Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Lain di Bibir Lain di Hati


__ADS_3

“Terima kasih, Marissa. Aku senang kau datang.’ Marissa tersenyum manis sambil memandang wajah Aditya


yang kini menatap mereka berdua dalam diam.


“Walaupun tidak mendapat undangan ya, Sayang? Kami tetap berusaha untuk menghormati hari bahagia saudara eperti kamu, Sisy.” Sisy menunduk. dalam hati dan apa yang dia munculkan di hadapan Aditya dan Marissa berbeda.  Dia geram ketika melihat Marissa muncul di hadapannya. namun penampakan wajahnya


benar-benar luar biasa. Ia mengembangkan kdua tangannya dan mendekati Marissa mencoba untuk memeluknya.


“Mafkan aku yang tidak mengundangmu, Rissa.”


“Tidak apa-apa. Kau mungkin lupa karena tidak mengurus sendiri undanganmu kan? Aku maklum. Mungkin yang menulis juga tidak tahu kalau ada satu nama terselip. Tidak masalah, yang penting aku tetap datang kan?” Sisy mengangguk.


“Semoga sakinah mawaddah wa rahmah. Pernikahan kalian barakah dan Allah segera memberikan keturunan yang salih salihah.”


“aamiin, memangnya kau sudah berhasil sekarang?” Sisy mencoba mengelus peru Marissa dengan tangan


kanannya, namun Aditya segera mengambil pinggang istrinya dan merepatkannya ke tubuhnya.


“Sayang, antian dengan tamu yang lain, Yuk!” Marissa mengangguk. ia mengikuti Aditya yang menuntunnya


turun. Sisy memandang Seno yang nampak kecewa karena mereka segera berlalu.


“Mas kecewa yak arena idola Mas segera pergi?”


“Bukan urusanmu.”


“Baiklah. Tapi aku pastikan setelah ini kau akan melupakan wanita cantik seperti dia karena aku yang akan mengambil alih posisinya.”


“Terserah”


“E pengantin baru adanya kok saling debat? Pamali lho, sisy, masih di pelaminan sudah bertengkar. Wajah kalian merah padam begitu menahan marah.”


“E ti  . . . tidak Kok Bu Mita. Aku baik-baik saja.” Seno segera merangkulkan tangannya ke tubuh Sisy, membawa istrinya ke dalam pelukan agar semua orang tidak menaruh salah paham seperti Mita.


“Lepaskan Mas. Aku sesak nafas tahu?”


“Rasain.”


“Nanti aku laporkan pada Ayah kalau Mas jahat padaku.” Sisy nyaris menangis mendapat perlakuan kasar


Seno.


Sementara di bawah panggung, Aditya nampak sedang mengambilkan makanan untuk Rissa yang kini


sedang duduk bersama Rosa di pintu masuk.


“Makan ini, Sayang.  dedek pasti lapar karena sejak tadi Umminya tidak makan.” Rissa memandang wajah


Aditya yang tersenyum manis padanya. Ia ulurkan tanganya menerima siomay dari tangan Adit.


“Jazakallah Khair Kak.”


“Waiyyaki, Sayang. Aa” Adit mengulurkan sendok ke mulut Marissa yang masih sibuk bicara. Rosa


memandang pasangan romantic di hadapannya dengan wajah memerah menahan malu.


“Romantis banget sih, Pak Adit.” Adit tersenyum.

__ADS_1


“Biarin. Kamu boleh kok menengok kea rah lain agar tidak melihat kami.” Goda Adit. Rosa terkekeh. Sedangkan Marissa mencubit pinggang Adit.


“Sakit, Sayang.” ucap Adit sambil mencolek pipi Marissa yang sudah mulai berisi.


“Akan aku balas dengan ini. mmuahhhh” Tanpa malu-malu Adit mendaratkan ciumannya di wajah Rissa.


“Ya Ampuun, Bapaak, please deh, di sini ada balita jangan pamer kemesraan dong.” Protes Rosa. Semua


mata mengarahkan pandangan pada mereka.


 “Ha ha ha, rasain kenapa sudah dewasa belum menikah. Kamu bukan balita lagi, Rosa. Sisy saja sudah berani ke pelaminan masa iya kamu belum. Lihat mereka sedang duduk berdua di sana. Kapan kamu menyusul?”


“Menyusul kan harus ada calonnya, Pak. Lagi pula siapa yang mau sama saya. Gadis desa yang kuper,


kudet, dan ku ku yang lain.”


“Tidak boleh merendah begitu, Ros. Kamu cantik kok. Pasti banyak yang sudah kau tolak.” Marissa memandang Adit yang sedang memandang Rosa sambil tersenyum.


“Ada apa, Sayang? Apakah Iistriku cemburu karena suaminya memuji wanita lain? Please maafkan aku. ini


hanya di hadapanmu saja kok. Di luar ini aku sama sekali  tidak pernah memuji siapapun, Sayang.”


“Iya percaya. Siapa juga yang curiga oada suami yang baik hati seperti Kak Adit sih?”


“Terima kasih, Sayang. Aku senang sekali mendengar kepercayaan istriku padaku.”


“Tidak masalah,” Aditya melangkah menuju makanan dan mengambilnya dengan hati-hati. Melihat tingkah


Aditya dan Marissa, Rosa menelan ludahnya.


“Enak sekali ya menjadi istri Pak Aditya. Kelihatannya dia sangat perhatian dan sayang padamu, Rissa.”


memperhatikan dan selalu siaga.”


“Ayo makan dulu, Sayang. Kakak sudah menyiapkan ini untuk kita.” Aditya meletakkan sepiring penuh


makanan di meja dekat Marissa. Ia segera mengambil sendok dan menata makanan lalu menyuapkannya pada istrinya.


“Aa” Marissa tanpa malu-malu membuka mulutnya, membuat Rosa menganga tak percaya.


“Ih, kamu jahat sekali, Rissa.  Kau anggap apa aku ini? Obat nyamuk? Oh My God. Tega ya kalian.” Aditya terkekeh. Ia memandang Rosa yang mencoba menahan malu.


            Dari pelaminan, Sisy dan Seno memandang mereka dalam diam.


“Wah enak sekali ya bisa makan berdua dengan kekasih.” Seorang pria berpakaian batik mendekati Rosa dan


Marissa. Duduk dengan bebas di sebelah Rosa sambil sesekali memandang Rissa ang sedang mengunyah makanan. Adit memandang Risa, sedangkan Marissa mengedikkan bahunya.


            “Aku Sigit, Marissa. Apakah kau sudah lupa?”


“Sigit yang mana ya?” tanya Rissa oenasaran. Ia memandang Rosa yang sedang menggaruk kepalanya, kikuk


mendapatkan lelaki yang duduk terlalu mepet pada tubuhnya.


“Aku temannya Rosa. Kita pernah bertemu di tempat longsor Kemanukan”


“Oh.”

__ADS_1


“Ingat?” Rissa menggeleng.


“Maaf’ aku lupa. O iya, kenalkan ini suamiku, Kak Aditya. Kak Adit. Ini Mas Sigit, temannya Rosa.” Adit


tersenyum. dengan sigap ia mengulurkan tangannya menjabat tangan Sigit.


“Suami Marissa, Adit.”


“Sigit”


“Sudah menikah?” Sigit menggeleng. ia ingin sekali melanjutkan wawancaranya pada Marissa, mengobati


kerinduan yang selama ini ia tahan, namun segera ia urungkan. Ia tidak mau menganggu wanita yang sudah menikah.


“Sudah lama mengenal istriku?”


“Saat longsor saja.”


“O, tapi kelihatannya sudah merasa sangat dekat ya. Apakah ada yang istimewa?”


“MAksudnya?”


“Tidak. Aku hanya sekedar bertanya. Maaf. Ayo makan dulu.”


“saya sudah makan tadi. Di sini kami kan sebagai panitia, karena yang memiliki hajat kan komandang


batalyon.”


“O iya? Mas Seno komandan Batalyon?”


“Iya. Apakah kau mengenalnya?”


“Sangat baik. Kami sering bertemu dengannya saat di masjid agung.”


“Wah ternyata sering ketemu ya. tapi kok bisa tidak tahu kalau dia konmandan ya?”


“Di masjid semua oangkat diletakkan dengan penuh kesadaran. Tidak ada yang kami munculkan. Apakah anda tidak tahu?” Sigit menggeleng.


“Sekali-kali berarti kau harus ke masjid. Disana kita semua sama di hadapan Allah. Tidak ada yang istimewa. Kecuali ilmu dan kadar keimanan kita.”


“Kau pandai rupanya. Tidak heran mengapa Marissa memilihmu sebagai suami bahkan pada saat usianya masih sangat belia. Kuliah belum kelar dan kerja saja belum dia dapatkan.” Aditya memandang Sigit dengan senyum yang masih mengembang. Sebenarnya hatinya sangat geli, mendengar semua yang dikatakan Sigit. Namun ia tidak bisa mengatakan hal sesungguhnya pada laki-laki yang baru saja dia kenal.


“Aku memang belum selesai, Mas. Tapi suamiku bisa menghidupiku dengan baik. Alhamdulillah selama


hidup dengan Kak Adit aku tidak pernah kelaparan dan kedinginan. Semua kebutuhanku dicukupi dengan baik termasuk kebutuhan biologisku.”


“O iya? Contohnya?”


“Suamiku selalu memberikan apapun yang aku minta. Tanpa mengatakan tidak. Walaupun aku belum


selesai kuliah, dia mengajakku menikah karena ternyata pacaran setelah menikah itu lebih menyenangkan.”


“TErorimu terdengar sangat murahan, Marissa. Aku bahkan tidak percaya bahwa kau dan suamimu baru


pacaran setelah pernikahan.”


“Terserah saja, yang jelas aku dan suamiku sama-sama saling menyesuaikan setelah pernikahan. Sebelumnya

__ADS_1


tidak pernah terjadi kontak dan komunikasi satu sama lain.”


Sigit diam. Ia tidak percaya bahwa niatnya mempermalukan Aditya gagal total karena Marissa lebih memilih untuk membela suaminya.


__ADS_2