Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Persiapan ke Ibukota


__ADS_3

Pagi ini aku menginjakkan kaki di kampus kembali setelah beberapa saat saya absen. Kulangkahkan kaki ku ke bagian administrasi fakultas psikologi di lantai dua.


Setelah melewati tangga akhirnya aku sampai di ruang administrasi fakultas. Kuperhatikan suasana ruangan yang kelihatanya sepi tak berpenghuni. Sejenak aku diam. Kucoba untuk mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


Beberapa saat kutunggu namun belum ada jawaban. Kusandarkan kepalaku di dinding dekat pintu masuk, dan pandangan kuarahkan mengelilingi koridor, mencari barangkali ada orang di sekelilingku namun nihil. Tak seorangpun di sekelilingku. Sekali lagi kuucapkan salam karena aku menduga petugas yang ada di ruang administrasi mungkin sedang melakukan aktivitas lain sehingga tidak mendengar salamku.


"Assalamualaikum" ucapku sekali lagi.


" Waalaikumsalam." Suara seorang perempuan menjawab salamku. Aku segera masuk dan menemui seorang ibu paruh baya yang sedang sibuk melepaskan mukena. Ternyata beliau baru saja melaksanakan shalat Dhuha.


"Mohon maaf Bu, saya Marissa Wulandari, mahasiswa fakultas psikologi semester tujuh." Aku diam sejenak. " Saya mendapat informasi bahwa saya mendapat perintah untuk berangkat ke Jakarta." Sambungku.


" O . . . Marissa, sudah lama pak Junaidi sudah lama menunggumu. " Sahut Bu Pini, pegawai administrasi.


" Sekarang saya akan mengurus administrasi untuk keberangkatan saya Bu." Sambungku.


" Semua administrasi sudah di pak Junaidi. Kalau tidak salah beliau juga sudah membelikan tiket pesawat untukmu pulang pergi. Coba kau temui beliau di ruang dosen."


"Baik, Bu. Terima kasih. Mohon doa restunya, Bu. " Aku menyalami Bu Pini.


" Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusanmu, Nak."


"Aamiin, terima kasih,Bu." Bu Pini mengangguk. Kutinggalkan ruang administrasi dan berjalan menuju ruang dosen di lantai satu.


*


"Assalamualaikum" sampai di ruang dosen, kuucapkan salam.


"Waalaikumsalam warahmatullah." Aku segera masuk dan kukatakan pada pak Amir, salah satu dosen yang duduk di dekat pintu bahwa saya ingin menemui Pak Junaidi. Setelah pak Amir menyilakan ku, aku segera berjalan menuju meja pak Junaidi. Beliau sedang duduk dengan fokus ke arah laptop di hadapannya.


"Assalamualaikum pak. " Kulihat pak Junaidi menghentikan aktivitasnya lalu memandangku. Dia tersenyum lalu menyuruhku untuk duduk. Kulihat tangannya mulai mencari berkas yang tertumpuk di hadapannya.


"Ini, salinan surat undangan, ini surat tugas dari rektor, dan ini tiket pesawat. Besok pagi kita akan berangkat dari bandara internasional NYI Ageng Serang. Pesawat akan take off jam sepuluh, tapi boarding time satu jam sebelum lepas landas. Jadi kita berangkat dari kampus jam enam pagi." Pak Junaidi menjelaskan. Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


" Terima kasih atas bimbingan dan bantuan Bapak. Saya tidak tahu bagaimana cara membalas Budi baik Bapak selama ini pada saya."


" Lakukan yang terbaik, dan jadilah yang terbaik itu sudah cukup untuk pak Junaidi." Sahutnya pelan. " Kau lama sekali tidak muncul di kampus sehingga Bapak kesulitan untuk memberikan informasi lebih jauh." Sambung pak Junaidi.


" Iya, Pak. Insya Allah. Terima kasih” ucapku penuh semangat. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk dan mengangguk tanda mengerti. Sesaat kemudian, saya memohon diri kepada Pak Junaidi.


“ Tunggu, Risa. “ Pak Junaidi menghentikan langkahku. Aku segera membalikkan badan mengurungkan niatku meninggalkan ruang dosen yang penuh.


“Iya, Pak. “


“Kamu tidak ingin bertanya bagaimana kita berangkat besok ?” goda Pak Junaidi. Aku hanya tersenyum malu. Apa yang ditanyakan Pak Junaidi bahkan tak terbersit di benakku. Otakku dipenuhi dengan bagaimana persiapan kulakukan untuk keberangkatanku esok.


“Mohon maaf, Pak. Saya . . . saya lupa untuk menanyakannya. “ Mungkin wajahku sudah semerah kepiting rebus. Dan kulihat beberapa dosen memandangku sedang dosen lain menahan tawanya. Aku malu bukan kepalang saat kusadari betapa bodohnya diriku hari ini. Semua dosen di ruang dosen tertawa lepas. “Oh my God, “ aku hanya bisa mengelus dadaku menahan malu.


“Ada apa Marissa ? “ tanya Pak Imam menggodaku. Aku hanya menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


“Kita akan berangkat jam tujuh dari kampus. Kamu harus sampai kampus setengah jam sebelum keberangkatan karena Rektor yang akan melepas kepergianmu.” Pak Junaidi menjelaskan. Aku hanya bisa mengatakan “iya, terima kasih, insya Allah, dan semua kalimat persetujuanku. Akhirnya Pak Junaidi mempersilakanku pergi. Kutinggalkan ruang dosen dengan malu yang tak bisa kusembunyikan karena kebodohanku.


***


Hari ini aku merasakan kebodohanku begitu memuncak. Setelah kutemui Pak Junaidi di ruang dosen, aku melangkah menuju perpustakaan kampus. Kucari semua buku literatur penunjang untuk kupelajari di rumah. Belum lagi kakiku masuk latai satu perpustakaan kampus, aku sudah menabrak seorang pengunjung. Dan tanpa ba bi bu, setelah kuucapkan kata maaf, aku berlari menuju lift dan memencet tombol angka tiga. Di dalam lift, aku berdua dengan seorang mahasiswa berkacamata yang aku sendiri tidak tahu jurusan apa dan semester berapa. Tidak banyak yang kulakukan, untuk menunggu pintu terbuka, aku membuka ponselku dan membaca beberapa pesan di grup lomba karya ilmiah Jakarta. Di sana ada peraturan yang harus dipatuhi peserta terkait kegiatan yang akan dimulai esok hari.


Pintu lift terbuka dan tanpa melihat angka yang tertera di papan, aku keluar. Kulihat mahasiswa berkacamata memandangku heran hendak mengatakan sesuatu padaku namun kuurungkan. Kaki kulangkahkan menjauhi lift dan ingin memasuki pintu perpustakaan. Namun aku mengurungkan niatku. Kupandangi ruangan yang kurasa sangat asing. Aku nyaris menjerit tak percaya bahwa aku tak mengenali ruangan yang baru saja saya masuki. Biasanya di ruang tiga, tempat dimana buku-buku yang berhubungan dengan psikologi, aku duduk di sudut ruangan sebelah kanan dekat degan jendela berwarna cat biru. Namun hari ini tempat yang biasa sudah sangat berubah. Kukucek mataku lalu kutatap ruangan sekali lagi, untuk memastikan bahwa saya salah lihat. Namun ternyata aku keliru. Ruangan masih tertata seperti awal aku masuk. Aku terpaku. Bingung hendak melakukan apa sampai akhirnya seorang petuga perpustakaan menemuiku.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu ?” sekali lagi aku tertegun. Ternyata selain tatanan ruangan, kampus juga sudah mempekerjakan petugas perpustakaan yang baru. Aku segera mengungkapkan apa yang ada di dalam otakku.


“ Maaf Mbak. Ruangan ini sudah sejak saya bekerja di sini lima tahun lalu masih sama. Belum berubah dan belum ada pergeseran tempat. Apakah Mbak mahasiswa baru ?”


What ? Dia bahkan tidak mengenalku dan aku tak mengenalnya. Aku menggaruk kepalaku yang tertutup hijab warna biru laut, warna favoritku.


“Kalau boleh saya tahu, ini perpustakaan lantai berapa Bu? “ tanyaku penuh selidik. Wanita muda di hadapanku menatapku heran.


“Kalau menurutmu lantai berapa ? “ bukannya menjawab, petugas perpustakaan justru balik bertanya.


“Lantai tiga.” Sahutku sekenanya. Aku berfikir bahwa petugas itu hendak mengujiku, sampai akhirnya aku tersadar saat dia menertawakanku.


“Ada apa Ibu tertawa ? Apakah aku salah ? “ tanyaku kesal. Ingin sekali kumaki dia, namun kuurungkan.


“ Tentu saja kamu salah. Bagaimana aku yang salah. “


“ Mohon maaf kalau saya salah, Bu. “ ucapku seraya berlari menuju lift dan sekali lagi kupencet angka tiga. Ada banyak mahasiswa di lift namun aku benar-benar tak ingin memandang mereka. Yang kulihat hanya angka yang tertera di papan lift dan anak panah yang menunjukkan pergerakan lift, yang ternyata sedang meluncur naik ke lantai tujuh. Setelah pintu terbuka di lantai tujuh, arah panah menuju ke bawah. Aku tetap waspada memandang angka, sampai akhirnya angka benar-benar menunjuk angka tiga. Aku keluar dan menuju ruangan yang sejak tadi kucari. Setelah memasuki ruangan kucari tempat kesayangan yang biasa kupakai untuk berlama-lama tinggal di perpustakaan. Tempat yang masih sama seperti sebelum aku absen selama satu minggu menjadi relawan.


Kuucapkan salam pada petugas perpustakaan, Bu Khotimah dan Pak Arif menyalami Bu Khotimah lalu berjalan ke tempat penitipan tas dan menuju kursi di sudut ruangan.


***


Setelah dari perpustakaan, langkah kaki membimbingku menuju markas komando resimen mahasiswa. Walaupun kulihat sangat sepi, aku tetap ingin masuk. Rasa rindu pada ruanganku dan pada teman-teman yang terutama bertugas untuk berjaga di kampus membuatku ingin segera masuk ruangan. Tak kulihat beberapa laki-laki yang melintas di hadapanku. Hari ini mungkin semua orang akan mengatakan kalau saya sombong, tapi biarlah mereka bersama penilain masing-masing terhadapku.


Kuketuk pintu dengan keras lalu masuk ke ruangan yang terbuka setengah.


“Assalamualaikum. “


“waalaikum salam” jawaban dari dalam membuatku penasaran ingin melihat siapa penunggu markas siang ini. Aku hamper saja menabrak Junia yuniorku.


“Selamat siang, Sen. “ kata Junia sambil memberi hormat padaku. Panggilan kami memang senior dan Yunior. Entah darimana awalnya, yang jelas kami melakukan sesuai dengan adat yang berlaku entah sejak kapan.


“Selamat siang. Dengan siapa kau di sini Jun? “ sapaku sambil masuk ke ruang sekretaris, ruangan yang beberapa tahun ini kutempati.


“Tadi saya bersama Tutik, Sen. Sekarang Tutik sedang mengambil kuliah semester bawah, jadi saya sendiri. Senior Risa sedang kosong ? Tidak ada kuliah hari ini ?” sapanya lembut.


“ Saya bahkan sudah selesai semua mata kuliah. Tinggal menunggu KKN dan skripsi. “ jawabku pelan.


“Wow, hebat dong Sen. Padahal Sen Risa kan baru semester tujuh.”


“Alhamdulillah. “


“Sen. “ Junia memanggilku sambil memandangku penasaran.

__ADS_1


“Ada apa ?”


“ Apa benar Ndan Qomar sudah menikah ?”


Mendengar pertanyaannya aku tertegun. Kurasakan dingin menyusup ke relung dadaku, ada rasa sakit, dan mungkin darah segar mengalir kembali di sana. Aku tak langsung menjawab pertanyaan Junia. Sejenak aku terpaku. Ingin sekali kukatakan bahwa itu bukan urusanku, namun kuurungkan. Kulihat Junia memandangku trenyuh.


“Sen Risa kenapa ?” tanya Junia penuh selidik. Dia duduk di hadapanku sambil memegang tanganku. “ Sen Risa jangan sedih ya ! Memang sesuatu yang datang pada kita tak selamanya berbanding lurus dengan apa yang kita impikan. Allah selalu mematahkan hati kita untuk menghindari kita pada jodoh yang salah.” Banyak sekali yang Junia katakana, entah apalagi, namun yang perlu kugaris bawahi adalah, Allah sering mematahkan hati kita untuk menghindari pada jodoh yang salah. Oh Junia, kau masih kecil namun kata-katamu sudah sangat dewasa.


“Terima kasih, Juni. Kau terlalu cerdas untuk ukuran seorang Junia.” Ucapku. Mendengar kalimatku Junia terkejut. Seraya menggeleng.


“Jangan berfikir bahwa usiaku dibawahmu Sen Risa. Aku bahkan lahir lebih dulu darimu. HAnya takdir yang membawaku menjadi yuniormu di kampus ini. Namun Sen Risa harus tahu bahwa usiaku lebih tua darimu dan yakinlah bahwa untuk urusan seperti itu, aku lebih berpengalaman.”


“O iya ? Darimana kau tahu kalau . . . .” kalimatku kugantungkan. Bukan karena tidak ingin mengucapkan tapi aku benar-benar ingin menghindari membocorkan perasaanku pada orang yang salah.


“ Semua orang tahu kalau Sen Risa jatuh cinta pada Ndan Qomarbegitu juga sebaliknya.” Ucapnya. “Kami bahkan menganggap kalau Sen Risa dan Ndan Qomar sudah menjadi sepasang kekasih.” Junia menghela nafas dalam. “ Ternyata saya keliru.” Sambungnya. Ada sedih terpampang di hadapanku


“Kamu mengapa sedih ?”


Junia menghela nafas dalam. Dia tatap wajahku dan setengah detik kemudian membuang pandangan kedinding yang menempelkan struktur organisasi resimen mahasiswa periode tiga tahun ini.


“Tak akan pernah ada orang percaya kalau komandan tega meninggalkan sekretarisnya. Selama ini kami justru beranggapan bahwa kedua seniorku ini adalah ayah dan ibu di organisasi ini. Yang satu sebagai bapak dan sekretaris sebagai ibu. Kami selalu merasa terayomi, namun semua akan segera berubah. Kami sudah merasa memiliki seorang ibu tiri.”


“Sudahlah. Apapun yang terjadi kita harus ikhlas menerima ibu tiri itu karena ayah kita memang menghendakinya. Sebagai anak kita hanya bisa mengiyakan apa saja tindakan ayah selama itu tidak menyimpang dari norma.”


“Tapi, Sen. Apakah kau sama sekali tidak ingin mencegah pernikahan itu kemarin ?” Ada nada marah di kalimat Junia. Aku hanya menggeleng.


“Taka da yang bisa menghalangi kehendak Tuhan. Apapun dan bagaimanapun kita menghindar, kalau itu sudah menjadi takdirNya, kita akan bertemu. Terus mengapa kau masih menyalahkan keadaan?’


Sekali lagi Junia menghela nafas.


“Jun, tolong jangan kau ingatkan aku pada perasaanku setelah ini.” Pintaku. Junia mengangguk. Matanya berkaca-kaca memandangku.


“Apakah ini yang membuat Sen Risa ke kampus ? “


Aku menggeleng.


“Terus ?” sambungnya.


“ Jangan kepo. “


“Katakan kalau Sen Risa tidak sedang sakit hati. Aku akan sangat bangga kalau sen Risa bisa segera melupakan Ndan Qomar dan menggantinya dengan yang lebih baik.”


“ Kenapa ?”


“ Sen . . . masa selama ini berada di kampus matahari, tidak pernah mengenal yang namanya Syamsa si ibu tiri ?” teriak Junia sambil melotot.


“Sama sekali. Aku bahkan baru mengenal Syamsa setelah longsor itu. Dia limbung, dan tak punya kekuatan apapun dan bagiku akan lebih baik kalau dia mendapatkan sandaran seperti Qomar.”


“Ehm” Junia mendehem. Aku diam karena tak ingin memperpanjang debatku dengan yuniorku. Meskipun dia mengatakan usianya lebih tua dariku, aku tidak akan pernah menganggapnya perlu kujadikan tumpuan untuk mencurahkan semua isi hatiku.


"Apakah saya bisa percaya kalau senior Marissa yang penuh perhatian dan hangat adalah seorang yang tidak memiliki kepedulian terhadap sesama?" kalimat Junia sangat menggelitik, namun aku tetap pada pendirianku, apapun kata orang tidak akan pernah kupikir karena aku betul-betul tahu siapa diriku.

__ADS_1


__ADS_2