Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Kau Tidak Ingin Menyambutku?


__ADS_3

“Ok, kita tunggu saja tanggal mainnya.” Sahut Rosa sambil mencoba meraih ponselnya di saku kulotnya.


“Apa maksudmu dengan tanggal main?” tanya Sisy khawatir. Ia merasa ada yang aneh dengan kalimat Rosa. Meski dia bisa menyembunyikan masalahnya, namun kalimat sahabatnya benar-benar mengganggu pikirannya.


“Ya tanggal pernikahanmu, Sy. Rosa bilang kita tunggu tanggal pernikahanmu karena dia akan


membantu menyiapkannya, iya kan, Ros?” Rosa mengangguk mendengar jawaban Sulis. Kalimat yang tepat yang menghilangkan kebimbangan Sisy.


“Aku tunggu janjimu itu lho, Ros. Kau menginap di rumahku dan aku akan meminta bantuanmu untuk


menyiapkan semuanya. Terutama menyiapkan souvenir.”


“Insya Allah.”


“Jangan hanya isapan jempol ya. aku benar-benar mengharapkan bantuan kalian. Kamu juga Sari. Aku mau kau menginap di sini bersamaku sebelum aku doiboyong suamiku.”


“Iya, Insya Allah. Semoga nenekku mengijinkan aku pergi.”


“Apakah biasanya tidak diijinka pergi?” Sari menggeleng. ia tahu neneknya sangat overprotektif. Mengijinkannya pergi saat kuliah saja. Sedangkan diluar jam kuliah, ia harus mendekam di


kamarnya.


“Ok, semoga nenekmu mengijinkanmu pergi, Sari. Aku tetap berharap kalian bisa bersamaku saat aku


melepaskan masa lajangku.” Rosa tersenyum geli mendengar kata melepas masa lajang yang diucapkan Sisy.


“Kira-kira acaranya kapan, Sy?”


“Entahlah. Aku juga belum tahu. tapi kalau tidak salah bulan depan.”


“What ? Bulan depan dan kau tidak mau berusaha untuk menyelesaikan kuliahmu dulu?’ Sisy menggeleng.


“Aku kan sudah ketinggalan tiga bulan. Masa harus berlari mengejar ketertinggalanku dengan


satu bulan sih. Capek tahu?”


“Ya paling tidak kan kamu bisa mendapatkan gelar sarjana dulu sebelum resmi menyandang gelar Nyonya


Seno kan? Itu lebih asik tahu?’


“Marissa juga belum selesai kuliah saat dia menikah.”


“Marissa kan beda cerita, Sy. Dia murni memang ingin pacaran setelah menikah. Dia jaga kemurniannya dan dia menikah sebelum dia mencintai Pak Adit. Kalau kamu? Coba tanya dirimu sendiri, apakah kamu belum memiliki rasa cinta pada Mas Senomu sebelum menikah?’ Sisy menunduk. ia malu pada pertanyaan Rosa.


“Ya, memang beda, Ros. Marissa memang selalu bisa membuat kalian percaya bahwa dia selalu benar. Tidak


sepertiku.”


“Ya bukan begitu juga kali, Sy. Rosa kan hanya mengatakan kalau Rissa benar-benarr ingin pacaran

__ADS_1


setelah menikah. Kamu juga tahu kan?”


“Iya.”


“Terus apa salahnya? Rosa tidak salah kan? Kamu jangan cemberut begitu, dong. Senyum dikit kenapa?”


Sisy tersenyum pahit. Sekedar menuruti ucapan Sulis. Melihat bentuk senyum Sisy, Sulis dan Rosa terkekeh.


“Senyum itu satu senti kanan dan kiri ke atas, selama satu menit, bukan hanya sebelah pipimu yang satu


senti dan hanya beberapa detik, itu namanya cemberut, Sayaaaang.” Sulis menarik wajah Sisy, dan membentuk apa yang baru saja ia katakana. Mengangkat menyunggingkan wajahnya satu senti kanan dan kiri keatas selama satu menit.


“Iya, aku senyum” ucap Sisy sambil menirukan perintah Sulis.


“Itu baru manis. Kau memang aslinya manis, Sy. Makanya mas Seno mencintaimu.” Wajah Sisy merona. Malu


pada pujian Rosa.


“Kau bisa saja, Ros. Kau juga aslinya cantik. “


“Maksudnya?” Sisy menggeleng.


“”Tidak apa-apa. Tidak ada maksudh apa-apa.”


“Aku boleh melanjutkan kalimatmu? Kau akan bilang kan kalau aku aslinya cantik tapi sayang belum ada


yang jatuh cinta begitu, Kan?’ Sisy terkekeh melihat ekspresi Rosa yang memasang moda emosi. genderang perang sudah ditabuh dan saatnya bagi sisy untuk waspada. Kalimat Rosa bukan main-main. Kemarahannya juga bukan main-main. Sisy hafal sekali gelagat Rosa saat dia sedang marah. Namun bagaimanapun, ia tidak


“Kau masih belum  mau membuka pintunya untukku, Meli?’ terdengar suara keras dari Syaiful dari dalam rumah, membuat keempat gadis remaja di taman belakang diam tak berkutik.  Mereka berempat hanya mampu saling pandang tanpa suara.


“Baik kalau begitu. Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Sekarang juga aku akan pergi dan jangan


pernah mencariku.”


            Deg


            Sisy seperti tertampar. Ia segera berlari menuju sumber suara ayahnya yang mengancam ingin meninggalkan rumah. ia tahu semua yang dikatakan ayahnya akan menjadi sangat menyakitkan untuk mereka. semua orang di kompleks akan tahu pertengkaran orang tuanya dan itu sangat memalukan.


            “Jangan Ayah. Please, demi Sisy jangan pergi. Ayah bilang akan menikahkan aku dengan Mas Seno, Kan? Tolong Ayah, Hiks.” Syaiful memeluk anaknya dan membawanya duduk di sofa di sudut ruang tengah. Sedangkan teman-teman Sisy yang masih duduk di taman belakang hanya diam tak bergeming. Mereka menunggu kehadiran Sisy dengan sabar.


            “Ayah, berjanjilah untuk tidak meninggalkan kami. . . “ bisik Sisy dalam isakannya. Syaiful yang memang sudah luluh melihat tangis anaknya hanya mendesah pelan. Ia elus kepala Sisy dan membawanya dalam


pelukannya.


            “Ayah . . . “


            ‘Ayah tidak akan pergi, Sayang. Ayah akan tetap bertahan bersama kalian. Ayah sayang pada kalian.”


            “Benarkah, Ayah?” Syaiful mengangguk. Sisy memeluk tubuh ayahnya yang meski sudah berumur masih sangat kuat dan berotot, bukan karena dia seorang tentara, namun murni karena dasar penciptaan Tuhan pada Syaiful sudah luar biasa.

__ADS_1


            “Kau sedang ada tamu di taman belakang hem?” Sisy mengangguk.


            “Temui dan temani mereka , ayah akan ke markas sebentar. laporan kalau Ayah sudah pulang.”


            “Ayah tidak akan kemana-mana kan?” Syaiful menggeleng.


            “Ayah akan segera kembali kalau urusan Ayah sudah selesai.”


            “Baiklah, Ayah. Ayah hati-hati ya, Ayah. Sisy sayang sama Ayah.”


            “Ayah juga sayang sama Sisy. Kamu juga hati-hati ya. Cup.’ Syaiful mencium kening sisy, membuat Sisy terisak. Ia menyesali semua tindakannya yang pasti akan membuat ayahnya kecewa. Selama ini ia tidak pernah mendapat sikap manis seperti yang baru ia rasakan sekarang. Ia mulai menyesal dengan tindakan bodoh yang sudah ia lakukan.


            Setelah ayahnya pergi, sisy segera menemui ketiga temannya di halaman belakang. Ia benar-benar sedih karena telah membuat ayahnya bersedih dan bertengkar dengan ibunya.


“Apakah sudah selesai, Sy?” sisy mengangguk.


“Sudah.”


“OK, kalau begitu kami akan segera pulang. Sudah sore dan kau juga harus istirahat.”


“Mau kemana, Sih kok buru-buru? Aku masih ingin mengobrol dengan kalian kok.”


“Kapan-kapan saja ya ngobrolnya. Insya Allah kita bisa kesini lagi kok.”


“Beneran kau tega meninggalkan aku sendiri di rumah?’


“Kana da ibumu?” Sisy menggeleng. memang ada ibunya, namun ia yakin ibunya tidak akan menemuinya saat


ini.


“Ibuku pasti akan mengurung diri di kamar, Sari. Ibu kelihatannya skit hati sekali dengan kata-kata Ayah sehingga sampai saat ini masih belum mau membuka pintu kamarnya.”


“Ah, rumitnya ya hubungan suami istri. Satu merajuk, yang satu pergi. semoga kelak kita tidak seperti itu ya.”


“aamiin. Tapi please ya, jangan tinggalkan aku sendiri di rumah saat ini. aku sangat kesepian. Aku butuh


teman.”


“Maaf banget, kami harus mandi dan salat asar. Kau tahu juga kan kalau aku tidak pamit sama Mas Kiki


akan pulang malam.”


“Ya sudahlah. Aku tidak bisa mencegah kalian untuk pulang. Yang pasti saat aku menikah, kalian harus


datang dan menginap.’


Sisy mengantar ketiga temannya sampai di gerbang rumah dinasnya yang sangat luas. Setelah semua


meninggalkan rumahnya, ia melangkah menuju rumahnya. Belum juga kakinya masuk rumah, sebuah suara menegurnya dengan suara khasnya

__ADS_1


“Kau tidak ingin menyambutku, Sisy?’


__ADS_2