Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Posko Kesehatan 1


__ADS_3

Jam setengah tujuh Lina datang ke kos. Bertiga kami berangkat setelah minta ijin Mas Kinkan pemilik kos.


Setengah jam kemudian, kami sampai di sekolah shelter tempat pengungsi. Kami hanya spekulasi saja, barangkali memang benar, semua pengungsi di Kemanukan dipindahkan ke sekolah shelter semua. Lina dan Maulida memarkir motor di tempat parkir yang disediakan oleh petugas.


Perlahan kami menyusuri lorong sekolah. Banyak sekali pengungsi yang menangis histeris, sehingga aku dan teman-teman tak bisa melihat satu persatu wajah yang kukenal.


“Astaghfirullah,” berkali-kali Ida beristighfar. Dia seperti syok melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Aku mencemaskan kondisinya sehingga aku dan Lina memutuskan untuk mencari pos kesehatan.


Setelah berjalan mengelilingi seluruh wilayah sekolah yang sangat luas, akhirnya kami menemukan pos kesehatan.


“Assalamualaikum, “ bertiga kami mencoba untuk menembus kerumunan orang. Tak ada yang menyahut, namun aku dan Lina tetap masuk. Maulida menolak kuajak masuk dan memilih untuk duduk di luar ruangan.


“Assalamualaikum, Dok. Mohon maaf saya baru datang.” Sapaku pada dokter Wildan.


“Kebetulan kau datang, Ris. Kau bantu aku untuk mengatasi pasienku yang membludak hari ini.” Pinta dokter Wildan sambil menyerahkan beberapa kasa pembalut. Kuterima kasa pembalut itu, lalu aku tetap terpaku menyaksikannya yang sedang membersihkan luka pasien dengan revanol. Kulihat dia bekerja dengan sangat cekatan. Akhirya setelah beberapa waktu, aku mencoba untuk menghampiri beberapa korban yang luka di bagian lengan dan kaki. Kubersihkan luka-luka mereka dengan revanol seperti yang dilakukan dokter Wildan. Entah berapa jam kami bekerja dalam diam.


“Kau kemana kemarin sore ?” tanya dokter Wildan setelah melihat semua korban tenang karena sudah diobati luka-lukanya.


“Saya pulang ke kos, Dok. Ternyata keluarga saya datang dari Jogjakarta, dan aku tidak bisa bertemu mereka.”


“Kapan mereka datang ? Kenapa bisa tidak bertemu ?” tanya dokter Wildan penasaran.


“Dua hari yang lalu. Mereka mengirim pesan via whatsapp, tapi karena di lokasi tidak ada sinyal, pesan baru kubaca setelah saya sampai di kos. “ sahutku.


“Untung kau pulang tadi malam, Ris. Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana reaksimu menerima longsor susulan.” Ucap dokter Wildan pelan. Tampak sekali mendung di wajahnya. Aku tak tahu apa yang dia rasakan, namun yang pasti aku bisa merasakan betapa paniknya mereka.


“Dimana semua teman saya, Dok? Saya belum melihat mereka sama sekali.”


Dokter Wildan menjelaskan.


“Mereka mungkin masih di camp pengungsian kemarin, membantu evakuasi barang untuk dipindahkan ke sini. Kau pasti akan semakin kaget melihat mereka sangat akur dan romantis.” Goda dokter Wildan seraya mengerlingkan matanya kea rah Lina.


“Apa-apaan sih dokter? “


“Mereka sangat mesra, apalagi saat dentuman keras terdengar. Saat peristiwa itu terjadi, mereka sedang duduk berdua di bangku depan balai desa, tempat kita duduk kemarin.”


“Biarkan saja, Dok. Saya tidak apa-apa kok. Mereka kan sahabat saya.” Ucapku pelan. Sebenarnya aku ingin sekali menutupi rasaku, namun kurasa dokter muda di hadapanku bisa membacanya.


“Saat itu mereka berpelukan, lho, Ris.” Kali ini aku benar-benar tidak tahan dengan godaannya. Kupukul pundaknya sampai dia meringis kesakitan.


“ow, sakiit,” desisnya.


Aku nyaris saja memegang pundak yang baru saja kupukul tadi kalau saja tidak melihat sepasang mata perawat sedang menatap kami penuh kebencian. Kuurungkan niatku lalu kulangkahkan kaki menuju pasien yang sekarang sedang duduk di dekat jendela.


“Assalamualaikum, Bapak. “ ucapku memberi salam. Bapak yang sedang memgang kakinya kemudian memandangku dengan takjub.


“ Kau, mbak Risa kan ?” sapanya.


“Iya, Pak. Bagaimana kabar Bapak hari ini ?” kucoba untuk membuka percakapan untuk mengalihkan perhatian orang di sekelilingku terutama perawat Susi dan dokter Wildan. Ingin sekali kukatakan pada Perawat Susi, bahwa tak ada apa-apa antara aku dan dokter Wildan, namun kuurungkan.


“ Kabar saya sedang tidak baik, Mbak. Anak laki-laki saya belum pulang sampai sekarang.” Jawabnya sambil menerawang. Tampak sekali mendung menggelayut di wajahnya. Perlahan kulihat mata bapak tua di hadapanku mulai berkaca-kaca.


“Insya Allah, semoga segera kembali, Pak. Kita doakan agar Allah melindunginya dimanapun dia berada.” Sahutku sekenanya.


“Mbak yakin anak saya masih hidup ?” bapak tua di hadapanku memegang tanganku erat. Aku gelagapan mendapatkan tindakannya yang tiba-tiba.


“Semoga, Pak. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah. Segala yang sulit di hadapan kita tentulah akan menjadi sangat mudah bila di tanganNya. Kita manusia hanya bisa berpasrah, berserah diri pada ketetapannya tanpa putus asa.” Sambungku.


“Semoga apa yang Mbak katakan akan menjadi kenyataan. Aku berharap anakku Rian benar-benar dalam lindungan Allah Swt.”


“AAmiin,” aku mengaminkan doa sang bapak pelan.


***


Pukul Sembilan pagi, suara sirene membahana, di sekeliling kami. Aku hanya bisa melihat beberapa mobil polisi dan tentara berhenti di halaman sekolah shelter, dan menurunkan pengungsi korban longsor kecamatan B. Aku dan Lina segera menuju ke para pengungsi untuk membantu mereka mengangkat barang yang mereka bawa. Banyak sekali yang menangis, dan datang dalam kondisi mengenaskan.

__ADS_1


“Risa, aku kelihatannya tidak kuat berada di sekitar sini.” Kata Maulida perlahan. Kutatap wajah pucatnya lalu kuajak dia duduk di taman dekat kolam ikan.


“Kau boleh pulang ke kos, Da. Sendiri ya?” ucapku.


“ Tapi kalau di kos sendiri aku juga tidak berani.” Rengeknya pelan.


“Lalu ?Bagaimana aku harus melangkah ?” tanyaku bingung.


“Ris, kamu pulang ya !” pintanya memelas.


“Kalau aku pulang, berarti aku tidak bisa berbuat apa-apa di kos. Perasaanku tidak akan nyaman karena melihat situasi di sini yang sangat memerlukan bantuan, sementara aku hanya duduk manis di rumah. Bagaimana kalau kau ajak Sisy untuk tidur di kos barang semalam atau dua malam ?” usulku.


“Akan kucoba, Ris. Tapi tolong kau antar aku ya !”


“Oh my God, Ida. Apa kau benar-benar tak bisa pulang sendiri?”


Aku tak habis piker dengan temanku yang satu ini. Dia benar-benar tidak bisa kumengerti. Disuruh pulng tidak mau sendiri, diajak serta dia tidak berani. Yaa Rabb, apa yang harus aku lakukan sekarang ?


“Ada apa ?’ tanya Lina setelah dia melihat kondisi kami.


“Ida ingin pulang tapi tidak berani.” Sahutku.


“Sebentar. “ Lina segera berlalu. Sepuluh menit kemudian, ia datang bersama dengan Firman.


“Kau bisa pulang dengan Firman. Ia akan ke kota untuk mengambil perlengkapan di markas Resimen. “ Kata Lina. Firman dan Maulida akhirnya pulang bersama. Aku dan Lina melanjutkan kegiatan kami. Membantu pengungsi untuk menata barang dan personel di ruang kelas. Lalu sekali lagi datang ke posko kesehatan.


“Kalian dari mana? Tadi ada yang mencari di sini.” Kata perawat Susi sambil cemberut.


“Maaf kami baru membantu pengungsi di luar.” Sahut Lina sekeknanya. Dia mulai jengkel dengan perawat itu karena berkali-kali menguping pembicaraan dengan dokter Wildan. Lina mungkin juga marah padanya karena ia sudah mulai berani menggoda dokter Wildan.


“Assalamualaikum” salam kudengar dari pintu masuk ruang kesehatan.


“Waalaikum salam warahmatullah,’ kujawab salam dan kutengokkan wajahku ke arah sumber suara. Syamsa dan Qomar. Mereka datang membawa sebuah kardus di tangan mereka masing-masing. Kulihat mata Syamsa berbinar memandangku.


“Iya, Mbak. Tadi pagi kami langsung kemari, karena berita di televisi mengatakan kalau camp pengungsian di pindah ke sekolah shelter.


“Bagaimana kabarmu semalam?” tanya Qomar penuh kebencian. Aku tak tahu mengapa dia bersikap seperti itu padaku. Yang pasti hari ini aku tak mau lagi berbicara dengannya.


***


Sore hari, ketika aku merasa tenagaku tak dibutuhkan lagi di posko kesehatan, aku dan Lina melangkah menuju dapur umum. Tak banyak relawan di sana. Satu orang yang kukenal hanya Bu Samsul, istri kepala desa Kemanukan.


“Assalamualaikum, Bu.” Sapaku pelan.


“Waalaikum salam warahmatullah” sahutnya sambil memandangku ceria.


“Alhamdulillah, mbak Risa selamat.” Sambungnya. Dia berjalan ke arahku dan memelukku erat seraya menangis bahagia.


“Mohon maaf, Bu. Kemarin saya pulang ke kos, jadi tidak tahu ada apa tadi malam. Pagi hari saya melihat berita televisi tentang longsor susulan dan pemindahan posko kesehatan di sekolah ini.” Jawabku.


“Beruntung kau pulang, Mbak. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada kalian. Tadi malam kami panic saat tidak melihat Mbak Risa di sekeliling kami. Kami menganggap Mbak ikut menjadi korban seperti ibunya Nina yang sedang mengambil air di sumur tak jauh dari balai desa.”


“Innalillah. Bagaimana dengan kondisi ibunya Nina sekarang Bu? “tanyaku penasaran.


“Tidak tahu berita selanjutnya. Yang kutahu, sekarang dia di ruang ICU rumah sakit daerah. Kami benar-benar lega karena kau di sini, Mbak. “sekali lagi bu Syamsul memelukku.


“Bu”


“ Iya, sahutnya sambil memandang wajahku.


“Bagaimana keadaan Nina?” Nina masih di ICU menunggu ibunya. Dia terus menangis.”jawab bu Syamsul pelan. Air matanya kembali mengalir. Aku tak tahu harus berbuat apa. Yang pasti hari ini aku tahu mengapa Qomar marah padaku tadi. Dia mungkin berusaha mencariku semalam. Dia mungkin panik melihat diriku tak ada di sana. Ah biarlah,’batinku.


***


Sore ini aku duduk di depan posko kesehatan. Aku belum melihat Sulis dan Meta di sekeliling kami. Aku ingin sekali mencari Syamsa dan bertanya padanya dimana keberadaan Sulis dan Meta. Langkah kuayunkan mengelilingi sekolah namun aku belum berhasil menemukan orang yang kucari. Aku nyaris putus asa kalau saja tidak kudengar suara tawa seorang perempuan di dalam sebuah kelas kosong. Bulu kudukku berdiri. Mungkin karena aku merasa bahwa tak mungkin dalam ruang kelas kosong itu ada manusia. Sejenak kuperhatikan kelas. Pintunya dalam keadaan tertutup namun tidak dikunci. Ingin sekali kubuka pintu itu dan memastikan siapa di dalam ruangan itu namun segera kuurungkan. Tiba-tiba pintu terbuka dan kulihat dua orang, sedang bergandengan tangan keluar ruangan.

__ADS_1


“Kita makan siang dulu, yuk !” Ajak sang laki-laki yang dari suaranya sangat familiar di telingaku. Aku yang dari tadi berdiri di belakang pintu tak bisa mereka lihat.


“Tapi, Mas. “ ucap seorang perempuan yang pastinya dia adalah Syamsa. Dia berbicara dengan suara yang sangat manja. Aku merasakan sesuatu yang aneh menyusup nyeri di dadaku. Aku terjebak dalam belenggu kemesraan mereka, sedangkan untuk melepaskan diri aku kebingungan. Kalau mereka tahu aku bersembunyi di belakang pintu, mereka pasti mengira aku sengaja menguntit mereka. Kalau aku tetap bertahan di tempatku saat ini, aku yang tersiksa.


Sejenak kudengar lagi pembicaraan mereka.


“Tapi apa ? dari pagi aku belum makan. Ayolah, aku traktir kamu. Please!”


Kali ini kulihat Syamsa mencubit lengan Qomar.


“Auw, sakit”Jerit Qomar manja.


“Biarin. Mas Qomar nakal sih.” Syamsa terus saja menggoda Qomar dan entah untuk keberapa kalinya Syamsa mencubit Qomar.


“Tuhan ! Betapa asiknya mereka bercengkerama sehingga tak menyadari keberadaanku. Tolong aku agar bisa lepas dari suasana yang tidak menyenangkan ini” gumamku.


“Sa . . .” Qomar memanggil nama Syamsa.


“I . . .aaaaa” Syamsa belum sempat menjawab panggilan Qomar, entah mengapa dia menjerit. Aku penasaran ingin melihat apa yang terjadi sampai akhirnya Syamsa berbicara.


“Mas Qomar sengaja mencium saya ya?” tanyanya dengan riang. Kudengar suara gebugan keras. Mungkin dia sedang memukul Qomar. Dan sekali lagi kudengar suara Qomar.


“Auw. Sakiit sayang.”


What ?


“Dia mengucapkan kata sayang pada Syamsa? Oh my God. Aku terluka.”Gumamku lagi.


Sayangnya aku tak bisa melihat wajah Syamsa. Tapi mungkin dia sedang berbuka-bunga dan wajahnya sangat ceria.


“Ayo !” tiba-tiba Qomar mengajak Syamsa dan dengan bergandengan tangan mereka meninggalkan ruangan.


Aku bisa bernafas lega. Namun tetap dalam suasana hati yang tidak menyenangkan. Aku merasa hatiku akan segera terluka melihat kedekatan mereka sehingga akhirnya kuputuskan untuk duduk di taman belakang sekolah. Taman indah dengan berbagai macam pohon besar dan di bawahnya terdapat kursi bundar melingkar di setiap badan pohon.


Kutarik nafasku pelan untuk mengurangi rasa sakit. Aku tak ingin berlarut-larut dengan cintaku yang kandas. Ingin kusudahi perasaanku pada Qomar, komandan resimenku. Namun entah mengapa, aku merasa setiap kali ingin melupakan, saat itu juga Allah tunjukkan kemesraan mereka. Sejenak kurasakan mataku mulai panas. Pandanganku kabur dan tak lama setetes demi setetes air mata hangat membanjiri wajahku.


“Ya Tuhan, betapa mengenaskannya aku ini” aku mendesah. “Cintaku tidak hanya bertepuk sebelah tangan namun benar-benar tak berbalas.” Sambungku.


Tuhan !


Tolong hambaMu untuk melupakan satu makhlukmu yang selama ini sudah menemani angan-anganku.’ucapku pelan.


“Ada tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang niscaya ia akan merasakan lezatnya iman. Pertama, jika ia mencintai Allah dan Rasul lebih daripada yang lain. Kedua, Jika ia mencintai sesama manusia semata-mata karena Allah, Ketiga, enggan kembali kepada kafir setelah diselamatkan Allah daripadanya, sebagaimana enggan dimasukkan ke dalam neraka” Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. Seorang laki-laki sudah berdiri di sebelahku entah sudah berapa lama. Kupandang wajahnya perlahan. Kurasakan semua bulu kudukku berdiri melihat siapa sang pemberi nasihat hari ini. Dia laki-laki yang sangat tampan. Laki-laki yang selalu mengawasi para relawan mencari korban, komandan tentara yang sering kulihat mengacuhkanku selama ini. Sekarang dia berada dekat denganku dan kami hanya berdua. Dia mengenakan seragam tentara lengkap dengan penampilan rapi dan subhanallah, dia ganteng sekali.


“Adik duduk di sini sendiri ?” tanyanya heran. “Banyak orang di depan sana dalam kondisi yang jauh lebih sengsara dari kita. Tapi anehnya, manusia selalu merasa dirinya makhluk paling sengsara. “


“I . . .Iya , Kakak. “ jawabku gagap. Kuarahkan pandanganku ke kerikil –kerikil tajam di kakiku, mencoba untuk mengelompokkannya berdasarkan warna, ukuran dan jenisnya sekedar menghilangkan takut. Tentu saja hanya dengan pandangan mata.


“Adik sering duduk di batu ini ?” tanyanya menyelidik.


“Tidak.”jawabku tegas.


“Udara di sini segar sekali. Tapi mengapa Adik lebih suka menyendiri dibandingkan duduk dengan teman-teman di depan sana ? “ aku masih dalam posisiku. Menunduk, merenungi nasib yang nyaris tak bisa lepas dari dekapan suasana yang tak kuingini.


“Adik orang mana ? ”


“Sa . . .saya anak Jogjakarta Kakak.”


Selanjutnya kami diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. Sengaja aku turun dari batu besar dan kuberanikan diri meninggalkannya sendiri . aku tidak mau ada orang beranggapan bahwa aku memanfaatkan situasi untuk berpacaran.


“Mohon maaf, Kakak, saya harus ke dalam. “ aku segera meninggalkannya tanpa menunggu jawabannya.


“Bukan karena takut padaku kan ?”


“Em . . . ti . . .tidak, Kakak. Mohon maaf saya harus segera ke balai desa. Tidak baik laki-laki dan perempuan berdua di tempat ini. Mohon maaf, saya harus kembali untuk membantu di dapur umum. assalamualaikum “ Dengan berlari kecil kakiku melangkah meninggalkan pemuda yang sudah beberapa hari ini menginap di pengungsian. Aku sungguh-sungguh merasa takut dan aku tak mau dia mengetahui perasaanku.

__ADS_1


__ADS_2