Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Kelihatannya Benar


__ADS_3

Pernikahan Sisy dan seno tinggal beberapa hari lagi. Mereka sudah fitting gaun dan memesan tempat, di gedung wanita. gedung yang biasa disewa untuk berbagai acara dipilih oleh Syaiful untuk melangsungkan pernikahan anaknya karena beberapa alasan. Wisma ganesa memiliki tempat parkir luas ditambah beberapa kamar untuk keluarga pihak laki-laki. Ada hotel dan losmen yang dekat dengan lokasi sehingga bisa


mempermudah semuanya.


Hari ini, mereka sedang menyiapkan segala sesuatunya di dapur dibantu oleh Sulis dan Rosa yang memang sedang meluangkan waktunya untuk memberi perhatian Khusus pada Sisy. Meli yang memintanya untuk menemani Sisy selama ia belum menikah.


“Kapan kalian menyusul Sisy, Mbak Rosa dan Mbak Sulis?” tanya Meli ditengah-tengah kesibukan menyiapkan makanan. Rosa dan Sulis menggeleng. bibirnya menyunggingkan senyum termanisnya.


“Tidak tahu, Bu. Saya belum memiliki kekasih.” Sahut Rosa.


“Kalau Mbak Sulis bagaimana?’


“Saya juga belum tahu, Bu. Kuliah masih belum beres tidak akan memikirkan menikah dulu. kalau bisa saya kerja dulu baru menikah.”


“Hem, bagus kalau begitu. Kalian pasti membuat orang tua kalian bangga.”


“Ingin membuat Ayah ibu bahagia juga, Bu. Tapi tidak tahu apakah mereka bahagia juga dengan pencapaianku selama ini.”


“Ibu yakin mereka bangga padamu, Mbak Rosa. Kalau ibu lihat kau gadis yang baik. Tidak neko-neko, sederhana dan kelihatannya patuh.”


“Terima kasih, pujiannya, Bu. Sebenarnya ya tidak seperti yang ibu katakan juga. Kadang aku juga bisa berbuat di luar kendali.”


“Apa iya? Kelihatannya kau anak penurut.”


“Ha ha ha, Rosa penurut itu kalau di depan orang lain, Bu. Kalau di depan orang tuanya dia akan menjadi beda, iya kan, Ros? ‘ sahut Sisy sambil memandang Rosa  engan tawa renyahnya. Rosa yang tidak suka dengan ucapan Sisy hanya diam saja. Tidak berminat sama sekali menjawab ledekan Sisy.


“Kamu bilang apa sih Sy? MAsa kamu menuduh Rosa seperti itu.”


“Lihat saja dia yang diam, Bu. Katanya diamnya wanita adalah persetujuannya.”


“Tapi apa aku harus mengatakan setuju kalau kau mengatakan seperti itu di depan ibumu?”


“Ih, maaf deh, aku hanya bercanda.”


“Bercandanya kelewatan.”

__ADS_1


“Iya, Maaf.”


Rosa diam. ia tetap pada posisinya, membungkus beberapa makanan dalam plastic kecil dan mengikatnya dengan pita emas. Sulis yang tahu kalau Rosa sedang marah pada Sisy hanya diam. tidak mencoba mencairkan suasana.


“Ibu ingin tahu yang namanya Marissa seperti apa ya orangnya?” Pertanyaan Meli sontak membuat ketiga gadis di hadapan Meli saling pandang.


“Ada apa dengan Marissa, Bu?”


“Hanya ingin tahu saja. Ketika kau koma kan kau selalu mengatakan kangen sama Marissa, ingin meminta maaf dan mengatakan benci pada Seno. Tapi ketika sadar kok jadi terbalik begini. Kau menikah dengan Seno dan kau kelihatannya masih marah pada Marissa.”


Sisy memandang dua sahabatnya. Tidak tahu harus berbicara apa atas ucapan ibunya. dia menunduk, menyaksikan pandangan dua orang yang mencoba mencari tahu tentang perasaannya lewat pandangan matanya.


“Suer aku tidak tahu tentang apa yang diucapkan ibuku. Please, percaya padaku!’ ucap Sisy sambil mengacungkan dua jarinya, meminta sahabatnya mengerti kondisinya.


“Tapi aku tahu sejak dulu kamu memang membenci Marissa kan? Kau tidak suka dengan dia apalagi saat kau tahu Mas Seno mencintainya, kan? Tapi kau tidak bisa begitu saja mengatakan kau membencinya, Sy. Kau sendiri juga salah. Kau tidak pernah bilang padanya kalau kau dengan Mas Seno saling mencintai.”


“Aku kan tidak tahu kalau mereka bertemu di longsor sialan itu. Kalau aku tahu, aku akan selalu berada di dekat Marissa.”


“Lagian siapa juga yang menyuruhmu kembali ke rumah dinasmu. Kamu ingat tidak saat Marissa sibuk dengan kegiatan kemanusiaannya, kau justru bersenang-senang di rumah mewahmu kan?”


“Aku sering pulang kan karena kangen sama Ibuku. Kau memang tidak pernah merasakan kangen pada ibumu?”


“Itu karena rumahmu jauh, kan? Kalau rumahmu dekat, aku yakin kau akan melakukan hal  yang sama denganku.”


“hhh, lelah bicara dengan anak Mama seperti kamu.”


“Hei aku bukan anak Mamah tahu?”


“Apa namanya kalau kangen langsung pulang kalau bukan anak Mamah hah?”


“Anak ibu.”


Rosa dan Sulis terkekeh. Mencoba memukul bahu Sisy dari kanan dan kiri membuat Sisy meringis menahan sakit.


“Tapi ya jangan dipukul begini juga kale, kau kan menyakitiku. Aku sedang . . . .” Sisy tidak melanjutkan kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan dan mengatakan kalau dia sedang hamil pada mereka. kalau mereka sampai tahu, Sisy tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan yang sudah ia perbuat sendiri.

__ADS_1


“Kamu sedang apa, Sy?” tanya Sulis penasaran. Sisy menggeleng. sambil mengelus bahunya.


“Tidak apa-apa. Sedang duduk kan? He”


“Aku tahu kalau sedang duduk. Yang lain kamu tidak ingin bicara?’ desak Rosa. Ia sebenarnya sudah menduga apa yang akan dikatakan Sisy, ia ingin mengatakan langsung di hadapan kedua temannya namun ia takut tebakannya akan meleset dan alih-alih dia bisa malu sendiri.


“Tapi aku sedang duduk beneran kan ya, Lis? Masa bohong.”


“Iya lah. Aku tahu kalau kamu sedang duduk.” Ucap Rosa mengalah. Ia memasukkan makanan yang sudah selesai dikemas dan mengangkatnya ke atas meja di sudut ruangan. tangannya ia gerakkan ke kanan dan ke kiri untuk mengurai pegalnya. Sambil sesekali mencuri pandang ke arah Sisy.  Mencoba memastikan bahwa pucat di wajah Sisy bukan karena ia baru sembuh dari sakit.


“Kamu kenapa tangannya Ros?’


Rosa mundur sambil tersenyum. ia duduk di sofa dan pura-pura mengurut tangannya.


“Tadi berat kali ya, tanganku kok sakit ini.’ Meli memandang Rosa yang masih memijit tangan dan kakinya.


“Kenapa, Mbak Rosa?“


“Tidak apa-apa kok, Bu. Sedikit sakit saja. Sebentar lagi insya Allah juga akan sembuh.”


“Kalau sakit istirahat sana di kamar Sisy. Sisy juga butuh istirahat. Kasihan  . . . “ Sekali lagi mereka menyembunyikan fakta dari dua orang gadis di hadapannya. rosa memandang Sisy dan mengajaknya ke kamar untuk beristirahat.


“Kita rebahan sebentar ya.” Sisy mengangguk. ia ikuti langkah kaki Rosa dengan pelan. Melihat dua temannya meningalkannya, Sulis mengekor.


“Kau juga ingin ikut kami, Lis?” tanya Sisy penasaran.


“Iya, dong. Masa kalian istirahat aku kerja sih. Aku juga ingin mengobrol dengan calon pengantin lho. Biar ketularan juga.”


“Kau harus berhasil dulu biar ibumu bangga padamu.” Sahut Rosa sekenanya.


“Tentu saja menikah setelah berhasil. Tapi aku boleh tahu dong bagaimana rasanya deg deg ser menunggu hari H” ucap Sulis sambil menyelonong mendahului Sisy. Tindakannya membuat sikunya menyenggol perut Sisy.


“Auw, sakiit, Sulis.”


Sulis terpana melihat Sisy yang merintih menahan perutnya. Rosa melihat Sisy dan mencoba menolongnya. Tangannya ia ulurkan dan membawa Sisy tiduran di bed king sizenya sambil mengelus perut. Rosa meperhatikan perubahan drastic yang terjadi di perut Sisy. Dulu saat mereka masih sama-sama di flamboyan, perut Sisy sangat datar karena ia rajin memakai korset. Berbeda dengan sekarang, perutnya nampak

__ADS_1


sedikit menonjol dan Rosa hanya memperhatikan sambil membatin.


“Kelihatannya dugaanku benar.”


__ADS_2