Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Teman Kos Marah Lagi


__ADS_3

Kenapa dengan Pak Adit ya Ris ? Kelihatannya dia sangat bersedih melihatmu diam.” Tanya Fifi sepeninggal Aditya. Kaki kami melangkah menuju sungai yang sedari tadi melambai mengajak kami menikmati segarnya air pegunungan. Setengah dari kakiku sudah berada di sungai dan Kucuci mukaku yang kurasakan sudah sangat tebal karena bedak yang sejak pagi menempel tidak kubersihkan dengan wudhu.


“aku tidak tahu Fi, mohon maaf,”aku masih asik dengan aktifitasku membersihkan membasuh wajah.


“Terus ?” Aku hanya bisa menarik nafas dalam. Sakit sekali dada kurasakan.


“Terus apa ? Kamu ingin tahu semua ceritaku tentangnya karena kamu mulai jatuh cinta padanya atau . . . .” sengaja kugantungkan pertanyaanku. Ingin kubuat Fifi penasaran.


“Eh, jangan mengacau kamu. Kamu lupa kalau aku sudah punya Farhan ? Mau dikemanakan dia ?” sahut Fifi.


“Terus mengapa kamu ingin tahu ?”


“Penasaran saja, Ris.” Sahutnya. Kulihat dia duduk di batu besar yang dulu diduduki Aditya di tepi sungai dan menyalakan hapenya lalu memotretnya. Kucoba untuk mengikuti jejaknya. Dari batu besar aku bisa melihat pemandangan yang lebih elok di sebelah barat sungai. Bibir kami berdecak berkali-kali. Aku maklum pada tindakan Aditya yang setiap hari mengunjungi tempat ini. Ada banyak alasan yang masuk akal yang sekarang bisa kuterima.


“Penasaran saja atau penasaran banget ?”godaku.


“Ihh apaan sih Risa. Kamu sedang marah kan ? Kok masih bisa menggoda begitu ?” aku tersenyum. Kudekati dia dengan duduk di sebelahnya. Kupandang wajah ayunya dan sejenak kami diam.


“Aku tak akan pernah melupakan tempat ini, Fi. Tempat ini indah sekali. Pertama kali aku melihat, aku sudah tersihir oleh pemandangannya. Bagimana denganmu ?”


“Sama, aku juga akan merasa kangen dengan situasinya. Ternyata Indonesia juga memiliki pemandangan indah yang bisa dibanggakan, bukan hanya di Eropa ya.”


“Kalau besok kita wisuda, siapa yang akan kamu ajak serta, Ris ?”


“Aku ingin mengajak kedua orang tuaku, “ gumamku. Mendengar gumamanku Fifi mencubitku.


“Mengapa ?Ada yang salah dengan jawabanku ?”


“Setiap mahasiswa selalu didampingi kedua orang tua, mengapa kamu tetap berharap sesuatu yang sudah pasti.”

__ADS_1


Sekali lagi bibirku tersenyum. “ Tidak ada manusia yang bisa memastikan orang tua kita bisa hadir. Banyak sekali kemungkinan yang membuat mereka berhalangan. Tidak ada yang tahu kapan ajal menjemput, dan tidak ada yang tahu kalau halangan apapun siap menghadang. Itulah mengapa, saya selalu berharap bahwa kedua orang tuaku bisa menghadiri acara istimewaku.”


“Insya Allah, semoga kedua orang tua kita diberi panjang umur, barokah dan punya kesempatan yang bisa membuat mereka hadir di acara kita. “


“Amin, sudah ashar, Fi. Kita pulang yuk !”


Pukul empat kami menuju motor Fifi dan langsung melaju pulang melewati jalan berbatu yang sempat menjatuhkanku.


***


Tiba di kos, aku merasa sangat lelah. Kumasuki rumah kosku dengan heran, Rosa melengos saat aku menyapanya namun saat dia berlalu kudengar dia bercengkerama di kamarnya bersama Sisy. Aku penasaran. Kudekati mereka dengan diam dan perlahan kubuka pintu kamar setelah mengetuk pintu.


“Buka saja, tidak dikunci kok” kata Rosa dari dalam.


“Assalamualaikum” ucapku pelan. ada rasa tak nyaman kurasakan karena suasana yang tadi ramai berubah sunyi. Aku tahu kedatanganku tidak mereka inginkan. Lima menit dari awal dudukku, aku bangkit. Aku memohon diri untuk mandi setelah mereka diam tanpa bertanya sesuatu padaku. aku sangat penasaran. Ada rahasia di rumah kosku dan itu sangat menggangguku.


Kusibukkan diriku di kamar mandi dengan mengguyur kepalaku dengan shower yang tergantung di atasku. usai mandiku, kusegarkan tubuhku dengan wudhu meski aku sedang berhalangan. Ingin kutinggalkan rumah kosku dan kembali ke jogja dengan segera. Namun aku merasa tidak bijak rasanya meninggalkan masalah.


“Ternyata dia professional ya. Ketika kita sedang lena karena kau menolak diambil gambar olehnya, dia sudah menghasilkan dua puluh enam dan semua hasilnya innocent banget” komentarnya. Aku tak ingin membalas. Kuyakin benar akan membuat Rosa sakit hati dan ini tidak kuinginkan. Setengah jam sudah komentar Fifi masuk dan tak kurespon. Dia mengirim inbox padaku.


“Kamu menjawab komen yang lain kok komentarku tidak kau anggap ada apa ?”


Kukatakan padanya bahwa Rosa marah padaku. Kuceritakan semua masalahku dari awal sampai akhir yang terjadi di kosku sore ini sepulangku dari Gebang Rejo.


“Jadi bagaimana rencanamu setelah ini ? “


“Aku bingung Fi. Rosa tak mengatakan apapun padaku sehingga aku tak bisa memberi penjelasan padanya. Kamu punya saran ?”


“Kau katakan saja terus terang bahwa kamu tak tahu perasaannya pada Pak Aditya. Biarkan saja apapun reaksinya, toh semua kembali ke keputusan akhir bahwa Pak Aditya memang mencintaimu.”

__ADS_1


“Aku tak yakin. Di hadapanku mungkin dia mengatakan aku mencintaiku, begitupun di hadapannya mungkin. ”


“O iya ? Jangan salah faham dulu, kamu tidak tahu bagaimana Pak Adit.”


Kurenungi kalimat Fifi yang terakhir. Mungkin benar yang dikatakannya. Aku harus waspada. Tidak boleh gegabah dan aku tak ingin Rosa salah paham. Facebook kututup. Mataku yang sudah sangat lelah tak bisa kupaksakan untuk on sepanjang malam. Tanpa berniat mengkonfirmasi sikap Rosa hari ini akhirnya aku tidur.


***


Kuberanikan diri untuk bicara empat mata pada Rosa. Ingin kuselesaikan semua masalahku dengannya. Awalnya dia menolak namun setelah lama kubujuk akhirnya dia duduk. Kupandang wajahnya dengan tenang. Aku tahu dia salah tingkah. Perlahan kualihkan pandanganku ke tempat lain barangkali ada teman satu kosku sedang menguntit kami. Ternyata nihil


“Kamu memang pantas marah padaku, Rosa. Sebagai seorang teman aku adalah teman yang tidak peka terhadap situasi. Tapi aku mohon, jangan seperti anak kecil. Kau boleh mencurahkan semua perasaanmu terhadap Pak Aditya.” Sebenarnya aku ingin bicara panjang lebar, tapi kuurungkan sebab Rosa yang sedari tadi menunduk berangsur mengangkat wajah dengan air mata di sudut matanya. Aku tahu dia menahan sakit. Berkali-kali ia gigit bibirnya dan sejenak kubiarkan.


“Maafkan aku Ris. “ hanya itu kalimat yang dia ucapkan.


“Aku sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf. Tapi masalahnya aku tak tahu sebenarnya ada masalah apa antara aku dan kamu ? Aku merasa semua baik-baik saja.” Rosa kembali menunduk. Ia mungkin sedang menghitung jumlah keramik di ruang tamu rumah kosku. Sengaja dia kubiarkan. Aku ingin memberi sedikit ruang untuk dirinya berfikir lebih dewasa.


“Kamu kecewa karena kamu menganggapku merebut perhatian Pak Adit darimu ?’ sengaja kusebut namanya . Semua kulakukan agar Rosa tahu bahwa aku berniat serius menolongnya.


“AKu tahu betapa bodoh dan naifnya diriku. Aku selalu salah paham pada semua orang bahwa perhatiannya padaku sama dengan dia menaruh hati untukku. Ternyata aku keliru. Semakin aku berusaha memisahkanmu dengannya, semakin aku tahu bahwa dia semakin mencintaimu. Aku tahu kalian baru saja bertemu. Di sungai yang katanya menjadi awal perjumpaan kalian. Aku juga tahu sikapmu tak bersahabat padanya. Kau tak menjawab pertanyaannya dan kamu menolak untuk dipotret olehnya dengan kamera Fifi.” Sejenak aku terpana. Mungkinkah Aditya memberitahu Rosa dan itu yang menyebabkan dia marah padaku ? oh my God, aku tak tahu seberapa jauh keakraban mereka, sehingga mereka bisa saling berkomunikasi dengan cepat seperti saat ini.


“Kamu memang pantas untuk marah padaku Ros. Maafkan aku. Aku adalah orang yang tidak bisa memahami jalan pikiran sahabatku. Aku tak tahu kalau kalian sudah sangat dekat, bahkan informasi yang terjadi padaku sudah sampai ke telingamu dan itu lewat pemberitahuannya.”


“Aku akan memaafkanmu kalau kau mau menerima cintanya dan menikah dengannya. Kalau kau menolak, itu artinya persahabatan kita sudah cukup sampai di sini.” Ucapnya.


“Itu tidak adil. Aku akan menyerahkan dia padamu seutuhnya. Aku akan segera kembali kekampung halamanku dan dia tetap di sini bersamamu.” Rosa terpana. Dia memandangku dengan seksama dan aku tak kuasa menyembunyikan rasa penasaranku.


“Kamu bodoh atau pura-pura Ris ? Pak Aditya sudah menunggu jawabanmu sejak dua orang utusannya datang ke sini. Mengapa kamu masih menganggap bahwa dia mempermainkanmu? Dia tulus mencintaimu. Kuakui kami memang dekat karena kakakku adalah temannya. Dua laki-laki yang datang melamarmu, salah satunya adalah kakakku.Tapi kamu perlu menggarisbawahi bahwa kedekatan kami hanya sebatas teman masa lalu. Dia tetanggaku di kompleks perumahan kauman. Ayahku adalah bawahan ayahnya yang selalu menghendaki agar dia menikahiku. Aku sangat malu saat tahu bahwa dia sama sekali tidak mencintaiku” Rosa menghentikan kalimatnya sejenak. “ Dia bilang pada ayah bahwa satu gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta adalah seorang penulis muda yang jelita dengan kualitas intelektual yang luar biasa. Kukatakan padanya bahwa kau mendapatkan nilai A untuk skripsimu dan dia tersenyum bahagia. Binar matanya yang tidak bisa membohongiku kalau cintanya yang tulus hanya tercurah untukmu Risa.”


Kami diam. Rasa bersalah mulai menghantuiku. Betapa tidak dewasanya aku pada laki-laki yang sudah banyak berjasa dalam hidupku. Sejenak aku termangu, menentukan langkah yang akan kuambil. Kuambil handphoneku dan kubuka sms dari nomer baru yang saat itu tidak kujawab namun tidak kutemukan. Mungkin aku lupa menghapusnya, padahal nomor belum kusimpan.

__ADS_1


“Ini yang kamu cari ?” tanya Rosa sambil menyodorkan nomor Aditya dari handphonenya. Segera kucatat dan kutelepon dia beberapa kali. Dan berkali-kali pula operator mengatakan nomor yang anda tuju sedang dialihkan.


__ADS_2