Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Aku Khilaf


__ADS_3

“Apakah masih sakit, Sisy?” Tanya Sulis masih dengan kepanikannya. Sisy mengeleng. Ia mengelus perutnya pelan.


“Maafkan Mamah, Sayang.” gumamnya. Sulis memandang perut Sisy dengan heran. Ada rasa aneh  menyaksikan Sisy mengelus perutnya dengan penuh rasa bersalah, seolah ia meminta maaf pada sebuah nyawa yang ada di dalam perutnya.


“Ada apa dengan Sisy ya?” Batin Sulis sambil memandang Rosa yang nampak santai tak berprasangka. Reflek


tangan Sulis mengelus perut Sisy pelan. Membuat si pemilik perut terperanjat tak karuan. Ia segera bangkit, mencoba menyembunyikan keterkejutanya dan pura-pura tersenyum pada Sulis dan Rosa.


“Aku mau ke kamar mandi dulu ya.” sulis segera mengangguk dan membiarkan Sisy melangkah menuju kamar mandi.


“Apakah kau merasakan ada keanehan di perut Sisy?” bisik Rosa membuat dirinya terperanjat. Ia tidak


percaya kalau Rosa memiliki dugaan yang sama denganya.  “Apakah kau juga menduga kalau dia . . .”


“Iya.” Sahut Rosa sebelum Sulis menyelesaikan kalimatnya.


“Ada banyak perubahan dalam dirinya. dulu dia tidak seperti itu. Berisi dan perutnya sedikit besar. Kau


tahu bagaimana dia berusaha untuk tetap menjaga kualitas dirinya dengan lari pagi, dan fitness?”


“Iya. Aku sangat tahu. saat itu satu-satunya orang yang setia mengawalnya kan aku.” Rosa terkekeh


mendengar pengakuan Sulis. Ia benar-benar merasakan kalau apa yang diucapkan Sulis merupakan pengakuan atas kecerobohannya berteman dengan Sisy.


“Kau seperti kerbau yang dicucuk hidungmu. Memusuhi Marisa hanya demi membelanya padahal kau tidak tahu siapa yang benar diantara mereka.”


“Iya, aku salah, tapi please jangan disebut dan diungkit terus ya.”


“Kenapa? Apakah kau menyesal?”


“Tentu saja aku menyesal. Tidak mau mendengarkan ucapanmu dan itu kbodohan terbesarku.”


“Ehm”


“Sudah selesai, Sy?” Sisy tersenyum lalu mengangguk. ia merasa dua sahabatnya sedang mengunjingnya. Namun ia tak ingin menduga-duga terlalu jauh. Alih-alih dia kan bisa menjebak mereka, dia berfikir bahwa dirinya sendiri yang terjebak jika dia tidak waspada.


“Apakah Mas Seno tidak akan datang hari ini?” Sisy menggeleng. sejak hari lamaran sampai saat mereka


berbincang sekarang, Seno sama sekali tidak pernah mengirim pesan, missed call apalagi datang.sebenarnya Sisy ingin protes tapi dia tidak memiliki kemampuan untuk protes. Kekurangannya hanya satu, menjebak Seno dan itu adalah dosa terbesar dalam hidupnya yang akan membawa pada kesengsaraan dalam hidupnya


selamanya. Entah apa yang akan dia terima setelah pernikahan. Hanya Tuhan yang Tahu.


“Kok melamun, Sy.”


“Tidak kok. Aku hanya sedang berfikir kalau belum memberitahu Mas Seno tentang makanan dan beberapa souvenir pernikahan yang sudah kita siapkan. Sebentar ya aku ambil gambarnya dulu lalu akan kukirimkan padanya. Semoga saja dia senang.”


Sulis dan Rosa mengangguk. mereka memandang Sisy yang antusias mengambil ponsel dan berlari ke


luar kamar. Sesampainya di ruang tengah, ia segera memotret semua persiapannya dan mengirimkannya pada Seno. Ia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di samping Sulis dan Rosa.  Sesekali matanya


menatap pesan yang ia kirim ke Seno. Berkali-kali ia tengok, berkali-kali juga ia merasa kecewa pada calon suaminya yang sama sekali tidak mau membuka pesannya.


“Apakah Mas Seno sudah menjawab?”

__ADS_1


“Belum”


“Mungkin dia sedang sibuk menyiapkan pernikahan di rumahnya, Sy. Pihak laki-laki kan memberikan


serah serahan kepada pihak wanita makanya sekarang ia sibuk. Menyiapkan emas permata segepok untuk calon istrinya yang cantik jelita ini.” Ucap Sulis sambil mencolek pipi Sisy. Menyaksikan tindakan Sulis, Rosa melengos. Entah mengapa semakin lama menyaksikan Sulis ia semakin merasa sebal. Bukan karena dia


munafik tapi juga ia merasa Sulis lebih suka menjaga perasan Sisy dari pada perasaannya.”


“Mungkin juga Mas Seno sibuk. Dia kan komandan Batalyon. Meski akan menikah ia belum juga mendapat


cuti. Ah, kasihan aku ini.”


“Bukan kamu yang kasihan, Sy. Tapi Mas Seno. Ia harus jungkir balik menyiapkan segala sesuatunya


dan melaksanakan tugas hariannya. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk istirahat. Kalau kamu kan masih bisa rebahan seperti ini.”


“Iya, ya. Alhamdulillah, walau tidak ada calon suami, aku bisa istirahat dengan tenang. bayiku . . .”


Semua saling pandang. Sisy kebingungan mengedit kalimat yang sudah terlanjur ia ucapkan sedang Sulis


dan Rosa hanya bisa memandang Sisy tak percaya.


“Bayimu? Apakah kau . . . sudah. . . . hamil?”


Sisy menunduk. ia tak punya keberanian untuk menatap kedua sahabat yang kini nampak sedang


menghakiminya.


“Sst, diamlah. Nanti ibuku tahu.”


“Memangnya ibumu belum tahu?” Sisy menggeleng. ia menyesalkan tindakannya sendiri yang sama sekali


tidak memberi tahu pada kedua orang tuanya kalau dirinya sedang hamil. Sisy bahkan tidak tahu kalau semua orang sudah mengetahui rahasianya. Ayahnya sudah mengetahui sejak lama dari anak  buah yang dikirim untuk mengintainya dan mengikutinya sampai Jakarta Bandung. mungkin hanya Meli yang tidak tahu karena


suaminya menyembunyikan fakta darinya.


“Bagaimana ceritanya kau sampai hamil?” bisik Sulis. Sisy menunduk. ia tidak mau menatap kedua orang


yang kini sedang menatapnya menunggu jawaban.


“Panjang”


“Sepanjang apapun aku dengarkan. Please cerita.”


“Tidak Sulis. Aku sedang tidak ingin bercerita apapun padamu. Aku ingin menyimpan rapi semuanya agar


anak kami tidak dikucilkan pada akhirnya.


“Dikucilkan bagaimana? Memangnya siapa lagi yang tahu kalau kau hamil?’


“Ssst, jangan berisik.”


“Ok, katakan padaku siapa yang tahu selain kami?”

__ADS_1


“Tidak ada. Aku tidak memberitahu siapapun. Aku hanya ingin menyimpannya sendiri. Yang penting aku


tahu kalau diriku harus berbuat apa setelah tahu kalau aku hamil.”


“Kau menikah karena ini?” Sisy mengangguk.


“Apakah Mas Seno tahu?’ sekali lagi Sisy mengangguk. ia menyesal karena telah ceroboh dalam berkata-kata. Ngomong sembarangan dan itu kebiasaan buruk yang selalu ia lakukan pada teman-temannya.


“Apakah ini anak Mas Seno?”


“Tentu saja. Apakah kamu pikir aku berbuat dengan orang lain dan menikah dengan Mas Seno?”


“Bukan begitu maksudku. Memangnya kau berapa kali berbuat?”


“What? Rosa, kenapa kau kejam sekali bertanya seperti itu pada Sisy?” protes Sulis.


“Biarin saja. Dia kan memang harus menanggung dosanya pada apa yang sudah dia lakukan. Berapa kali


memangnya kau berzina dengan Mas Seno?”


“Hanya sekali, Ros. Swear. Hanya sekali saja.”


“Sekali langsung jadi?”


“Begitulah. Aku sama sekali tidak berani mengulanginya kembali. Saat itu aku khilaf.”


“Khilaf katamu? Memangnya kau berbuat apa sampai kau bilang kau yang khilaf ? Bukan dengan kata


Kami khilaf? Jangan-jangan kau menjebak Mas Seno agar mau tidur denganmu begitu?”


Sisy merasa sedang dihakimi. Ia menunduk. tak berani menatap wajah Sulis apalag wajah Rosa yang kelihatan sangar.


            “Katakan padaku!”


            “Apa yang harus kukatakan?”


            “Katakan kalau kau tidak menjebaknya.”


Sisy diam. ia menunduk sambil meremas jari jemarinya.


“KAu bahkan lebih menyebalkan daripada Maya dan Syamsa si kembang kampus yang menyebalkan, Sy.”


“Hiks. Kenapa kau bilang seperti itu padaku Ros. Apakah kau sama sekali tidak ada rasa empati padaku?


Gadis malang yang hamil dan diabaikan calon suaminya?”


“Itu pantas buatmu. Dia bahkan sudah bertindak lebih baik padamu. Bayangkan kalau dia sama sekali tidak mau bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat.”


“Iya, Ros. Hiks. Aku minta maaf karena telah menjadi sahabat yang jahat untuk kalian berdua. Aku telah


gagal dan kalian berhasil.”


‘bukan begitu maksudku. Kenapa kau bisa sampai melangkah sejauh itu? PAdahal selama ini kamu kan sekamar dengan Marissa kan? Dia saja luar biasa baik padamu. Mengapa kau sama sekali tidak menirunya, meski hanya sedikit saja sikapnya yang baik.”

__ADS_1


__ADS_2