
Setengah lima, petugas bandara memanggil penumpang untuk naik garuda yang akan membawa kami kembali ke Adi Sucipto di Jogjakarta. Kami segera memasuki gate 21 dan menunjukkan boarding pass dan identitasku. Melihat laki-laki yang sejak tadi duduk di sebelahku terus mengikutiku, Maulana langsung menarik tanganku.
“Kalau mau kau boleh menukar boarding pass ini.” Tawarannya sangat menggiurkan, namun aku takut laki-laki itu akan mengejekku.
“Tidak terima kasih. Kalau kutukar dia akan bilang kalau aku norak. “
“Tidak juga. Bagaimana kau bisa berpendapat seperti itu ?”
“Dia sudah melihat boarding passku dan dia sudah bilang kalau aku akan duduk di sebelahnya. Bagaimana kalau dia tidak menemukanku di sebelahnya nanti?” sahutku kesal. Maulana hanya bisa menarik nafas dalam.
“Ya sudahlah. Kalau itu maumu. Aku hanya menawarkan kalau kamu keberatan ya tidak apa-apa.” Maulana segera meninggalkanku. Seperti biasa, pramugari akan menyambut kami dan mempersilakan kami untuk masuk dan mengambil bahan bacaan. Aku tak ingin terlalu banyak aksi, kucari tempat dudukku dan segera duduk di dekat pria yang sejak tadi menungguku. Dia melambaikan tangannya lalu berdiri setelah aku berada di dekatnya.
Dia memerintahkan aku untuk duduk di dekat jendela. Sementara dia sendiri berada di tengah. Orang ketiga seorang lelaki paruh baya. Ketika pesawat mulai bergerak, kupegang tangan kursi dan kupejamkan mataku ketika lepas landas.
“Kau takut ?” Pria itu memandangku cemas. Aku hanya menggeleng. “Terus, mengapa memejamkan mata ? Apakah ini pengalamanmu yang pertama ?” sambungnya. Sekali lagi aku menggeleng. Kubuang pandangan ke samping, dan dengan segera kupalingkan ke dalam. Kulihat jurang di bawah dan aku tidak tahu mengapa saat ini aku ketakutan.
Sekali lagi pria di sebelahku memandangku dengan cemas.
“ Insya Allah semua akan baik-baik saja,” ucapnya menenangkanku.
“ Insya Allah.” Sahutku pelan.
“ Oh iya, aku Prasetya.” Ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
“Marissa. “ kusambut tangannya dengan menyatukan di depan dada dan sebuah anggukan meresponnya.
Laki-laki di sebelahku tersenyum.
“Dari mana ?” aku tak dapat mencerna ucapannya.
“Darimana asalku atau dari mana aku, ?” aku balik bertanya, meyakinkan diri agar tidak salah jawaban.
“Dua-duanya. “
“ Saya asli Yogyakarta. “ aku tak ingin menjawab yang lain. Kulihat dia tersenyum.
“Satu pertanyaan belum dijawab,” ucapnya mengingatkan.
“Tadi dari Jakarta.” Sahutku singkat. Aku tak ingin bersikap berlebihan. Dalam anganku, aku bisa memastikan bahwa Maulana dan Bu Merty serta Pak Junaidi pasti sedang memandang ke arahku dari belakang.
“Acara apa?” sebel sekali dengan pertanyaannya yang tak kunjung usai.
Aku mendesah. Dan sekali lagi kulihat dia tersenyum. “Keberatan dengan pertanyaanku?” aku hanya menggeleng. Ingin sekali kuakhiri pembicaraan ini, namun semua hanya sebatas keinginan.
“Kalau tidak keberatan mengapa diam ?”
“Lomba ‘
“Lomba apa?” ucapnya sambil tetap tersenyum. Aku bingung. Apakah harus kujelaskan semua acaraku sehingga dia paham dan tak banyak bicara padaku ? ah entahlah. Yang pasti hari ini, perjalananku sangat tidak menyenangkan apalagi setelah dia menanyakan nomer ponselku.
“Mohon maaf, saya . . . tidak bisa memberi nomer ponsel. “ akhirnya aku lega ketika aku bisa membalas permintaannya.
__ADS_1
“Kalau kau keberatan dengan permintaanku meminta nomor ponselmu, tolong terimalah kartu namaku.” Ucapnya sambil menyodorkan sebuah kartu nama berwarna biru tua.
Kupandang kartu nama itu dan aku merasa tak berminat untuk menerima kartu nama itu.
“Terimalah, barangkali suatu saat kau memerlukannya. Kalau kau merasa tak perlu silahkan kau buang saja di tempat sampah.” Kuterima kartu itu dan tanpa melihatnya langsung kumasukkan ke tasku.
“ Aku pastikan, kau akan membuang kartuku.” Ucap Prasetya lesu. Aku terkejut dengan kalimatnya.
“Maksud Kakak?Saya sudah memasukkan kartu ini ke dalam tas. Tidak saya buang.”
“Adik manis, Adik memang tak membuang kartuku, tapi dimana tempat menyimpannya aku tahu. Dan apa resiko semuanya aku pun tahu.” Ucapnya datar.
Segera kubuka tasku dan kuambil kartunya, lalu kumasukkan ke dompet dekat dengan atm dan kartu identitasku. Kulihat dia tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Aku tak ingin dia terlalu menggangguku. Kualihkan pandangan ke luar yang masih didominasi oleh awan.
“Aku senang kau menempatkan kartuku setara dengan kartu identitas dan kartu atmmu” tak kuhiraukan semua kalimatnya. “Mengapa kamu diam ?”
“Maaf “
“Maaf untuk apa?” Prasetya memandangku terus. Aku risih dengan tatapannya.
“Hahhhh,” kubuang nafas kesalku dengan kasar karena taka da yang bisa kulakukan selain itu.
“ha ha ha “ dia tertawa sambil tetap memandangku. Kali ini wajahnya sangat dekat denganku.
“Mohon perhatian! . . . .” suara pramugari membuat dia menghentikan tingkahnya. Kami mendengar dengan seksama. Pesawat sebentar lagi akan mendarat. Kulihat luar, hari sudah mulai gelap. Lembayung senja menyelimuti cakrawala. aku bersyukur, setelah sekian lama kutinggalkan kampusku, akhirnya aku akan segera kembali.
Pesawat kurasakan seperti menukik. Kulihat jalan yang terhampar di bawah seperti miring, namun akhirnya menjauh dan menjauh. Tidak tahu mengapa rasanya landing kali ini gagal. Entah sudah berapa kali kulihat pemandangan yang sama di bawah namun pesawat masih saja belum mendarat. Kulihat jam tanganku yang menunjukkan angka enam. Seharusnya sudah setengah jam lalu kami turun, namun Allah berkehendak lain. Dia berkehendak untuk tidak segera melepaskanku dari laki-laki di sebelahku.
Kupejamkan mataku memohon perlindunganNya.
“Tolong ceritakan padaku, bagaimana hasil lomba yang baru saja kau ikuti !” aku hanya menggeleng pelan. “Kenapa? Bukan karena kau kalah kan ?”ejeknya. aku tersenyum sebentar. Segera kubuka tasku dan kuambil stofmap merah. Kubuka stopmap itu dan kukeluarkan amplop warna coklat yang bertuliskan hadiah pemenang 1 lomba karya tulis Mahasiswa tingkat nasional, dan kutunjukkan ke hadapannya. Tanpa banyak suara kutatap wajahnya yang terkejut.
“Ada apa ?” tanyaku tegas.
“Kau hebat sekali” pujinya. “Selamat!” diraihnya tanganku yang kuletakkan di tangan seat. Aku tak bisa mengelak. Untung saja aku selalu memakai sarung tanganku sehingga tidak semua tanganku dia pegang.
“Lepaskan !”
“ Galak sekali, aku hanya ingin memberi selamat atas prestasi luar biasa yang baru saja kau raih. “
“Tapi Kakak sudah mengganggu ketenanganku. Aku tak suka laki-laki penggoda.” Ucapku.
“Mohon perhatian . . .” pengumuman yang entah keberapa kalinya dari pramugari yang mengatakan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat. Kuabaikan saja pengumuman itu dan tetap focus pada pria di sebelahku, namun ternyata
Dreggggg
Pesawat tiba-tiba berguncang kencang dan membuat badanku berguncang ke samping dan menghantam tubuh laki-laki di sebelahku. Dia sudah menyiapkan diri lalu memelukku dengan bahagia. Sejenak aku terpana dengan apa yang sudah terjadi. Ingin sekali kulepas pelukannya namun sebelum kulakukan dia sudah melepaskanku. Pesawat bergerak pelan dan tak lama kemudian berhenti dengan sempurna. Kutarik nafas dalam dan kupejamkan mataku mengucapkan syukur atas apa yang sudah terjadi.
“Maafkan aku karena telah memelukmu. Semoga ini bukan pertemuan kita yang terakhir. “ aku hanya memandangnya dan menyiapkan semua barangku sambil menunggu jalan keluar senggang. Maulana berdiri di depan menungguku sambil memandang laki-laki yang duduk di sebelahku dengan tatapan tak senang namun kulihat dia tenang saja menenteng tasnya.
“Kau mau ikut aku atau dia ?’ tanya Maulana emosi.
__ADS_1
Prasetya tertawa sambil mengatakan “ dengan senang hati”
“Kau boleh ikut denganku. Malam ini aku akan mengenalkanmu pada ibu dan ayahku, lalu besok pagi kau harus membawaku menemui orang tuamu lalu lusa kita menikah. Bagaimana ? Aku berjanji akan membahagiakanmu selamanya. “kuabaikan saja semua yang dia katakan. Lalu menggendong tas punggungku dan menjinjing koper kecilku di tangan kiriku. Keluar dari pesawat kami menuju pintu keluar untuk menunggu barang-barang bu Merty.
Prasetya masih setia mengikutiku.
“Aku boleh meminjam hpmu ?’ tanyanya penuh harap. “Please!” kali ini dia menghiba. Kuserahkan saja ponsel yang sejak tadi kugenggam.
“Terima kasih” ucapnya sambil menerima ponselku. Sejenak dia memandangku. Aku tanggap. Ponselku memang ku password. Kubuka password dan kuserahkan padanya sekali lagi. Kulihat dia mengetikkan sesuatu di ponselku, lalu membuat panggilan. Beberapa saat ia menghentikan percakapannya dan menyerahkan ponselku kembali.
“Terima kasih. Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi tadi. Semua tidak seperti yang kau bayangkan. Kuharap suatu saat kita bisa bertemu di lain kesempatan. Selamat atas prestasi yang sudah kau raih.”
Aku terpana dengan pria yang sejak tadi sangat menyebalkan. Ternyata dia bisa menjadi sangat baik padaku.
Aku tak dapat menahan haru. Keluar dari bandara, lima teman BEM sudah menjemput kami. Semua menyalamiku dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku. Tanpa basa basi terlalu lama, akhirnya Kijang Innova membawa kami kembali ke Purworejo tanpa singgah terlebih dulu ke rumahku di Sumberharjo.
“Kamu tak ingin berbagi cerita denganku Risa ? dari tadi kamu hanya diam saja, “ Melani membuka percakapan. Kupandang wajah ayu yang natural dan akhirnya aku tersenyum manis.
“Berbagi cerita apa Mel ? Semua sudah dibagi di WA grup kan ?” jawabku sederhana.
“Tidak semua. Aku hanya bisa melihat fotomu, bukan perasaanmu. “Sahut Melani sewot. Aku tersenyum memandang raut mukanya yang cemberut. Kusentuh wajahnya dengan lembut dan bergaya seorang wanita India aku menggelengkan kepala tanda setuju.
“Okey, aku cerita. Tapi dengan satu syarat.”
“Cerita kok pakai syarat. Syarat apa ?’ tanya Maulana sewot. Sejak turun dari pesawat dia memang tak banyak bicara dan aku yang tahu penyebabnya hanya bisa diam.
“Ih apaan sih Maulana. Biarkan saja dia mengajukan syarat. Asalkan tidak terlalu susah, insya Allah aku mau menurutinya.” Melani merengut. “ Syaratnya apa?” sambungnya manja.
“Kamu harus bertanya dulu, setelah itu baru kuceritakan apa yang kau ingin ketahui dariku.”
“Bagaimana rasanya menjadi seorang juara ?” tanya Melani polos. Wajahnya mendadak seperti udang rebus, merona merah karena malu pada Pak Junaidi dan Bu Merty yang selalu memandangnya.
“Tentu saja rasanya senang.” Sahutku sekali lagi menggoda.
“Tak akan tanya kalau jawabanmu sudah sangat jelas seperti itu. “ Sungutnya. Semua orang dalam Innova silver ini tertawa lepas. Ada bahagia yang tak dapat kugambarkan. Ingin sekali kusambung jawabanku dengan cerita kalau saja Pak Junaidi tak sedang berbicara.
“Marissa menjadi satu-satunya peserta yang mendapat dua acungan jempol dari yuri, Mel. Presentasinya seperti biasa sangat memukau. Semua hadirin terpesona karena ia sanggup menyuguhkan data selengkap-lengkapnya, dan menjawab pertanyaan yuri dengan luar biasa. Kalau kau tanya bagaimana perasaannya, ia pasti akan mengatakan bahagia, dan di balik kebahagiaannya yang pasti Pak Jun tahu kalau ada seseorang yang selalu mencuri pandang pada mahasiswa Pak Jun ini.” Aku terperanjat, tak yakin dengan apa yang baru saja diucapkan dosen pembimbingku.
“O iya ? Siapa Pak ? “ tanya Maulida antusias.
“Satu peserta dari Jakarta. Dia yang menyabet medali perak. Selalu kulihat dia saat sedang asyik mashuk menikmati wajahmu dari balik kaca matanya. Marissa tak tahu itu. Iya kan Ris ?” goda Pak Jun.
“Jangan membuat gosip Pak. Saya tidak akan terlalu berbesar hati karena cerita yang baru Bapak ucapkan tadi.” Sanggahku. Aku benar-benar tak yakin dengan itu, namun kulihat Pak Junaidi, membuka hp dan sejenak, sebuah video sudah tersebar di Whatsappku dan teman-teman yang ada di mobil silver bersamaku.
“Lihat baik-baik semuanya. Masa Pak Junaidi berbohong.” Goda Pak Junaidi. Seluruh keberanian kumunculkan untuk menghadapi godaan dari semua orang di sekelilingku.
“Pemuda ini gagah sekali Risa, masa kamu tak pernah berfikir untuk nya sedikitpun?” Bayu memandangku penuh makna.
“Tidak Bayu. Aku tak pernah punya keberanian untuk menerka apa dibalik setiap hati manusia. Aku tak ingin meraba bagaimana perasaannya padaku. Sepanjang dia tak membuat masalah, saya akan berfikir bahwa semua orang di sekelilingku adalah temanku dan wajib kuhormati sebagaimana mereka menghormatiku. Itu saja.”
“Kau dengar itu anak-anakku ?” tanya Pak Junaidi pelan. “Itulah Marissa dengan segala kesederhanaan dan kepolosannya. “
__ADS_1
“Iya, Pak. Saya ingin sekali seperti dia. Tidak neko-neko dan tampil apa adanya. Dia adalah makhluk aneh di kampus kita. Dia bertindak dengan kemauan sendiri tanpa ada keinginan meniru tingkah laku orang lain. Apapun yang ada padanya selalu dianggap aneh oleh teman-teman kami, Pak. Tapi sekarang saya baru tahu bahwa keanehannya itulah yang membuatnya tenar seantero Indonesia.”
“Satu prinsip hidup yang dipegang Risa ‘ Be yourself” telah dia laksanakan. “ Tambah Firman yang sejak tadi diam. Kulihat Maulana mengepalkan tangannya. Gerahamnya gemeletuk seakan hendak memangsaku.