
Seno dan Sisy masuk ke kamar utama diiringi tatapan embut para pelayan. Kamar besar berukuran enam kali enam itu sudah dihias dengan aneka bunga di dinding dan yang bertabur di ranjang pengantinnya. Ranjang
king size, berseprei warna putih itu, kini siap menanti penghuni baru yang akan menjadi penghangat ruangan itu.
Seno mengobaskan tangan Sisy dengan kasar.
“Cukup sampai di sini sandiwara kita. Aku tidak ingin kau menyentuh apapun dari barang-barang yang ada di ruanganku. Kau boleh tinggal di sini, tapi tidak boleh merasa memiliki apa yang kumiliki. Kau boleh merasa menjadi istriku, tapi kau tidak boleh mencampuri segala urusanku.”
“Hiks. Bagaimana bisa seperti itu, Mas. Apa kata ibuku ketika beliau bertanya tentangmu?” Seno menggeleng.
“That is up to you.”
“Maksudnya?”
“Terserah kau mau bicara apa. Mau menjelekkan aku, atau menutupi semua perlakuanku itu semua sudah menjadi urusanmu.”
“Jadi ini perjanjian yang harus kujalani? Tinggal di rumah suami tapi aku sama sekali tidak memiliki hak apapun di sini?”
“Ya. satu lagi. Aku akan mengajukan permohonan untuk bisa langsung memimpin tugas di Papua. Kau bisa tinggal bebas menikmati gajiku karena aku akan meningalkan ATM ku untukmu. Aku tidak akan mengambil gajiku sama sekali karena semua sudah menjadi milikmu.”
“Tidak. Aku tidak mau menerima uangmu. Aku tidak melakukan apapun tapi kau memberiku uang, itu sama saja dengan aku memerasmu.”
“Hakmu atas diriku adalah nafkah lahir. Bukan nafkah batin. Anak dalam kandunganmu memerlukannya. Kalau kau menginginkan apapun, kau boleh menggunakannya semampu dan semaumu. “ Seno mengeluarkan dompetnya, dan mengambil ATM dari dalamnya, dan menyerahkannya pada Sisy.
“Hanya ada lima puluh juta di dalamnya. Setiap bulan akan masuk gajiku dengan jumlah tujuh juta lima ratus ribu rupiah. Aku anggap semua cukup untuk menghidupi anak dan istriku.”
__ADS_1
Sisy menerima ATM dan memandang wajah suaminya dengan khawatir. Ia tidak tahu bagaimana suaminya akan hidup tanpa gaji bulanannya. Ia juga tidak tahu bagaimana menolak nafkah dari suaminya. ia tidak tahu bagaimana dia melakukan tugasnya dan bagaimana-bagaimana yang lainnya sungguh sangat menyiksanya.
“Bagaimana dengan kehidupan sehari-harimu, Mas. Kalau semua gaji kau serahkan padaku, apakah Mas sama sekali tidak mau memegang uang?”
Seno mengambil satu lagi ATM dari dalam dompetnya dan menunjukkannya pada Sisy.
“Aku bukan orang bodoh yang akan mau begitu saja hidup hanya dengan mengandalkan gaji. Aku sudah menyiapkannya sejak dulu. aku memiliki bisnis legal dank au tidak boleh tahu apa bisnisku, bagaimana pendapatanku dan bagaimana aku mengoperasikannya karena ini milikku. Sebenarnya semua kusiapkan untuk Marissa. Tapi karena Allah belum menjodohkanku dengannya, maka sekarang aku tetap memegangnya dan mengembangkan sendiri.”
“Marissa? Mengapa untuk Marissa? Enak sekali dia. Belum menjadi istrinya saja sudah disiapkan ladang uang.” Batin Sisy geram. Ia melangkah menuju lemari pakaian dan mencoba membuka yang berada di sudu ruangan. melihat Sisy mendekati lemarinya, Seno segera mencegahnya.
“Berhenti mendekati lemariku”
“Apakah ini hanya lemarimu? Lalu dimana pakaianku?”
“Yang iujung sana lemarimu. Di belakang lemari ada ranjang yang sama dan kau bisa merebahkan
“What? Aku tidur sendiri? Bagaimana bisa?”
“Aku sudah bilang padamu. Tidak ada sex setelah menikah karena seharusnya wanita hamil hanya boleh menikah setelah masa iddahnya selesai yaitu ketika anaknya sudah lahir. Tapi ayahmu dan dirimu tidak mau ketika anak dalam rahimmu lahir tanpa ayah. Terpaksa begini caraku memperlakukan wanita hamil sampai dia benar-benar sah untuk kunikahi. Itupun kalau kau memenuhi syarat menjadi istriku.”
Tidak ada pilihan lain selain diam. Sisy merasa bahwa semua yang ia terima adalah awal dari penderitaan dan hukuman atas kesalahan yang sudah ia perbuat pada Seno.
“Apakah aku harus ikhlas menerima perlakuanmu?”
“Ikhlas silkan, tidak ikhlas juga tidak apa-apa. Semua kuserahkan pada keputusan hatimu. Jangan menyalahkanku karena aku benar-benar tidak mau berdebat denganmu.” Seno segera melangkah menuju lemari pakaiannya dan mengambil pakaian yang akan dia gunakan untuk berganti di kamar mandi. ia tidak sudi tubuhnya dipandang oleh wanita yang sangat ia benci. Kebenciannya pada Sisy memang sudha
__ADS_1
muncul sejak dia menyadari tindakan istrinya saat menjebak dirimya dua bulan lalu.
“Mas, aku ingin mengganti pakaian dulu, Mas Seno kan bisa nanti-nanti karena pakaian Mas tidak seribet pakaianku.” Rengek Sisy membuat Seno mundur, mengurungkan niatnya untuk masuk kamar mandi. seno membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar kamar, menuju kamar mandi di sebelah dapur, membuat ibu dan beberapa pelayan menatapnya heran.
“MEngapa ke kamar mandi di sini? Bukankah di dalam kamarmu ada kamar mandi yang justru lebih besar?” Tanya ibunya sambil menatap Seno yang murung.
“Sudahlah , Bu. Aku males berdebat. Yang jelas aku sedang punya hajat sedang kamar mandi sedang dipakai istriku.”
“Ya ampuun, penganti baru mengapa begitu? Kebanyakan dari mereka akan memanfaatkan kamar mandi sebagai tempatnya bercu . . .”
“Tapi aku bukan laki-laki yang nakala yang mau menggunakan kamar mandi untuk itu, Ibu. Please no comment”
“Baiklah. ku tidak akan ikut campur tangan rumah tanggamu. Yang jelas ibu hanya memberi saran, kalau tidak mau ya tidak apa-apa. Up to you”
Terima kasih.” Seno melangkah masuk. Menuju kamar mandi umum di rumah dinasnya. sementara di dalam kamarnya, Sisy nampak sangat menikmati keberadaannya di kamar mandi. ia berendam di dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat. Melemaskan setiap sendi dan ototnya karena seharian ini dia tidak istirahat sama sekali.
Ia merebahkan tubuhnya di bathtub dan mengelus perutnya yang sudha mulai mengeras di bagian bawah.
“Apapun yang papahmu lakukan pada Mamah, Sayang, kau harus tetap hidup. Kau adalah mahkota di kehidupan Mamah. Anak yang kelak akan menjadi pemersatu antara Mamah dan Papah. Tumbuhlah dengan sempurna dalam Rahim Mamah ya.”
Sisy terus saja mengelus dan mengelus perutnya hingga dia lupa bahwa hari sudah menginjak petang dan ia belum melaksanakan salat asarnya.
Ia segera berdiri, dan mengambil handuk di raknya dan melilitkannya di tubuhnya yang indah. Ia keluar dari kamar mandi dan menemukan kamarnya masih dalam keadaan yang gelap tanpa cahaya.
Ia mendekati saklar dan menyalakan lampunya, lalu melangkah menuju ranjangnya.
__ADS_1
“Enak sekali rebahan seperti ini. walau tanpa suami, aku yakin suatu saat nanti dia akan luluh dan bertekuk lutut di hadapanku. Apalagi kalau ada dedek di antara kami. Sayang, kau yang akan menjadi pemersatu kami. Berjanjilah untuk tetap bersama Mamah ya. Mamah mencintaimu.”
Sisy mengusap perutnya dengan tangan kirinya dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Semua kesalahannya tidak hanya berimbas pada dirinya, namun berimbas pula pada anak yang bahkan belum sempat hadir di dunia, dan juga pada orang tuanya.