
Semua saling pandang mendengar suara Sisy yang menyebut nama Seno dengan suara keras penuh kebencian. Meli yang sedang termenung kini menangis. Ia tidak tahu apa yang terjadi antara Seno dan Sisy anaknya. tangannya yang bergetar mencoba mencari benda pipih yang ia simpan dalam tasnya.
Ia segera mencari kontak suaminya dan mencoba untuk menghubunginya. Setelah beberapa kali mencoba dan tidak ada jawaban, ia segera memasukkan lagi ke tas. Melangkah menuju Sisy yang sedang diobservasi oleh dokter jaga dan beberapa perawat.
“apa yang terjadi padanya, Dokter? Tolong selamatkan anakku. Hiks.” Meli menjatuhkan tubuhnya di hadapan Dokter Amran, memohon agar dia mau memenuhi semua permintaannya.
“Ibu yang tenang. kalau Ibu panik seperti ini maka anak Ibu akan lama sembuhnya. Sumber kekuatan anak ada pada ibunya. kalau ibunya menyerah, pasrah dengan keadaan, sang anak pasti akan menyerah begitu saja dengan keadaan yang sekarang ia hadapi.”
“Hiks. Aku . . . aku tidak mau kehilangan dia, Dokteeer.”
“Aku tahu, Bu. Berat rasanya melihat orang yang kita sayangi berada pada kondisi yang lemah seprti dia. Tapi sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Dan segala kesembuhan kita serahkan pada keputusan Allah. Maka, mari kita bersama-sama berdoa untuk keselamatan Nona Sisy.”
“Hiks, Yaa Allah, tolong sembuhkan anakku. Hiks, beri dia kesempatan hidup lebih lama agar dia memiliki kesempatan memperbaiki diri. Hidup sebagai manusia normal, yang memiliki keluarga utuh, keluarga yang
sakinah mawaddah warahmah. Beri dia kesempatan untuk menikah, dan mencintai laki-laki yang solih.”
“Aamiin” Amran memandang Meli dengan mata berkaca-kaca. ia paham bagaimana perasaan keluarga pasien ICU, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Setelah melihat MEli tenang, Amran segera melangkah keluar.
“Ibu boleh keluar sekarang. Nona Sisy sudah lelap dalam tidurnya. Terpaksa kami memberi obat penenang tadi, karena kondisi yang sangat genting untuk kesehatannya.”
Meli mengangguk. dalam situasi seperti ini ia merasa rapuh. Tidak ada keluarga yang bisa ia jadikan sebagai teman mencurahkan isi hati.
Ia keluar, menuju sebuah kursi panjang di depan ruangan anaknya. duduk seorang diri sambil memandang beberapa keluarga pasien yang duduk di karpet yang disediakan pihak rumah sakit. Ia baru saja mencoba melihat ponselnya ketika seseorang tiba-tiba menepuk bahunya.
“Assalamualaikum,”
Meli memandang si pemilik suara. Seorang laki-laki bertubuh tegap yang selalu ia rindukan kehadirannya.
“Waalaikum salam, Syaiful? Hiks, . . .” Tidak ada kata yang bisa ia ucapkan selain rasa syukur yang selalu ia panjatkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terkabulnya doanya. Mengirim suaminya pulang di saat yang sangat tepat.
“Sssttt, sudah, jangan menangis.” Ucap Syaiful sambil mengelus kepala Meli. Mendapat perlakuan lembut suaminya, Meli bukannya berhenti terisak, dia justru semakin menangis keras. Syaiful segera memapah istrinya untuk duduk di kursi panjang di hadapannya.
“Sisy Mas. Dia . . . dia .. . “
“Mas tahu. semua kita pasrahkan pada Allah. OK?”
“Mas tahu tentang Sisy yang mana? Siapa yang telah menceritakan semuanya pada Mas?” Syaiful menarik nafasnya dalam.
“Sigit”
__ADS_1
“Sigit siapa, Mas? APakah Sigit anak buahmu yang kau utus untuk selalu menjaga kami?”
“Tentu saja ia. Dia bilang kalau Sisy sudah koma di rumah sakit selama satu pekan ini. dia menceritakan kondisi Sisy yang lemah.”
“Bagaimana Mas bisa berkomunikasi dengan Sigit, sementara denganku saja selalu gagal?”
“Aku meminjam telpon milik salah satu tentara di Kodam 7 yang kebetulan bertugas denganku.”
“Kau bisa menghubungi Sigit, mengapa kau tak menghubungiku? Apakah sebegitu tidak berartinya diriku di hadapanmu?” MEli benar-benar geram mendengar semua kronologi terbaru yang dibuat suaminya untuk mengetahui kondisi anaknya.
“Aku melakukannya karena aku tidak ingin terganggu konsentrasiku. Bicara dengan Sigit yang apa adanya mengatakan masalah pada intinya membuatku merasa tenang. aku bisa berfikir jernih. Maafkan aku jika aku kau anggap keliru. Meli terdiam. Ia tidak ingin melanjutkan kalimat bantahannya karena ia tahu ujung-ujungnya dia yang akan sakit hati.
Ia tahu bagaimana suaminya dan bagaimana sifatnya yang kadang membuatnya serba salah.
“BAiklah, apapun alasanmu, sekarang masuklah ke dalam untuk melihat anakmu. .. .” Syaiful mengangguk. ia segera berdiri dan melangkah menuju seorang petugas yang masih duduk di kursi sambil memainkan ponselnya.
“Selamat malam”
Perawat jaga tersentak melihat kehadiran Syaiful. Dengan segera ia berdiri dan memberi hormat.
“Selamat malam, Ndan. Anda sudah kembali?”
“Ijinkan aku masuk!” tidak ada bantahan. Meski jam besuk sudah berlalu, perawat hanya mengangguk dan menyilakan Syaiful untuk mengenakan pakaian khusus dan mengantarnya menuju bed dimana Sisy berbaring.
“Anak Ayah seharusnya bisa kuat. Tidak ada alasan apapun yang harus membuatmu selemah ini. bangun dan bicaralah pada Ayah!”
Tidak ada pergerakan dan respon yang berarti. Sisy masih diam dan menutup mata. Syaiful meraih tangan anaknya dan menciumnya perlahan. Hatinya sebenarnya sanat sakit, namun ia enggan untuk menangis.
“Apakah kau tidak ingin melihat ayahmu kembali? Lima bulan Ayah pergi dan setelah ayah kembali kau justru terlelap seperti ini? Hahh, Ayah kecewa padamu. Harusnya saat ayah di sampingmu, kau sambut aku dengan senyuman
manismu. Ayo bangun ! Anak kuat harus berani menghadapi kenyataan sepahit apapun. masalah yang melandamu kalau kau hindai seperti ini, akan membuatmu semakin terpuruk.”
Tampak sebuir air bening menetes di sudut mata Sisy kala mendengar kalimat aahnya yang terakhir. Hal ini
membuat Syaiful semakin menguatkan diri agar bisa membangunkan anaknya dengan kalimat-kalimat yang mampu memancing emosi Sisy.
“Kau menangis, Sayang? Apakah itu artinya kau mengakui bahwa kau memang sedang terpuruk? KAtakan pada Ayah, jangan ada yang ditutup-tutupikarena semakin kau menutup Ayah akan semakin membuka tabir yang kau sembunyikan.”
“Hiks. Ayah . . .” panggilan pelan dari mulut anaknya membuat Syaiful menutup matanya. Hatinya bersorak bahagia mendapatkan anaknya memanggilnya.
__ADS_1
“Kau sudah bangun?”
“Hiks. Ayaaah. . .”
“Kau anak yang kuat. Ayah bangga padamu.”
“Sisy minta maaf Ayah. Hiks, Sisy sudah melangkah terlalu jauh dari apa yang sudah ayah ajarkan pada Sisy. HIKs.”
“Sudahlah. Ayah mungkin harus sedikit berbesar hati bahwa apapun langkah yang kau ambil, adalah langkah terbaik menurutmu.”
“Sisy . . . Sisy . . .Hiks . . .” Sisy tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia benar-benar takut. Ia tahu ayahnya akan sangat marah kalau dia mengatakan hal yang sebenarnya.
“Kau ingin bicara? Bicaralah!”
“Sisy memang salah. Tapi Sisy akan bertanggung jawab pada apa yang sudah Sisy lakukan.”
“Bagus! Itu baru namanya anak ayah.”
“Mas Seno . . . Sisy . . . Ayah . . . HIks.” KAlimat Sisy sudah tidak beraturan. Ia sama sekali tidak tahu harus bercerita dari mana.
“Ada apa dengan Seno dan dirimu?”
“Ayah. Ini salah Sisy. Sisy yang salah.”
“Katakanlah. Jangan berputar-putar seperti komedi putar di pasar malam. Kau harus bisa menyusun kalimat dengan baik. Calon sarjana pasti mampu memilih diksi yang akan membuat ayah bisa mencerna ucapanmu.”
“Aku mencintai Mas Seno, Ayah. Hiks.”
“Lalu?”
“Hiks. Aku . . . aku ingin menikah dengannya.”
"Apa?" Meli yang baru saja datang memandang Sisy dan Syaiful bergantian.
"Aku tidak setuju"
__ADS_1