
Pukul setengah tiga ibu sampai rumah. Ibu membawa banyak sekali buah buahan segar dan entah apalagi. Mobilnya dipenuhi dengan barang belanjaan. Mbak MArni membantu memasukkan semuanya ke rumah. Aku menyalami ibu dan mencium serta memeluknya. Rasa kangenku tertumpahkan hari ini.
“MEngapa tidak memberitahu kalau hari ini pulang ?”
“Karena tidak ada yang istimewa, Bu. Risa tidak ingin mengganggu konsentrasi ibu dan ayah.” Sahutku. Ibu mengacak rambutku.
“Kapan keluarga Aditya datang ? Apakah jadi ahad ?”Ibu masih sibuk menata dan memilah semua barang yang sejak tadi teronggok di ruang tengah.
“Insya Allah jadi, Bu. Risa mohon maaf ya Bu, karena sudah membuat ibu kecewa.”
Ibu menghentikan aktifitasnya dan menatapku.
“Apa maksudmu ?”
“Risa belum wisuda, beu bisa membalas semua kebaikan ibu dan ayah, belum bisa memberi apa-apa tapi . . . Risa sudah akan menikah.” Aku menunduk. Air mata yang sejak tadi kutahan jebol dengan sempurna. Ibu memelukku.
“Tidak ada yang lebih membuat ibu dan ayah senang selain menyaksikan anak-anak ibu patuh dan tunduk pada aturan Allah, sayang. Kau sudah membuktikannya. Ibu lebih baik dibilang orang tua kolot karena membiarkan anak-anak ibu menikah dini daripada dibilang orang modern tapi membiarkan anak-anaknya berpacaran.”
“Terima kasih, Bu. Semoga Allah senantiasa menuntun kita agar senantiasa istiqomah di jalanNya.”
“Aamiin”
Akhirnya sore ini kuhabiskan dengan mengobrol bersama ibu sampai ayah pulang.
***
Ahad pagi, ayah dan ibu memanggil beberapa saudara dan perangkat desa yang akan menyaksikan lamaran di rumahku. Pada pukul Sembilan keluarga Aditya datang. Aditya memakai kemeja batik seragam dengan Pak Mustafa dan Bu Meisya. Aku dan ibu keluar. Kusalami calon ibu mertuaku dan dua orang ibu yang mengiringi kehadiran keluarga Aditya.
“Farida ?” seorang ibu memanggil nama ibuku.
“Niken ?” Ibuku pun terkejut mwndapati temannya datang bersama rombongan Aditya. Mereka saling berpelukan. Cium pipi kanan dan kiri. Aku dan Aditya saling pandang. Lalu tersenyum.
“Jadi Marissa anakmu ?” Ibu mengangguk. “Aditya keponakanku, Da. Alhamdulillah akhirnya kita berbesan. Meisya ibunya Aditya itu kakakku. “
“Oh iya, Alhamdulillah, “ Ibu lalu melepaskan pelukan sahabatnya lalu menyalami ibu Aditya dan saling mencium pipi kanan kiri. Lalu melanjutkan ke ibu yang ketiga.
__ADS_1
“Saya Adik dari Bapaknya Aditya. Nama saya Indrawati,” Ibuku melakukan hal yang sama kepada Bu Indrawati, lalu duduk di sebelah Bu Niken. Tampak sekali mereka sedang asik melanjutkan. Utusan keluarga Pak Mustafa akhirnya menyampaikan maksud dan tujuan dari kehadiran mereka di rumahku.
“ Mohon maaf pak Wardhana, saya mewakili kakak saya Mustafa, ingin menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan kami ke rumah Pak Wardhana. Kami bermaksud mengkhitbah, Putri Antum, Marissa Wardhani untuk menjadi istri dari Keponakan Saya Irawan Adityawarman.’
Ayah menghela nafasnya lalu memulai bicara.
“ Alhamdulillah, puji syukur atas segala limpahan rahmat, hidayah dan inayah dari Allah Swt,yang telah Dia limpahkan kepada kita semua sehingga pada hari ini, ahad kita bisa berkumpul, bersilaturahim di rumah kami, di Sumberharjo Prambanan Sleman dengan tanpa ada halangan suatu apapun. shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad Saw, semoga kelak kita mendapatkan syafaatny di hari pembalasan. “
“Aamiin” semua hadirin mengaminkan kalimat ayah.
:Terima kasih saya ucapkan kepada keluarga besar Bapak Haji Mustafa, yang sudah berkenan datang untuk mengkhitbah putri saya Marissa Wardhani. Sebagai orang tua saya tidak berhak menentukan untuk menerima dan menolak. Keputusan selanjutnya saya serahkan kepada Marissa anak saya.”
Semua hadirin memandangku. Aku menunduk sebentar. Aku mulai bicara setelah ibu memberi kode kepadaku. Kupandang ayahku dan ayah mengangguk.
“Bismillahirrahmaanirrahiim, dengan mengharap ridha Allah, lamaran Kak Aditya saya terima”
“Alhamdulillahirobbil ‘alamiin” semua hadirin mengucapkan syukur atas jawabanku. Bu Meisya memberikan cincin kepada Aditya. Dan aditya datang kepadaku memakaikan cincin di jari manisku. Dia sendiri juga memakaikan cincinnya di jari manisku yang kanan.”
“Adik pakai semua ya, islam melarang laki-laki memakai emas. Insya Allah Kakak akan menjaga hati Kakak hanya untuk istriku Marissa.” Aku hanya menunduk lalu mengangguk. Semua hadirin merasa lega.
“Setelah lamaran diterima, keluarga kami mengajukan usul agar pernikahan disegerakan. Kami meminta agar pernikahan dilaksanakan dua pecan ke depan.”
***
Setelah prosesi lamaran selesai, semua keluarga menikmati hidangan yang sudah disediakan di ruang makan. Aku yang selalu didampingi calon Mertuaku mengambil posisi di sebelah Ibu Meisya dan Bu Niken teman ibuku.
“ Ibu dengar, Marissa mendapat juara pertama tingkat Nasional dalam lomba karya tulis ilmiah, apa benar, Nak ?” aku hanya mengangguk. Menelan makananku lalu menjawab pertanyaan Bu Niken.
“Alhamdulillah, Bu.” Mengingat juara lomba, aku jadi ingat bahwa keberangkatanku ke Belanda akan dilaksanakan dua pecan lagi dan itu berarti sama denga hari pernikahanku. Aku terdiam memikirkan bagaimana aku memberi alasan kepada kementerian pendidikan.
“Ada apa sayang ?” Bu Mesiya memandangku penuh curiga.
“Bu. “ kuhentikan kalimatku dan kulihat reaksi calon ibu mertuaku.
“Ada apa ?”
__ADS_1
“Marisa baru ingat. Dua hari lalu Marisa dapat kabar bahwa kepergian Marissa ke Belanda adalah dua pecan lagi, bersamaan dengan hari pernikahan.”
“Apa maksudnya ?” ibuku yang sejak tadi hanya diam, mulai angkat bicara. “KAu jangan membuat malu keluarga, Marisa.”
“Ibu, Marisa akan mengundurkan diri dari pertukaran mahasiswa itu, meski tiket ke BElanda sudah Marisa kantongi dua hari lalu. Insya Allah Risa ikhlas.
“Ibu tidak mengerti”
“Hadiah lomba yang Risa menangkan di Jakarta selain hadiah uang dan piagam penghargaan juga berupa kunjungan selama enam bulan di universitas di Belanda Bu. Keberangkatannya dua pekan lagi. Sama denga hari pernikahan Marissa. Tapi Marisa akan mengundurkan diri.”
Aditya dan yang lainnya memandangku iba.
“Apa kau yakin ?” Aditya menghampiriku. Aku mengangguk.
“Terima kasih atas pengorbanan yang sudah Adik ambil untuk pernikahan kita. Semoga setelah menikah kita bisa ke Belanda untuk perjalanan wisata.”
“Aamiin, Insya Allah.”
“Insya Allah aku tidak akan membuat istriku menderita karena dia sudah berkorban untuk pernikahan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam menjalankan kehidupan rumah tangga.”
“Aamiin”
Acara makan selesai dan tak lama terdengar adzan duhur. Semua pergi ke masjid. Aku hari ini absen karena tamu bulananku datang tadi pagi.”
Pukul satu siang, Aditya dan keluarganya meninggalkan rumahku. Kami mengantar sampai mereka menjauh, lalu masuk rumah melanjutkan aktifitas kami.
“Mengapa kau tak bilang kalau ada tugas Negara ke Belanda ? Kamu kan bisa mengundur pernikahan setelah pulang dari sana.” Ibuku mulai membuka suara.
“ Risa lupa, Bu. Dan lagi Risa tidak ingin membuat Kak Aditya terlalu lama menunggu, Bu karena kegiatan dilaksanakan selama enam bulan.”
“Masya Allah. Mengapa selama itu ?”
“Itulah kebijakannya Bu. Makanya Risa tidak ingin terlalu mengambil resiko.”
“Itu keputusan yang tepat, Nak. Insya Allah kau akan mendapat ganti yang lebih baik. Ayah lihat Aditya adalah laki-laki yang tepat untuk mendampingimu. Kalau kau tinggal terlalu lama, ayah yakin dia akan menderita.”
__ADS_1
“Iya Ayah. Marisa mengerti. Terima kasih telah mendukung keputusan Risa.”
Malam ini kami kembali ke kamar masing-masing. Sebelum tidur, kusempatkan diri untuk mengirim pesan ke kedua kakakku untuk hadir di pernikahanku dua pecan yang akan datang. Setelah itu, kumatikan ponselku dan kuletakkan di meja riasku. Kumatikan lampu dan kunyalakan lampu tidur di meja kecil dekat dipanku. Dengan bismillah, aku mengawali tidurku mala mini.