahnya.”
“Cukup KAkakmu yang sering menginap di rumahku.”
“Iya, Iya, aku tahu. sudah ada yang istimewa di hati Mas Adit.”
“Kok Mas sih, Lin?” Protes Marissa. Adit dan Lina tersenyum
“Sejak dulu dia memanggilku Mas, Sayang. jangan cemburu ok?”
“Baiklah. Tapi jangan terlalu sering memanggil Mas ya, aku tidak mau cinta lama bersemi kembali.”
“Siapa yang cinta lama, RIssa. Aku sama Mas Adit hanya sekedar kenal karena dia sahabat Kakak. Itu saja.’
“Ok.”
“Sulis mana kok tidak kelihatan?”
“Entahlah. Sejak tadi dia tidak elihatan. Ada apa ya? Apakah Sisy menyuruhnya mencari sesuatu ya?’ Lina mengedikkan bahunya.
“Kamu yang lebih tahu. Eh beritahu aku, apakah Mas Seno benar-benar sudah Move on?’
Rosa menggeleng.
“sisy melakukan kecurangan.”
“What? Ceritakan padaku!”
“Jangan berisik. Aku tidak akan menceritakan apapun di sini. Mereka para tamu butuh ketenangan untuk
menikmati pesta ini.”
“Ok, aku akan diam. tapi berjanjilah kau akan menceritakannya padaku.” Lina meninggalkan lokasi pesta
dan kembali ke rumahnya di Kledung.
“Hai”sigit yang sejak tadi menunggu Rosa sendiri, kini mendekat.
“Mas Sigit ada apa sih? Dari tadi bukannya Mas sudah ke sini? Aku kira Mas sudah pulang.”
__ADS_1
“Pulang? Nei, aku tidak akan pulang sebelum aku tahu siapa suami Marissa.”
“Ada apa dengan suami Marissa?”
“Kenapa Marissa mau menerimanya? Kalau dibandingkan dengan Pak Seno, dia tidak ada apa-apanya. Aku kira dia akan menerima Seno dan menikah dengannya, e ternyata aku harus kecewa. Aku mengalah agar komandanku berhasil mempersunting dirinya, malah kini tambah kecewa karena Marissa lebih memilih orang biasa.”
“Orang biasa bagaimana?”
“Ya tadi suami Marissa. Dia biasa banget. Tidak ada gagah-gagahnya. Tidak sebanding banget sama Marissa
yang cantik jelita.”
“Mas Sigit memangnya tahu siapa dia?” Sigit menggeng.
“Paling-paling dia teman kuliahnya. Iya, Kan? Teman sekampus apa enaknya? Lagian aku yakin dia pasti
sangat miskin. Lihat saja penampilannya. Jauh banget dengan penampilan istrinya.”
Sigit segera menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan foto Aditya dan Marissa yang sedang berdiri di
sebelah pintu.
“Mas Ambil foto ini dari mana?”
“Dari sana.” Sigit menunjuk sudut ruangan. mencoba memberitahu bahwa dia baru saja mengambil foto
Marissa dan Aditya yang sudah akan pamit.
“Mas Sigit jangan menutup mata. Pak Adit itu ganteng begini. Kalau dibandingkan Mas Sigit, aku rasa dia lebih memiliki nilai tambah. Dia dosen, pengusaha dan yang jelas cerdas. Dia romantic banget tahu? Aku saja ingin sekali memiliki suami seperti dia.”
“Dia dosen? Dosen dimana?’
“Ya dosen di kampus kami lah, masa dosen di batalyon.”
“Ih ogah banget. Kalau sampai batalyon memiliki dosen seperti dia, aku tidak akan mengikuti perkuliahannya. Sudah jelek, tidak modis sama sekali. Jauh banget dengan Marissa.”
“Sudah cukup mengejeknya Mas? Aku ingin ke Sisy dan meminta foto bersama para kerabat.Sisy yang
melambaikan tangannya padanya.
Pesta sudah berakhir. Tiba saatnya Sisy memasuki batalyon dengan disambut pedang pora diiringi suara drum yang membahana. Sulis yang sejak tadi berada di Batalyon segera mengikuti rombongan keluarga Sisy, mengiring sang pengantin masuk ke lokasi kerja sang suami dan mendapatkan sambutan meriah dari semua tentara dan persit.
“Selamat datang, Nyonya Seno. Kami siap menjadi anak buah yang baik.” Ucap para ibu- persit. Menyambut kedatangan Sisy dan Seno di aula. Sisy mengangguk lalu tersenyum menggandeng tangan suaminya yang lebih dulu berjalan. memasuki aula dan menempati kursi kebesarannya.
Ada pesta kecil di sana. Pesta penyambutan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan atas kehadiran angota baru. Bebera prajurit menyanyi memeriahkan acara kecil itu, hingga acara berakhir sore itu.
Pukul setengah lima sore, Seno dan Sisy masuk rumah dinasnya. di sana beberapa pelayan menyambut dengan gembira. Memiliki majikan baru, nyonya baru dan mereka bertindak sangat hati-hati karena mereka mendengar tabiat sang nyonya baru jauh berbeda dengan tabiat tuannya.
“Selamat datang Nyonya.” Sisy tersenyum penuh kemenangan. Ia memandang Seno dan menggelayut manja di lengannya.
__ADS_1