
“Ketika Marissa dan Pak Adit menikah, Mas Seno kan datang ke Jogja ya. Kebetulan aku numpang mobil Mas
Seno ketika pulang.”
“Terus?”
“Awalnya aku hanya melihat kesedihan Mas Seno saja. Sepanjang jalan dia hanya diam, menyandarkan
kepalanya di jok kursi tempat duduknya.sedih sekali rasanya melihat orang yang kita cintai bersedih begitu rupa. Begitu juga dengan hatiku yang terluka ketika melihat Mas Seno kehilangan orang yang dia cintai karena menikah dengan laki-laki lain. Tapi aku bisa apa? Dia bahkan menolak bicara denganku. Sepanjang jalan aku diabaikan. Kamu bisa membayangkan bagaimana perasaanku kan?”
Rosa menggeleng.
“Terus apa yang harus kukatakan padamu ketika kau sama sekali tidak mengerti bagaimana rasa ini saat
itu, Ros?’
“Entahlah.”
“Lanjutkan, Sy.”
“Aku takut kau akan mengolokku kalau aku melanjutkannya. Sekarang saja kau sudah tidak berempati
padaku apalagi nanti saat kau tahu bagaimana tindakan yang kulakukan pada Mas Seno. Semua kulakukan karena aku ingin menghilangkan kesedihanya. Bukan untuk membuat aku bahagia sendiri.”
“Terus?’ Sulis yang sejak tadi diam, kini mulai angkat bicara karena penasaran.
“Aku mencoba membuat suasana menjadi sedikit mencair ketika kami melewati terowongan di sebelah
selatan bandara baru, aku menemukan ide untuk membawa Mas Seno bertamasya, namun ia menolak.”
“Ya jelas saja dia menolak. Dia kan sedang bersedih masa kamu mengajak bersenang-senang sih. Tega kamu
ya?”
“Bukan begitu. Aku kan ingin agar dia tidak bersedih.’
“Caramu bisa membuat dia melakukan denganmu?”
Dari peristiwa itu, aku menjadi sedikit berfikir untuk mendekati Mas Seno. Aku menghubunginya dengan
telpon, dia menolak. Sekali dua kali, aku menawarkan untuk mengobrol dengan whatsap, dia hanya menanggapi dengan emoji jempol dan emoticon lain. sebel tidak sih? Tapi aku sama sekali tidak putus asa. Kukunjungi dia ke rumah dinasnya dan kubawakan beberapa makanan. Makanan dari ibuku dan aku tinggal memberikan padanya gratis. Mungkin dari situ Mas Seno merasa sedikit bersalah ketika harus
mengabaikan pesan dan telponku. Lama-lama dia membalas chat meski dengan kata Ok atau iya. Aku senang sekali saat itu. Hingga ketika batalyon merayakan hari jadi TNI, aku dan semua anggota keluarga diundang ke aula Batalyon. Ada pesta kebun di sana.”
“Apakah saat itu kamu menjebaknya?” Sisy mengeleng.
__ADS_1
“Tidak. Dia sama sekali tidak nampak batang hidungnya.”
“Kemana?”
“Ayah bilang, Mas Seno sedang dinas luar. Mengunjungi beberapa markas infanteri dan mengadakan studi
banding ke kodam lain.”
“Kecewa dong kamu. Padahal aku yakin kamu sudah berdandan secantik mungkin saat itu.”
“Ya. Apa yang kau katakan benar. Aku mendekam di salon kecantikan untuk perawatan selama sehari penuh
demi untuk menarik perhatian Mas Seno, ternyata aku ditinggalkan begitu saja.’
“Kasihan sekali. Berapa juta kau keluarkan uang ibumu?”
“Setengah.”
“What? Setengah juta sehari? Hanya untuk perawatan?”
“Iya.”
“Yaa Allah. Uang segitu kau hamburkan hanya untuk tubuhmu? PAdahal kalau kau infakkan mungkin lebih
bermanfaat dan kau justru akan bisa menarik perhatian Mas Senomu itu.”
Mas Seno menjadi suamiku. Yang lain tidak ada.”
“Terus?”
“Aku menelponnya dengan telpon video, dan dia mengangkat. Dia memandangku dengan tatapan heran. Aku tahu dia terpesona padaku. Dia tersenyum manis lalu melambaikan tangan padaku. Aku senang sekali karena akhirnya bisa melihat wajah Mas Seno yang luar biasa tampan dengan balutan pakaian dinas hariannya.”
Sisy menarik nafas dalam. Ia nyaris tak bisa melanjutkan kalimatnya terhanyut dalam cerita yang menjadi awal kesulitannya saat ini.
“Dia memanggilku dan mengatakan kalau hari itu sedang di Bandung. aku menawarkan diri untuk menyusulnya ke sana dan dia bilang Oke. Esoknya aku benar-benar ke Bandung setelah meninggalkan pesan pada ibu yang kebetulan sedang arisan.”
“Lalu kalian melakukan dimana?”
“Di hotel. Tempat Mas Seno bertugas kan hotel bintang tiga ya. aku menyewa kamar dan menunggunya dengan sabar. Hari pertama dia datang dan hanya menemaniku minum jus. Lalu makan makanan ringan-ringan saja. Seperti French fries dan Steak. Mas Seno yang membayar.”
“Hotelnya juga?”
“Iya. Mas Seno tidak ingin membuatku kewalahan dengan mengeluarkan uang yang banyak karena dia bilang dia bahagia karena aku bisa menemaninya. Aku sama sekali tidak mengira kalau menemani di sini ya memang hanya menemaninya saja. Aku kira dia ingin aku menemaninya juga di kamar, tapi rupanya aku salah paham. Sampai dengan hari kelima, dia sama sekali tidak menginginkanku. Hingga aku memesan minuman
dan mengambil sendiri gelas dan kuserahkan padanya. Jus alpukat yang sudah kucampur dengan obat.”
__ADS_1
“Kau sadar kalau kau sudah menjerumuskan dirimu sendiri?” Sisy mengangguk lesu. Ia sudah tahu semua yang dikatakan Rosa benar. Dia sudah terjerumus dalam sebuah perzinaan yang sengaja ia lakukan demi mendapatkan orang yang ia cintai.
“Sangat sadar, Ros. Aku kehilangan masa remajaku dan harus merasakan terbuang dari hati calon suamiku karena dia tahu, setelah meminum jusku, dia benar-benar terpesona memandangku. Kami melakukannya dengan bantuan minuman. Bukan atas dasar cinta sama cinta apalagi ridha Allah.”
“Hah. Ternyata aku memiliki teman yang benar-benar luar biasa. Menjadi budak cinta meski itu atas bantuan Syaiton yang selalu membujuknya.”
“Please, cukup aku yang melakukan dan mengalaminya. Kalian jangan.”
‘Heh, siapa juga yang akan melakukan hal bodoh sepertimu.”
“Ros, jangan kasar begitu dong. Sisy kan sedang sedih masa iya sejak tadi kamu mengoloknya terus?’
“Aku mengolok karena aku memang tidak setuju dengan tindakan Sisy. Bukan karena benci dengan Sisy.”
“Sama saja kan?”
“Tidak sama. Kalau aku benci Sisy, sejak kemarin aku tidak akan pernah datang untuk menemaninya di sini. Tapi aku benar-benar benci dengan tindakannya, makanya sejak tadi aku mengancam dan mengungkapkan ketidaksetujuanku. Kalau kamu setuju ya tidak apa-apa. Aku punya hak kamu juga punya.”
“Iya. Aku tahu. kamu benar. Tidak ada istilah menyetujui tindakan yang menjerumuskan diri sendiri. Demi mendapatkan apa yang kita sukai, kita memakai cara kotor.”
“Lalu?”
“Yah, paling tidak saat ini kita yang harus menjaga dia. Agar dia tidak melakukan tindakan kotor selanjutnya.”
“Aamiin. Semoga bisa lebih baik. Kau sudah paham kan dengan istilahku membenci sisy dan membenci tindakan Sisy?”
“Ya. aku paham.”
“Terima kasih kalau begitu.”
“Terus kamu kan melakukan sekali malam itu ya, Sy. Apakah sampai sekarang Mas Seno tahu kalau kamu hamil?”
“Ya. Dia tahu. Dia meninggalkan aku setelah pagi datang. dia bayar semua tagihan hotel dan pergi tanpa pamit padaku. Aku frustasi, dan pergi ke rumah nenekku di Jakarta. Di sana aku mencoba untuk menghubungi Mas Seno, namun dia memblokir nomorku.”
“What? Dia memblokir?”
“Iya.’
“Aku diblokir. “
“Kamu pantas mendapatkannya.”
“Hiks. Kamu bahkan sama sekali tidak berempati padaku sampai saat ini, Rosa?”
“Tidak sama sekali. Aku hanya ingin kau tahu bahwa tindakan yang Seno lakukan padamu itu sangat tepat. Kalau aku jadi dia, mungkin bukan hanya memblokir nomormu, aku bisa saja memblak list dirimu dan keluargamu. Memandangmu dari jauh tanpa mau menikahimu seperti saat ini.”
__ADS_1
“Begitu ya?”
“Ya iyalah. Kamu kan yang salah?”