Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Jangan Pernah Menyakitinya


__ADS_3

Seno berdiri di hadapan Sisy dengan tatapan mata tajam seolah ingin menelan Sisy hidup-hidup. Sisy yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan mata bahagianya kini mulai merasa sedikit takut.


“Mas Se Seno, si silakan masuk!”


Tanpa menunggu perintah kedua, Seno masuk rumah Sisy lalu duduk. Ia pandang sekeliling rumah. masih tetap seperti dulu. tidak ada perubahan apapun. hanya perasaannya yang berubah. Awalnya dia merasakan bahagia saat Syaiful menerima dirinya sebagai tamu saat pertama kali dia datang ke batalyon.


“Mas Seno mau minum apa?” Seno menggeleng.


“Ayah sedang ke batalyon untuk melapor sebentar, Mas. Katanya kalau sudah selesai ayah langsung akan pulang.”


“Aku tahu.”


“Oh, Maaf.”


“Apa yang kau katakana pada ayahmu tentangku?”


Sisy melihat wajah Suseno dengan sedikit mengerutkan dahinya. ia tidak tahu apa maksud di balik pertanyaan calon suaminya.


“Tidak ada cerita apa-apa, Mas. Sejak pulang dari rumah sakit, ayah dan aku sama sekali belu ada komunikasi.”


“saat di rumah sakit?”


“Aku tidak cerita apapun.”


“Bagus. Kalau begitu kamu tidak usah repot-repot mengatakan apapun pada ayahmu. Aku yang akan mengatakan semua kebusukanmu.”


“Ma maksud Mas Seno apa?”


“Selama ini aku bahkan tidak pernah habis pikir dengan semuanya, Sy. Kau menjebakku dan aku sama sekali tidak tahu.” Sisy menunduk. dia meremas jari jemarinya dengan menundukkan kepalanya.


“Angkat kepalamu dan pandang aku!” Sisy mengangkat wajahnya dan memandang Seno yang kini menatapnya dengan rahang mengeras menahan amarah.


“A -aku  aku minta maaf, Mas. Aku pikir dulu Mas melakukannya karena Mas ingin melupakan Rissa. Aku . . . .”


“Aku memang ingin melupakannya, tapi bukan dengan cara menodaimu, Sisy. Apalagi membuat kau hamil seperti saat ini.Aku sangat menyesal telah melakukan hal paling bodoh dalam hidupku.”


“Hiks, Mas dulu yang bilang dan memintaku untuk membantu Mas melupakan Marissa, bukan? Mengapa sekarang Mas marah? Dulu . . . “


“Aku memintamu untuk membantuku melupakan Marissa karena aku ingin melupakannya, tapi tidak dengan cara kotor seperti cara yang kau lakukan padaku.”


“Tapi aku . . . aku sudah mengandung anakmu, Mas. Apakah kau tidak akan bertanggung jawab padaku? Apakah kau akan membiarkan anak ini lahir tanpa ayah?’ Semo memukulkan tangannya ke meja di hadapannya. dengan sekali tinju meja kaca yang tidak berdosa sama sekali pecah. Berkeping-keping dan pecahannya mengenai tangan Seno hingga berdarah. Melihat darah di tangan Seno, Sisy mencoba untuk

__ADS_1


mengulurkan tangannya, membantu menghentikan darahnya, namun Seno segera mendorongnya hingga ia tersungkur jatuh di sofanya kembali.


“Pergi kau. Jangan sentuh aku!”


“Hiks, , , aku hanya ingin membantu menghentikan lukamu, Mas.”


“Tidak perlu.” Seno memasukkan tangannya ke dalam saku, mengambil sapu tangan warna hitam yang ia simpan di saku. Tangannya cekatan membalut lukanya sendiri dengan bantuan giginya.


“Hiks, maafkan aku, Mas. Gara-gara aku, Mas menjadi terluka begini.”


“Diam kau. Aku tidak butuh tangismu. Aku juga tidak butuh belas kasihanmu. Aku akan bertanggung jawab atas anak yang sedang kau kandung, namun jangan pernah berfikir bahwa aku akan menyentuhmu setelah kita menikah nanti.”


“Apa seperti itu boleh?”


“Terserah kau mau bilang apa. Seorang yang sedang hamil tidak boleh menikah. Namun aku juga tidak mau namaku tercoreng gara-gara orang menganggapku manusia yang tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan.”


“aku menurut saja pada semua keinginanmu, Mas. Asalkan kau tidak lari dengan wanita lain, aku mau.”


“Kau memang sejak dulu selalu bodoh. tidak pernah sedikitpun cerdas, meski kau seorang mahasiswa.”


Sisy menunduk. baru kali ini ada laki-laki yang mengecilkannya. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Seno padanya. Selama ini yang ia tahu, semua anak buah ayahnya selalu menyanjungnya, mengelu-elukannya dan ingin menjadikan dirinya sebagai kekasih. Tak jarang pula banyak prajurit yang berpura-pura datang untuk


“Jangan pernah berfikir bahwa semua laki-laki seperti yang ada dalam pikiranmu, Sisy. Mereka mungkin mendatangimu dengan berbagai alasan agar engkau tertarik, tapi tidak denganku. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Aku selalu datang ke sini karena aku memang orang baru yang bagiku bisa menimba ilmu dari ayahmu.”


“Iya, Mas. Aku minta maaf. Aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu.”


“Tidak perlu. Aku bisa membuat kebahagiaan untuk diriku sendiri.” Seno mengambil ponselnya dan mengusap layarnya. Muncul di sana sebuah foto yang membuat mata Sisy terbelalak. Hatinya panas dan ia hanya bisa menahan emosinya. Sepasang manusia, yang entah siapa menghiasi layar ponsel calon suaminya dan ia yakin itu bukan dirinya. selama ini ia tidak pernah berfoto bersama. Dalam event apapun, Seno lebih memilih untuk menjauhinya.


Seno terus saja berselancar dengan dunia kecilnya lewat ponselnya tanpa mempedulikan keberadaan Sisy di hadapannya. membuat Sisy jengah. Ia segera bangkit dan hendak melangkah menuju dapur untuk membuat minuman. Namun belum juga tubuhnya meninggalkan tempatnya, tangan Seno mencegahnya.


“Mau kemana?”


“A-aku akan ke dapur, Mas. Membuat minum.”


“Aku bilang aku tidak mau minum.”


“Ba-baik. Aku duduk lagi.” Sisy merasa seperti mati kutu di hadapan calon suaminya sendiri. Ia tidak bisa melakukan apapun, bahkan di rumahnya sendiri ia seperti terkunci. Tidak ada perlawanan dan ini sangat menyakitkan.


Sisy terus saja memandang Seno yang masih setia memegang ponselnya tanpa melakukan apapun. hanya bisa memandang tanpa bisa melibatkan diri secara langsung.


“Mas, aku boleh . . .”

__ADS_1


“Duduk. Tidak ada penolakan dan aku tidak suka ditolak.”


“Tapi kenapa saat Marissa menolak Mas diam saja?’


Seno menghentikan kegiatannya. Ia pandang Sisy lalu menggeleng.


“Kau tidak tahu jawabannya?’ Sisy menggeleng.”


“Karena dia begitu berharga. Kebahagiaannya di atas segalanya. Aku tidak mungkin membuatnya tersiksa karena akan menyakiti perasaanku sendiri. Dia menolakku pun karena mempertimbangkan dirimu. Saat itu kau memusuhinya dan aku tidak mau dia terluka karenamu.” Sisy terhenyak. Kesadarannya mulai muncul. Mengapa ia begitu membenci Marissa sudah terkuak. Ia tahu Marissa adalah penghalang utamanya.


“Tidak akan pernah kumaafkan.” Gumam Sisy sambil memukulkan tangan ke pangkuannya.


“Siapa?”


“Apanya?’


“Yang tidak akan kau maafkan?”


“Ti-tidak, Mas. Apakah aku bilang seperti itu?”


“Katakan padaku siapa yang tidak akan kau maafkan?” Sisy bersusah payah menggeleng. meski dia tahu, berat sekali kepalanya untuk ia ajak kompromi.


“Jangan berusaha menyakiti Marissa karena dia tidak bersalah sama sekali.”


“Ti-tidak, Mas. Aku tidak akan pernah menyalahkan Marissa. Dia sahabatku. Sahabat terbaik.”


“Jangan bilang dia sahabat terbaik kalau dalam hatimu ada rasa ingin menghancurkannya.”


“Tidak, Mas. Aku tidak ingin melakukan apapun padanya. Aku akan selalu menjaganya.’


“Kupegang janjimu itu, sisy. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku sudah tahu siapa yang harus kupegang lebih dulu.”


“Iya, Mas. Aku janji tidak akan pernah menyakitinya.”


“Bagus.”


Suara mobil yang masuk  di halaman membuat kedua sejoli di ruang tamu itu diam.


“Asalamualaikum.”


“Waalaikum salam.” Seno tetap pada posisinya sedang Sisy segera berdiri menyambut tamunya.

__ADS_1


__ADS_2