
Lina masuk ke posko kesehatan dengan membawa bubur untuk Nina dan menyerahkannya padaku. Kuambil dari tangan Lina, lalu kupandang Nina dengan lembut.
“ Nina sayang, “ ucapku. Nina mendongakkan kepalanya memandangku dengan wajah sendu.
“Yuk makan dulu. Mbak suapi atau mau makan sendiri?” sambungku. Kulihat Nina memandang bubur di tanganku lalu memandangku penuh makna.
“Disuapi? “ tanyaku seraya mengambil mangkuk kupegang sendok dan kupandang Nina sejenak.
“Ayo berdoa dulu. Bismillaahirrohmaanirrohiim. Allahumma bariklana Fiima rozaktana waqina ‘ada banner. Ya Allah berkahilah rizki yang telah Engkau berikan kepada kami dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Aamiin, kabulkanlah permohonanku. “ Nina mengikuti kalimatku dengan lancer lalu aku mulai menyendokkan bubur lalu menyodorkan ke bibir Nina.
“a . . .” Nina membuka mulutnya lalu menikmati bubur dengan lahap. Di sela-sela makannya dia memandangku dan sekelilingnya bergantian.
“Wah, pintar sekali kau makan ya?” Goda dokter Wildan pada Nina. Nina hanya tersenyum. Dokter itu memandangku lalu mengarahkan pandangannya ke ruangan. Aku tak tahu siapa yang sedang dia lihat. Nampak sekali terpesona memandang seseorang. Kutengokkan kepalaku mengikuti pandangan dokter Wildan dan kutemukan dokter Irawan sedang terpana memandangku. Aku segera mengalihkan pandanganku. Aku tak tahu mengapa aku sangat tertarik untuk mengetahui siapa yang dokter Wildan lihat dan ternyata dia sedang memandangku terpana. Kurasakan wajahku mulai panas. Mungkin karena terlalu malu, sehingga kurasakan suhu ruangan tiba-tiba meningkat.
“ Kau bisa melanjutkan aktifitasmu, Ris. Aku akan pergi sebentar menemui Susi.”kata dokter WIldan. Tak ada yang bisa kulakukan selain mengangguk menyetujui tindakannya. Dokter WIldan melangkah, dan entah berapa lama akhirnya aku selesai menyuapi Nina. Kuletakkan mangkuk kosong di meja sebelah dipan Nina. Kuambil gelas dan kusodorkan ke mulut Nina. Akhirnya aku menyuruhnya untuk duduk bersandar di dinding. Nina hanya menurut semua yang kuperintahkan.
“Anak manis. Alhamdulillahiladzi at ‘amana wasaqoona waja’alna minal muslimin segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan serta menjadikan kami termasuk golongan orang-orang muslim. aamiin” sekali lagi Nina mengikuti doaku, namun kali ini banyak sekali yang tersendat.
“itu tadi doa sesudah makan Mbak?” tanya Nina penasaran.
“Iya. Kenapa?”
“Nina tidak pernah mendengar sebelumnya. Makanya Nina tidak bisa menirukan dengan lancer.” Ucapnya malu-malu.
“ Tidak apa-apa. Yang penting mulai sekarang sudah tahu dan bisa mengamalkannya. Iya kan ?”
“Iya, Mbak.”
“Sekarang, Nina istirahat ya? Duduk dulu di sini dan mbak akan ke dapur mengembalikan mangkuk. "Kulihat Nina mengangguk. Aku langsung bangkit dan berjalan menuju dapur dengan langkah panjang. Sebelum kutinggalkan Nina, sekilas kulihat dokter Irawan berjalan mendekati Nina di dipannya.
Sampai di dapur, aku segera menuju tempat cuci dan dengan sigap kugosok mangkuk dengan sabung pencuci lalu membilas dan meletakkannya di rak. Ingin sekali kusarangkan pantatku di sebelah Lina kalau saja tidak ada bocah yang sedang menungguku di posko kesehatan.
Dua menit kemudian, aku masuk posko kesehatan dan kulihat Nina sedang tersenyum di hadapan dokter Irawan. Kulihat matanya berbinar memandangku datang. Entah apa yang baru saja mereka bicarakan, yang jelas sejak aku duduk, mata Nina berkali-kali memandangku dan dokter Irawan bergantian.
“ Mbak dan dokter terlihat sangat serasi.” Ucapnya mengejutkanku. Aku tak tahu dari mana datangnya keberanian anak itu mengucapkan kalimat itu.
“Ti . . . tidak Nina. Kau tidak boleh bicara seperti itu.” Sanggahku. “ Nina masih terlalu kecil, jangan pernah berfikir tentang serasi dan tidak serasi.”
“Kau tak perlu malu seperti itu, Dik.” Ucap dokter Irawan setelah mendengar nasihatku untuk Nina.
“Bukan malu, Dok. Saya tidak mau Nina mengucapkan kalimat yang bisa menyakiti hati Dokter Irawan. Saya bukan siapa-siapa sehingga tidak seharusnya dia mengucapkan kaimat itu. Mohon maaf bila kalimat Nina mengganggu pikiran anda, Dok.”
“Tidak, Dik. Aku yakin Nina punya alasan untuk itu. Ditambah lagi, aku sama sekali tidak keberatan ketika dia mengungkapkan pendapatnya tentang kita. Atau barangkali Dik Risa yang keberatan?”
Aku hanya menarik nafas dalam. Tak ada gunanya kulayani laki-laki di hadapanku karena aku tidak mau dia berkata banyak dan lebih panjang, sedangkan kurasa semua kalimatnya sia-sia belaka.
“Dik !’
Dokter Irawan memandangku.
“Mohon maaf, untuk sebuah pertemuan yang masih sangat singkat, aku tidak punya alasan untuk bicara terlalu banyak. Aku seorang wanita dan anda seorang pria dan alangkah lebih baiknya kalau diantara kita jangan terlalu dekat seperti ini. Aku tidak ingin orang-orang di sekeliling kita menganggapku memanfaatkan situasi.”
“Tidak sama sekali, Dik. Tak ada alasan bagi mereka untuk menganggapmu memanfaatkan situasi. Semua orang tahu mengapa kau berada di ruangan ini.”
Sekali lagi kutarik nafasku dalam.
“O iya, Dik Risa kuliah semester berapa ?” tanyanya penuh semangat.
__ADS_1
“ tujuh.”
“Berarti sebentar lagi akan segera wisuda.” Gumamnya.
“ Insya Allah.”
“ Ambil jurusan apa ?” kali ini dokter itu memandang wajahku lama dan aku tak bisa membalasnya. Kubuang pandangan ke luar, kulihat dokter Wildan dan perawat Susi memandangku dengan pandangan yang berbeda. Dokter Wildan Nampak tersenyum sedangkan Perawat Susi Nampak cemberut. Aku bisa menebak kalau dia benar-benar sebel dengan kedekatan kami.
“Ditanya kok tidak menjawab” kali ini dokter Irawan merengut.
“Dokter bertanya apa ?”
“ha ha ha “
Tawa dokter Wildan memenuhi ruangan. Aku segera memandangnya, penasaran apa yang sedang ia tertawakan. Kulihat dokter Wildan mengacungkan tangannya pada dokter Irawan. Kali ini pandanganku kembali ke arah dokter Irawan.
“Mbak . . .” Nina membuyarkan lamunanku.
“ I . . .iya sayang ? Nina ingin apa ?”
“ Dokter bertanya pada Mbak kok tidak dijawab ? Mbak kuliah jurusan apa ?” ucap Nina tegas. Ah . . . betapa bodohnya aku. Dan aku tahu alasan dokter Wildan tertawa pasti karena melihat kebodohanku.
“ Subhanallah” desahku pelan. “Psikologi” gumamku. Bukan untuk menjawab pertanyaan, namun untuk meyakinkan diriku bahwa aku calon psikolog, seharusnya tidak berbuat bodoh seperti hari ini.
“Wow. Itu jurusan yang selalu aku impikan. Namun sayang . . . .” dokter Irawan menghentikan kalimatnya. Aku tak ingin tahu apa kelanjutannya, yang ingin kulakukan hari ini adalah, aku bisa lepas dari pandangan dua dokter muda di ruang ini segera.
***
Waktu baru menunjukkan pukul dua siang. Dhuhur sudah berlalu dua jam. Untuk pertama kalinya, kulihat matahari mulai malu-malu menyembul dari langit. Meski masih ada awan berarak, yang kadang menutupinya, namu awan itu tetap tak mampu menahan kekuatan matahari yang ingin menyinari bumi siang ini.
“Ada yang sedang kau pikirkan?” dokter Irawan mendekatiku. Ditariknya sebuah kursi lalu menyarangkan pantatnya di kursi kayu lalu menyilangkan kakinya seraya memandangku. Aku hanya menggeleng.
“ Aku tahu Dik Risa sedang gundah. Kalau Dik Risa mau menceritakan semuanya, tentu kegundahan itu akan bisa terselesaikan. “ katanya. Dia tatap wajahku, lalu beralih ke dipan dimana Nina masih tertidur.
“Terima kasih, Dok. Saya tidak ada masalah yang harus dibagi dengan siapapun, Insya Allah.’ Ucapku pelan. Namun dokter Irawan tidak percaya begitu saja. Sekali lagi dia memandang wajahku dan kali ini aku benar-benar merasakan dia sedang tidak mau diabaikan. Kucoba untuk mengalihkan pandanganku beberapa saat keluar ruangan, lalu kembali kutatap dokter Irawan yang ternyata masih setia dengan tatapannya untukku.
Kembali kubuang pandangan keluar. Kulihat Qomar sedang menatapku penuh amarah. Aku tidak tahu mengapa dia seperti itu dan aku tidak ingin tahu.
Jeddddeeeerrrr
Tiba-tiba petir menggelegar. Dan segera hujan deras mengguyur bumiku. Cuaca benar- benar tidak bersahabat. Beberapa menit lalu, matahari bersinar walau sedikit, dan sekarang hujan mengguyur terlalu deras. Gelap menyelimuti kami di ruang kesehatan.
“Mbaaaak” Nina menjerit memanggilku. Kugapai tubuhnya dengan segera tanpa harus dia memanggilku untuk kedua kalinya.
“ Iya sayang ? Mbak di sini.” Ucapku seraya memeluk tubuh kecil yang masih lemah. Kupangku Nina kubenamkan wajahnya dalam pelukan.
“Nina takuuut.”
“Kita berdoa semoga semua baik-baik saja. Allah tidak akan memberikan cobaan yang lebih dari kemampuan hambaNYa.” Kurasakan Nina mengangguk. Tangan kecilnya memelukku dan kurasakan kepalanya mendongak.
“Mbak tidak akan meninggalkanku kan ?” tanyanya.
“Insya Allah tidak, Mbak sedang berfikir tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Tetap berada di sini atau kita pulang ke kos. Kau bisa sekolah di kota dan tinggal bersama Mbak di sana. “
“Tapi Nina benar-benar ingin tetap di sini dulu, Mbak.” Sahutnya pelan.
“Okey. Mbak turuti. Kita akan tetap di sini.” Aku menyiyakan keinginannya. Semua kulakukan karena aku ingin membuat dia tenang dan bahagia.
__ADS_1
“Risa !”
Suara panggilan dari laki-laki yang tiba-tiba tertangkap di telingaku membuatku langsung memalingkan wajahku pada sumber suara. Kulihat Lina menghampiriku lalu membisikkan sesuatu ke telingaku.
“ Memangnya kenapa ?” tanyaku penasaran.
“Tidak tahu. Ayo sekarang ikut aku.” Ajak Lina seraya menarik tanganku. Aku segera menepiskan tangan Lina.
“Jangan menarik tanganku. Kau tidak tahu kalau aku sedang memangku Nina?” Lina cemberut.
“Maaf!” hanya itu yang dia ucapkan. Sejenak aku tatap wajah Nina. Nina paham dengan tatapanku.
“Ada apa, Mbak ?”
“Kau memang gadis kecil yang pintar.” Pujiku tulus. “Mbak Risa mau ikut Mbak Lina, Nina mau ikut ?”
“ Kemana ?” tanya Nina penasaran.
“ Ke dapur sebentar.” Kulihat Nina menerawang.
“Dengan dokter Irawan saja ya sayang ?” Dokter Irawan mendekat. Mengelus rambut Nina dan kulihat gadis kecilku menganggukkan kepala.
“Baiklah kalau begitu. Mbak pergi dulu ya ?” pintaku. Nina mengangguk sekali lagi, meyakinkanku bahwa dia akan baik-baik saja dengan dokter Irawan.
Aku segera melangkah. Kutinggalkan ruang kesehatan dengan penuh tanya, mengapa Nina sudah sangat nyaman dengan dokter Irawan. Kulihat perawat Susi mencibir, dan tentunya diikuti oleh perawat-perawat lain. Aku tak mempedulikan apa dan bagaimana orang-orang menilai tentangku. Toh, kalau mereka sudah tidak senang, segigih apapun aku menjelaskan, tak akan berpengaruh banyak padaku dan pada mereka.
Langkahku kutujukan ke dapur umum. Tadi Lina bilang Qomar menungguku di sana dan ingin bicara sesuatu. Belum sampai dapur, tanganku sudah ditarik oleh seseorang ke sebuah ruangan kosong tak jauh dari dapur.
Kulihat Qomar memandangku dengan pandangan tajam. Aku yang tak tahu duduk permasalahan yang sedang berkecamuk di dadanya hanya bisa diam menunggu barangkali Qomar mau sedikit memberi keterangan.
Lima menit sudah berlalu dan dia sama sekali tak ada suara.
“Ternyata manusia hanya bisa memilih enaknya saja ya. Banyak orang yang sedang bergelut dengan bencana, menyelamatkan manusia yang jadi korban di bawah sana, banyak pula yang sedang bermandi keringat menyiapkan konsumsi untuk pengungsi dan relawan, tapi ternyata ada yang sedang menjual diri, merayu seorang dokter dan berpura-pura menghambakan diri di ruang kesehatan.” Qomar mengehentikan kalimatnya. Sakit sekali rasanya mendengar kalimat panjang yang baru saja ia katakan. Aku tak tahu untuk alasan apa dia memojokkanku sedemikian rupa. Yang kuingat, dialah manusia tak berperasaan yang pernah ada, yang sama sekali tidak memperdulikan perasaan orang lain.
“Kau tak mendengar apa yang baru saja kukatakan ?” bentaknya. Amarahnya mungkin sedang memuncak. Tangannya mengepal dan kulihat dia ingin meninju sesuatu, namun dia urungkan. “Apa itu artinya kau mengakui betapa rendahnya dirimu saat ini?” sambungnya. Sekali lagi aku diam. Bagiku tak ada gunanya melayani kemarahannya.
“Risa !” sekali lagi dia membentak. “ Baru aku tahu ternyata kau tak punya malu. Kau datang kemari, dengan alasan ingin menjadi relawan namun apa ?”
“Aku tak tahu apa yang kau katakana Kak.” Ucapku pelan. Bukan untuk membela diri, tapi apa yang kukatakan sungguh-sungguh merupakan ungkapan hatiku sendiri.
“O jadi kau benar-benar bermuka badak rupanya?”
“Apa yang Kakak katakan ? Muka badak ?” aku tersenyum mengulangi kalimat Qomar. “ Bukankah ada banyak badak di sekolah ini ? “ sambungku. Keberanian kumunculkan agar ia tak menghinaku berkali-kali.
“Apa ?” wajahnya semakin memerah. “ Kau bilang semua orang sama denganmu maksudmu?” sambungnya.
“Aku tak bilang begitu.” Ucapku mengelak.
“Brakk!” kali ini tinju Qomar benar-benar mendarat di sebuah meja, dan tampak sekali wajahnya memerah.
“Kau sangat murahan.” Desisnya.
“Terserah apa katamu Kak. Yang perlu kau tahu, aku tak semurah seperti yang kau bayangkan.”
Aku ingin segera berlalu dari ruangan ini. Namun belum juga kakiku melangkah, tiba-tiba dari pintu kulihat Syamsa dan Lina masuk menghampiri kami.
“Kau tak perlu berteriak seperti itu, Ndan.” Kata Lina seraya memeluk tubuhku. Dia mungkin mengkhawatirkan kondisiku sehingga dia sengaja membawa Syamsa yang sekarang sedang memegang tangan Qomar. Aku hanya bisa tersenyum sinis memandangnya. Dia bilang aku bermuka badak, tak tahu malu pada semua pengungsi dan relawan, namun bagiku dia lebih dari sekedar muka badak. Kulihat Syamsa berkali-kali menghibur Qomar namun berkali-kali kulihat Qomar mengumpat padanya. Tak tahan dengan keadaannya, Qomar berdiri lalu berlalu entah kemana. Kulihat Syamsa menangis setelah Qomar mengibaskan tangannya, menolak untuk dilarang. Dalam hati aku hanya bisa bersyukur bahwa perseteruanku tidak berlanjut, setidaknya untuk hari ini.
__ADS_1