
Bagaimana kau tahu kalau ruangan ini tidak ada CCTV ?” tanya Mita penasaran. Dia memandang ke seluruh penjuru kamar, memastikan apakah benar tentang apa yang kukatakan padanya. Setelah tidak yakin dengan pernyataanku, dia menatapku.
“Aku sudah mengedarkan kameraku ke seluruh penjuru kamar saat gelap, dan tak kutemukan titik berwarna merah satupun. Itu artinya kamar ini bebas dari kamera CCTV,” jelasku. Mita hanya mengangguk. Dia lalu membuka kerudungnya. Rambutnya yang panjang dia gerai. Pembukaan kegiatan baru akan dilaksanakan pukul tujuh malam. Pukul tujuh malam, Ruang pertemuan hotel ML, menjadi ramai oleh peserta lomba Karya Tulis tingkat nasional yang diikuti oleh 40 finalis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kami memakai jas almamater kami masing-masing duduk di kursi baris ketiga sampai empat. Dosen pendamping memakai batik daerah dan duduk di kursi bagian depan.
Beberapa pejabat kementerian masuk lalu duduk di kursi kebesaran yang tertata apik di panggung. Semua nampak berseri. Setelah semua siap pembawa acara menyampaikan acara, dari pembukaan dengan bacaan basmallah, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Petugas menempatkan diri dan semua hadirin berdiri. Lagu kebangsaan dinyanyikan dengan khidmat dan semangat.
Setelah itu, adalah sambutan ketua panitia yang mengungkapkan bahwa acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh direktorat perguruan tinggi diikuti oleh lebih dari seribu peserta, sedang yang diundang untuk ikut workshop sejumlah empat puluh dan akan diumumkan sepuluh finalis yang akan mempresentasikan karya ilmiah di depan juri.
Saat sambutan menteri pendidikan, menteri pendidikan menyatakan bahwa saat ini beliau merasa senang karena bisa berada di lokasi yang sama dengan anak-anak hebat yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kedepannya diharapkan bisa menjadi generasi penerus untuk membawa Indonesia unggul di kancah internasional.
setelah pembukaan adalah pemaparan kebijakan pemerintah tentang pendidikan tinggi dan review tentang penulisan essay dan karya tulis ilmiah peserta. Sebelum panitia menutup acara malam ini, panitia mengumumkan bahwa semua peserta dan pendamping berhak mendapatkan seperangkat laptop, dan uang pembinaan sebesar lima juta rupiah dan sepuluh finalis yang terpilih akan diumumkan besok, harus mempresentasikan hasil karya penelitiannya di hadapan juri dan mereka berhak mendapatkan satu paket perjalanan ke luar negeri. Juara satu sampai tiga akan mendapatkan peluang mendapatkan paket belajar selama tiga bulan di negeri B, sedang yang mendapatkan peringkat empat sampai sepuluh akan mendapat pengalaman belajar di J serta berhak menerima hadiah uang pembinaan sejumlah dua puluh juta rupiah untuk juara satu, lima belas juta untuk juara dua dan sepuluh juta untuk juara satu.
Hari pertama kami selesaikan dengan antusias. Kami kembali ke kamar masing-masing. Mita menggandeng tanganku menuju lift. Antrian lift yang luar biasa membuat kami harus bersabar. Mita mengambil ponselnya dan membuka kamera depan mengajakku foto. Kupandang kamera dengan senyumku yang manis semanis madu, lalu Mita memotret. Beberapa kali jepretan dan setelah itu, pintu lift terbuka.
“Dua lagi” kata seseorang dari dalam lift. Aku segera menarik tangan Mita dan kami masuk. Pintu lift segera menutup lalu bergerak naik menuju lantai tujuh lalu berhenti dan pintu terbuka. Tiga orang warga keturunan arab turun. Lalu lift naik lagi menuju lantai delapan dan dua laki-laki turun. Mita memencet tombol lima belas. Setelah angka menunjuk lima belas pintu lift membuka. Aku dan Mita langsung turun.
Kami menyusuri lorong menuju kamar. Mita memasukkan kartu dan tak berapa lama lampu berkedip, dan kubuka kamar dengan segera. Seteleah mengucap salam, aku dan Mita masuk. Sepatu kuletakkan di rak sepatu, lalu kami mengganti pakaian dengan pakaian tidur. Kupakai sandal dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka, menggosok gigi dan mengambil wudhu untuk mendirikan shalat isya.
Bakda isya, aku duduk di karpet, kubuka korden dan kulihat ibukota dari lantai lima belas dengan seksama. Lampu-lampu menyala kecil di kejauhan. Indah bak kunang-kunang bertebaran. Aku tak tahu berapa jarak antara bumi dan diriku saat ini. Yang pasti hari-hariku selalu kurasa seperti melayang. Dari ruang pertemuan di lantai tiga menuju kamarku di lantai lima belas dan tadi panitia mengatakan bahwa esok, kami harus menuju lantai satu untuk sarapan.
Kubaringkan tubuhku di karpet tebal yang terhampar di lantai kamar. Setelah sekian lama, akhirnya aku bangun lalu menuju bed dan tidur berdua dengan Mita. Kulihat dia asik dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum entah apa yang sedang i abaca. Kuikuti semua kegiatannya. Kuambil ponselku yang kuletakkan di atas meja, lalu kulihat pesan di whatsapp. Banyak sekali pesan masuk dari beberapa grup yang kuikuti sampai chat pribadi. Kulihat satu persatu chat pribadi dari nomor-nomor yang sudah kusimpan.
Yang pertama kulihat adalah chat Lina.
“ Bagaimana kabarmu sahabat ? aku selalu menunggu informasi darimu namun aku harus kecewa. Kau tak pernah memberiku kabar apapun.padahal aku ingin banyak bicara seperti hari-hari yang sudah kita lewati selama ini.”
Ada stiker lucu yang ia selipkan untukku dan akhirnya kujawab dengan stiker.
“What ? Hanya itu jawabanmu?” Lina langsung membalas chatku.
“Heeeemmm”
“Risaaaaa”
Sekali lagi kuberi dia stiker.
Lalu Lina mengirimku ikon wajah merah.
“Bidadari kampus matahari sedang marah rupanya.” Godaku. Lama sekali Lina tak membalas. Mungkin benar ia marah. Akhirnya kutinggalkan Lina dan membuka chat baru. Sulis mengirimkan gambar pengungsi di grup. Tim SAR berhasil mengevakuasi korban longsor. Dan penyerahan korban kepada keluarga berlangsung a lot, karena kebetulan pihak korban tidak punya saudara lain. Keluarga dekat menolak melakukan prosesi pemakaman dengan alasan tidak punya biaya untuk acara selamatan.
“Bagaimana bisa begitu ?” tanya Sazkia, yuniorku di resimen.
“Sulis menjawab, “ Tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Yang jelas akhirnya saudara korban meminta tim SAR untuk mengubur kembali dan tidak usah dicari katanya.
Aku tak berkomentar, karena tidak ingin mencampuri kegiatan kampus untuk sementara. Hanya istighfar yang kuucapkan berulang-ulang. Anganku menerawang, membayangkan bagaimana manusia bertingkah laku. Banyak yang sombong dengan apa yang mereka miliki, kekayaan, kecantikan, ketampanan, kecerdasan, tahta dan entah mengapa mereka tidak menyadari bahwa itu semua hanya titipan. Sewaktu-waktu bisa diambil dan sewaktu-waktu kondisi kita bisa berbalik.
Kutinggalkan grup Resimen, dan kubuka chat dari nomor baru. Tak ada foto profil yang bisa membuatku bisa mengetahui siapa pengirim pesan.
__ADS_1
“Hai, apa kabar ?”
Hanya itu sapaannya, dan aku tak berinisiatif untuk membalasnya. Bukan apa-apa, aku tidak ingin dia menggangguku. Siapapu dia seharusnya mencantumkan nama ketika dia mengirim pesan pada seseorang yang baru.
Aku segera meletakkan ponselku. Kulihat Mita sudah sejak tadi tidak memegang ponselnya. Dia sedang asyik memandangku.
“Kau sibuk ?” tanyanya. Aku hanya menggeleng.
“Kelihatannya ada yang serius ?” Tatapan matanya penuh selidik. Aku menarik nafas sebentar lalu membuang pandanganku ke sudut ruangan.
“Ada informasi tentang pencarian korban longsor di wilayahku.” Ucapku pelan.
“Jadi yang longsor itu daerahmu, Risa ?’ Mita bangkit.
“Iya. Dan selama ini aku ikut menjadi relawan di sana. “Mita memandangku tak percaya.
“Bagaimana bisa ? Kamu bolos kuliah ?” aku menggeleng.
“Pertama karena aku seorang resimen mahasiswa, kebetulan juga semua mata kuliahku sudah kuselesaikan dari semester enam. Semester ini, saya tinggal menunggu KKN, dan skripsi. Judul skripsi sudah kuajukan dan sudah acc. Alhamdulillah.”
“Masya Allah, Marissa.” Teriak Mita histeris. Dia memegang pundakku dan menggoyang-goyangkan tubuhku. “ Kamu hebat,” sambungnya.
“Biasa saja, Mit. Aku hanya ingin mempercepat waktu belajarku. Tidak tahu kenapa rasanya senang saja kalau aku bisa lebih cepat dari teman-teman. Rasanya senang sekali kalau saya bisa lebih jauh dari mereka.”
“ Ceritakan padaku bagaimana kondisi korban longsor di wilayahmu!”pinta Mita. Dia memperbaiki duduknya dan mempersiapkan diri menjadi pendengar yang baik.
“Lalu ?”
“Karena daerah longsor bertambah, dan kondisi cuaca sangat extreme dan hujan terus menerus mengguyur, akhirnya camp pengungsian dipindah ke sebuah sekolah shelter di kecamatan B. ‘
“Tadi kudengar ada korban longsor yang ditemukan namun keluarga menolak untuk mengurus jenazah dan meminta relawan untuk mengubur kembali jenazah saudaranya di tempat longsoran.”
“Astaghfirullah, tega sekali mereka.”
“Begitulah, Mit. Aku juga tidak habis piker dengan masyarakat umum.” Kutarik nafasku dalam. Mengiri rongga dadaku dengan oksigen sebanyak mungkin agar aku tak kehabisan semangat.
“Kadang kita harus paham, bahwa mereka dengan pendidikan yang rendah tidak pernah berfikir bahwa apapun kondisinya, namanya saudara tetaplah saudara. Mereka yang akan membela kita dan membantu apapun dan bagaimanapun kondisinya.”
“Ngomong-omong, bagaimana dengan keluargamu, Ris?” tiba-tiba Mita mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah keluargaku dalam kondisi yang baik. Kakak keduaku kemarin sempat datang saat aku berada di lokasi pengungsian. Dia menelponku tapi karena saya tidak sempat pegang ponsel, makanya aku tidak bisa menemuinya. Dia terburu-buru makanya akhirnya kami tidak bisa bertemu.”
“Memangnya kamu berapa bersaudara ?”
“Tiga bersaudara. Kamu?”
“Aku dua bersaudara, Ris. Kakak pertamaku perempuan juga. Bulan ini ia menikah.”
__ADS_1
“Alhamdulillah, sampaikan salamku pada Kakak, semoga pernikahannya barokah.”
“Aamiin, insya Allah saya sampaikan.”
Waktu sudah pukul sebelas. Dan mataku sangat berat, tanpa persetujuan akhirnya Mita mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.
***
Pukul tiga alarm di ponselku berbunyi. Aku segera bangun dan menata rambutku dengan ikat rambut yang selalu kupakai di pergelangan tanganku. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi dan masuki bathtub setelah kulepas pakaian luarku. Kututup bathtub dengan korden yang tersedia, agar bayangan tubuhku tidak tertangkap cermin besar yang menempel di dekat wastafel. Setelah itu kubuka semua pakaian dalamku, agar aku bisa menyimpannya di plastic yang sudah kusediakan dari rumah. Kunyalakan shower dan mandi dengan air dingin. Kusudahi mandiku dan kukering badanku lalu memakai kaos yang sudah kusiapkan. Baju kotor kulipan kecil dan kumasukkan plastic. Kulaksanakan shalat tahajjudku dan kulanjut dengan subuh setelah adzan berkumandang.
Mita yang baru bangun setelah kulipat mukenaku langsung mengambil baju dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah dia keluar, dia berdandan rapi dengan memakai celana panjang dan baju panjangnya. Kerudung warna pink ia kenakan dan menambah cantik dan segar. Aroma parfumnya menyebar memenuhi ruangan. Dia nampak sudah siap.
“Kau tidak segera mandi, Ris? Sebentar lagi aku mau turun untuk sarapan.” Katanya.
“Alhamdulillah saya sudah mandi.”
“Kapan ? Daritadi aku tidak lihat kamu ke kamar mandi.”
“Jam tiga setelah bangun tidur.”
“What ? O iya, kan disini ada air hangat ya?” katanya.
“Saya mandi dengan air dingin.”
“Oh my God, Risa, kamu pemberani sekali. Di hotel ini dingin sekali dank au mandi air dingin ? “
***
Hari kedua adalah pengumuman sepuluh finalis yang wajib mempresentasikan hasil penelitian. Aku masuk menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dan ini adalah hari dimana kami harus mempresentasikan karya tulis kami. Tak banyak yang ingin kuceritakan, karena jujur fokusku hanya pada persiapanku sendiri, dari persiapan presentasi, sampai dengan penguasaan materi. Kulihat seluruh peserta juga sibuk dengan acara masing-masing.
Satu demi satu acara dilalui, dan saatnya bagi kami untuk mempresentasikan karya kami. Sebelum presentasi, kami mengambil nomor undian, dan aku mendapat nomor lima. Mungkin aku baru akan maju ba’da dhuhur, namun aku tetap ingin fokus di penguasaan materiku. Aku mengambil judul “Upaya Meningkatkan Kualitas Generasi Muda Indonesia melalui Penguatan Karakter dimulai dari Rumah,” telah kupelajari sedetil mungkin dengan harapan, apapun pertanyaan dewan yuri bisa terjawab dengan sempurna.
Pukul 11.30 makalah kupresentasikan. Semua peserta menyimak materiku dengan antusias. Kucoba untuk membangun sebuah komunikasi dengan semua yang hadir di ruang ini. Kuungkapkan beberapa fakta yang kuambil dari beberapa sampel penelitianku berupa foto dan data-data autentik yang membuat semua berdecak kagum pada presentasiku.
“Keluarga adalah negara kecil yang menjadi akar keberhasilan sebuah negara. Hancurnya keluarga adalah awal dari hancurnya negara, kokohnya keluarga adalah awal dari terbentuknya sebuah negara. Seandainya semua keluarga memiliki kesadaran akan pentingnya membangun karakter setiap anggotanya, alangkah indahnya kehidupan di negara terebut.” Kuakhiri presentasiku dengan sebuah pendapat yang bisa jadi akan diterima atau malah ditolak oleh beberapa peserta.
Pukul 12.00 aku turun dari podium. Tepuk tangan menyertai keberhasilanku menyelesaikan presentasi. Semua menyalami dan yang paling penting, dewan yuri mengacungkan dua jempolnya untukku. Aku tak ingin berbangga hati, tapi jujur kuakui bahwa hatiku tersanjung menerima semua sikap mereka padaku saat ini.
“Presentasimu hebat, Mbak.” Kata Mita, finalis asal Palembang yang kebetulan tinggal satu kamar di ML hotel. Pertemuan kami dua malam namun aku merasakan dia adalah teman lama. Wajahnya mirip sekali dengan Syamsa, salah satu korban longsor di Purworejo.
“Terima kasih, Mbak Mita, semoga kita bisa membawa nama baik daerah kita.”
“Amin”
Pak Junaidi membagi foto presentasiku di Whatsappku, dan akhirnya kubagi ke statusku, banyak komentar muncul.
***
__ADS_1