Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Irawan Adityawarman


__ADS_3

“Ada tamu di ruang tamu menunggumu” kata Santi.


Aku segera bangun dan mengenakan kerudungku. Kulihat wajahku di cermin sebentar. Masih kelihatan pucat namun tak sepucat dua hari lalu saat pusing menyerangku. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Kubuka kunci dan kuputar handle pintu pelan dengan harapan si tamu terkejut dan syok.


“Assalamualaikum”Dua orang laki-laki yang sudah duduk dihadapanku dengan senyumnya memandangku dengan seksama dan sekali lagi mereka mengucapkan salam.


“Wa alaikum salam, maaf ada yang bisa saya bantu ?” kupandang dua laki-laki di hadapanku dengan seksama dan akhirnya kupalingkan wajahku ke dalam. Mungkin mereka teman-teman Rosa atau Sisy atau teman Maulida. Yang jelas wajah mereka sama sekali belum pernah kulihat sebelumnya.


“Benar ini rumah Mbak Marissa ?” tanya laki-laki berbaju coklat balik bertanya. Laki-laki yang satu mengalihkan pandangan ke jalan.


“Be . . .benar. Maaf anda siapa ya kok mencari Marissa?”tanyaku penasaran. Dadaku berdegup kencang, namun kucoba untuk menenteramkan. Aku merasa tidak mempunyai kesalahan atau membuat salah pada seseorang sehingga tak ada hal yang perlu kutakutkan. Kalaupun ada yang merasa tersakiti karena sikapku selama ini, semua akan kuhadapi dengan berani. Aku akan bertanggung jawab.


“Maaf, Mbak. Boleh kami bertemu dengan Mbak Marissa ?” tanyanya.


“Saya sendiri. Mohon maaf ada kepentingan apa anda menemui saya ?” kedua orang di hadapanku saling berpandangan. Sejenak satu dari mereka mengambil nafas dalam, akhirnya bicara.


“Langsung saja, nama saya Muhammad Ridwan dan ini teman saya Maulana Akmal. Kami datang dalam rangka melaksanakan amanah. “ Muhamad Ridwan menghela nafas. Ia memandangku untuk memastikan bahwa aku memperhatikan ucapannya.


“maaf, amanah dari siapa ?”


“kami sebutkan maksud kedatangan kami. Kami adalah teman sekaligus sahabat dan saudara dari Irawan Adityawarman. “sambung Maulana Akmal.


“Maaf, Irawan Adityawarman siapa ya ?” aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang merekabicarakan. Datang, membawa amanah dari Irawan Adityawarman. Jangankan orangnya, namanya saja aku baru mendengarnya.


“Dia sahabat, teman dan saudara kami. Dia berdomisili di sebelah kanan masjid agung. Dulu kami satu kelas sejak sekolah dasar hingga di bangku kuliah. “Lelaki yang satu diam sedang yang lain, memandang dan akhirnya dia bicara.


“Mohon maaf sekali lagi, Kak. Siapa Irawan Adityawarman ? saya benar-benar tidak tahu siapa dia. Meski anda berdua mengatakan bahwa dia adalah sahabat, saudara, atau apapin. Mohon maaf saya tidak mengenalnya.”


“KAu yakin tidak mengenal Irawan ?”tanya Muhamad Ridwan penuh selidik. Ia mungkin berfikir bahwa saya berbohong, tapi aku tak perduli. Aku benar- benar tak mengenalnya.


“Mohon maaf, Mbak. Kedatangan kami untuk menyampaikan amanah. Kami bermaksud melamar Mbak Marissa untuk Irawan Adityawarman.”


“Maaf, Irawan Adityawarman yang mana ya ? Saya tidak mengenalnya. Mungkin anda salah orang, Kak.”


“Tidak. Irawan Adityawarman bilang dia pernah melihat Mbak Marissa. “


“Ta . . .tapi saya tidak mengenalnya, Kak. Saya . . . .tidak bisa.”aku merasa belum ada alasan untukku menjawab lamaran ini, karena saya tidak merasa mengenal Irawan Adityawarman sebelumnya. Aku tak ingin salah paham.


“Irawan Adityawarman tidak mengajak pacaran. Kalau Mbak Marissa mau, dia mengajak anda menikah bulan depan.” Aku diam. Tak ada alasan yang bisa kugunakan untuk kuberikan pada mereka, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Ini sangat berat kurasakan. Tidak ada hal yang lebih menakutkan dan menegangkan bagi wanita selain peristiwa sakral lamaran. Dan ini kuhadapi justru di saat hatiku sedang benar-benar tidak sedang memikirkan ini sama sekali. Bagaimana mungkin aku menikah, sedang studiku saja belum selesai. Bagaimana mungkin saya menikah, sementara orang yang melamarku belum pernah sama sekali kulihat. Memang tinggal menunggu dua tiga bulan lagi skripsiku pendadaran, dan keberadaanku di sini memang dalam rangka menunggu menyelesaikan skripsi dan datangnya masa dimana saya menemukan teman untuk kuajak bersama ujian.


“Maaf, Mbak. dia bilang, Mbak Marissa tidak harus menjawab hari ini. ada waktu satu bulan untuk Mbak Marissa berfikir dan memohon ijin orang tua dan seraya menunggunya Irawan Adityawarman bilang, sebaiknya Mbak Marissa melaksanakan Istiharah, memohon petunjukNya agar diberikan yang terbaik. Kami mohon pamit. Assalamualaikum”

__ADS_1


“Wa alaikum salam warahmatullah.” Kakiku tak bisa kuajak untuk bangun dan mengantar kedua tamuku , yang bisa kulakukan hanya duduk, dan mengantar mereka dengan pandangan mata.


Ketika kendaraan mereka kulihat meninggalkan halaman, ku masih belum bisa beranjak. Aku tak ingin memusingkan diriku dengan orang-orang yang sama sekali tak penting bagiku. Akhirnya aku berdiri dan meninggalkan ruang tamu untuk melaksanakan isya ku.


Usai shalat, aku tetap duduk. Merenung membayangan semua yang sudah kulewati, mengingat-ingat barangkali ada pernah mengenal laki-laki yang bernama Irawan Adityawarman namun kelihatannya nihil. Mungkin teman-temanku tahu, namun aku enggan untuk menceritakan pada mereka tentang apa yang baru saja kualami.


“kau tetap duduk disitu, Ris ? Memangnya kau tak ingin tidur ?” tanya Sisy. Aku segera melepas mukenaku dan melipat lalu meletakkannya di meja belajarku. Aku bergegas menuju dipanku. Kutelentangkan tubuh lelahku dan kepejamkan mata. Aku tahu Sisy engikutiku dengan pandangan matanya yang penuh penasaran.


“Siapa tadi yang datang ? “ tanyanya .


“Orang salah alamat,” tanpa membuka mata aku menjawab.


“Salah alamat kok lama. Kamu mungkin yang membuatnya lama ya.” Tuhan ! Mengapa dia selalu tidak pernah bisa berbaik-baik denganku. Dia selalu menyebalkan dan itu baru kusadari akhir-akhir ini.


“Iya mungkin tebakanmu kali ini benar, Sy. Aku membuat onar sehingga mereka tidak langsung pergi. Aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini banyak orang salah paham padaku.”


“Kau tidak sedang menuduhku salah paham padamu, kan ?”Bagus kalau dia tahu. Ternyata sulit sekali membuat orang lain sependapat denganku. Kumiringkan tubuhku lalu aku bangkit untuk mematikan lampu.


“Jangan kau matikan dulu. Aku masih belum ingij tidur. Aku ingin ngobrol dengan Mas Yoyoku,” kuurungkan niatku lalu tidur membelakangi Sisy. Kucoba untuk memejamkan mata, melupakan semua yang sudah kulalui hari ini namun aku gagal. Pikiranku masih setia memikirkan dua tamu yang membawa amanah Irawan.


“Kau benar-benar tidak ingin bercerita padaku tentang masalahmu, Ris?” Suara Sisy mengagetkanku. Aku kira dia akan selalu cekakak cekikik tertawa dengan Yoyo kekasihnya. Ternyata dia memperhatikanku.


***


Usai mendirikan subuhku, kulangkahkan kaki menuju kamar Rosa. Rosa teman kosku baru beberapa bulan ini masuk mengisi kamar Maulida. Sedang Susi, anak semester empat mengisi kamar belakang dengan Nur, juga penghuni baru yang beberapa minggu lalu masuk. Mereka sengaja pindah ke kosku karena merasa cocok dengan bapak kos yang tidak terlalu berurusan dengan kepentingan kuliah dan pribadinya.


Kali ini aku ingin mengajaknya ke pasar pagi membeli sayuran.


“Apakah tak ingin menunggu hari agak terang sedikit, Risa?” Rosa sepertinya masih ingjn bermanja di kamarnya. “Aku rasanya lelah sekali. Kemarin seharian aku kuliah, mengerjakan tugas-tugas dan hari ini, aku ingin menikmati masa liburku. “


“Bagaimana kalau pergi denganku saja ?” tawar Maulida. Aku segera mengangguk, mengiyakannya.


Tak lama kemudian aku dan Maulida sudah menyusuri jalan Suprapto menuju pasar pagi.


“Tadi malam katanya ada tamu, Ris? “ aku hanya mengangguk.


“Mereka saudaramu atau siapamu?”


“Saudara” kujawab singkat. Aku tidak bermaksud untuk berbohong karena semua manusia bersaudara sebab kita berasal dari satu keturunan Nabi Adam As.


“Tapi kok cepat pulang ya? “

__ADS_1


“Aku tidak tahu mengapa. Yang jelas ketika mereka membawa amanah dan amanah sudah disampaikan, bagiku tidak ada masalah kalau terus pulang. Lagian tidak enak juga sama mas Kinkan kalau mala-malam saya masih menerima tamu.”


“Mas Kinkan tidak marah kok kalau ada tamu laki-laki. Aku pernah ada teman laki-laki sampai jam sepuluh, Mas Kinkan diam saja. Asal kita tidak berbuat macam-macam insya Allah semua akan baik-baik saja.”


“Kau pernah membawa teman laki-laki ke kos?” aku penasaran dan sekalian ingin mengalihkan pembicaraan agar aku tak membahas tamu tadi malam.


“Waktu kamu di Jakarta. Saat itu Amran datang.” Maulida nampak terkejut karena secara tidak sengaja telah membuka rahasianya sendiri.


“Siapa itu Amran ?”


MAulida terperanjat. Dia mungkin syok karena tidak menyadari bahwa aku tak tahu siapa Amran.


“Dia kekasihku.” Sahutnya sambil menundukkan kepala. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya. Da tersipu dan membuang pandangan kea rah lain.


“Aku tidak tahu kalau kau punya kekasih.”


“Ya, ternyata aku sendiri yang membocorkannya. Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu, karena kalau kau tahu, kau pasti tidak senang dengan tindakanku.


“Aku tidak akan mencampuri urusan orang lain, Da. Jadi jangan takut padaku. Aku hanya ingin menjaga diriku saja. “


“Tapi sebenarnya aku harus berterima kasih kalau kamu mau menjagaku juga. Jadi ada benteng yang bisa membatasi gerakanku agar aku tak berlebihan.”


“Sejak kapan kamu pacaran sama Amran?”


“Setengah bulan lalu.”


“ Kok baru setengah bulan ?”


“Saat itu kan Amran belum menjadi kekasihku, Ris.” Sahut Maulida sambil terkekeh. “ Oh iya, kamu tahu siapa kekasihnya Sisy ?”


“Aku tidak tahu,’aku sengaja diam. Tak ingin berbicara mengenai kekasih orang lain. Kalau benar tidak jadi masalah, tapi kalau salah, aku sendiri yang akan terkena imbasnya.


“Bukannya dia sudah sering meminta tolong sama kamu ya? MAsa kamu tidak tahu siapa kekasihnya.” MAulida seakan mendesakku. Aku tetap harus waspada terhadap orang-orang di sekelilingku. Untuk saat ini, satu-satunya orang yang kupercaya baru Lina. Bukan tanpa sebab. Aku pernah mendengar Maulida dan teman-teman kosku menceritakan rahasia sahabatnya di kampus padaku. Meski itu tanpa sengaja, aku yakin, suatu hari nanti mereka juga akan melakukan hal yang sama pada rahasiaku.


“Sudahlah, Da. Meski beberapa kali dia minta tolong, tapi sampai saat ini aku benar-benar tidak tahu siapa orangnya. Aku selalu gagal.” Kukira jawabanku cukup untuk membuat rasa penasarannya berkurang walau hanya sedikit.


“Mengapa ?” Rupanya aku keliru. Dia justru melanjutkan pertanyaannya.


“ Dia tidak pernah datang menemuiku. Kukira dia langsung menemui SIsy. Sudahlah, please jangan lanjutkan tema ini, aku tidak enak.”


MAulida menngangguk. Kami melanjutkan belanja sampai puas. Sayur-sayuran yang dijual di pasar pagi ini selalu fresh, sehingga kami selalu merasa puas saat sudah mendapatkan sayuran untuk tiga hari kedepan makan kami.

__ADS_1


__ADS_2