Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Laki-laki dalam Mimpi


__ADS_3

Tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagiku selain berkeliling wilayah baru untuk menghilangkan masalah yang menghimpitku. Hari ini kusempatkan diri untuk meminjam sepeda Mas Kiki, bapak kosku. Aku ingin mengenal wilayah tempatku kuliah. Bukan hanya wilayah kampus tapi wilayah pelosok utara selatan timur dan barat. Entah kenapa, rasa penasaranku belum bisa terobati bila jalan-jalan di pelosok belum kulewati. Alhasil ?


Aku sengaja berjalan sendiri, karena selain teman-teman tidak suka dengan kegiatanku, mereka juga belum mau menemaniku.


Kukayuh sepeda pelan, menembus jalan berkabut. Meski tubuhku sedikit menggigil, aku tetap berjuang untuk tetap bergerak.


Satu jam perjalananku, akhirnya aku memasuki wilayah pedesaan. Kunikmati pemandangan desa yang tersaji indah di hadapanku. Hamparan sawah menghijau menyegarkan mataku. Perjalanan yang mulai menerjal tidak membuatku menyerah. Karena ternyata perjuanganku tidaklah sia-sia. Kutemukan sebuah pemandangan indah. Sebuah bukit hijau dengan pohon pinus yang tertata rapi, indah dan menyejukkan hati. Tidak hanya itu, sebuah sungai dengan gemericik air beningnya menambah keindahannya. Aku baru melihat ini, sehingga rasa bahagiaku memuncak sampai ke ubun-ubunku.


Fantastik !


Sangat fantastik.


Yang lebih mengasyikkan lagi adalah, ada sebuah sekolah menengah pertama di sekitarnya dengan tata ruang yang apik.


Subhanallah !


Aku tidak habis pikir bagaimana sang perancang merancang tata letak sekolah dengan baik seperti tadi.


Tuhan !


Ternyata bukan hanya luar negeri yang memiliki pemandangan yang pantas untuk dipamerkan, seperti kata Vivi dalam pamerannya pada kami sesaat setelah ia kembali dari perjalanannya di beberapa negara di Eropa. Negaraku ternyata juga tak kalah luar biasa. Kujepretkan kamera hpku ke beberapa arah demi memuaskan kebahagiaanku. Kushoot seluruh penjuru arah angin dan nanti akan kupamerkan penemuanku pada teman-temanku di kampus. Dengan kegiatanku, aku sudah merasa lupa bahwa ada masalah yang sedang menghimpit.


Kutinggalkan sepedaku di bawah pohon pinus, lalu kuhirup udara segar dengan membentangkan kedua tangan dan kupejamkan mataku. Ingin kulepas semua beban dan aku bertekad memulai hidup baru. Kulepas sandal dan pelan kuturuni tanggul sungai dan kakiku berhasil menginjak air bening yang dingin. Kubasuh wajahku berkali-kali. Ingin sekali kuceburkan tubuhku kalau saja aku tak menangkap sosok laki-laki yang sedang duduk di batu besar tak jauh dariku. Kedua kakinya ia biarkan terendam di air, sedang ia dengan kameranya asyik menjepret ke sana sini.


Tubuhku merinding, semua bulu kudukku berdiri. Aku nyaris tak percaya bahwa dia adalah manusia. Sejenak aku palingkan wajah ke lain arah, orang bilang kalau dia hantu, ia akan hilang sesaat setelah aku memalingkan muka atau berkedip. Sekali lagi kulihat batu besar yang tadi digunakan si lelaki dan benar, tak ada seorangpun yang duduk di sana. Aku segera berlari menuju tanggul kali, dan segera kutinggalkan tempat angker yang memunculkan hantu laki-laki di pagi hari. Belum sempat aku meraih sepedaku, tiba-tiba sebuah salam kudengar


“Assalamualaikum “


Rasa takutku kembali menyeruak saat kulihat siapa sang pemberi salam pagi ini. Jantungku nyaris lepas, nafas yang sudah tersengal, seolah terhenti. Laki-laki yang kutemukan di dalam mimpi, sekarang berada dekat denganku dan kami hanya berdua. Dia mengenakan seragam olahraga lengkap dengan penampilan rapi dan subhanallah, dia ganteng sekali.


Kekagumanku kuputus setelah kukagumi wajahnya dalam pandangan pertamaku karena pandangan selanjutnya adalah dosa. Aku tidak punya keberanian untuk melanggar aturan Tuhan untuk hal apapun dan ini sudah kulaksanakan semampuku.


“Assalamualaikum” salamnya sekali lagi. Aku masih belum mampu mengucapkan salam, rasa takut yang menggelayut, masih setia menemaniku. Situasi yang sama dengan mimpi-mimpiku selama ini. Kutatap tubuh tegap di hadapanku sekali lagi, memastikan bahwa dia adalah orang yang sama dengan yang tadi kulihat duduk di batu besar dan ternyata benar. Kameranya masih ia pegang. Tuhan, mengapa kau munculkan laki-laki dalam mimpiku, justru disaat aku sedang bermasalah dengan laki-laki ?


“ Marissa, kan ?” sapanya sok akrab.


“Dari mana anda tahu kalau saya Marissa ? “ tanyaku penasaran. Aku tak pernah mengenalnya atau melihatnya sama sekali. Sedang dia ? Dia bahkan sudah tahu namaku.


“Mudah sekali untuk bisa tahu namamu. Artikel dan tulisanmu sering menghias surat kabar. “


“O” itu saja yang bisa kukatakan.


”Saya Aditya, tinggal di sebelah masjid agung kauman. “ ucapnya memperkenalkan diri.


“O . . .”


Selanjutnya kami diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Jeprat jepret kamera kulanjutkan. Sengaja aku berjalan menuju sungai yang airnya sangat jernih untuk kedua kalinya. Sungai yang berada di bawah kami sungguh sangat menggoda. Perlahan kakiku melangkah menuju tanggul dan sejenak aku ragu. Kuurungkan niatku untuk menceburkan diri ke air sekedar untuk mencuci muka karena lagi-lagi ketakutan melandaku. Lelaki yang kutemui di mimpi beberapa kali mengikuti langkahku dan itu sungguh di luar dugaanku.

__ADS_1


“Ayo kutemani kalau kamu ingin masuk “ tawarnya.


“Tidak, terima kasih. Maaf, saya . . . saya tidak jadi. Sungai ini sepi sekali. Saya tidak berani.”


“Bukan karena takut padaku kan ? Bukannya tadi kau baru saja mencuci muka ? Malah ingin mandi ya barangkali, “ godanya.


“Em . . . ti . . .tidak, Kak. Mohon maaf saya harus segera pulang. Tidak baik laki-laki dan perempuan berdua di tempat ini. “


“Pemandangan ini sudah membiusku sehingga setiap hari kusempatkan kemari.”


“O . . . kalau begitu, saya permisi, Kak. Assalamualaikum”


“Eit, sebentar ! Kita pulang bersama, bolehkan ? “


“Em . . . silahkan Kakak di depan !” Aku tidak mau mendahului. Meski aku memakai legging di dalam rokku, aku takut pemuda yang bersamaku melihat rokku tersingkap dan melihat bagian tubuhku.


“Kita berjejer saja, insya Allah saya tidak akan melihat bagian tubuhmu karena sudah tertutup rapat. Mari !”


Aku hanya bisa tertegun. Rupanya dia bisa membaca kekhawatiranku dan itu menohokku. Berdua kami meraih sepeda, dan mengayuhnya dengan pelan karena jalan yang kami lalui sangat rusak.


“Baru pertama kemari ?.” aku hanya mengangguk, semua kulakukan karena dia sedang memandangku.


“Bagaimana kalau besok pagi kemari lagi? Ba’da subuh saya selalu menyempatkan untuk mengunjungi tempat ini.” sambungnya. Ban sepedanya menabrak batu sehingga membelok oleng dan akhirnya menyenggol sepedaku. Aku yang tak siap menerima senggolan sepeda Adityapun ikut oleng, untuk beberapa saat aku bisa mempertahankan diri untuk tidak jatuh, namun pertahananku tidaklah kuat saat lubang besar di hadapanku menerima roda depan sepedaku. Sepedaku roboh ke kiri dan tubuh yang tak mampu menyanggah sepeda jatuh di tanggul tertindih sepeda. Tangan Aditya terulur menolongku, namun belum sempat kuraih tangannya, tanah yang kupijak tiba-tiba runtuh. Tubuh dan sepedaku jatuh ke sawah yang berada tiga meter dibawah jalan. Aditya menjerit memanggil namaku.


Aku mencoba untuk bangkit, namun tak mampu. Kakiku yang awalnya terjepit pedal, tak bisa kuajak bergerak. Tangan dan tubuhku serasa remuk karena tanah yang menerima tubuhku sangat keras namun aku tetap mencoba untuk bangun.


“Jangan mendekat !” aku berteriak, menolak bantuan Aditya. “ Please, jangan kau sentuh aku, tolong panggilkan perempuan yang bisa menolongku, please !’ rengekku.


“Aku tak kan pernah berfikir untuk memanfaatkan situasi, dalam kondisi genting seperti ini, jangan kau kotori pikiranmu dengan prasangka. Biar aku menolongmu. Jangan menolak. Aku sudah hafal lokasi ini karena setiap hari aku datang kemari. orang pertama yang lewat adalah pak Dahlan, penjaga SMP di dekat sungai yang kau turuni,’ jawabnya. Dia bersiap mengangkat tubuhku.


“Jangan mendekat. Mengapa aku harus percaya padamu ? Aku belum mengenalmu.” Ucapku sambil menangis.


Aditya berjongkok di hadapanku. Dia tatap wajahku dan pelan ia menjulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan.


“Namaku Aditya. Aku tinggal di sebelah masjid agung kauman Purworejo. Kalau kau mengatakan belum pernah mengenalku, aku justru sangat mengenalmu.” tangannya yang mengajakku bersalaman dan tak kusambut segera mengambil dompet di saku celananya. Dia keluarkan sebuah kartu identitas. Disana, di kartu identitasnya tertera nama Irawan Adityawarman, dengan pekerjaan dosen. Aku nyaris pingsan mengetahui jati diri laki-laki yang sekarang berada di hadapanku. Satu bulan teka-teki yang memusingkan kepalaku terkuak, justru disaat masalah sedang menumpuk menghimpitku.


“ J...Jadi kau adalah . . . . “ aku tak sanggup melanjutkan kalimatku. Terkejut karena petir di siang bolongpun masih kalah dengan terkejut saat aku mengetahui jati diri pemberi teka-teki yang sekarang tersenyum di hadapanku.


“Jadi ? “ ucapnya sambil tersenyum manis. Walaupun manis aku merasa senyum itu adalah senyum serigala yang menang atas perebutan tulang dengan temannya.


“Ada apa ? Kamu sangat terkejut membaca identitasku, Marissa. “


Aku diam. Ingin sekali kupukul laki-laki di hadapanku kalau saja aku bisa. Sekujur tubuhku sakit dan aku tak bisa menggerakkannya untuk memukulnya.


“Aku pernah mengirim dua utusan ke rumah kosmu. Itu yang akan kau katakan ? Jawabannya adalah benar. Waktu yang kuberikan hanya satu bulan, dan hari inilah satu bulan itu. Aku selalu berdoa pada Tuhan supaya mengirimmu ke tempat indah di seberang SMP itu tepat di satu bulan lamaranku. Sekarang aku tahu mengapa kau tak kunjung memberi jawaban atas lamaranku, rupanya gadis yang kulamar belum mengenalku. “ sambungnya. “ Aku selalu berfikir bahwa setiap mahasiswa Matahari mengenal semua dosen, meski dia tak mengajarnya, ternyata aku keliru.”


“ Ma . . . maafkan saya, Pak. Sa . . . saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak adalah dosen di MAtahari .” Ucapku sambil menunduk.

__ADS_1


“Sudahlah, lupakan dosen dan sekarang ijinkan aku menolongmu. “ Aditya mengulurkan tangannya sekali lagi.


“Tidak, jangan kau pegang aku, Pak! “ sekali lagi aku menolak. Ia urungkan niatnya menolongku.


“Marissa, walaupun aku melamarmu, percayalah bahwa aku tak akan pernah menodai orang yang akan kujadikan istriku. Sebelum kamu sah menjadi istriku aku akan menjagamu.kalau kau ingin tahu, dimana pun kau berada aku selalu berada di dekatmu semampuku. Sebenarnya aku marah saat tanganmu dipegang tentara di depan BRI kemarin, tapi mau bagaimana lagi, aku tak bisa berbuat banyak karena kulihat diantara kalian sedang ada masalah. “


“Ba. . . bagaimana Bapak tahu ? “


“Kau adalah mawar. Indah bila dipandang, namun durimu akan menusuk bila dipegang. Kecuali kalau aku memakai sarung tangan halal. “


“Ja . . . jadi anda adalah orang yang . .. “


“Iya, benar. Akulah pengirimnya. Maukah kau kuhalalkan ? “


“Tidak ! tidak, jangan sekarang. “ ucapku membabi buta. Air mataku bercucuran deras membanjiri pipiku, sedang suaraku tak henti-hentinya mengatakan kata, tidak. Kutahu Aditya kecewa, namun sekali lagi ia memohon padaku untuk mengulurkan bantuannya mengangkatku dan memberi pertolongan pertama untukku. Tangan kirinya memegang pundakku dan meletakkan tanganku di pundaknya. Aku tak nyaman dengan situasi yang sedang kuhadapi, tapi apa boleh buat, tak ada pilihan lain bagiku selain menurut padanya. Tangan kanannya memegang kakiku dan dengan cepat ia membawaku naik ke jalan melalui pematang sawah lalu melewati tangga terbuat dari kayu yang biasa digunakan para petani saat mereka bercocok tanam. Tak berapa lama, kami sampai di badan jalan. Aditya membawaku ke rumah penduduk terdekat, dan dengan cekatan ia meminta tolong ibu si pemilik rumah untuk membantunya menidurkanku di kursi panjang di teras rumahnya.


“ Alhamdulillah, kau duduklah di sini dulu, aku akan mengambil sepeda.” Tanpa menunggu jawabanku dia berlalu. Ibu si pemilik rumah segera masuk dan keluar dengan dua gelas teh hangat dia hidangkan untukku bertepatan dengan datangnya Aditya dan dua sepeda kami.


“Silahkan tehnya, Pak Adit Mbak Marissa. “


Aku terlonjak. Perempuan pemilik rumah tahu namaku dan ini luar biasa.


“Terima kasih, Bi. “ sahut Aditya pada ibu si pemilik rumah. Dia mengambil cangkir teh dan menyodorkannya ke mulutku. Aku tak ingin meminumnya kalau saja dia tak menempelkan cangkirnya di mulutku terus. Kuminum dua teguk, namun dia tetap menempelkan cangkirnya di bibirku. Aku segera menggeleng. Tanganku yang sakit tak bisa kujadikan sebagai bahasa isyarat untuk menolaknya.


“ Ayo minum lagi, setelah mobil datang kita akan segera ke dokter. Kondisimu harus dipastikan aman dan sehat. Aku tak akan memaafkan diriku sendiri kalau terjadi apa-apa denganmu. “


“ Tapi Pak Adit juga harus minum. Sebentar lagi Narto sampai, Pak. Dia sudah sampai di winong lor. “ kata ibu si pemilik rumah.


“O iya Marissa, ini bibi Narti. Ucapkan salam untuk Bibi !” perintahnya. Aku hanya mengangguk. Si bibi memegang tanganku berusaha untuk menjabat tanganku.


“Auw” aku menjerit kesakitan. Aditya memandangku dengan cemas. Lima menit kemudian, sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah. Sang sopir segera membuka pintu dan mengangkat kedua sepeda dan meletakkannya di atas mobil. Setelah mengikat keduanya, sang sopir mempersilakan Aditya untuk masuk. bertiga kami duduk di depan. Aku duduk diantara sopir dan Aditya. Tak ada percakapan diantara keduanya. Sang sopir seolah sudah tahu arah mana yang akan dituju. Lima belas menit kemudian, kami masuk ke sebuah rumah. Aditya membaringkanku di dipan pasien dan dokter berparas cantik di hadapanku memegang lenganku.


“Auw,” sekali lagi aku menjerit. Dokter berparas cantik memandang Aditya dengan seksama.


“Mengapa dia, Kak ?”


“Dia jatuh, Nancy. Tolong selamatkan dia. Apapun yang diperlukan untuk kesembuhannya semua tanggung jawabku. “


“Kakak kelihatan sangat khawatir pada kondisi gadis ini, siapa dia ?” Dokter berparas cantik memandangku dan bergantian memandang Aditya.


“Bukan siapa dia, tapi tolonglah dia, Nancy. Dia membutuhkan pertolongan segera. “


“Bukannya Kakak bisa memijit ? Kalau jatuh, pijitlah, insya Allah sembuh.”


“Pastikan dulu tidak ada tulang yang retak !”sambungnya.


“Baik !” Dokter berparas cantik segera memencet tombol di dinding, dan tak lama datang dua laki-laki ke hadapan kami.

__ADS_1


“Jangan mereka, Nancy. Tolong kirim Lilis dan Cintya, “ pinta Aditya. Sang dokter memenuhi permintaan Aditya. Beberapa menit datang dua perawat dan membawaku ke ruang radiologi. Tangan kanan dan kaki kiriku di potret, lalu berdua mereka membawaku ke tempat semula. Dua perawat memasang infus di tangan kiriku lalu membawaku ke kamar perawatan. Aditya mengikutiku. Aku bingung bagaimana menghubungi teman-temanku.


__ADS_2