
“Tidak boleh laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim untuk berdua-dua karena orang ketiganya adalah
Syaitan’ sahut Rosa, menolak secara halus ajakan Sigit. Sigit yang sebenarnya hanya ingin basa basi dengan ucapannya yang akan menuju masjid, akhirnya mengangguk.
“Baiklah. Terserah kamu saja. Aku akan mengikutimu dari belakang.’
“Eh, tidak boleh, Mas. Aku bisa jalan sendiri kok. Lagian jarak sini dan masjid kauman kan dekat. Mas Sigit
bisa berangkat lebih dulu kok.”
“Tidak. Aku tidak akan membiarkan perempuan jalan di jam-jam seperti ini. Takut di gondola kunti.”
Rosa terkekeh mendengar alasan Sigit yang baginya sangat naïf.
“Terserah Mas Sigit saja.” Rosa terus saja melangkah di sebelah motor Sigit. Setelah melewati alun-alun, Rosa segera mengambil jalan pintas dengan melewati alun-alun bagian tengah, membelah alun-alun dan memperpendek jarak asrama dan masjid Agung, membuat Sigit tersenyum geli menerima perlakuan Rosa.
“Kau itu aneh sekali, Rosa. Gadis cantik jalan sore-sore sendirian. Dibonceng tidak mau dan ambil jalan pintas tanpa memberitahuku lagi. Gemas.” gumam Sigit sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sesampai di masjid Agung, Rosa langsung menuju tempat wudhu setelah meletakkan tasnya di tempat shalat jamaah putri. Langkahnya terhenti ketika tatapan matanya bertemu dengan sahabat yang sangat ia rindukan.
“Assalamualaikum, Marissa.” Marissa yang baru saja masuk bersama Aditya tercengan melihat
keberadaan Rosa.
“Waalaikum salam, Rosa? Kamu dengan siapa?’
“Sendiri. Kau lihat aku datang sendiri kan?” Marissa mengangguk. ia tatap suaminya dan melepaskan pegangan tangannya.
“Mas, kita pisah sementara di sini, ya. Mas boleh masuk dulu.’
“Baik, Sayang.”Aditya segera mendaratkan sebuah kecupan di kening Marissa tanpa malu-malu. meski banyak jamaah yang melihat. Ia elus perut Marissa dan mengatakan sesuatu kepadanya.
“Abi tinggal dulu ya, Sayang. Dedek sama Ummi ya. Muah.” Tidak lupa Adit mencium perut istrinya. Marissa segera mengelus kepala suaminya lembut. Membuat siapa saja yang melihatnya mencibir iri pada perlakuan manis keduanya.
Rosa memandang mereka tanpa berkedip.
“Memang sebuah pernikahan yang dilakukan dengan cara yang benar akan membawa keberkahan
bagi yang melaksanakan. Tidak seperti suasana hati Sisy yang kacau seperti saat ini. aku yakin kandungan mereka usianya sama, tapi aku yakin perbedaan perasaan mereka akn membawa dampak tersendiri untuk anak yang akan mereka lahirkan.” Batin Rosa.
“Ayo, Ros. Masuk.”
“Aku wudhu dulu, Risa.”
__ADS_1
“Ok. Kutunggu di dalam ya.”
“Ya.”
Marissa masuk ke dalam masjid. Mengambil posisi yang bisa ia gunakan bersama dengan Rosa, sahabat yang sudah lama ia rindukan.
Setelah wudhu, Rosa masuk. Melakukan salat tahiyatul masjid lalu duduk dalam diam menunggu imam.
Shalat magrib baru saja selesai. Marissa dan Rosa duduk saling berhadapan.
“Darimana kamu kok sendiri begini?”
“Aku dari rumah Sisy.”
“Bagaimana kabar Sisy? Aku dengar dia akan menikah dengan Mas Seno?’
“Apakah dia tidak mengundangmu?” Marissa menggeleng.
“Tidak. Memangnya kenapa? Ada kejadian apa sehingga dia tidak mengundangku?”
“Tapi kelihatannya lebih baik tidak diundang, Rissa. Daripada seperti diriku. diminta menginap untuk menemani pengantin, namun aku tidak bisa menahan emosi.”
“Maksudnya?”
“Aku baru saja berselisih paham dengannya. Aku tinggalkan saja rumahnya. Males aku meladeni gadis manja seperti dia.”
“Subhanallah. Mengapa bisa seperti itu?”
“Itu karena dia lebih mengedepankan nafsu daripada cinta. Bukankah cinta seharusnya lebih memilih orang yang dicintainya hidup bahagia walau tidak saling memiliki?”
“IYa, kamu benar. Dia sudah menjadi budak cinta. Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Padahal belum tentu jalan yang ia tempuh adalah jalan terbaik.”
Rosa dan Risa menarik nafas dalam. Ikut menyesal terhadap apa yang dialami Sisy.
“Apakah kau akan hadir esok?’
Marissa menggeleng.
“Mas Adit bilang lebih baik tidak hadir. Meski sebenarnya tidak enak karena aku tahu mereka menikah, tapi gara-gara tidak diundang kok tidak datang. tapi Mas Adit bilang, dilarang datang seseorang yang tidak diundang.”
“Kau lebih tahu yang terbaik untuk kalian. O iya, apakah kau sedang hamil? Kelihatannya Pak Adit mencium perutmu dan mengatakan sesuatu pada ankmu.”
“Ya. aku memang sedang hamil dua bulan, jalan tiga. Alhamdulillah Mas Adit selalu memperlakukan kami semanis mungkin, meski ia sangat lelah setelah kerjanya.”
__ADS_1
“Apakah kau tetap ingin menjadi ibu rumah tangga?’
“Itu permintaan suamiku, Ros. Aku tidak mungkin membuat suamiku marah dengan melanggar apa yang dia perintahkan.”
“Berarti kau tidak akan menerima permintaan kampus untuk menjadi dosen tetap di matahari?”
Risa menggeleng.
“Masya Allah. Berarti ilmumu akan sia-sia belaka, RIsa? Apakah tidak sayang, ilmu yang sangat banyak dan beragam harus terbuang tanpa disalurkan pada semua orang?’
“Entahlah. Yang aku tahu, aku harus menurut perintah suami.”
“Aku akan mempertimbangkan untuk mengijinkan istriku menerima tawaran sebagai dosen, Rosa. Kalau dia memang lebih memilih untuk menularkan ilmunya, aku akan mengijinkannya mengajar, namun ya tetap pada batasan.”
“Alhamdulillah. Akhirnya Pak Adit luluh juga. Selamat ya Marissa.”
“Terima kasih. Semoga aku bisa melaksanakan amanah ini dengan maksimal.”
“Tidak boleh maksimal, Sayang. Kau harus maksimal di rumah. Di kampus hanya beberapa hari dan beberapa jam saja. Selebihnya kau tahu tugasmu.”
“Insya Allah, Mas. Aku akan mempertimbangkan bagaimana resiko yang akan aku terima terkait pekerjaanku di luar rumah.”
“Lho, kok. Tadi tidak diijinkan kau lesu, setelah diijinkan pun kau masih tampak sangat lesu, kenapa?’
“Karena semua mengandung resiko dan konsekuensi, Rosa.”
Mereka terus melanjutkan percakapan hingga adzan isya berkumandang merdu di masjid itu. Rosa dan Marissa kembali masuk ke dalam masjid. Sedang Aditya segera menghampiri Seno yang masih duduk di posisi semula. Duduk diam dalam cekaman kecemasan dan ketakutan. Angan dan akal sehatnya melarangnya menikah pada saat Sisy dalam keadaan hamil, namun mempertimbangkan bagaimana perlakuan Sisy
selama ini, ia tidak tega membiarkan anaknya lahir tanpa ayah.
“Assalamualaikum ,Mas Seno masih di posisi ini sejak tadi?” Seno memandang Aditya yang sudah
mulai duduk di sebelahnya.
“Waalaikum salam, Mas Adit. Aku enggan sekali pulang. Suasana rumah seperti api neraka. Panas karena aku tidak mau menemui calon istriku.”
“Mas Seno akan menikah?” Seno mengangguk. arah pandangnya ia tujukan pada Aditya, mencari tahu barangkali pertanyaan Aditya hanya untuk memancing suasana.
“BEsok pagi, Mas. Tapi aku tidak mencintainya.”
“Tidak mencintai kok harus menikah itu bagaimana solusinya?’
“Ceritanya sangat panjang. Namun aku sama sekali tidak tertarik untuk menceritakan semuanya.’
__ADS_1
“Baiklah. Jangan berusaha menceritakan apapun kalau itu membuat hati dan perasaan Mas Seno sakit.
“Sangat sakit, Mas. Aku harus memendam atau bahkan membuang semua harapan hidupku selama ini.”