
Tujuh hari menginap di rumahku, akhirnya keluargaku mengantarku ke tempat resepsi pernikahan kami di rumah Aditya. Ada yang aneh dengan tempat resepsi yang katanya berada di rumah keluarga Pak Mustafa. Namun aku merasa ada yang ditutup-tutupi oleh Aditya dan pihak keluarganya. Mobil yang mengantar kami berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat megah. Bangunan yang sering kulewati ketika aku berolah raga di alun-alun dan mampir di masjid Agung di Kauman.
Rumah yang berbeda dengan rumah yang kukunjungi saat itu. Kondisi yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Kupandang Aditya suamiku, dan yang kulihat hanya diam saja tanpa bermaksud menjelaskan tentang kebingunganku.
“Apakah engkau sedang membohongiku Kak ?” akhirnya kuputuskan untuk membuka suara meminta konfirmasi.
“Maksud Dik Risa ?” Dia nampak sangat datar. Tidak ada rasa bersalah sama sekali. Melihat dia yang diam aku tak ingin melanjutkan debatku bukan karena aku maklum tapi karena ibu mertuaku sudah menjemputku. Dia memelukku dan mencium pipi kanan kiriku.
“Selamat datang di rumah kami, Sayang.” Ucapnya tanpa merasa bersalah. Aku hanya mengangguk dalam diam. Tak ingin banyak bicara apalagi bertanya.
Aku tak pernah datang ke rumah ini sebelumnya, so . . . aku hanya bisa diam, dan mengangguk pada tamu-tamu yang sudah berdiri menyambut kedatangan kami.
Amazing !
Semua dekorasi disesuaikan dengan situasi di Gebangrejo, tempat kami berkenalan waktu itu. Tempat resepsi dibuat terasering. Lengkap dengan miniatur pohon pinus dan batu besar. Foto-fotoku dengan berbagai pose tertata apik di sana. Aku baru tahu kalau saat-saat kedatanganku di sana diabadikan olehnya, dari saat kedua tangan kurentangkan sampai dengan kegiatanku mencuci muka tak luput dari jepretannya dan semua nampak alami dalam momen resepsi pernikahanku, bersama suamiku di awal pertemuan di pasang melengkapi dekorasi dan semua nampak sangat indah. Aku tak tahu apakah ini rekayasa atau nyata adanya.
Keluargaku berada di tempat paling atas, sebuah bangunan mirip SMP 2 Gebag rejo sehingga aku tidak bisa memandang aktivitas mereka. Yang ada di hadapanku adalah manusia baru dan benar-benar asing bagiku. Tak ada satupun tamu yang kukenal. Dan ini membuat jantungku berdegup kencang tak karuan.
“Adik masih ingat suasana ini ?”
“Ada apa dengan suasana ini, Kak ? Adakah yang istimewa di mata Kak Adit ?” tanyaku ketus.
“Sangat.”Hanya itu jawabannya dan aku tak bisa membuat pertanyaan baru. “ Setiap hari dalam setiap shalatku, kumunajatkan kepada Ilahi agar dia mengirimmu ke Gebang rejo tepat sebulan sejak hari lamaranku. Setiap hari dalam shalatku, kumemohon pada Yang Maha Kuasa, untuk tetap menjagamu demi diriku. Setiap hari usai subuhku, kukayuh sepedaku ke Gebang rejo, dengan selalu menyebut namamu, dengan harapan agar kau benar-benar muncul di hadapanku. Kau benar-benar telah menawanku di tempat ini. “
“Kok bisa ya ? Padahal kala itu aku sangat ketakutan ketika kutemukan seorang laki-laki duduk di atas batu. Saat aku sedang mengagumi pemandangan baru. Kupalingkan wajah berlawanan arah, dengan harapan kau Kakak tetap duduk di batu, yang menandakan bahwa Kakak bukanlah hantu, tapi aku keliru. Saat kulihat batu tempat Kakak duduk, tak kulihat Kakak di sana sehingga membuat merinding bulu kuduk dan akhirnya kusimpulkan Kakak adalah hantu.”
“Benarkah ? Dan suasana ini tidak mengenakkanmu sekarang ?” Tanya Aditya khawatir.
“Aku syok kala itu. Sama sekali tak terbersit olehku akan adanya seorang asing diantaraku. Karena tempat itu benar-benar tempat baru yang kutemui dalam hidupku. Tempat sepi dan benar-benar sepi. Aku hampir saja lari ketika Kakak mendatangiku. “
“Pantas kau menolak ketika kuajak turun ke sungai lagi, padahal jelas sekali kulihat sebelumnya kau sudah melepaskan sandal hendak turun. Kau urungkan niatmu, dan akhirnya kau sibuk dengan kameramu lalu kau minta diri padaku. iya kan ?”
“Tidak ada alasan bagiku untuk berlama-lama di sana. Tapi . . . mengapa Kakak bisa mengabadikan momen itu sementara aku tak menyadarinya. “
__ADS_1
“Adik takut walaupun ada Kakak ya ? sebenarnya kita tidak hanya berdua. Kakak sudah sangat terpesona pada Adik, sejak pertama kali aku menjadi dosen di Universitas Matahari, aku terpesona melihat seorang mahasiswi sedang asyik masyuk di mushola seorang diri. Kesederhanaanmu menawanku dan sejak saat itu semua aktifitasmu saya pantau dan aku mengajak satu temanku untuk mengambil gambar-gambar itu.”
“justru”
“Justru apa ?”
“Justru karena Kakak aku jadi tidak betah. Coba kalau aku sendiri, aku pasti sudah turun dan menikmati air, mencuci muka atau yah apapun. “
“Bisa mandi juga ya ?’
“Ih, nggak lah kalau mandi. Malu kali. Mandi di tempat terbuka begitu.”
“Jadi istriku yang cantik ini takut padaku ya ? Aku kok tidak tahu ya. Kalau tahu Adik takut, aku pasti tidak mendekat. Hanya akan kunikmati wajahmu dari jauh. He . . .he . . .he”
“Dan kalau Kakak tidak mendekat berarti kita tidak pernah berkenalan ya ?”
“Masih ada banyak waktu sebenarnya kan ?”
“Iya, benar. Banyak waktu karena setelah itu dimana-mana kita bertemu.”
“ O . . .iya ? “ Aku terkejut luar biasa. “Hatiku tersanjung mendengar kalimat suamiku hari ini. Kulupakan sejenak kekesalanku. “Terima kasih, Kak. Semoga kita bisa bersama dunia dan akherat. ”
“Amin”
“Kakak tahu mengapa aku ketakutan saat itu ?”
“Karena kau mengira aku hantu.” Jawab Aditya ketus. Aku hanya tergelak.
“Salah. “
“Terus ?”
“Karena aku tak percaya bahwa laki-laki yang selalu muncul dalam mimpiku beberapa malam benar-benar ada.”
__ADS_1
“Kau memimpikanku setiap malam “ Aditya takjub. “Bahkan sebelum kau mengenalku ?” aku mengangguk.
“Masya Allah. Inikah cara Allah untuk mengenalkanku pada istriku ? “ Aditya memegang tanganku lalu dia menyimak pembawa acara mengatur jalannya resepsi. Wakil dari keluargaku sedang menyerahkan aku pada pihak mertuaku. Dia mengatakan bahwa aku masih bodoh, belum bisa menjadi istri karena ini adalah pengalaman pertamaku. Dia juga mengatakan bahwa keluargaku memohon kepada pihak keluarga Suamiku untuk menerimaku seperti anak mereka sendiri dan memohon agar mau membimbingku.
“Kau menyimak semuanya ?”
“Ya. Pak Syamsu benar. Aku masih bodoh, belum punya pengalaman untuk berperan menjadi istri dan menantu.”
“Tentu saja aku senang sayang. Kau belum berpengalaman sama sekali. Bahkan kau masih sangat kaku padaku. Masih malu-malu dan itu luar biasa. Banyak gadis yang sudah punya banyak pengalaman di ranjang, sedangkan istriku, . . . “ Aditya diam. Dia tak melanjutkan topiknya karena kami sama –sama tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kami. Kucubit pinggangnya dan dia menjerit. Jeritnya mengundang semua hadirin untuk menyaksikan kami yang sedang bercanda di pelaminan kami.
“ Memang benar bapak- bapak dan ibu-ibu. Kalau ada lagu yang mengatakan senang menjadi pengantin baru, itu terbukti benar. Sekarang saja sedang kita saksikan kedua mempelai sedang saling mencubit. Tentu kita tidak tahu apa yang membuat mereka bercanda seperti itu.”
Aditya memandangku yang sedang tersipu malu mendengar ceramah ustad yang sedang memberi kami nasihat pernikahan.
Pukul dua belas acara selesai. Saatnya kami berfoto bersama keluarga. Hampir satu jam kami habiskan untuk acara foto bersama sampai akhirnya kami memutuskan untuk segera masuk ke rumah untuk menunaikan shalat duhur.
Aditya membimbingku masuk ke sebuah kamar yang sudah dihias. Kamar berukuran besar yang aku yakin ini kamar suamiku. Rumah yang kumasukipun berbeda jauh kondisinya dengan kondisi rumah pertama yang dikenalkan Bu Meisya mertuaku.
Setelah melepaskan semua accessories dan baju pengantin, aku segera mengambil wudhu dan berjamaah dengan suamiku.
“Tolong jelaskan padaku mengapa rumah yang dulu Kakak perlihatkan dengan yang sekarang berbeda!” Pintaku setelah kami menyelesaikan shalat.
“Itu ide kami semua, aku, nenek, bapak dan ibu. Bukan tanpa alasan sayang. Kami terpaksa melakukan juga padamu. Kami ingin menguji perasaanmu setelah melihat kondisi rumah itu, apakah calon istriku mundur atau tetap mencintaiku.”
“Tapi itu keterlaluan, Kak. Aku benci dengan semua itu. Seolah aku mencintai Kakak hanya karena harta semata.”
“Itu karena istriku tidak pernah berfikir negative tentangku. Tapi aku punya pengalaman yang menyedihkan sebelum menikah dengan Dik Risa.” Aditya menghela nafas berat.
“Adakah yang pernah membuat suamiku sakit hati sebelumnya ?”
“Beberapa gadis yang kucintai meninggalkanku setelah kubawa ke rumah itu. Ada satu dari mereka yang dengan terang-terangan mengejekku. Dia mengatakan bahwa tidak sudi menikah dengan seorang miskin sepertiku. Sudahlah. Mulai sekarang, belajarlah untuk menerima kondisi ini. Ini rumah kami yang sebenarnya. “
“Terus, rumah yang kukunjungi kemarin ?”
__ADS_1
“Itu rumah Bik Tijah, salah satu pembantu kita.” Kulihat Aditya meletakkan perlengkapan shalatnya di kasur berukuran besar, lalu mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.
Dengan pelan ia menarik tanganku dan mengajak tidur siang ini.