Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Semoga Aku Segera Menyusul


__ADS_3

“Marissa, kamu harus menjaga diri dan kandunganmu ya. Mamah, Nenek dan


Papah akan pulang dulu ya. Insya Allah besok kami akan datang lagi ya Sayang.” Meisya mencium


kening Marissa dan memeluk tubuhnya erat, begitu juga nenek Santi. Mustafa


hanya menjabat tangan menantunya sambil mengelus kepalanya penuh kasih sayang


membuat Marissa merasa tersanjung.


Setelah kepergian orang tuanya, Adit segera naik ke ranjang pasien


dan memeluk Marissa .


“Sayang, Mas bahagia sekali malam ini karena istri Mas sudah memberikan hadiah yang luar


biasa. Terima kasih ya sudah mau mengandung anak Mas.” Aditya mencium perut


Marissa. Marissa mengelus kepala Aditya


“Sayang, anak Abi. Baik-baik di dalam ya, Sayang. Abi bahagia sekali atas kehadiranmu,


Sayang. Ummi juga pasti bahagia. Kita semua akan menjagamu ya.”


“Insya Allah Abi.” Sahut Marissa.


Aditya memandang Marissa sambil tersenyum.


“Mulai sekarang, kemanapun kamu pergi, Sayang, kamu harus didampingi suamimu ini.”


“Iya, Sayang. Sami’ na Waatho’na”


“Termasuk ke kamar mandi lho.”


“What?”


“Iya, karena Mas tidak ingin ada apa-apa dengan istri dan anak Mas.”


“Ok, sami’na waatho’na. Asal Mas tidak repot saja mengawasiku sepanjang hari sampai


kamar mandi.”


“Pokoknya selama Mas ada, istriku sayang ini tidak boleh kemana-mana sendiri tanpa Mas.”


“Iya, Mas. Terima kasih perhatiannya ya. Aku berharap kehamilanku ini tidak membuat


Mas repot. Aku akan menikmatinya, insya Allah.”


“walaupun kau tidak hamil, sayang, Mas akan melakukan apapun untuk melindungimu. Mas


tidak ingin kejadian seperti tadi terulang lagi. Kau pingsan dan aku sama


sekali tidak berdaya tanpamu.”


Marissa memandang wajah Aditya dengan sorot mata tak percaya, mendengar penjelasan


suaminya barusan.


“Apakah itu nyata, Mas? Mas tidak berdaya melihatku pingsan seperti tadi? Memangnya


berapa lama aku pingsan?”


“Hampir empat jam.”


“Benarkah?”


Tanya Marissa terperanjat. DIa sama sekali tidak mengira akan pingsan selama


itu. Yang dia ingat adalah bagaimana proses pingsan yang dirasakannya, bukan


berapa lama dia tak sadarnya.


“Mas”


“Ada apa, Sayang?”


“Maaf ya!”


“Kenapa minta maaf?”


“Karena aku sudah membuat Mas cemas.”


“Berjanjilah untuk tidak pingsan lagi, OK?”


Marissa mengangguk, lalu dia merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya. Aditya


mengelus-elus kepala Marissa dengan sayangnya.


“Tidurlah Sayang. Mas akan berjaga di sini.”


“Mas


juga tidur ya? Kita tidur bersama di sini.” Ucap Marissa sambil menepuk


ranjangnya. Aditya memandang ranjang yang ditepuk Marissa lalu mengangguk.


“OK, Mas harap tidak membuat gerakmu terganggu, Sayang.”


“KAlau

__ADS_1


aku lebih baik terganggu gerak daripada tidak bisa tidur karena tidak memeluk


Mas.”


“Begitukah?”


Marissa mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya diikuti Aditya.


***


PAgi hari, perawat membawa mereka ke ruang USG, dimana disana sudah menunggu seorang


dokter spesialis kandungan dan Nancy dengan pakaian dokternya.


‘Selamat pagi, Mbak Marissa, bagaimana perasaan Mbak pagi ini?’ tanya Nancy sambil


menyalami Marissa.


“Selamat pagi, Dokter. Alhamdulillah sekarang sudah membaik.”


“Panggil Nancy saja ya, jangan pakai Dokter.”


“Aku yang tidak bisa, DOk. Bagaimana kalau Mbak Nancy?”


“Ok begitu lebih baik, o iya, bagaimana perasaanmu hari ini, Dik Marissa? Mbak


berharap  Kamu akan baik-baik saja. Tidak


ada mual dan morning sickness seperti kebanyakan wanita hamil lainnya.”


“Aamiin, Mbak, Terima kasih doa terbaiknya, Mbak.”


“AKu berharap bisa menyusulmu, Dik. Aku bisa merasakan hamil sepertimu.”


Marissa memandang Aditya yang masih memeluknya. Aditya membalas pandangan Marissa lalu


menatap Nancy iba.


“Semoga Allah segera memberikan yang terbaik untukmu Nancy. Aku berharap kau


benar-benar bisa menyusul seperti istriku. Kita besarkan anak-anak bersama


kalau perlu kita jodohkan mereka ya, Dik?” Marissa mengangguk.


“Iya, Mbak. Semoga Allah cepat memberi kepercayaan pada Mbak Nancy. Sekarang yang


sabar ya, Mbak.”


Nancy mengangguk.


“Dik Marissa silakan tiduran di bed ini!” Ucap Nancy mencoba menghilangkan


Aditya berdiri lalu membopong tubuh Marissa.


“Aku bisa sendiri, Mas.” Protes Marissa pada suaminya. Aditya menggeleng.


“Tidak boleh. Biar Mas yang melakukannya.”


“Baiklah. Terima kasih.” Nancy dan dokter spesialis kandungan, dokter Anna tersenyum


sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nancy segera menyuruh Aditya untuk


menyingkap pakaian Marissa sedikit agar perutnya bisa diperiksa dokter,


sedangkan Nany segera mengambil botol berisi gel dan mengoleskannya di perut


Marissa bagian bawah.


Dokter memeriksa layar kecil yang terdapat di dinding sambil mengezoom layar.


“Tuan Aditya, ini adalah kantong bayi, yang seperti kedelai ini adalah janin.” Aditya


memandang layar dengan mata berkaca-kaca. Hatinya bahagia mendapatkan kenyataan


bahwa benih cinta yang ditebar di ladangnya sudah mulai bersemi dan mereka


tinggal merawatnya. Nancy juga memandang layar dengan mata berkaca-kaca.


Hatinya bergetar hebat merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Marissa.


“Masya Allah, Sayang. Abi senang sekali melihatmu meski kau masih belum


sempurna.”gumam Aditya sambil menciumi Marissa lalu memandang wajah istrinya


mesra.


“Terima kasih, Sayang. telah kau beri aku kabar gembira ini.” Marissa tersenyum.


“Iya, Mas. Sama-sama. Aku juga mengucapkan terima kasih pada  Allah karena


telah diberi kesempatan dan


kepercayaan terindah dalam hidup ini. Aku berjanji untuk selalu menjaganya


dengan baik, Mas.”


“Iya. Kau harus menurut semua saran dokter dan permintaanku.”


“Kondisi janin dalam keadaan baik, umurnya masih masuk minggu keempat.”

__ADS_1


“Apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan, Dok?”


“Yang tidak boleh angkat berat, bekerja terlalu berat dan berhubungan badan terlalu


sering karena kondisi janin masih rawan. Makanan semua boleh, usahakan banyak


makan buah dan sayur-sayuran hijau, kacang-kacangan juga. Olah raga teratur dan


lakukan pola hidup sehat dengan banyak minum air putih.”


“Iya, DOk terima kasih.”


Aditya membopong Marissa dan mendudukkannya di kursi roda dan mendorongnya menuju


ruang perawatan diikuti oleh Nancy di sebelahnya.


“Dok, apakah saya boleh pulang hari ini?”Tanya Marissa tanpa meminta pertimbangan


Aditya. Dokter Anna memandang Marissa sambil mengangguk.


“Tentu saja boleh, Mbak. Kondisi Mbak Marissa sudah baik, dan tidka perlu dirawat


lagi. Makanya setelah ini, Mbak bisa bersiap-siap untuk pulang. Semoga dengan


di rumah kondisi Mbak menjadi lebih baik.”


“Apakah kau sudah tidak betah di sini Sayang?’ tanya Aditya sambil membungkuk dan


mencium Marissa. Marissa mengangguk.


“Baiklah, kita akan pulang setelah semua urusan beres. Mas akan menyuruh Andi untuk


menyelesaikan administrasi rumah sakit.”


“Siapa Andi?”


“Orangku.”


“O”


“Hanya itu jawabanmu hem?”


Marissa mengangguk. ia benar-benar merasa tersanjung dengan


perlakuan manis Aditya padanya. Meski selama hampir dua bulan ini dia merasakan


perhatian manis, suaminya, namun saat ini ia benar-benar menikmati


perhatiannya.


            Sampai di ruang perawatan, Aditya


mengangkat tubuh Marissa dan membaringkannya di bed. Ia sendiri langsung menata


smeua barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. Tangannya begitu lincah bekerja


sedang Marissa hanya melihat dengan rasa yang sedikit tak nyaman.


            “Sudah beres. Tinggal menunggu Papah


datang, Sayang.”


“Apakah Papah sudah diberitahu?”


“Sudah. Tadi saat di ruang USG, Mas mengirim pesan pada papah. Papah bilang sudah di


tempat parkir mobil dan hendak ke sini.”


“Semoga perjalanan Papah dan Mamah lancar ya Mas.”


“Assalamualaikum,  Ternyata ada yang sedang membicarakan kita


ya, Mah?’


Mustafa memandang Meisya yang sedang terpana memandang Marissa yang sedang tiduran di


bed.


“Waalaikum salam, Papah. Mamah.”


“Bagaimana kondisimu hari ini, Sayang? Katanya sudah boleh pulang ya?’ Tanya Meisya sambil


mencium kening Marissa.


“Alhamdulillah sudah baik, Mah. Tadi baru saja USG dengan Mbak Nancy dan dokter Anna.”


“O iya? Mengapa Mamah tidak diajak, Sayang?”


“Maaf, Mah. Kami sama sekali tidak kepikiran mengajak Mamah dan papah”


Marissa menunduk, menyesali semua perbuatannya sedang Aditya memandang orang tuanya


dengan senyum menggoda.


“Mamah dan Papah bisa melihat fotonya kan?”


“Iya, Mah. Mamah bisa melihat fotonya Dedek yang masih di perut Marissa.”


Meisya mengangguk. dia melihat meja mencoba mencari foto hasil USG.

__ADS_1


__ADS_2