Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Bangunlah Sayang!


__ADS_3

“Sayang,


bangunlah! Mas minta maaf karena telah mengabaikanmu. Maafkan Mas, Sayang. Mas


tidak akan mengulangi lagi seperti tadi. Hiks. Nancy akan segera datang dan kau


harus sehat. Mas tidak ingin kehilanganmu.” Aditya masih memeluk tubuh Marissa sambil


memijit tengkuknya, sementara Nenek Santi masih melumuri tubuh Rissa dengan


minyak angin.


“Ini bisa


menjadi pembelajaran untukmu. Kalau tadi Nenek tidak mengingatkanmu, apa yang


akan terjadi dengan istrimu hah ? Dia bisa saja mati di kamar mandi karena


kedinginan.”


“Iya, Nek. Adit


minta maaf. Adit salah. Maafkan Adit Nek. Tidak akan Adit ulangi lagi kejadian


seperti tadi.” Nenek Santi diam. dalam hati dia mengutuk keteledoran Aditya


atas istrinya.


“Sayang, ada


apa denganmu? Kenapa kamu sakit dan tidak bilang-bilang pada Mamah sampai kau


pingsan begini? Bangunlah, Sayang! Jangan membuat semua keluargamu panik!’


Meisya menggoyang-goyangkan tubuh Marissa, sedang Mustafa hanya dapat


mneyaksikan ketiga orang yang dicintainya sedang berjuang dengan caranya


masing-masing.


Lima


belas menit kemudian, Nancy datang diantar oleh Wina, salah satu pelayan mereka


yang kebetulan mendapat tugas menunggu Nancy.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikum


salam” Semua mata memandang ke pintu, menyambut kehadiran Nancy dengan pandangan


mereka. Nancy mendekat ke ranjang. menyaksikan seorang gadis tergeletak tak


sadarkan diri di sana. Ia segera mengecek kondisi tubuh Marissa dengan


meletakkan tangannya di dahi Marissa.


“Badannya panas.”


“Iya, Nancy.


Tolong selamatkan istriku.” Pinta Adit masih dengan isakannya. Nancy memandang


Aditya sekilas. Dia ingin tertawa melihat tangis yang tak pernah dia lihat dari


wajah Aditya selama dia menjadi sahabat Adit.


Nancy


segera membuka tas kerjanya dan mengeluarkan stetoscope, mengecek detak jantung


Marissa dan memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Thermometer dia


letakkan di ketiak lalu tangannya memegang beberapa bagian. Setelah memastikan


bahwa semua aman, Nancy segera mengecek perut bagian bawah. Dia memang belum


yakin bahwa dugaannya benar, namun usia pernikahan Aditya dan Marissa yang


sudah menginjak bulan kedua membuatnya berfikir untuk mengeceknya.


            Nancy segera duduk di tepi ranjang


menghadap Tante dan Om serta Neneknya. Terakhir dia pandang Aditya dan Marissa


bergantian membuat semua orang khawatir.


“Bagaimana


kondisinya, Sayang? Cepat beritahu kami! Nenek khawatir sekali dengan kondisi


Marissa. Ini semua karena keteledoran Aditya yang nakal” Pinta Nenek Santi pada


Nancy. Nancy tersenyum.


“Insya Allah

__ADS_1


semua baik-baik saja Nenek. Kita tinggal menunggu Marissa siuman. Setelah itu


kita akan melakukan observasi padanya. Semoga dugaan saya benar.”


“Dugaan apa


Nancy? Apakah cucu menantu saya ada memiliki kelainan kesehatan sehingga dia


harus pingsan?”


Nancy


menggeleng. Dia ingin sekali menyampaikan kabar bahwa kemungkinan besar Marissa


sedang hamil, namun dia belum memiliki bukti yang nyata. Dia takut mengecewakan


Nenek Santi dan keluarganya jika dugaannya nanti keliru.


            “Sayang, ayo bangun! Jangan membuat


Mas khawatir seperti ini.” Adit mengusap kepala Marissa dengan lembut, membuat


Nancy merasa sedikit iba dan iri. Pernikahan Adit memang masih baru dan baginya


sangat wajar kalau Adit begitu memanjakan Marissa. Tidak seperti pernikahannya


yang sudah berlangsung hampir lima tahun sehingga suaminya hampir tidak pernah


mempedulikannya. Apalagi ditambah dia belum sama sekali menunjukkan tanda-tanda


kehamilan.


            Nancy memandang Marissa. Dia iri


melihat kebahagiaan yang tengah Marissa rasakan, hamil dan mendapatkan


perhatian dari semua orang di sekelilingnya adalah anugerah terindah bagi


seorang wanita.


“Betapa beruntungnya dirimu, Rissa.” Batinnya.


“Nancy!’


Aditya


memandang Nancy yang masih melamun dengan sorot mata tajam. Ia nampak sangat


emosi karena beberapa kali pertanyaanya tidak direspon.


“Apa Dit?”


bertanya lima kali padamu, tapi kau belum juga menjawab. Apakah aku harus


mengulangi pertanyaanku sepuluh kali lagi?’


“I-Iya, Maaf,


Dit. Aku sama sekali tidak mendengarnya tadi. Maaf kamu bertanya apa?” Aditya


mengacak rambutnya kasar. Ia memandang Marissa yang masih tergeletak lemah dan


mencoba mengangkatnya lalu membawanya keluar kamar menuju mobilnya yang


terparkir di halaman. Semua orang mengikutinya dari belakang tanpa menanyakan


maksud Adit. Mustafa segera membukakan pintu dan membantu Aditya masuk.


“Papa yang


nyetir saja, Dit. Kamu duduk di belakang.” Tawar Mustafa sambil melangkah


menuju pintu kemudinya. Aditya hanya mengangguk sambil memangku tubuh Marissa


yang masih lemah belum sadar. Mustafa menyalakan mobilnya dan menjalankannya


menuju rumah sakit umum Daerah.


Meisya


dan Nenek Santi serta Nancy yang sibuk menata pakaian Marissa lalu menyusul


mereka dengan taksi online yang dipesan Nancy karena Nenek Santi menolak


diantar Nancy.


“Kau pulanglah,


Nak! Hari sudah sore. Aku akan menyusul Aditya dengan Tantemu.” Kata Meisya


sambil menuntun nenek Santi menuju taksi.


“Tante tidak


ingin aku yang mengantar ? Nancy kan sedang libur, Tante.”


Meisya

__ADS_1


menggeleng sambil melambaikan tangannya.


“Terima kasih,


Nancy. Mohon maaf atas kecurangan yang dilakukan Aditya padamu.”


Nancy


mengangguk. dia tahu mengapa Aditya mengambil jalan pintas dengan membawa


Marissa ke rumah sakit tanpa persetujuannya. Dia juga tahu mengapa Aditya marah


padanya yang lambat mengambil keputusan. Nancy tersenyum membayangkan betapa


bodohnya dirinya yang melamun saat Aditya berada dalam kepanikan. Dia yang


sudah tahu bagaimana sifat Aditya sejak kecil hanya bisa memaklumi apapun yang


dilakukan sahabatnya.


            Taksi yang ditumpangi Meisya


meninggalkan rumah besar sedang Nancy masih berdiri di tempatnya.


“Semoga


dugaanku benar ya Aditya. Istrimu hamil dan itu sungguh anugerah yang luar


biasa untuk kalian. Selanjutnya aku berharap semoga kabar gembira itu bisa juga


menular padaku” gumam Nancy seraya meninggalkan rumah utama keluarga Mustafa.


Di rumah sakit, Marissa masih berada di ruang Instalasi Gawat Darurat, sebuah


selang infus sudah terpasang di tangan kirinya, namun matanya masih tertutup.


Aditya nampak sangat syock melihat kondisi istrinya yang tiba-tiba pingsan padahal


ia baru saja mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Ia mengelus wajah Marissa


mencium keningnya beberapa kali.


“Marissa, Sayang. Mengapa kau jadi suka tidur sore sih? Apakah kau tidak kasihan pada


suamimu ini yang syock memandang kondisimu? Kau juga belum salat asar, Sayang.


Ayo bangun!”


Marissa belum bergeming. Dia masih menutup matanya rapat-rapat. Beberapa menit kemudian


ibu dan neneknya menyusul. Mereka duduk di luar ruangan, menunggu Aditya yang


masih menemani istrinya.


“Maaf Bapak. Kami harus memindahkan Nona Marissa ke ruang perawatan. Tadi Tuan


Mustafa sudah mendaftar dan sekarang ikuti saya ke kamar pasien.” Pinta seorang


perawat. Aditya mengangguk. ia membawa tasnya yang diselempangkan di bahunya. Mengikuti


perawat yang mendorong bed pasien.


Mustafa yang akan masuk IGD, segera mengurungkan niatnya. Ia keluar memberitahu istri


dan ibunya, kemudian melangkah melewati koridor rumah sakit menuju ruang


perawatan Marissa.


 


 


Beberapa menit kemudian, mereka sudah di ruang VVIP, dan memindahkan badan Marissa ke


bed kamar.  Azan magrib berkumandang di masjid sekitar rumah sakit, Aditya memandang jam yang menempel di dinding alu memandang Marissa.


"Kau sudah kehilangan asarmu, Sayang. Maafkan Mas." Gumamnya pelan.


"Baru setengah enam dan adzan sudah berkumandang, namun istriku belum siuman" sambung Aditya sambil memandang Perawat yang masih membetulkan selang infus di tangan Marissa.


 


“Kami tinggal dulu ya Tuan. Kalau ada apa-apa dengan pasien, Tuan bisa memanggil kami


dengan memencet tombol warna kuning ini.”


“Iya, Sus. Terima kasih”


“Sama-sama, Tuan, Permisi.”


Aditya menarik kursi yang berada di sebelah bed mendekati kepala Marissa, mengelusnya


dengan penuh cinta lalu membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2