
“Sayang,
bangunlah! Mas minta maaf karena telah mengabaikanmu. Maafkan Mas, Sayang. Mas
tidak akan mengulangi lagi seperti tadi. Hiks. Nancy akan segera datang dan kau
harus sehat. Mas tidak ingin kehilanganmu.” Aditya masih memeluk tubuh Marissa sambil
memijit tengkuknya, sementara Nenek Santi masih melumuri tubuh Rissa dengan
minyak angin.
“Ini bisa
menjadi pembelajaran untukmu. Kalau tadi Nenek tidak mengingatkanmu, apa yang
akan terjadi dengan istrimu hah ? Dia bisa saja mati di kamar mandi karena
kedinginan.”
“Iya, Nek. Adit
minta maaf. Adit salah. Maafkan Adit Nek. Tidak akan Adit ulangi lagi kejadian
seperti tadi.” Nenek Santi diam. dalam hati dia mengutuk keteledoran Aditya
atas istrinya.
“Sayang, ada
apa denganmu? Kenapa kamu sakit dan tidak bilang-bilang pada Mamah sampai kau
pingsan begini? Bangunlah, Sayang! Jangan membuat semua keluargamu panik!’
Meisya menggoyang-goyangkan tubuh Marissa, sedang Mustafa hanya dapat
mneyaksikan ketiga orang yang dicintainya sedang berjuang dengan caranya
masing-masing.
Lima
belas menit kemudian, Nancy datang diantar oleh Wina, salah satu pelayan mereka
yang kebetulan mendapat tugas menunggu Nancy.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikum
salam” Semua mata memandang ke pintu, menyambut kehadiran Nancy dengan pandangan
mereka. Nancy mendekat ke ranjang. menyaksikan seorang gadis tergeletak tak
sadarkan diri di sana. Ia segera mengecek kondisi tubuh Marissa dengan
meletakkan tangannya di dahi Marissa.
“Badannya panas.”
“Iya, Nancy.
Tolong selamatkan istriku.” Pinta Adit masih dengan isakannya. Nancy memandang
Aditya sekilas. Dia ingin tertawa melihat tangis yang tak pernah dia lihat dari
wajah Aditya selama dia menjadi sahabat Adit.
Nancy
segera membuka tas kerjanya dan mengeluarkan stetoscope, mengecek detak jantung
Marissa dan memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Thermometer dia
letakkan di ketiak lalu tangannya memegang beberapa bagian. Setelah memastikan
bahwa semua aman, Nancy segera mengecek perut bagian bawah. Dia memang belum
yakin bahwa dugaannya benar, namun usia pernikahan Aditya dan Marissa yang
sudah menginjak bulan kedua membuatnya berfikir untuk mengeceknya.
Nancy segera duduk di tepi ranjang
menghadap Tante dan Om serta Neneknya. Terakhir dia pandang Aditya dan Marissa
bergantian membuat semua orang khawatir.
“Bagaimana
kondisinya, Sayang? Cepat beritahu kami! Nenek khawatir sekali dengan kondisi
Marissa. Ini semua karena keteledoran Aditya yang nakal” Pinta Nenek Santi pada
Nancy. Nancy tersenyum.
“Insya Allah
__ADS_1
semua baik-baik saja Nenek. Kita tinggal menunggu Marissa siuman. Setelah itu
kita akan melakukan observasi padanya. Semoga dugaan saya benar.”
“Dugaan apa
Nancy? Apakah cucu menantu saya ada memiliki kelainan kesehatan sehingga dia
harus pingsan?”
Nancy
menggeleng. Dia ingin sekali menyampaikan kabar bahwa kemungkinan besar Marissa
sedang hamil, namun dia belum memiliki bukti yang nyata. Dia takut mengecewakan
Nenek Santi dan keluarganya jika dugaannya nanti keliru.
“Sayang, ayo bangun! Jangan membuat
Mas khawatir seperti ini.” Adit mengusap kepala Marissa dengan lembut, membuat
Nancy merasa sedikit iba dan iri. Pernikahan Adit memang masih baru dan baginya
sangat wajar kalau Adit begitu memanjakan Marissa. Tidak seperti pernikahannya
yang sudah berlangsung hampir lima tahun sehingga suaminya hampir tidak pernah
mempedulikannya. Apalagi ditambah dia belum sama sekali menunjukkan tanda-tanda
kehamilan.
Nancy memandang Marissa. Dia iri
melihat kebahagiaan yang tengah Marissa rasakan, hamil dan mendapatkan
perhatian dari semua orang di sekelilingnya adalah anugerah terindah bagi
seorang wanita.
“Betapa beruntungnya dirimu, Rissa.” Batinnya.
“Nancy!’
Aditya
memandang Nancy yang masih melamun dengan sorot mata tajam. Ia nampak sangat
emosi karena beberapa kali pertanyaanya tidak direspon.
“Apa Dit?”
bertanya lima kali padamu, tapi kau belum juga menjawab. Apakah aku harus
mengulangi pertanyaanku sepuluh kali lagi?’
“I-Iya, Maaf,
Dit. Aku sama sekali tidak mendengarnya tadi. Maaf kamu bertanya apa?” Aditya
mengacak rambutnya kasar. Ia memandang Marissa yang masih tergeletak lemah dan
mencoba mengangkatnya lalu membawanya keluar kamar menuju mobilnya yang
terparkir di halaman. Semua orang mengikutinya dari belakang tanpa menanyakan
maksud Adit. Mustafa segera membukakan pintu dan membantu Aditya masuk.
“Papa yang
nyetir saja, Dit. Kamu duduk di belakang.” Tawar Mustafa sambil melangkah
menuju pintu kemudinya. Aditya hanya mengangguk sambil memangku tubuh Marissa
yang masih lemah belum sadar. Mustafa menyalakan mobilnya dan menjalankannya
menuju rumah sakit umum Daerah.
Meisya
dan Nenek Santi serta Nancy yang sibuk menata pakaian Marissa lalu menyusul
mereka dengan taksi online yang dipesan Nancy karena Nenek Santi menolak
diantar Nancy.
“Kau pulanglah,
Nak! Hari sudah sore. Aku akan menyusul Aditya dengan Tantemu.” Kata Meisya
sambil menuntun nenek Santi menuju taksi.
“Tante tidak
ingin aku yang mengantar ? Nancy kan sedang libur, Tante.”
Meisya
__ADS_1
menggeleng sambil melambaikan tangannya.
“Terima kasih,
Nancy. Mohon maaf atas kecurangan yang dilakukan Aditya padamu.”
Nancy
mengangguk. dia tahu mengapa Aditya mengambil jalan pintas dengan membawa
Marissa ke rumah sakit tanpa persetujuannya. Dia juga tahu mengapa Aditya marah
padanya yang lambat mengambil keputusan. Nancy tersenyum membayangkan betapa
bodohnya dirinya yang melamun saat Aditya berada dalam kepanikan. Dia yang
sudah tahu bagaimana sifat Aditya sejak kecil hanya bisa memaklumi apapun yang
dilakukan sahabatnya.
Taksi yang ditumpangi Meisya
meninggalkan rumah besar sedang Nancy masih berdiri di tempatnya.
“Semoga
dugaanku benar ya Aditya. Istrimu hamil dan itu sungguh anugerah yang luar
biasa untuk kalian. Selanjutnya aku berharap semoga kabar gembira itu bisa juga
menular padaku” gumam Nancy seraya meninggalkan rumah utama keluarga Mustafa.
Di rumah sakit, Marissa masih berada di ruang Instalasi Gawat Darurat, sebuah
selang infus sudah terpasang di tangan kirinya, namun matanya masih tertutup.
Aditya nampak sangat syock melihat kondisi istrinya yang tiba-tiba pingsan padahal
ia baru saja mengajaknya jalan-jalan keliling kota. Ia mengelus wajah Marissa
mencium keningnya beberapa kali.
“Marissa, Sayang. Mengapa kau jadi suka tidur sore sih? Apakah kau tidak kasihan pada
suamimu ini yang syock memandang kondisimu? Kau juga belum salat asar, Sayang.
Ayo bangun!”
Marissa belum bergeming. Dia masih menutup matanya rapat-rapat. Beberapa menit kemudian
ibu dan neneknya menyusul. Mereka duduk di luar ruangan, menunggu Aditya yang
masih menemani istrinya.
“Maaf Bapak. Kami harus memindahkan Nona Marissa ke ruang perawatan. Tadi Tuan
Mustafa sudah mendaftar dan sekarang ikuti saya ke kamar pasien.” Pinta seorang
perawat. Aditya mengangguk. ia membawa tasnya yang diselempangkan di bahunya. Mengikuti
perawat yang mendorong bed pasien.
Mustafa yang akan masuk IGD, segera mengurungkan niatnya. Ia keluar memberitahu istri
dan ibunya, kemudian melangkah melewati koridor rumah sakit menuju ruang
perawatan Marissa.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah di ruang VVIP, dan memindahkan badan Marissa ke
bed kamar. Azan magrib berkumandang di masjid sekitar rumah sakit, Aditya memandang jam yang menempel di dinding alu memandang Marissa.
"Kau sudah kehilangan asarmu, Sayang. Maafkan Mas." Gumamnya pelan.
"Baru setengah enam dan adzan sudah berkumandang, namun istriku belum siuman" sambung Aditya sambil memandang Perawat yang masih membetulkan selang infus di tangan Marissa.
“Kami tinggal dulu ya Tuan. Kalau ada apa-apa dengan pasien, Tuan bisa memanggil kami
dengan memencet tombol warna kuning ini.”
“Iya, Sus. Terima kasih”
“Sama-sama, Tuan, Permisi.”
Aditya menarik kursi yang berada di sebelah bed mendekati kepala Marissa, mengelusnya
dengan penuh cinta lalu membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.
__ADS_1