Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Persiapan ke Ibukota 2


__ADS_3

Pulang dari kampus, kukemas pakaian yang akan kubawa ke Jakarta. Kuambil koper kecil yang dibelikan ibuku setengah tahun lalu. Koper yang menjadi saksi kegiatanku di luar kota tempatku mengajar, yang sudah hamper dua bulan ini tak kuhiraukan. Kuambil koper yang tergeletak di atas lemari pakaianku. Meski sudah lama tak terpakai, kondisi koper tidak kotor karena aku selalu membungkusnya dengan plastic besar, untuk menghindari kotoran menempel ditubuhnya dan binatang yang akan merusaknya.


Kutumpuk pakaian dalamku lalu kulipat menjadi satu dan kuikat dengan karet gelang, lalu memasukkannya di sudut koperku. Baju- baju yang sudah kuseterika langsung kulipat juga menjadi lipatan-lipatan kecil serta kuikat satu persatu lalu kumasukkan ke dalam koper. Packing yang sangat sederhana ini kuadopsi dari beberapa video tutorial five minute craft di you tube. Selalu kulakukan hal yang sama saat aku mengepak pakaian. Singkat, sederhana dan tidak terlalu memakan tempat. Baju yang jumlahnya delapan sampai sepuluh stelpun bisa masuk ke dalam koper kecil tanpa memaksa resleting jebol. Sikat gigi yang biasa kubawa keluar sudah kutempatkan bersama sabun dan shampoo, serta sisir di tas kecil. Setelah semua persiapan selesai, kumasukkan empat buah hanger, barangkali nanti aku akan membutuhkannya di sana. Kututup koperku dan kuletakkan di sudut kamarku. Hari sudah memasuki ashar.


Kudengar ada pintu terbuka di rumah kosku. Dan tak lama, seseorang mengetuk pintu kamarku.


“Masuk !”


“Kamu sudah menyiapkan semuanya, Ris ?” Maulida menatapku dengan seksama. Dia lihat koper yang teronggok di sudut ruangan dan tas kuliahku sudah rapi tertata di meja.


“Alhamdulillah sudah” jawabku singkat.


“Kau yakin hanya akan berangkat berdua dengan Pak Jun?”


“Sepertinya begitu.” Aku bahkan tak pernah berfikir dengan siapa lagi aku pergi besok. Menurut yang kutahu, Pak Jun hanya memberi instruksi untukku untuk datang setengah jam lebih awal dari jadwal keberangkatanku ke bandara. Selain itu tidak ada informasi apapun.


“ Maulana besok juga akan pergi ke Jakarta.” Tambah Maulida.


“ oh iya ? “ aku terkejut karena memang aku benar-benar tidak berusaha mencari tahu.


“Tapi kalau tidak salah, dia akan diantar oleh Bu Merlin.”


“ Untuk acara apa ?”


“Entahlah. Yang aku tahu MAulana jago di bidang robot, kau tahu kan kalau di jurusannya dia selalu meraih cumlaude.”


Aku hanya bisa menggeleng. Bukan tanpa alasan, meski aku mengenal Maulana, namun aku tak pernah tahu bagaimana dia di kelasnya. Aku mengenalnya hanya sebatas teman di BEM, selebihnya tidak tahu. Apa aktivitas hariannya, apa prestasi dan kegemarannya bahkan aku tidak tahu siapa kekasihnya. Selama ini aku berteman dengan mereka hanya sebatas berteman, berdiskusi tentang masalah organisasi dan selebihnya aku tak ingin tahu sama sekali.


“Kamu memang payah. Sama teman sendiri saja tidak tahu apalagi sama orang lain.” Kupandang wajah Maulida yang sedang emosi. Meski gemas memandangnya dan ingin kucubit pipinya, aku tetap diam.


“Coba kau sedikit lebih peduli ke sesama. Lebih mau memperhatikan seseorang maksudku. “ ucap Maulida tenang.


“MAksudnya? “ aku mulai terpancing.


“Sekali-kali kelihatannya kamu perlu untuk melihat siapa Maulana, siapa yang sedang ditaksirnya, apa kehebatannya dan apa kegemarannya. Kalau bisa jangan hanya Maulana tapi yang lainnya.”


“Begitu ya ?” entah mengapa aku tak merasa perlu untuk menanggapi ucapan Maulida. “Bagaimanapun kita hidup bersosial. MAnusia adalah makhluk social yang harus peduli satu saa lain.” Sambung Maulida.


“Kalau kepedulian seseorang hanya dilihat dari bagaimana dia mengetahui siapa kekasihnya, apa makanan kesukaannya dan apa hobinya, mohon maaf, Da, saya tidak bisa.”


“ Tapi menurutku rasa acuhmu sudah kelewat batas, Ris. “


“Kelewat batas bagaimana ?” aku tak mengerti dengan pola pikir Maulida. Aku juga tidak habis pikir mengapa dia memandangku tidak peduli sesame hanya berdasarkan fakta bahwa aku tak tahu kegemaran seseorang. Padahal menurutku, aku adalah manusia paling peduli sesama karena selama ini aku selalu mengulurkan bantuan pada siapapun yang membutuhkan.


***


Ashar sudah berlalu lima belas menit yang lalu. Kutinggalkan Maulida sendiri di kamarku. Dia sedang melihat ponselnya dan entah apa yang sedang di abaca.


Kuambil handukku dan kusibukkan diriku dengan aktivitas bersih diriku. Kuguyur kepalaku dan kugosok dengan head and shoulder menthol dan kurasakan betapa hangatnya kepalaku. Rasa pusing yang sudah sejak siang menggelayut di kepala sedikit mereda setelah rambut kucuci dengan shampoo. Setelah selesai, kusikat gigiku dan kuganti pakaian basahku dengan pakaian kering yang sudah kusiapkan dari kamar. Sepuluh menit kemudian, au keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju tempat wudhu lalu menghadap pada Tuhanku dengan beribadah melaksanakan shalat ashar.


Usai ibadahku, Maulida mengajakku untuk makan. Kuikuti saja semua keinginannya. Kami menuju kamar Maulida. Maulida menyuruhku untuk duduk di dipannya dan mengeluarkan sebungkus plastic yang ternyata isinya nasi bungkus dua buah.


“Sisy kapan ke kos lagi Da?” tanyaku spontan.


“Aku sudah bilang kalau dia sudah keluar kos dan kembali ke asrama tempat orang tuanya tinggal kan ? “ sahut Maulida sedikit emosi. Kangen sekali aku padanya sehingga aku tetap menganggap Sisy masih berada di kos.


“Aku kangen banget sama dia. “


“KAu bisa ke rumahnya di batalyon kalau kau ingin dikerubut laler ijo. “ sahutnya.

__ADS_1


“Kok dikerubut laler ijo. Apa menurutmu rumah Sisy sangat kotor sehingga banyak laler ijonya?”


Maulida tertawa.


“Risa . . Risa. Kau bahkan tidak tahu istilah trend anak muda ya.” Ucpnya menghinaku,


“Trend ? anak muda ?” tanyaku penasaran.


“Iya.” Jawab Maulida singkat.


“Apa maksudnya ?’


“Entahlah. Bicara denganmu lama-lama membuatku jengkel. “ sungut Maulida. Dia segera berdiri dan meninggalkanku sendiri di kamarnya. Aku ingin mengejarnya namun kuurungkan. Aku tidak ingin meninggalkan makananku. Kulihat Maulida masuk sambil membawa sebotol minuman dan dua gelas. Hari ini dia benar-benar memanjakanku. Dia layani kebutuhan makanku sore ini.


“Kita selalu mengatakan Tentara dengan kata Laler ijo, biar mereka yang kita juluki begitu tidak tahu kalau kita sedang menggunjingnya.


Aku nyaris tersedak. Istilah baru dari anak masa kini. Dan sekali lagi aku tak tahu. Kusadari akhirnya betapa kurang updatenya diriku terhadap lingkungan sekitarku.


“Kamu jahat sekali, Da.”


“Hi hi hi, kau bahkan tidak tahu kan kalau akhir-akhir ini kita selalu digoda ?”


Kali ini aku benar-benar tersedak. Ida mengulurkan segelas minumnya padaku. Kuambil dan kuminum seteguk untuk membantu makanan yang sudah terlanjur masuk ke saluran pernafasanku. Memang tak berpengaruh banyak, namun setidaknya aku bisa sedikit tertolong.


“Mereka sering berjalan-jalan di depan kos. Kalau pagi mereka berlari-lari melewati jalan depan rumah ini, dan kalau sore mereka naik sepeda melintas di depan kampus. “


“ Sejak kapan itu terjadi ?”


“ Sudah seminggu ini. Sisy bilang, mereka sedang bersiap untuk melaksanakan tugas ke Papua. Disana ada serangan dari kelompok tertentu. “


“Terus ?”


“Mereka mengganggu Fatimah” Fatimah adalah teman yang kos di rumah belakang. Rumah milik neneknya mas Kinkan. Tempat itu dihuni oleh anak-anak bahasa dari berbagai angkatan. Lebih besar dan lebih ramai makanya setelah kutinggalkan Maulida ke lokasi pengungsi, dia lebih suka berada di sana.


“Kau juga digoda ?Godaku. kulihat wajah MAulida merona. Mungkin ia mengiyakan ucapanku dalam hatinya. “Jawab !” sambungku sambil pura-pura melototkan mataku.


“ Ya . . . begitulah.” Sahutnya. Maulida menundukkan kepalanya dan terus memandang ke ubin yang tertata rapi di kamarnya.


“Atau jangan-jangan kamu sudah jadian sama salah satu lalat itu ?” MAulida menggeleng.


“Tidak apa belum ?” endengar godaanku sekali lagi wajah ayu di hadapanku memerah. Aku tak tega melihatnya, namun aku benar-benar penasaran mendengar banyak lalat ijo tiap hari menggoda teman-temanku.


“Apaan sih kamu? Aku memang sering digoda lalat ijo itu tapi masa kamu lupa kalau aku sedang mengincar seseorang di kampus.”sahut Maulida geram.


“Oh . . . ternyata seperti itu ?” Maulida mencubit pinggangku.


“Ihh menyebalkan.” Dia cemberut. Tangannya yang sedari tadi mencubitku sekali lagi mendaratkan cubitan bahkan kali ini bertubi-tubi. Aku yang merasa geli dengan tingkahnya langsung menyerah.


“Sekali lagi kau pura-pura tidak tahu kucubit kamu,” ancamnya.


Tapi aku memang benar-benar tidak tahu Da. Sungguh,” ucapku sambil mengacungkan telunjuk dan jari tengah.


“ Kamu itu tahunya apa.” Dia meninggalkanku sambil membawa bungkus bekas pembungkus nasi keluar kamar. Kuikuti saja langkahnya lalu duduk di ruang tengah dan menyalakan televise. Berita hangat masih seputar pencarian korban di kecamatan B.


***


Jam enam pagi Maulida mengantarku ke kampus. Kampus yang berada di jalan AD masih sangat lengang. Belum ada seorangpun mahasiswa datang untuk menuntut ilmu. Yang ada hanya sebuah mobil Toyota Rush terparkir di sudut jalan masuk. Maulida menurunkanku di koridor auditorium di lantai bawah. Tempat yang kata pak Junaidi akan dijadikan sebagai tempat untuk melepaskan kepergianku dan Pak Jun.


Belum ada yang terlihat di sana. Kududukkan pantatku di kursi yang ada di sebelah tangga. Maulida membantuku mengangkat koper kecilku lalu duduk di sebelahku menunggu kehadiran pak Junaidi dan Rektor.

__ADS_1


Setengah tujuh semua yang ditunggu hadir. Maulana dan Bu Merlin dari fakultas Teknik ada bersamaku. Kami duduk di auditorium. Acara hanya diikuti oleh dekan fakultas Teknik dan Psikologi dan beberapa staf rektorat. Serta pendamping dan peserta yaitu aku dan Maulana.


“Sebagai Pimpinan kampus Matahari saya bangga dan ikut bersuka cita atas keberhasilan anak-anak saya dalam ajang nasional. Semoga dengan event ini semua bisa mengambil pelajaran, membawa nama baik almamater dan daerah. Semoga di event ini anak-anakku bisa meraih yang terbaik. Dan dengan mengucap bismillahirohmanirrohiim, rector Universitas Matahari melepas kontingen dalam ajang Lomba Karya Ilmiah di Jakarta. “


Setelah acara pelepasan kontingen kami menuju mobil kampus yang akan mengantar kami ke bandara internasional di Jogjakarta. Pak Junaidi dan Bu Merlin masuk ke mobil Rush bersama Rektor dan Dekan kedua fakultas. Sedang aku dan Maulana masuk ke mobil kampus.


“Kau nampak sedikit kelelahan Risa. “ Maulana membuka percakapan.


“Kau tahu sendiri aku baru saja pulang dari Kecamatan B. aku bahkan sedang akan mengantar jenazah orang tua dan saudaranya Syamsa ketika Pak Junaidi menelponku. “ keteranganku membuat Maulana terkejut. Dia mungkin terlalu sibuk dengan kegiatan fakultasnya sehingga dia mengabaikan informasi hangat yang baru saja terjadi tak jauh dari lingkungannya.


“BAgaimana kondisi mereka ?” tanya Maulana penasaran.


“Mereka maksudmu siapa ? Pengungsi, atau orang tua Syamsa?”


“ Orang tua Syamsa dan saudaranya.” Sahut Maulana. Dia memandang wajahku dan betapa bodohnya aku karena aku tak tahu apa maksud tatapannya.


“Tim SAR bilang, mereka meninggal dalam keadaan berpelukan satu sama lain sehingga kantong jenazah menjadi satu. Saat dimandikan dan dibungkus kain kafan mereka juga tidak dapat dipisahkan sehingga tetap dalam satu kafan dan bisa dipastikan bahwa mereka dikubur dalam liang lahat yang sama. “


Wajah Maulana terlihat sangat sedih. Aku tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikirannya terkait Syamsa selama ini. Maulida benar, aku memang benar-benar tidak peka kepada sesama.


“BAgaimana kondisi Syamsa setelah mereka ditemukan ?”


Aku hanya menarik nafas. Kelihatannya Maulana mengenal Syamsa dengan baik sehingga dia benar-benar penasaran ingin mengetahui semua tentang Syamsa.


“Pada saat Syamsa sedang meraung menangisi keluarganya, bibinya menyuruhnya untuk segera menikah di hadapan orang tua dan saudaranya.” Ucapku lirih. Meskipun lirih, sempat membuat Maulana panik.


“Ceritakan semua tentangnya !”


“Eh, jangan bilang kau menyukai Syamsa. “ kataku sambil memandang Maulana penuh selidik. Maulana menganggukkan kepalanya.


“Apa maksud anggukanmu ?”


“Aku mencintainya, Ris.” Ucapnya lemah. Nampak sekali kekhawatiran di wajahnya.


“Apakah kau yakin dengan perasaanmu ?” sekali lagi Maulana mengangguk. Aku ragu, apakah akan menceritakan semua atau menutup cerita tentang Syamsa sampai dia kembali dari Jakarta.


“Ayolah ! Ceritakan semua kepadaku ! Please !”


“Apakah tidak akan mempengaruhi pikiranmu ? KAmu akan mengikuti lomba dan lomba ini sangat bergengsi. Aku takut kau akan terpengaruh dan . . . .”


“ JAngan banyak bicara ! Ayo ceritakan !” rengeknya. Aku terdiam sesaat.


“Ayolah ! Tidak akan mempengaruhi konsentrasiku nanti, yakinlah !”Maulana nyaris memegang tanganku kalau saja aku tak segera menariknya.


“Iya, maafkan aku. Aku tahu kau tidak suka kupegang tanganmu. Tapi please, ceritakan semua tentang Syamsa.”


“Lupakan dia !”


“ Hei, apa maksudmu ?” MAulana mulai emosi. Aku sudah sangat yakin bahwa itu yang akan ia lakukan setelah mendengar keteranganku.


“Dia sudah menikah.” Ucapku lirih. Aku sangat sedih mengingat kembali kejadian yang kemarin baru saja kulihat. Kulemparkan pandanganku ke luar.


“Si . . siapa yang menjadi suaminya ?” Kulihat wajah Maulana panik. Aku sangat trenyuh menyaksikan perubahan sikap Maulana. “Katakan, Risa.” Sambungnya dengan mimik wajah yang mengenaskan.


“Qomar.” Sahutku singkat. Kali ini MAulana mengepalkan tangannya dan meninju kursi yang dia duduki dengan kerasnya.


“Kau tidak mencegahnya ?” Kata Maulana sambil memegang tanganku. Dia tak mempedulikan prinsip yang selama ini kupegang.


“Apa yang bisa kulakukan kalau yang bersangkutan mengiyakan ? Apa kau juga akan mencegahnya kalau orang yang kau cintai mengiyakan keinginan orang lain ?’ sahutku dengan penuh emosi. Aku tidak suka dengan kalimatnya yang menyalahkanku. Mauana diam. Sesaat ia masih emosi. Sesekali dia tarik nafas dalam lalu membuangnya dengan kasar. Aku tak ingin mencampuri perasaannya.

__ADS_1


Tak terasa perjaanan kami sudah sampai di bandara. Pak junaidi dan Bu Merlin menunggu kami di depan pintu masuk bandara. Setelah kami menunjukkan boarding pass dan identitas, petugas menyilakan kami masuk untuk pengecekan di pintu-pintu selanjutnya.


__ADS_2