Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Cemburu pada Syamsa


__ADS_3

Itu tadi ibu?” tanya pria di hadapanku lembut. Ada binary di matanya yang aku tak tahu apa artinya. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


“Adik sudah sampai di bandara dan tidak pulang ke rumah. Memang rumah Dik Risa dimana ?”


Kutatap wajah laki-laki itu sejenak, lalu kuhela nafas panjang.


“Yogyakarta.”


“Dan di kota ini ? Kos atau ada rumah di sini?” dia sedang menggali informasi tentangku rupanya.


“Saya kos. Mohon maaf, Kak. Apakah Kakak tahu orang yang bernama Pak Seno?” dia terkejut.


“Ada apa Adik mencari Pak Seno. Apakah Adik mencintainya?” dia membetulkan posisi duduknya. Kali ini benar-benar menghadapku. Wajahnya datar dan aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan.


“Ingin tahu saja yang mana, barangkali Kakak tahu.”


“Adik beritahu dulu ada apa mencari Pak Seno.”


“Lina bilang beliau mencariku.” Ucapku pelan.


“Kalau menurut Adik manis, siapa orang di hadapan Adik ?” tanya sang pria sambil tetap menatapku. Tatapannya kali ini benar-benar membuatku malu semalu malunya. Aku hanya menggeleng.


“Aku Seno.”


“What ?” spontan aku menjerit dan jeritanku membuat orang-orang yang berada di sekelilingku memandangku. Aku segera berlari meninggalkan orang-orang di sekelilingku dengan rasa malu yang tak bisa kusembunyikan. Kulangkahkan kakiku menuju dapur umum dan aku tak ingin sama sekali memunculkan diriku di hadapan manusia di lapangan itu.


Pukul lima, makan sore dari dapur umum sudah siap dan pembuatan hunian sementara di hentikan untuk acara makan kami. Kusiapkan perlengkapan makan di meja panjang di aula balai desa. Beberapa laki-laki mengangkat bakul besar dan para wanita menata lauk di meja. Setelah kepala desa mempersilahkan semua relawan makan, kuhampiri Syamsya yang sedang bercanda dengan Qomar di halaman.


“ Mbak Syamsya,” kusandarkan pantatku di sampingnya meski ia belum juga sadar kalau aku sudah berada di sekelilingnya sejak tadi. Pelan dia menoleh.


“Marissa? Kamu sudah pulang ? Kapan datang ?”tanya Syamsya bertubi-tubi. Qomar hanya tersenyum memandangku. Aku sakit hati karena ternyata kehadiranku yang sudah sekian jam tidak mereka sadari. Aku juga sakit hati ternyata sepeninggalku mereka menjadi semakin akrab. Aku tidak sedang menyesali kondisi ini, namun kecewa pada diriku sendiri. Ternyata rasa kecewaku muncul terlambat. Aku tahu hatiku sudah tertambat, pada seorang pemuda bernama Qomar dan dia tidak menyadari.


“Selamat ya, Marissa Wardhani. “ ucapnya. Hanya ucapan selamat dan bagiku itu sungguh menyakitkan.


“Terima kasih.” Singkat kujawab ucapan selamatnya. “ Mohon maaf Mbak, Saya harus ke dapur.” segera kutinggalkan mereka berdua. Aku tak mau mereka tahu betapa aku merasa sangat tak berguna. Lima hari tak di lokasi, aku merasa seolah semua sudah melupakanku. Tidak seperti yang dikatakan Lina tadi siang yang mengatakan bahwa semua merindukanku. Aku tertipu dan ini sungguh menyakitkan. Kulangkahkan kaki menuju dapur. Duduk diantara para wanita desa.


“Mbak Marissa makan dulu. Kalau sudah makan, Mbak Risa boleh duduk di sini bersama kami di sini.” Pinta Bu Syamsul.


“Terima kasih, Bu. Saya makan nanti saja di rumah. “


“ Eit, tidak boleh makan di rumah. Mbak Risa kan lelah bekerja sejak tadi masa makan saja menunggu di rumah. Ayo, Yu Sol, tolong ambilkan piring untuk Mbak Risa. Biar dia makan. Teman-temanmu yang lain juga sedang makan di dalam.”

__ADS_1


“Tidak usah diambilkan, Bu, saya bisa mengambil sendiri.” Aku segera bangun dan melangkah menuju rak piring mengambil nasi dan lauk meski sebenarnya nafsu makanku sudah hilang. Kembali kugabungkan diri dengan ibu-ibu sambil menghabiskan makanku. Usai makan, bersama dengan anak BEM kucuci piring dan kubersihkan meja makan.


Ingin segera kutinggalkan lokasi ini karena bagiku, tak ada hal yang bisa kukerjakan. Aku segera mengambil tasku di ruangan yang semula difungsikan sebagai kamar Syamsya dan kutemui Pak Samsul di ruangannya. Setelah aku dipersilahkan masuk, kuambil satu kursi di sudut ruangan, karena kebetulan di depan Pak Syamsul kosong.


“Ada apa, Mbak Risa? Kelihatannya kok ada yang penting. O iya, Pak Syamsul hanya bisa mengucapkan selamat atas prestasi yang baru saja diraih Mbak Risa di Jakarta. Kalau ada sepuluh saja orang seperti Mbak Risa di Kabupaten ini, Bapak yakin, kota kita tidak akan ketinggalan dengan kota-kota lain di Indonesia. ”Sambut Pak Syamsul sambil memandangku.


“Mohon maaf, Pak, tidak usah berlebihan. Qodarullah, semua atas kehendak Allah saya bisa menang. Kemarin saya mendapatkan lima belas juta sebagai hadiah. Hari ini, saya infakkan sebagian untuk membantu warga. Mohon diterima Pak, semoga bermanfaat.” Kuangsurkan amplop putih yang sudah kusiapkan dari rumah pada Pak Syamsul.


“Sebentar Mbak, pegang sebentar. Saya panggil perangkat desa lain untuk menyaksikan.” Pak Syamsul segera keluar dan lima menit kemudian, beliau masuk bersama tiga orang laki-laki. Menerima amplop yang kuletakkan begitu saja di meja. Bapak berkaos biru tua menghitung uangku dan memandangku.


“Banyak sekali, Mbak. Ini dari mana ?” Tanyanya sambil mengambil buku catatan.


“Dari saya, Pak. “


“Dari Mbak sendiri ? Bukankah Mbak masih memerlukan biaya untuk kuliah ? Kalaupun Mbak mau membantu, jangan sebanyak ini. Nanti orang tua Mbak marah.“ Tanyanya gamang. Aku tersenyum. Kutahu kekhawatirannya. Bapak berbaju biru tua mungkin mengira aku akan kehabisan uangku kalau menginfakkan untuk korban longsor.


“Insya Allah saya ikhlas, Pak. Saya masih punya tabungan yang Insya Allah bisa saya gunakan untuk membayar biaya kuliah tanpa meminta orang tua. Saya menulis artikel yang saya kirim ke berbagai majalah remaja di Jakarta, saya juga menulis cerita pendek atau novel yang saya jual di teman-teman kuliah atau di toko buku di Jogjakarta dan di kota-kota lain, Pak. Insya Allah sudah cukup.”


“Masya Allah, Mbak Marissa ini selain cerdas juga pemurah, kami terima bantuan dari Mbak Risa, semoga bisa menjadi amal dari keluarga Mbak Risa. “


“Aamiin. Terima kasih, Pak. Karena hari sudah petang, saya mohon pamit Pak. Insya Allah besok saya ke sini lagi. Assalamualaikum,”


“Wa alaikum salam warahmatullah”


Kakiku kulangkahkan perlahan, menjauhi balai desa tanpa meminta diri pada Qomar dan Syamsya. Hari sudah mulai petang dan aku tidak tahu bagaimana cara agar aku bisa sampai di kota karena aku yakin semua kendaraan umum sudah lewat. Tak ada becak atau ojek bahkan sepeda motor milik warga. Mendung masih menghiasi alamku, sehingga hari yang sebenarnya masih sore sudah nampak gelap. Hatiku bimbang. Ingin kuurungkan niatku namun aku malu.


Baru saja kebingungan melandaku, antara kembali dan melanjutkan perjalanan, sebuah sepeda motor berhenti di hadapanku.


“Mari nona, saya antarkan dirimu menuju tempat yang kau tuju. “ suara itu sungguh sangat tidak kuharapkan. Aku benci dengan godaan laki-laki di jalan. Kulanjutkan langkahku dengan maksud agar si pengendara sepeda motor tak mengolokku untuk kedua kali.


“Adik, ayo saya antar. Tak baik gelap begini seorang perempuan berjalan seorang diri.” Godanya sekali lagi. Tidak cukup dengan ucapan. Rupanya ia nekad menghentikan motornya menghalangi jalanku. Antara marah dan takut aku bersiap dengan kuda-kudaku. Sedikit banyak dalam resimen, aku pernah belajar bela diri militer, dan kalau memang pemuda ini nakal, saya akan menggunakannya sebagai benteng pertahanan diri.


“ Saya mencari masjid, untuk mendirikan maghrib. Sebelah mana ya ada masjid ?” pengendara motor yang sejak tadi menggodaku membuka helm penutup kepalanya.


“Kakak ? “ aku tak percaya. Ingin kupukul punggungnya dan kutendang sekeras-kerasnya kalau saja tidak dalam keadaan genting seperti sekarang.


“Ayolah Kakak antar. Tidak baik maghrib seperti ini masih di jalan. “ tawarnya. Andai hari masih siang, tentu aku akan menolak dengan keras. Namun kondisi yang mendesak berkata lain. Kunaiki vario hitam dan motor segera melaju ke kota, dan menghentikan diri di sebuah masjid agung tak jauh dari kampus.


***


Lima menit waktu yang kubutuhkan untuk mencapai rumah setelah shalat di masjid. Kutemukan rumah kos sepi. Teman-temanku pasti belum pulang. Sementara ayah kosku yang bujangan, mungkin hari ini masih sibuk dengan rapat-rapatnya di Jakarta. Sudah tiga hari ini beliau tugas. Beliau yang Kepala Kantor Departemen di Kabupaten, selalu aktif melaksanakan tugasnya baik di dalam maupun diluar daerah.

__ADS_1


Rasa penat membuatku lupa bahwa ada seorang pria yang baru mengantarku sedang duduk di ruang tamu kosku. Kuambil sebuah handuk dan baju ganti dan tak lama aku sudah berjibaku dengan shower yang setia menyegarkan tubuhku. Lima menit sudah aku menyelesaikan aktifitas mandiku. Kuambil sebuah gelas dan kuisi dengan susu jahe yang selalu kami siapkan di rumah. Udara dingin masih setia menyelimuti kami karena hujan masih setia menemani kami.


Segelas susu kuhabiskan sendiri. Selesai minum, aku memang segera menuju kamar, sekedar membaringkan tubuhku untuk menghilangkan penat. Kututup jendelaku, dan kubaringkan tubuh. Aku merasa sedikit tenang dan entah berapa lama aku tak tahu, sebelum akhirnya kusadari bahwa aku berada diantara teman-teman relawan. Berada pada situasi yang sama dengan siang tadi saat kujumpai syamsya wal Qomar duduk dibawah rindangnya pohon mangga dan asyik membincangkan topik menarik. Aku hanya bisa melihat dan melihat tanpa bisa melakukan sesuatu. Aku bagai manusia bodoh yang tak bisa melakukan apapun, sementara di depan mataku, seorang yang kata Lina mencintaiku, memalingkan wajah dan perhatiannya pada gadis lain.


Ada juga Lina di sana, dia bilang padaku, bahwa baru saja dia putus hubungan dengan jefri tunangannya, karena ada gadis lain mengisi hari-hari Jefri. Tapi aku heran, tak ada sedih dan duka terpancar di wajahnya. Dia enjoy dan enjoy dan enjoy dengan semua yang sudah dia alami. Kok bisa ya ? Padahal aku tahu banget, Lina jatuh cinta banget sama Jefri. Mereka sudah merencanakan pernikahan dan putus ? Ah, kalau itu benar terjadi, berarti . . . menjaga diri untuk tetap istikomah, menjauhkan diri dari berkhalwat dengan non mukhrim lebih baik. So . . . ?


Entahlah. Apa kelanjutannya, aku tak tahu. Tiba-tiba pintu kamarku berbunyi. Meski lembut, tapi suara itu mampu membuat telingaku mendengar.Ternyata aku sedang bermimpi. Aku masih di rumah dan tidur di kasur empukku. Tidak bersama teman-teman di balai desa. Sekali lagi ketukan di pintu.


“ Marissa, kamu didalam ? ” sebuah suara berhasil masuk ke pendengaranku dan membangunkanku. Aku bangkit dan segera kubuka pintu kamarku.


“Ada apa Ros ?”tanyaku tanpa dosa. Kuikat rambut panjangku dengan sebuah karet gelang yang kuambil dari atas meja belajarku.


“Kamu lupa atau bagaimana ? “ tatapan matanya memandangku penuh selidik. “Ada tamu yang sejak kamu pulang masih menunggu di ruang tamu. Kamu baru tidur ya ? Keterlaluan.” Sambungnya.


Tamu? Malam-malam begini ada tamu ?’ batinku. Kukucek mataku yang agak pedas. Kutengokkan wajahku menuju dinding kamarku melihat jam. Waktu menujukkan pukul 07.45 kuingat kembali peristiwa yang kulewati sore ini.


“Dari kemanukan menuju masjid lalu laki-laki itu mengantarku ke rumah setelah itu aku mandi, minum susu terus tidur. “ gumamku.


“Lalu kemana laki-laki yang mengantarmu ? Apakah dia sudah pulang ?” tegas Rosa membelalakkan matanya.


“Astaghfirullah, Rosa. “Aku hendak berlari ke ruang tamu kalau saja Rosa tak memegang tanganku menghentikanku. “Pakai kerudung dulu!”


Aku memakai kerudungku dan menuju cermin di sudut kamarku. Kurapikan diri sesaat.


“ Risa, kamu bagaimana sih ? Kasihan tamumu kan ? Sejak tadi menunggumu dan kamu tidak tahu ?” kata Rosa pelan. Sambil membetulkan kerudungku kuayunkan langkah menuju ruang tamu dan kutemui laki-laki itu sedang menatapku dengan senyum dikulum. Dia pandang diriku sambil mengerenyitkan wajahnya.


“Ma . . .afkan saya, Kakak. Sungguh saya lupa kalau Kakak baru saja mengantarkan saya pulang. Astaghfirullah, sekali lagi maafkan saya.” Pintaku menghiba. Laki-laki bertubuh tegap yang setiap hari kutemui di balai desa Kemanukan tersenyum. Aku tak percaya pada pemandangan di hadapanku. Dia tersenyum dan aku hanya bisa menunduk malu.


Memalukan!!!.


“Adik memang sudah kelelahan. “ ucapnya masih dengan senyum dikulum. Aku sungguh malu dan tak tahu bagaimana menyembunyikan kebodohan yang baru saja saya lakukan.


“Kakak, . . . ba . . .bagaimana saya bisa mendapatkan maaf atas kesalahan yang baru saja saya lakukan ? Saya sungguh telah melupakan bahwa anda telah menyelamatkan saya dengan mengantar sampai rumah. “ Ucapku masih dengan tetap menunduk dan posisi berdiriku. Aku tak berani menatapnya. Karena aku yakin dia sudah menilaiku dengan nilai merah.


“Duduklah !” Aku tidak langsung menuruti perintahnya.


“Duduklah wahai saudariku !” sekali lagi dia menyuruhku dan aku tak ingin mengulangi kesalahanku untuk yang kedua kalinya. Kugeser kursi dan perlahan aku duduk dengan tetap menunduk.


“Kakak tahu Adik sedang menghadapi masalah. “ ucapnya pelan. “makanya Adik nekad meninggalkan Kemanukan meski hari sudah gelap. Itu terlalu berbahaya. “


Aku hanya bisa menahan nafas. Kubenarkan semua yang diucapkannya. Sebagai seorang wanita, seharusnya saya harus bisa lebih bersabar menghadapi masalah. Aku harus lebih bersabar menghadapi situasi.

__ADS_1


“Adik cemburu pada Syamsya dan itu yang membuat Adik menangis beberapa hari sebelum ke Jakarta ?” kali ini dia benar-benar menyudutkanku. Semua yang dia katakan benar dan aku tidak bisa mengelak.


__ADS_2