Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Ibukota 3


__ADS_3

Hari ketiga kegiatan Lomba,


Di kamar berukuran tujuh kali sembilan meter, aku mencoba untuk mengumpulkan hasil jepretan kami berdua dalam sebuah file di laptop.


“Kau tak berbagi kebahagiaanmu dengan kekasihmu, Risa ?” sapa Mira sambil memandangku. Mata sayunya tak pernah melepaskan pandangannya dariku sehingga aku merasa jengah.


“Aku tak punya kekasih, Mita. “ sahutku pelan. Pertanyaannya mengingatkanku pada seseorang yang telah menyayatkan pedangnya di ulu hatiku. Menciptakan luka yang menganga lebar, namun aku tetap berusaha untuk mengobatinya. Sekali lagi bayangan Qomar menyusup ke angan-angan, namun segera kutepis.


“Gadis secantik Marissa tidak punya kekasih ? Masa iya ?” sahutnya tak percaya. Bola matanya membulat seakan-akan ini adalah berita spektakuler yang menakjubkan.


“Memangnya salah ya kalau gadis cantik tak punya kekasih ?” gumamku pelan. Dari ekor mataku, kulihat Mita tersenyum lantas menggeleng pelan.


“ Cuma aneh saja. Di kampusku hampir semua mahasiswa berpacaran. Mereka akan bilang kuno kalau ada mahasiswa jomblo.”


“Mita juga ?” tanyaku sambil tetap memandang kamera. Dia tersipu sambil sesekali melipat ujung bajunya dan akhirnya tertawa.


“Aku . . . pacarku sudah bekerja,” katanya. Kupandang wajahnya yang memerah. “Kalau saya belum laku, Mit “ Ucapku lirih. Kubayangkan masa-masa indah bersama Qomar saat latihan, saat Qomar memujiku sebagai gadis cantik yang mandiri, hatiku tersanjung dan angan-anganku melambung tinggi. Detak jantungku berebut untuk berdetak menunjukkan detak tercepatnya di dadaku. Apalagi saat dia mengenalkanku pada kakaknya padaku. Waktu itu aku baru saja menyelesaikan dhuhurku, Qomar menungguku di serambi masjid kampus. Ketika dia melihatku keluar masjid, tangannya mengambil lenganku dan dituntunnya aku menuju kakaknya yang sedang duduk di markas. Dia memaksaku menjabat tangan perempuan yang menjadi tamu resimenku. Sekali lagi hatiku tersanjung. Aku hampir mengingat semua peristiwa bersamanya, Saat itu aku berfikir bahwa suatu hari nanti Qomarlah yang akan menjadi imam keluarga kecilku. Namun segera kuhempaskan. Aku tahu haram hukumnya mengingat dan membayangkan suami orang. Kemarin, saat aku hendak datang ke Jakarta, sudah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, dia menikahi Syamsya, teman seangkatannya yang menjadi bunga kampus dan selalu diperebutkan setiap laki-laki. Sekali lagi kuhela nafasku dalam. Perlahan kurasakan perih kembali luka yang baru beberapa hari ini menyerang. Berdarah dan semoga tak bertambah parah.


“Bilang tidak punya pacar kok melamun. “ goda Mita. Aku tersenyum. Lalu pelan kugelengkan kepala.


“Orang yang kucintai baru saja menikahi seorang gadis cantik korban tanah longsor di kotaku, Mita. Aku tak ingin mengingatnya.” Ucapku lirih. Kulempar pandanganku ke laptop. Dari ujung mataku, kulihat Mita sedang memandangku trenyuh. Aku tak ingin memandangnya dan melihat penyesalannya. Perlahan aku berdiri dan berjalan menuju tempat tidur untuk merebahkan tubuhku, menghilangkan penat di otakku. Waktu istirahatku masih empat puluh lima menit. Dan aku ingin memanfaatkan waktuku dengan sekedar untuk membuat pegal di punggungku.


“Maafkan aku, seharusnya tak mengusik rahasiamu.” ucapnya sambil memegang pundakku lalu duduk di bawah. Aku tak ingin terlalu banyak berfikir kalau saja tak ada pemberitahuan bahwa aku dimasukkan dalam grup relawan Kemanukan. Foto-foto proses pencarian korban bermunculan. Kuunduh satu persatu hingga semua foto memenuhi galeri handphoneku. Kuperlihatkan semua pada Mita teman baruku dan dengan cepat Mita membagi ke grup pencinta alamnya di Palembang.


Aku hampir saja menutup whatsapp kalau saja tak kutangkap sebuah foto laki-laki berwajah tirus berbaju biru. Dia sedang duduk di bawah pohon mahoni bersama dengan dua rekannya yang semua berseragam biru. Ku zoom foto itu, sekali lagi kulihat wajah tirus berbaju biru dengan senang. Ingin sekali kunikmati wajahnya kalau saja aku tak tahu bahwa semua gerak-gerikku diawasi oleh Rakib Atid malaikat pencatat amal baik dan buruk yang dilakukan oleh manusia. Ingin sekali kulanggar larangan Illahi, demi melihat foto itu, menikmati tirus wajahnya, dan memenjarakannya dalam lubuk hatiku yang paling dalam, namun kuurungkan. Aku masih memenangkan pertarungan itu sehingga kupastikan syaitan yang menggodaku menangis, meraung-raung menyesali kekalahannya denganku sore ini.


“Astaghfirullah,” desisku.


“Semua foto menunjukkan betapa berat ujian mereka dalam lokasi, Risa. Aku ikut berbela sungkawa, semoga semua korban mendapat ampunan dariNya dan yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amin.”


“Amin. Terima kasih. Kalau ada waktu silahkan singgah di Purworejo esok bersamaku.” Mita diam. Merenungkan sebuah jawaban yang mungkin pantas ia lontarkan. Sejenak ia menimbang, lalu akhirnya ia bersuara.


“Kalau saja tidak ada acara di rumahku esok, aku pasti datang ke kotamu. Kakakku akan menikah. Banyak sekali persiapan yang harus kami lakukan. Maaf sekali Risa, aku tidak bisa memenuhi undanganmu. Sebetulnya ingin sekali aku ikut dan melihat sendiri kondisi longsor itu. Mumpung saya sudah di Jawa.”


“Tidak apa-apa.” Sahutku sambil memejamkan mataku.


***


Siang ini, kami keempat puluh peserta duduk dalam diam, menanti datangnya narasumber untuk materi selanjutnya. Kulihat ponselku sejenak, lalu kumasukkan saku gamisku karena tidak ada chat penting. Kulihat Pak Junaidi menghampiriku.


“Bagaimana kondisimu hari ini, Risa ?” sapa Pak Jun sambil menarik kursi dan duduk di hadapanku.


“Alhamdulillah baik, Pak. “


“Bapak berharap semoga kau menjadi yang terbaik dalam pengumuman esok. Hari ini kita akan mengikuti sarasehan selama satu jam dan selanjutnya, panitia akan menyediakan bus untuk kita bisa melakukan outbond. Kegiatan di luar yang katanya akan memberikan kesempatan kepada peserta dan pendamping untuk berkeliling ibukota. Kau bisa menyiapkan diri sejak sekarang. “


“Apakah benar begitu, Pak ?” ucapku senang. Sudah lama aku ingin berkeliling ibukota. Aku ingin sekali menghubungi Nina, namun kuurungkan. Aku tak mau merepotkan dia dan keluarga. Mereka baru saja sampai dan aku juga tak punya banyak waktu untuk menghiburnya.


***


Usai sarasehan, seluruh peserta turun ke loby dan satu persatu kami keluar untuk mengikuti acara outbond keliling ibukota. Bus wisata yang sudah menunggu kami segera melaju setelah semua masuk. Aku duduk di sebelah seorang mahasiswa laki-laki karena Mita terpaksa duduk bersama mahasiswa se daerahnya.


“Mbak Risa dari Jawa Tengah ? “ sapanya ramah. Kepalaku mengangguk. Kulihat dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku. Seperti biasa aku hanya bisa menyatukan dua tanganku di depan dada. Dia paham. Lalu meminta maaf.


“Maaf !”

__ADS_1


“Tidak masalah, Mas.” Sahutku.


“O iya perkenalkan saya Bima. Saya dari Universitas PP di Jakarta. “ katanya.


“Saya Marissa dari Universitas Matahari Jawa Tengah.”


“Mbak asli Jawa Tengah ?”


“Saya asli Yogyakarta. Tapi karena kebetulan diterima di Matahari, saya memilih di Matahari.”


“Sekarang semester berapa di Psikologi ?’


“Tujuh. “


“Saya semester Sembilan,” sambungnya.


“Mas Bima jurusan apa ?”


“Saya Teknik Mesin. “


“O” hanya itu yang bisa kukatakan. Aku duduk dengan diam. Setelah beberapa saat, kami sampai di sebuah museum. Museum besar yang menampilkan replika ibukota, zaman dulu, beserta dengan semua kebudayaannya. Setelah selesai mengelilingi ibukota selama hampir lima jam, panitia mengajak kami untuk makan malam di restoran yang menyediakan seafood. Malam inagurasi digelar di sini.


Aku yang kehilangan jejak Mita hanya bisa diam bersama dengan Bima dan teman-teman yang lain. Kulihat Bima selalu menyediakan dirinya di dekatku. Aku tak keberatan karena disekeliling kami banyak juga mahasiswa.


Pukul sepuluh malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum kembali esok hari.


***


Hari keempat adalah hari penentuan perjalanan lomba. Satu medali emas kupersembahkan untuk kampusku. Kukantongi dua puluh juta rupiah, sebuah laptop dan piagam penghargaan serta tiket belajar tiga bulan di sebuah universitas ternama di Negara B. Panitia juga mengganti tiket pesawat pulang pergi kami. Pembina pendamping juga mendapatkan laptop dan uang dari panitia sebesar lima juta rupiah. limapuluh persen kuniatkan untuk membantu pengungsi. Ini memang bukan yang pertama, namun hatiku tetap merasa bahwa penghargaan kali ini adalah kado terindah untukku setelah aku merasakan sakit hati. Setelah acara pemberian medali, kami kembali ke tempat kami menimba ilmu di Ahmad Dahlan. Tempat yang sangat kurindukan. Tempat yang meski baru empat hari kutinggalkan, namun tetap melambai mengharap kami segera pulang.


Aku dan Pak Junaidi duduk di loby hotel. Kami masih mendapatkan jatah makan siang sehingga sambil menunggu Maulana dan Bu Merty datang, Pak Jun memintaku untuk mengambil makan. Berdua kami makan di meja yang sama.


“Bagaimana rasanya menjadi juara nasional ?” tanya Pak Jun sambil tetap mengunyah makanannya.


Saya tidak langsung menjawab. Setelah makanan kutelan, akhirnya aku membuka suara.


“Walau ini bukan yang pertama, rasanya hati ini tidak bisa melukiskan kebahagiaan, Pak. “


“Kau sudah memberikan kabar ke ibumu ?” tanya pak Jun sambil menyudahi makannya. Aku hanya bisa menggeleng. Hampir saja aku lupa menyampaikan kabar bahagia ini ke seluruh keluargaku.


Setelah makan selesai, aku mengirim beberapa gambar penerimaan medali ke ayah, ibu dan kedua kakakku.


Mereka langsung menelponku, namun tiba-tiba ponselku yang sudah sejak tadi pagi menerima panggilan dari berbagai nomer mati. Aku lupa menambah daya baterai.


“Kenapa ?” Pak Junaidi memandang ponselku yang mati.


“Saya lupa tidak ngecas tadi pak.” Ucapku malu.


“Risa! Aku pulang dulu ya !” Mita menghampiriku. Dia memeluk dan mencium kedua pipiku sambil haru. Dia menyerahkan sebuah amplop putih padaku.


“Apa ini ?” tanyaku penasaran.


“Tolong sampaikan amanah ini. Uang ini sjumlah sepuluh juta rupiah, dikumpulkan oleh seluruh peserta lomba beserta pendamping. Sampaikan salam kami semoga ini bisa bermanfaat.”


“Alhamdulillah, terima kasih, Mita. Insya Allah akan segera saya sampaikan ke panitia yang ada di pengungsian. Atas nama mereka, kami mengucapkan terima kasih.”

__ADS_1


“Sama-sama ya. Oh iya selamat atas prestasi yang sudah kamu raih. Kamu memang luar biasa.” Sambungnya. Pesawatku dua jam lagi berangkat. Aku minta maaf karena harus berangkat lebih dulu. Assalamualaikum”


“Waalaikum salam warahmatullah, semoga Allah mempertemukan kita diacara lain dan di kesempatan lain.”


“Aamiin”


Kuantar Mita menuju ke luar hotel, berkumpul dengan beberapa teman yang sudah sejak tadi menunggu. Kusalami satu persatu dari mereka dan masuk ke taksi online. Mita sudah pergi. Dan kulihat sebuah mobil warna putih masuk area parkir. Sejenak aku memperhatikan mobil yang baru masuk, dan tak berapa lama, Maulana dan Bu Merty turun.


“Assalamualaikum, Bu. “ ucapku sambil menyalami tangan dosen teknik yang cantik itu dan menciumnya.


“Waalaikum salam, selamat ya Marissa, semoga prestasi gemilangmu bisa diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa universitas Matahari yang lain.”


“Insya Allah setelah ini akan muncul mahasiswa berprestasi yang lain, Bu.”


“Aamiin. O iya, dimana Pak Junaidi ?” tanya Bu Merty sambil sesekali mencari sosok Pak Jun.


“Beliau masih di dalam, Bu.” Sahutku sambil mempersilakan Bu Merty masuk.


“Selamat, ya.” Ucap Maulana.


“ Selamat juga untukmu. Kudengar kau juga menjadi peserta favorit pilihan peserta “ ucapku.


“Terima kasih. Walau tak sekeren prestasimu, aku bersyukur atas perolehanku saat ini.”


“Kedepan semoga lebih baik”


“Aamiin. Masuk yuk !”


Maulana mengikuti langkahku di belakang. Setelah menyalami Pak Junaidi, dia duduk di sebelahku.


“Mau makan dulu atau langsung menuju bandara ?” tawar Pak Junaidi pada Bu Merty dan Maulana.


“Kami sudah makan. Lebih baik langsung ke bandara, sebelum jalanan macet karena banyak karyawan yang pulang kerja.” Sahut Bu Merty cepat. Berempat kami memesan taksi online yang akhirnya langsung mengantar kami ke bandara.


***


Waktu menunjukkan pukul tiga tiga puluh. Kami baru saja menyelesaikan prosedur masuk bandara. Pak junaidi langsung menyewa kendaraan yang langsung mengantar kami menuju gate 21. Hal ini dilakukan karena pesawat akan berangkat pukul setengah lima dan kami belum ashar.


Sampai di gate 21, Pak Junaidi mengajak Maulana shalat ashar. Aku yang tidak diajak langsung menoleh ke Bu Merty dan Bu Merty bilang kalau sedang haid. Makanya beliau menawarkan diri untuk menjaga barang kami.


Usai shalat, kami kembali ke kursi di sebelah Bu Merty yang sudah penuh dengan calon penumpang yang akan menuju Yogyakarta.


Aku duduk dalam diam. Kusapukan pandangan ke sekelilingku, melihat calon penumpang yang akan berada satu pesawat denganku nanti. Kulihat mereka hampir berpasangan. Kulihat ada sepasang laki-laki bule dan perempuan Indonesia. Sedang duduk sambil saling berpegangan tangan. Mungkin mereka pengantin baru atau pasangan baru yang saling takut kehilangan. Kualihkan pandangan menuju seberang kursi, melihat beberapa laki-laki gagah berseragam tentara duduk saling diam. Setelah asik dengan kegiatanku, kuhembuskan nafasku pelan. Kutundukkan kepalaku, menghitung ubin yang ada di bawahku.


“Permisi, boleh saya duduk di sini ?” seorang pria dewasa memandangku. Aku hanya mengangguk. Tak lama dia menyarangkan pantatnya di kursi besi dan meletakkan tasnya di bawah.


“Mbak mau kemana ?” tanyanya. Bagiku itu hanya basa basi. Pertanyaan ambigu karena semua orang tahu kalau gateku akan berangkat menuju Yogyakarta kota kelahiranku.


“Yogyakarta.”


“Pesawat no berapa ?” tanyanya sekali lagi. Aku tak perlu menjawab. Kuambil boarding passku dan kutunjukkan padanya.


“ Oh, kita akan satu tempat duduk nanti.” Aku hampir saja melotot marah pada kalimat yang baru saja ia ucapkan. Aku pasti akan malu karena saat pesawat lepas landas, aku akan berpegang erat di tangan kursi dan memejamkan mata. Dia pasti akan melihat tindakanku dan dia pasti akan menertawakanku.


“Insya Allah” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku

__ADS_1


__ADS_2