
Dari jauh kulihat dokter Irawan melangkah menuju pintu mushola. Aku segera menyiapkan diri untuk memanggil dokter muda itu dan menyampaikan pesan Syamsa. Hatiku berdebar seolah akulah yang akan berkencan dengan dokter itu.
Kurapikan kerudungku, meski sebarnya aku tahu bahwa kerudung dan penampilanku tidak ada bagus-bagusnya sejak kemarin. Tetap kusut dan ditambah dengan aroma tubuhku yang seharian ini berkeringat.
Kulihat dokter Irawan sudah selesai mengenakan sepatunya. Dia berdiri dan mulai melangkah, semakin dekat dan dekat.
“Dokter “ panggilku pelan. Dokter muda itu berhenti lalu tersenyum seraya menghampiriku. Dia langsung menuju ke kursi yang sejak tadi kujadikan tempat untuk menunggunya. Nina hanya melihatku lalu asyik lagi dengan kegiatannya menangkap capung dan kupu-kupu.
“Wah, tempat ini sangat nyaman ya? Sejak kapan kau berada di sini ? Jangan-jangan setelah selesai sholat kamu memang sengaja menungguku untuk duduk bercengkerama denganmu ya ? “ godanya.
Aku tersenyum.
“Dokter benar. Setelah selesai sholat saya memang terus duduk di sini, memandang pemandangan yang tersaji di hadapanku, serta memperhatikan gerak gerik seseorang. Aku menunggunya tapi bukan untuk mengajaknya bercengkerama di sini” dokter Irawan mengerutkan keningnya.
“Lalu ?” sambungnya.
“saya memang menunggu dokter Irawan.” Ucapku tersipu. Sudah kupastikan dia akan menduga bahwa saya akan mengajaknya berkencan.
“Karena kau ingin mengajakku berkencan ?” godanya.
“Nah Lo. Benar kan ?” ucapku seraya menepuk dahiku. “ Dokter, saya menunggu anda bukan karena ingin mengajak anda berkencan dengan saya.” Sambungku.
“Lalu ? “ tanyanya penasaran.
“ Begini , Dok. Tadi saat saya duduk bersama Nina di belakang sekolah, Syamsa menghampiriku dengan menangis.” Aku diam sejenak. Mendengar nama Syamsa wajah dokter Irawan langsung memerah. Aku hanya bisa menunduk. Tak tahu harus berkata apa selanjutnya.
“Dok, “ panggilku pelan.
“Lanjutkan !” perintahnya tegas. Aku segera menarik nafas panjang sekedar untuk menghilangkan kegugupanku.
“Syamsa menyuruhku untuk memberitahu kalau selepas ashar ini, dia menunggu anda di taman belakang sekolah. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan katanya.” Sekali lagi aku menarik nafas panjang. Lega rasanya setelah menyampaikan amanah. Sejenak kutunggu dokter Irawan yang masih mematung.
“Baiklah.” Katanya.
“Alhamdulillah.” Ucapku mengucapkan syukur.
“Tapia da syaratnya.” Sambungnya pelan. Aku memandang wajahnya untuk memastikan bahwa dokter itu yang bicara.
“Apa syaratnya? Nanti kusampaikan pada Syamsa.” Sahutku.
“Kau harus mau menikah denganku.” Sahutnya.
“A . . apa ? Aku ? Menikah ? Dengan dokter Irawan?” berkali-kali kalimat tanya pendek kuajukan dan berkali-kali pula dia menganggukkan kepalanya.
“Kalau kau menolak aku tak akan menemuinya.”
“Aku tidak mau.” Ucapku tegas.
“Kalau kau tidak mau mengapa aku harus datang ke taman belakang? Taka da alasanku menemui dia di sana.” Sambungnya. Dokter Irawan berdiri lalu berlalu meninggalkanku. Aku tak ingin menyusulnya.
***
Waktu berlalu.
Aku dan Nina segera berjalan menuju dapur. Aku tak mau kembali k epos kesehatan bukan karena tidak kasihan pada Nina. Aku sengaja menghindar agar dokter Irawan tak menumpahkan kekesalannya padaku. Tak ada alasan bagiku untuk menerima persyaratan yang dia ajukan karena aku merasa tak berkepentingan dengan urusan mereka. Aku tak ingin menggadaikan masa depanku karena bagiku pernikahan bukanlah sebuah acara yang bisa dijalankan begitu saja tanpa rencana.
Sejenak aku merenung. Kusapukan pandanganku menuju semua sudut dapur. Kucari sosok Nina namun nihil. Aku tak mau kehilangan dia hari ini. Langkah kuayunkan untuk memastikan bahwa Nina dalam kondisi yang aman.
Kulangkahkan kakiku keluar dapur umum. Kuamati satu persatu anak-anak di halaman, namun tak kutemukan anak yang sedang kucari.
“Kau mencari siapa, Ris ?” Lina mengahmpiriku. Dia menatap wajahku lalu pandangannya mengikuti arah pandanganku.
“Kau tahu dimana Nina ?” tanyaku dengan panik. Lina mengangguk.
“Tadi pamannya datang dari Jakarta. “
“Terus, sekarang dimana mereka ?”
“Di kelas delapan A.” Sahut Lina santai.
“Aku tidak tahu dimana ruang itu, Lin. Kau bisa mengantarku ke sana ? “ Lina menarik tanganku dan mengajakku mengikuti langkahnya. Kelas delapan A, berada di ujung bagian selatan. Persis berseberangan dengan mushola. Aku tertegun. Di kelas itu seperti tidak ada suara Nina.
“Sepi, Lin.”
“ Tadi mereka di dalam. Nina sedang tidur bersama bibinya.” Sahut Lina. “Yuk kita cari saja, jangan utus asa, Ok?” rayunya. Aku hanya mengangguk sambil terus melangkah menuju ruangan berukuran Sembilan kali tujuh meter.
Kuketuk pintu sejenak dan kutunggu respon dari dalam ruangan.
__ADS_1
“Masuk!”
Ternyata Lina benar. Ada orang di dalam. Aku masuk dan kulihat ada dua laki-laki dan satu perempuan. Nina sedang berbaring di meja yang dijajar dan beralaskan selimut.
“Maaf, saya mendengar bahwa paman dan bibi Nina datang. Makanya saya ke sini untuk memastikan kebenarannya.”
Samsul, kepala desa Kemanukan memandang Marisa dan menyilakannya duduk.
“Begini Mbak Risa, dari kemarin, ini Mas Udin dan ini istrinya. Mereka baru datang dari Jakarta. Mereka bermaksud untuk membawa Nina bersama mereka tinggal di Jakarta.” Pak Syamsul menjelaskan.
“ Iya Mbak. Saya sudah mendengar bahwa selama musibah ini, Mbak Risa yang mengasuh keponakan saya. Saya kasihan pada Mbak Risa dan Nina. Mbak Risa seorang mahasiswa yang tentu saja mempunyai banyak tugas dan urusan. Sedang Nina, dia masih sangat kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian. Tentu saja sebagai keluarga satu-satunya, tanggung jawab kepengasuhan ada di tangan saya.” Paman Nina menjelaskan. Aku hanya mengangguk. Mataku mulai memanas. Ada sedih yang segera menyelimutiku. Ingin rasanya kukatakan pada mereka kalau aku sanggup merawat Nina, tapi kuurungkan karena aku merasa tidak punya apapun atas Nina.
“Mbak.” Paman Nina memanggilku.
“Sa . . . saya pak.’ Sahutku.
“Mbak Risa boleh menemui Nina kalau suatu hari nanti datang ke Jakarta, atau Mbak Risa bisa menemui Nina kapanpun kalau kangen Nina.” Ucapnya. Dia menarik nafas dalam seolah merasakan apa yang sedang kurasakan.
“Em . . ti . . . tidak apa-apa, Pak. Saya tahu Nina masih sangat memerlukan bimbingan dari kerabatnya. Saya ikhlas karena itu yang seharusnya kulakukan. Saya tidak akan egois, menang sendiri dengan segala keputusan saya. Insya Allah saya akan datang kapanpun Nina menghendaki.”
“Terima kasih, Mbak Risa. O iya, sekalian saya akan memberitahu kalau sore ini kami akan membawa Nina, karena kebetulan kami memang tidak ada waktu libur. Kami sudah pulang beberapa hari lalu, ketika longsor pertama terjadi dan sekarang tidak bisa tinggal lama di sini.”
Aku menunduk tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Ini mungkin kehilangan kedua yang kualami, setelah aku kehilangan Qomar karena ia jatuh cinta pada Syamsa.
Kualihkan pandanganku kea rah Nina yang masih tidur di meja. Ingin sekali kurengkuh tubuhnya dan tenggelam dalam suasana sedih karena perpisahan yang akan segera terjadi namun kuurungkan. Aku tak ingin mengusiknya karena sebentar lagi mereka akan melakukan perjalanan jauh.
Pukul tujuh, Nina dan paman serta bibinya berangkat. Nina masih saja minta kugendong. Tangis tetap setia menemani kami yang akan berpisah satu sama lain, tidak tahu kapan lagi bisa berjumpa.
“Mbak Risa . . . .” ucap Nina di sela-sela tangisnya.
“Ada apa sayang ?”
“Mbak Risa harus telpon aku tiap hari ya!” pintanya.
“ Insya Allah pasti Nina. Mbak akan menelpon Nina setiap hari. Atau kalau Mbak lupa, Nina yang menelpon Mbak Risa ya.”
“Iya Mbak. “
“Sudah, ya Nina. Paman dan Bibi sudah menunggu di luar. “ aku segera mengantar Nina ke mobil yang terparkir dihalaman depan. Kusodorkan buku catatan yang sudah kuisi dengan nomor teleponku beserta alamat. Dan tak lama merka pergi dengan iringan doa dan air mataku.
"Kita pulang Ris. Kita tidak mungkin menginap di sini. Kalau kondisimu memungkinkan, kita bisa kesini lagi esok.” Aku segera mengiyakan. Lina berjalan menjauhiku, menuju ruang kesehatan untuk mengambil tasku.
Setelah beberapa menit, aku dan Lina kembali ke kos dengan vario Lina. Jam masih menunjukkan pukul delapan, kurasakan pusing masih menggelayut manja di kepalaku. Kubaringkan tubuhku di dipan berukuran seratus duapuluh kali seratus enam puluh. Kupejamkan mata sekedar untuk mengurangi pusing karena sorot lampu tepat mengenai wajahku.
“Kamu masih pusing, Risa? “ tanya Lina cemas. Lina memang sengaja kusuruh untuk menemani tidurku mala mini, karena kami berencana untuk datang lagi esok sehabis subuh ke camp pengungsian.
“Iya, Lin. Tapi semoga setelah aku tidur, pusingku bisa hilang.” Sahutku pelan.
“Kita harusnya makan dulu, Ris. Pola makan kita menjadi sangat buruk setelah menjadi relawan di Kemanukan dan sekolah shelter itu.”
Ting ting ting
Terdengar suara mangkuk di pukul.
“Bakso” kami berteriak berbarengan. Aku dan Lina saling pandang. Lalu tertawa bersama. Di luar masih hujan, namun kami tetap harus keluar untuk memenuhi hajat perut kami.
Lina segera berlari keluar untuk memanggil tukang bakso. Aku melangkahkan kaki menuju kamar MAiluda yang sejak kepulanganku belum kutemui.
“Da . . .” aku memanggil Maulida seraya mengetuk pintu. Sepi untuk sesaat, namun akhirnya setelah beberapa kali panggilanku, ada jawaban dari dalam.
“Ada apa, Ris?” Kulihat Maulida yang berdiri di hadapanku. Dia kelihatan baru bangun tidur.
“Kau pulang mala mini, Ris ?” tanyanya. “ Saya kira kamu menginap di sana.” Tambahnya. Dia segera meletakkan selimutnya lalu berjalan ke arahku. Kami duduk di ruang tengah. Maulida memandang jam lalu berteriak
“Astagaaa”
Aku tak tahu apa yang telah terjadi padanya sehingga ia sangat histeris.
“Ada apa ?”
“Ini benar jam delapan ?” tanyanya. Aku mengangguk mengiyakan lalu berjalan ke dapur untuk mengambil mangkuk untuk mengganti posisi mangkuk tukang bakso.
“Ini jam delapan pagi apa jam delapan malam ?” tanya Maulida masih dengan wajah kebingungan.
“Kamu kenapa sih, Da?” tanyaku seraya menyelidik. Dia benar-benar kebingungan.
“Jawab dulu.” Bentaknya.
__ADS_1
“Malam.” Sahutku singkat.
“Oh my God”
“Ada apa ?” Lina yang baru masuk membawa nampan berisi dua mangkuk bakso bingung dengan situasi yang sedang kami hadapi.
“Aku belum asar.” Sahut MAulida.
“Apa ?” saya dan Lina langsung melotot.
“Terus kaau ini jam delapan pagi, berarti kamu meninggalkan asar, maghrib, isya dan subuh maksudmu ?” tanyaku gemas. “Memangnya kamu tidur mulai jam berapa ?” sambungku.
Maulida hanya menggaruk kepalanya. Dengan malu-malu dia berkata “ dari habis duhur.”
“Apaaaa?” sekali lagi aku dan Lina berteriak. Wajah Maulida memerah.
“Terus bagaimana aku ? “ tanyanya kebingungan.
Kami berdua mengangkat kedua tangan menyatakan tidak tahu.
“Terserah bagaimana caramu sekarang ambil wudhu, sholat!” tegasku. Maulida berlalu, aku menyuruh Lina untuk membelikan satu mangkuk lagi untuk Maulida.
Lima belas menit kemudian, Ida datang dan langsung duduk mengambil posisi untuk makan. Tanpa berfikir panjang, dia ambil bakso di mangkuk menambahkan sambal, saos dan kecap. Lima menit kemudian, dia menghabiskan makanannya dan menumpuk mangkuknya dengan mangkukku dan Lina lalu membawanya ke dapur.
“Terima kasih baksonya ya,” ucapnya sambil sekali lagi duduk ditempat yang baru ia tinggalkan.
“Sama-sama.” Lina yang menjawab.
“Bagaimana dengan kondisi pengungsian ? Mengapa kalian pulang ?” tanyanya. Wajahnya tetapmemandang kami penuh selidik.
“Pengungsian dalam keadaan aman terkendali.” Sahut Lina. Mendengar jawaban Lina, Maulida langsung tertawa.
“Mengapa jawabanmu seperti bawahan yang lapor pada komandan ?” katanya masih dengan tawanya.
Aku dan Lina saling pandang tak tahu apa yang menjadi standar bawahan dan komandan karena kami biasa melaporkan hal itu satu sama lain di resimen.
“ Ya . ..ya . . ya, aku tahu. Kalian semua kan resimen. Aku harus paham.” Sambungnya. Tapi tidak begitu juga kale kalau di rumah. “
“Akan kami usahakan.” Aku dan Lina bicara bersama tanpa sengaja. Sekali lagi MAulida tertawa.
“Kalian lucu banget. Kompak banget, dan ah . . . entahlah.” Kata Maulida sambil meraih remote tv. Sejenak pemandangan di hadapan kami berubah, televisi menayangkan evakuasi korban longsor da nada talkshow dengan camat kecamatan B serta bupati.
“Ihh apaan sih kamu, Da? Dimana letak lucunya coba?” tanya Lina marah.
Mendengar Lina bicara dengan suara keras, Ida langsung mengangkat tangan tanda menyerah.
“Ok, kita bahas yang lain. Kalian kan belum jawab mengapa kalian pulang ?” tanyanya polos.
“Aku pusing, Da. Tidak mungkin saya tidur di sana. Takut menambah beban. Lebih baik hari ini tdur di rumah dan esok ke sana lagi.” Sahutku pelan. “ Tidak ada hal penting di kampus kan ?” sambungku.
“Ada.” Ucap Ida cepat. “ Ada dosen baru di kampus.”
“ O iya ? killer tidak ? “ tanya Lina penasaran.
“ KAmu tidak tanya dosennya laki-laki apa perempuan ?” goda Ida genit.
“Kalaupun laki-laki pasti sudah tua kan ?” sahut Lina sambil memonyongkan bibirnya.
“Jangan salah ya. “
“Memangnya dosen barunya cute banget ya Da ?” tanyaku datar.
Aku tahu kalau Ida sudah membuat teka-teki seperti itu pasti ada hal istimewa yang ingin dia bicarakan pada kami.
“Datang saja ke kampus. “suara Ida terdengar kesal. “Tapi jangan menyesal kalau kau tidak bakalan menemui dia di fakultasmu.” Sambungnya.
“ Memangnya kenapa ? “ tanyaku penasaran.
“ Dia kan dosen fakultas teknik. Ha ha ha”
Maulida berlari menghindari cubitan kami. Dia memang suka sekali menggoda dan sejak dulu sikapnyalah yang membuatku terhibur.
"Lalu kalau dia bukan dosen fakultasku mengapa kau memamerkan padaku?" tanyaku pura-pura marah.
"Aku hanya ingin memberitahu mu. Barangkali dengan mendengar ada dosen baru kamu langsung ingin menengok kampus. Masa sudah satu Minggu tidak kuliah kamu santai tidak ada rasa bersalah gitu?"
"Maulida aaa"
__ADS_1