Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Jangan Banyak Alasan


__ADS_3

Usai magrib, Aditya dan Seno duduk di serambi masjid. Menunggu datangnya isya’ sambil mengobrol. Menceritakan kegiatan sehari-hari masing-masing. Sesekali Seno mengedarkan pandangannya ke tempat jamaah putri, mencari satu sosok yang sudah sangat ia rindukan selama ini.


Aditya yang tahu kalau Seno mencari istrinya hanya dapat menahan geram. Ia sebal melihat laki-laki lain merindukan Marissa, namun ia tidak dapat berbuat banyak. Beruntung hari ini Marissa tidak ikut berjamaah di masjid karena ibunya memintanya untuk beristirahat di rumah. salat secara sendiri di dalam kamar dan merebahkan tubuhnya sesegera mungkin. Saat mengetahui Marissa hamil, Meisya lebih bersikap posesif dan overprotektif. Ia membatasi pergerakan Marissa dan mengawasi makanan yang dikonsumai menantunya.


“Apakah Anda mencari seseorang, Mas?” tanya Aditya saat dirinya jengah menyaksikan tindakan Seno yang sudah sangat kelewat batas. Seno mengangguk. tanpa menutupi maksudnya, ia tersenyum.


“Sudah lama sekali sejak pernikahan Anda, saya tidak melihat Dik Marissa. Apakah dia ikut datang malam ini?”


“Tentu saja tidak, Mas. Kalau dia datang aku lebih memilih pulang bersamanya daripada duduk di sini bersama Anda.”


“Oh benarkah?”


“Ya. tentu saja. Aku tidak akan membiarkan istriku pulang sendiri tanpa pengawalanku. Apalagi ia sedang berbadan dua. Aku tidak akan pernah tega meninggalkan dia berjalan sendiri.”


“Wah, selamat kalau begitu. Berapa usia kandungannya?”


“Baru memasuki tujuh minggu.”


“Baru berarti ya?”


“Tentu saja. Usia pernikahan kami belum mencapai tiga bulan. Makanya wajar kalau usia kandungannya baru tujuh minggu.”


“Apakah Mas Adit ingin pulang?” Aditya menggeleng.


“Aku akan menunggu datangnya waktu isya. Biasanya waktuku kuhabiskan untuk membaca al quran, tapi karena Mas Seno di samping saya,  makanya saya lebih memilih menemani Anda mengobrol.”


“Mas Adit boleh mengaji. Biar aku yang menyimak.”


Aditya menggeleng. ia tidak ingin terlalu lena dengan sikap yang ditunjukkan Seno.


“Bulan depan Insha Allah saya menikah, Mas. Aku berharap Mas Adit dan Dik Marissa bisa hadir.” Aditya mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.


“Insha Allah hadir, Mas. Kalau istri saya sehat, insha Allah kami datang untuk menemani meski hanya sebentar.”


“Aamiin. Aku akan sangat bahagia jika kalian bisa datang.”


“Mempelai perempuan orang mana, Mas?”


“Sisy. Sahabat Dik Marissa.”


“Oh, subhanallah. Aku sangat senang mendengarnya. Barakallah.”


“aamin”


Aditya menatap Seno penuh selidik. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Seno. Mengatakan ingin


menikah namun ia melihat seolah ada kabut yang menyelimuti laki-laki tampan di hadapannya.

__ADS_1


“Aku berharap pernikahan Antum benar-benar terlaksana dengan lancar tanpa ada aral melintang yaa Akhi.”


“aamiin.”


“Aku mendengar Sisy pergi. apakah dia sudah kembali?” Seno mengangguk. meski sebenarnya ia ingin tahu mengapa Aditya mengetahui kalau Sisy pergi, namun ia segera mengurungkan niatnya untuk bertanya.


“Apakah ada yang memberitahu tentang keberadaan Sisy pada Dik Marissa?”


“Saat itu kam ke kos flamboyant. Rosa dan Sulis bilang kalau Sisy tidak di rumah.”


“Hanya itu?”


“Memangnya ada yang lain?” pancing Aditya penasaran.  Seno menggeleng. ia tidak ingin Aditya curiga padanya.


“Dia mengunjungi keluarganya di Jakarta dan di Bandung.”


“Dengan siapa?” Seno gelagapan.


“Aku yang mengantar. Sesuai permintaan Sisy dan ibunya. Ayahnya kan sedang melaksanakan tugas di Papua. Tidak bisa mengantarnya menemui saudaranya di sana.”


“O .. . lalu sekarang dia sudah pulang?”


“Belum.”


“Kok bisa belum? Tadi Akhi bilang dia sudah kembali.”


dan mengalami koma selama satu minggu. tapi orang tuanya bilang sudah siuman. Tinggal


menunggu pemulihan dan kami siap melakukan lamaran dan pernikahan.”


“Memangnya kenapa kok bisa koma?”


“Kan sudah kubilang dia kelelahan.” Ucap Seno sedikit emosi. ia tidak suka ada orang lain yang mencampuri dan ingin tahu urusan pribadinya. Apalagi laki-laki di hadapannya yang ia anggap sebagai saingan terberatnya.


“Iya,  Afwan, saya lupa.”


“Baiklah kalau begitu.” Seno memandang arah alun-alun dimana banyak sekali kendaraan sedang mencoba untuk mencari lokasi parkir. Ia merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan menghilangkan moda hening.


Tiba-tiba ponselnya bordering. Ada panggilan masuk dan ia segera mengangkat panggilan.


“Ada tamu di rumah Komandan.”


“Kau ajak dia masuk dan bilang utuk menungguku setelah salat isya.”


“Baik, Ndan.”


Ponsel segera ia masukkan ke dalam sakunya. Belum lagi dia menarik nafasnya, sebuah panggilan

__ADS_1


masuk lagi. Seno segera menerima panggilan selanjutnya.


“Kan sudah kubilang untuk menungguku sampai isya. Masa kau tidak bisa mengatakan apa yang kupesankan?’


penelpon di seberang sana terpana mendengar suara Seno yang baginya sangat galak.


“Kapan kau menyuruhku untuk menunggumu salat isya?’ Seno terperanjat mendengar suara di seberang. Ia segera menatap layar ponselnya, meyakinkan bahwa dugaannya benar.


“Maaf, Mamah. Mamah selalu mengagetkan saja. Memangnya selama di belakang mamah kau memang


tumbuh menjadi anak yang galak ya, Seno?’


“Mamah? Ternyata benar ini, Mamah?”


“Mengapa kaget? Memangnya kau sekarang sedang dimana?”


Seno tersenyum mendengar pertanyaan Meli.


“Aku di masjid agung kauman, Mah. Tadi salat jamaah magrib dan kini sedang menunggu datangnya isya. Sekalian kami tidak mondar mandir asrama sama masjid agung.”


“BAgus kalau begitu. Mamah bahagia mendengar kau sudah salat dengan tertib, Nak.”


“Alhamdulillah, Mah. Semua berkat Marissa yang membimbingku menjadi jamaah untuk salat lima waktu dari di masjid.”


“Siapa, Marissa?’


Aditya yang tahu isrtinya disebut-sebut kini menjadi semakin tercengang. Ia tidak menyangka kalau Seno bena-benar telah jatuh cinta pada istrinya yang menikah.


“Di-dia istrinya Aditya, Mah.”


“Terus kalau Mamah bertanya siapa itu Aditya, apakah kau juga akan menjawab kalau Aditya adalah suami dari Marissa begitu? Dasar anak nakal. Kau sama sekali tidak ada keinginan untuk memberitahu Mamah.


“Ya tidak juga, Mamah. Seno ingin memberitahu, tapi untuk apa? Tidak ada hubungan apapun sama dia.


“Beritahu Mamah kapan Mamah dan papah kau suruh untuk melamar Sisy. Kami sudah tidak sabar untuk menemui keluarga Sisy.”


“Ha ha ha, kalau seperti ini. ini lucu sekali, Mamah. Bisa saja bercandanya.”


“Kau pikir Mamah bercanda. Mamah bahkan seribu kali lebih serius untuk mengetahui tentang Sisy dan Marissa. Kalau sampai kami melihatmu mempermainkan keduanya, jangan tanya lagi bagaimana Mamah akan menghajarmua seperti dulu,.


“Iya, Mah, Iya. Seno janji tidak akan mempermainkan, Mamah.”


“Bukan Mamah, Seno. Tapi mereka. Marissa dan Sisy. Kalau kau sampai mempermainkan perasaan mereka, Mamah akan melaksanakan pernikahanmu segera.”


“Ih Mama ini. memaang bisa ya melaksanakan pernikahan tanpa ada mempelai laki-laki? Kalau Mamah ingin Sisy menjadi menantu Mamah, jadi mau didebat model apapun kok rasanya susah ya mengabulkan permintaanmu, Mamah. Semuanya serba ingin terus mana yang tidak ingin?”


“Ah jangan banyak beralasan.”

__ADS_1


__ADS_2