Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Tetaplah Seperti ini


__ADS_3

“Sayang, mengapa barangnya sebanyak ini? Apakah istriku sering belanja sehingga dari kos


saja barangnya sebanyak ini?”


Syamsa tersenyum. Dia memandang Aditya yang juga memandangnya sehingga tatapan mereka


beradu.


“Apakah Kakak tidak tahu kalau istri Kakak ini aktivis ? Apapun yang aku miliki ini hanyalah


buku. Barang paling banyak buku, Kak. Bukan make up atau pakaian seperti milik


teman-temanku.” Aditya mengacak kepala Marissa, mencoba menenangkan.


“Iya, aku tahu bagaimana kiprah istriku kok. Santai saja ya.”


“Benarkah?”


“Iya. Aku bahkan sering menguntit istriku kemana dan dengan siapa dia pergi.”


“Benarkah?”


“Benarkah benarkah terus dari tadi.”


“Habisnya Kakak


selalu penuh misteri begitu.” Sahut Marissa cemberut. Dia segera memalingkan


wajahnya keluar, memandang jalanan kota Purworejo yang masih lengang.


“Sebelum sampai rumah kita mampir dulu ya, Sayang.”


“Mampir kemana?”


“Ada deh. Kakak


ingin menunjukkan sesuatu pada istri Kakak dulu.”


Marissa hanya mengangguk. dia penasaran dengan ajakan Irawan, namun dia tidak ingin


bertanya lagi.


Mobil Aditya memasuki sebuah butik di pojok alun-alun kota dan memarkirnya di tempat


parkir khusus. Irawan segera turun diikuti oleh Marissa.


“Sayang, kita mau apa ke sini?”


Aditya hanya menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya masuk butik.


“Assalamualaikum, Mas. Maaf ada yang bisa saya bantu?”


Seorang pelayan menghampiri mereka. Aditya hanya memandang Marissa dan mengajaknya


duduk di sofa dekat pintu masuk.


“Kami membutuhkan pakaian untuk pesta, Mbak.”


“Pesta apa?” tanya Marissa pada suaminya yang hanya diam menatap pelayan yang


menyuruhnya masuk ruang pameran.


“Silakan Mas melihat-lihat dulu, mana yang cocok!”


Aditya memandang beberapa gaun pesta  couple.


Marissa yang sedari tadi menunggu jawaban suaminya hanya mengikuti arah pandang


suaminya. di depannya berjajar belasan pakaian couple yang  indah. Membuat matanya berbinar bahagia. dia


memang sudah lama menginginkan pakaian pesta, namun dia selalu mengurungkan


niatnya untuk membeli karena ada prioritas yang harus dia utamakan


pemenuhannya.


“Apakah istriku menyukai ini?”


Aditya menyodorkan beberapa item gaun ke hadapan Marissa. Dia hanya terpana, melihat


betapa indahnya gaun-gaun tersebut. Tangannya dia ulurkan untuk menyentuh gaun


demi gaun.


“Semua adem kalau dipakai. Tapi aku lebih memilih yang warna navy Kak.”


Aditya melihat gaun yang dipilih Marissa lalu mengangguk. ia segera melangkah menuju


kasir dengan membawa semua pakaian yang sejak tadi ia pegang.


“Mana yang menjadi pilihan Anda Tuan?”


Aditya memandang kasir. Ia tidak menjawab. Hanya menyodorkan kartu debet dan


menyerahkan semua item pada pelayan di belakang kasir.

__ADS_1


“semua?”


Aditya mengangguk.


“Sayang. mengapa semua dibeli? Kita hanya butuh satu pakaian kan untuk pesta?”protes


Marissa yang menganggap Aditya terlalu berlebihan. Mendengar protes istrinya,


Aditya hanya mengulurkan tangannya dan meraih pundak Marissa lalu mendaratkan


ciumannya di kening Marissa.


“Kita harus memiliki lebih dari satu. karena aka nada lima pesta yang akan kita


hadiri, Sayang.”


Mata Marissa melotot, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Lima pesta dan


suaminya membeli lebih dari lima pakaian.


“Ini pemborosan, Sayang. Allah tidak suka berlebih-lebihan. Alangkah lebih baiknya


kalau kita. .. . mmmmh” Bukan melanjutkan ucapannya, Marissa justru sibuk


melepaskan diri dari ciuman Aditya di depan kasir.


“Istriku pintar sekali bicaranya ya? Suamimu ini Alhamdulillah diberi rizki yang banyak,


Sayang. semua berkat istri yang solihah sepertimu. Ini wujud syukur Mas, atas


anugerah terindah yang diberikan Tuhan pada Mas. Masa iya Mas tidak boleh


membahagiakan istri sendiri Hem?”


“Bukannya tidak boleh, tapi masa iya beli baju sebanyak ini.”


“Mas ingin istri Mas cantik di pesta teman-teman, Mas. Mas ingin membuat semua


terpana menyaksikan dirimu, Sayang. Please diterima ya!’


“Mas?”


“Hem,  aku lebih suka istriku memanggilku Mas, bukan Kakak.”


“Baiklah,  . . .Mas.”


Aditya tersenyum.


“Begitu lebih baik. Mas bahagia memiliki istri yang penurut.” ucapnya sambil mengacak


kerudung Marissa.


Aditya memandang Marissa sambil menautkan kedua alisnya. Sedang Marissa sibuk


membetulkan kerudung yang diacak Aditya.


“Ada apa, Sayang?”


“Kerudungku rusak gara-gara, Mas ih”


Aditya  bukannya berhenti justru mengacak lagi. Ia benar-benar suka melihat istrinya


yang merajuk manja. Melihat tingkah Aditya yang semakin menggila, Marissa


akhirnya diam.


“Apakah Istri Mas marah?”


“Enggak”


“Ah yang benar? Pasti marah.”ucapnya sambil sesekali memandang wajah Rissa yang


masih diam.


“Ti . . .”


“Maaf Tuan dan Nyonya, pakaian semua sudah dibungkus.” Aditya yang melihat pelayan


menghentikan kemesraannya hanya menerima paper bag dan menarik tangan istrinya


meninggalkan butik. Ia sebal pada orang yang sengaja menghentikan


kebahagiaannya.


“Huh siapa juga yang suruh bermesra-mesraan di sini. Kalian kira kita tidak risih


apa melihat istrimu yang manja itu?’ gumam pelayan butik kesal. Aditya


membukakan pintu mobil untuk Marissa dan memasangkan sabuk pengaman istrinya


sambil sesekali mencium istrinya. Marissa yang mendapat perhatian lebih dari Aditya


hanya mampu mengelus kepala Aditya dan tersenyum bahagia.


“Mas’

__ADS_1


“Ada apa, Sayang?” Aditya mengambil tangan kanan Marissa dan meletakkannya di


dadanya. Ia sesekali memandang Marissa yang memandangnya sambil tetap


tersenyum.


“Tetaplah mesra seperti ini. aku bahagia sekali mendapat perlakuan Mas yang manis.”


Aditya mencium tangan Rissa dan memandangnya.


“Asalkan istriku juga memberikan seluruh cintanya padaku. Tetap setia melayaniku dan


berjanji untuk tidak mengkhianatiku.”


“Allah yang menjadi saksi atas cinta kita, Mas. Aku akan berusaha semaksimal mungkin


untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga kita.”


“Aamiin, terima kasih ya.”


“Aku juga terima kasih. Semoga Allah senantiasa menjadikan keluarga kita sebagai


keluarga yang penuh barokah.”


“Aamiin”


Beberapa menit kemudian, mereka sudah di jalan raya dan membelokkan mobil ke rumah besar


keluarga Mustafa.


“Assalamualaikum”


“Waalaikum salam, Sayang, kalian dari mana saja? Katanya mau ke flamboyant kok sampai duhur


begini baru pulang.’ Nenek segera mengelus kepala Marissa ketika dia mencium


punggung tangannya.


“Mas Aditya tadi mengajak keliling, Nenek.”


“O iya? Keliling kemana ?”


“Ke butik, mencari gaun untuk pesta, Nek.” Aditya menerangkan. Nenek Santi memandang


Aditya meminta penjelasan.


“Pesta?”


“Ada teman Adit yang akan menikah minggu ini, minggu depan dan bulan depan. Ada Wisuda juga


yang harus Adit hadiri bersama istri Adit Nenek.”


“Siapa yang akan menikah, Sayang? Kok Nenek tidak diundang?”


“Teguh sama Santoso.


Teman Adit yang di Semarang dan di Palembang. Masa harus mengundang Nenek juga.


Kan jauh Nek.”


“He he he, saya kira di Purworejo ini.”


“Tidak Nek. Ya sudah ya Nenek, Kami ke kamar dulu mau menaruh barang Dik Rissa yang baru


diambil di kos.” Nenek mengangguk. Aditya dan Rissa segera meninggalkan Nenek


Santi dan masuk ke kamar mereka.


“Sayang letakkan dulu di sudut kamar ya. kita salat dulu sebelum makan siang.” Adit


meletakkan dua koper Rissa di sudut kamarnya setelah melihat istrinya


mengangguk.


“Apakah Mas juga akan salat di masjid?”


Tidak ada jawaban karena Adit sudah keburu masuk kamar mandi. setelah berwudhu, Adit


keluar dan mengajak istrinya ke masjid kauman di sebelah rumah besarnya.


Hari masih siang ketika mereka kembali ke rumah, namun rumah nampak sangat lengang.


“Kemana Ayah, Ibu dan Nenek, Mas ?”


Aditya menggeleng.


“Mungkin semua


tidur, Sayang. Ini kan sudah setengah satu. waktu paling enak untuk tidur


siang. Kita makan dulu yuk, sebelum tidur siang kita.”


Rissa mengangguk. dia meletakkan mukenanya di kamarnya di lantai dua lalu menuruni


tangga untuk menyiapkan makan siangnya dengan sang suami.

__ADS_1


“Sayang.”


“Hem?”


__ADS_2