Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Telepon dari Prasetyo


__ADS_3

Maafkan saya, Kakak. Bukan hanya cemburu pada Syamsya. Hatiku juga galau karena ada laki-laki yang menganggap saya sombong. “Tenggorokanku tercekat, sakit, menahan rasa malu yang luar biasa. Susah payah kutahan agar bendungan di mataku tidak ambrol begitu saja namun gagal. Kumpulan air yang sudah kutahan jebol. Laki-laki yang baru kutahu namanya Seno hanya bisa memandangku.


“Jangan menjadi beban. Kakak hanya bercanda. Kakak sangat bahagia mendapatkan gadis yang unik yang kutemui di lokasi bencana dan mengacuhkan pesanku di whatsapp telah datang. Tak ada topik lain kala itu, jadi itu yang kuangkat. Sekedar untuk menutupi kebahagiaanku” ucap Seno panjang lebar.


“Darimana Kakak mendapatkan nomor saya ? Rasanya tak banyak yang menyimpan nomorku. “


“Lina. Dia bercerita banyak tentang Adik cantik di hadapan Kakak yang istimewa.” Mendengar kalimatnya, aku sangat tersanjung. Namun ketika dia bilang Lina yang membrikan nomorku, aku segera berfikir tentang bagaimana cara untuk membuat Lina menyesal atas tindakan yang sudah dia lakukan.


“Jangan pernah marah pada Lina. Dia hanya memberikan setelah aku benar-benar memaksanya. Saat aku belum memaksa, dia tetap menolak memberikan nomor Dik Risa padaku. Sekali lagi jangan pernah meragukan kesetiaan dan keloyalan sahabat Adik.”


Hanya hujan yang mengerti bagaimana perasaanku. Ia yang semakin deras semakin menenggelamkan kami dalam bimbang.


Drrrttt


Ponselku bergetar. Nomor baru tertera di ponselku. Aku enggan sekali untuk membuka telponku, namun aku benar-benar tidak ingin terjebak dengan laki-laki di hadapanku.


“Assalamualaikum”


“Waalaikum salam warahmatullah. Sudah sampai rumah dengan selamat? “


Suara seorang laki-laki yang entah siapa. Aku tak bisa mengingat milik siapa suara itu.


“Alhamdulillah.”


“O iya, aku Prasetya. “


“ Darimana kau mendapatkan nomorku ?” aku benar-benar tidak habis pikir dengan banyak orang yang mudah sekali mendapatkan nomor ponselku. Padahal aku sudah semaksimal mungkin untuk tidak menyebarkannya pada siapapun orang yang baru kukenal.


“Sangat mudah.”


“ Ceritakan !”


Suara tawa Prasetya membuatku benar-benar kesal. Dia benar-benar punya kepribadian ganda. Saat di pesawat dia benar-benar membuatku kesal, namun saat kami hendak berpisah, aku sungguh-sung terpesona dengan bahasanya. Dan hari ini, dia kembali membuatku kesal untuk kedua kalinya.


“Please jangan marah. Aku benar-benar ingin bicara banyak denganmu. Malam ini aku akan menghabiskan waktu bersamamu. Please !”


Telpon kumatikan dan tak kuhiraukan apapun perkataan Prasetya. Sejak pulang dari Jakarta aku memang belum bisa membuka kartu namanya karena bagiku aku tak akan pernah ingin berurusan dengan dia.


“Siapa ?” tanya Seno penasaran.


“Teman” hanya itu yang mampu kukatakan. Tak ada sebutan lain untuk Prasetya selain kata teman. Meski aku merasa bahwa kami belumlah menjadi teman. Kulihat Seno memandangku tak percaya, namun biarlah. Ia bebas memilih untuk mempercayaiku atau tidak.


Sekali-kali setetes dua tetes air yang turun dari genting masuk. Suara katak di selokan depan rumah melengkapi irama.


“Kakak sebaiknya pulang. Sudah malam dan aku merasa kasihan karena . . . “ kuputuskan dulu kalimatku.

__ADS_1


“Adik mengusirku?”


“Kakak pasti capek. Aku tak ingin Kakak sakit. Besok masih harus bekerja di lokasi kan?”


“Satu minggu mengenal Adik, Kakak merasa bahwa Adik bukanlah wanita biasa yang mudah menyerah pada keadaan. Kegigihan Adik dalam membantu masyarakat yang terkena musibah mencerminkan betapa Adik adalah manusia dewasa yang bisa menyelesaikan masalah dengan mudah. Kakak yakin adik bisa menyelesaikan masalah ini. Apalagi kalau hanya berhubungan dengan perasaan. “


“Insya Allah, Kakak.”


“Adik bisa memanggilku Seno, Suseno. “


“Marissa Wardhani”


Jam menunjukkan pukul 20.30. dan hujan sudah mulai reda. Sedetik kemudian . . . .


“Kakak harus kembali ke camp, hati-hatilah di rumah. Kakak berharap semoga kekasih Dik Risa yang sudah menikah dengan orang lain bisa Adik lupakan. Masih banyak laki-laki yang mengharap kehadiran Adik dalam hidupnya. Jangan terbelenggu pada perasaan yang akhirnya akan membuat Adik menjadi merana. Assalamualaikum” tanpa menunggu jawabanku dia bangun dan melangkah menuju Varionya. Itu pertemuan kami yang terakhir. Sejak peristiwa sore itu aku tak pernah lagi ke camp karena harus mengikuti pekan olah raga resimen mahasiswa Mahadipa di Semarang.


***


Basarnas resmi menghentikan pencarian korban. Masih ada korban tertimbun yang belum ditemukan, namun karena waktu sudah berlalu satu bulan lebih dan dimungkinkan kondisi korban sudah tidak layak, maka keputusan itu harus diterima dengan ikhlas. Sebagian besar relawan sudah meninggalkan desa, hanya sebagian kecil yang masih ada, itupun hanya membantu merehabilitasi tempat untuk pengungsi. Pemerintah sudah memikirkan tempat relokasi warga, namun sampai kapan akan terealisasi kami tak tahu. karena hunian sementara sudah bisa di fungsikan. Aku tetap bersuudhon karena seperti biasa apabila sudah dibangun hunian sementara, pemerintah menangguhkan pembangunan hunian permanen. Doaku semoga kehidupan warga di Kemanukan dan sekitarnya bisa kembali normal, warga bisa beraktifitas seperti sediakala.


Kami sudah kembali ke aktifitas di kampus, berkutat dengan tugas kuliah dan tugas menjadi asisten dosen di kampusku Unversitas Matahari. Tak akan kulupakan peristiwa longsor lalu. Semuanya tetap membekas. Tak akan pernah bisa terhapus sampai kapanpun.


Siang ini, sebelum kembali ke kos, kulihat Qomar sedang duduk di bawah pohon klengkeng disudut kampus. Aku tahu dia sedang bersama istrinya. Ingin kudekati mereka dengan bergabung dalam pembicaraan namun segera kuurungkan. Aku mendengar mereka sedang mengucapkan kata-kata rayuan satu sama lain. Aku malu sekaligus cemburu. Aku tahu hatiku terluka. Aku yang selama ini menantinya, namun harus rela menelan ludah pahit dan menerima kenyataan bahwa laki-laki yang kucintai sudah menikahi orang lain.


Tuhan, mengapa aku tak sanggup membendung amarahku ? Aku tak ingin Lina tahu bahwa emosiku sudah mencapai titik puncak dan sebelum meledak kuputuskan untuk berlari menjauh. Dalam gamang, aku keluar gerbang kampus. Mencoba mengumpulkan kekuatan yang terserak. Kulangkahkan kaki dengan gontai menjauh dari hiruk pikuknya lautan manusia dikampusku. Aku hanya bisa berlari tanpa memperdulikan orang lain menatapku penuh tanya.


***


“Kamu harus yakin bahwa hidup yang indah ini akan sangat terasa indah kalau kita bersatu dalam sebuah jalinan kasih. Semua benar kan? Betapa bahagia hidup kita sekarang. Bersatu menjadi sebuah rumah tangga baru, saling membantu dan aku ingin segera punya anak “ kalimat bijak bestari yang diucapkan Qomar pada Syamsya membuat telingaku merah. Jawaban Syamsya selanjutnya adalah “Tapi aku masih sangat membutuhkan bimbingan Mas. Aku manusia bodoh yang beruntung mempunyai seorang suami cerdas seperti Mas Qomar” Syamsya mencoba untuk mengelak. Sungguh jawaban Qomar adalah jawaban yang sangat tidak kuduga.


“Kita memang tidak punya apapun, tapi yakinlah Allah punya segalanya.“tiba-tiba Syamsya merebahkan badannya di pundak sang suami tanpa peduli ada mata yang mengawasinya. Aku adalah manusia paling bodoh yang bernasib sengsara dalam hal cinta. Aku tahu ini pernah kualami. Seharusnya aku bisa mawas diri dan tidak terjebak dalam mimpi dan harapan yang belum pasti.


“ Marissa ada masalah ?”Sisy membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng. Ingin segera kutinggalkan dia sendiri, tapi hati kecilku tak sampai“ Please, ceritakan padaku, barangkali aku bisa membantu.” Aku hanya bisa memandangnya dengan emosi yang kutahan. Dalam hati aku hanya mengutuk. Ada tangis di hatiku dan dia tidak tahu. Sungguh dia bukan manusia yang peka.


“ Tidak, Sy. Jangan sekarang. Aku ingin istirahat.”Sisy memandangku. Nyaris aku biarkan andai saja tak kulihat ada bekas tangis dimatanya.


“ Kamu habis menangis? Kenapa ?” Kudekati dia dan pelan kuusap rambutnya. Walau hatiku sangat marah, namun melihatnya menangis aku tak tega. Aku tak ingin hatinya terluka.


“ Maafkan aku ya Ris. Sebelumnya aku ingin menceritakan sesuatu tentang masalahku padamu” Ucapnya pelan. Pelan sekali suaranya sehingga aku nyaris tak mendengarnya.


“ Masalah apa ? Barangkali aku bisa membantu.”


“Kau yakin, Ris? “ Sisy memandang wajahku tak percaya. Dia mungkin sudah mulai meragukan kemampuanku membantu memecahkan masalah orang lain. Ia mungkin juga sudah lupa kalau aku adalah calon psikolog. Tapi biarlah. Yang terpenting bagiku adalah aku ingin berusaha untuk meringankan beban siapapun di sekelilingku.


“Semua terjadi begitu cepat, Ris. “ Sisy menghentikan kalimatnya.

__ADS_1


“ Apa maksudnya ?”Kuberanikan diri untuk membalas pandangannya dan kutemukan wajah ayu dihadapanku dengan mata sembab itu menangis untuk yang kedua kalinya. Kulempar pandangan keluar kamar, melihat barangkali ada temanku yang lain mendengarkan pembicaraan kami. Tak ada suara, hanya televisi di ruang tengah yang sedang menyiarkan bola. Aku segera bangun dan menutup pintu kamar.


“ Aku sedang kecewa. Orang yang kucintai ternyata mencintai orang lain. Bukan aku. Selama ini orang tuaku selalu mengharap aku bisa bersanding dengannya.”


“ O iya ? Memangnya dia siapa Si? Kamu tidak pernah bercerita tentang dia padaku.”


“Aku selalu ingin menyembunyikan dia dari siapapun. Aku tak mau teman-temanku mengenalnya karena aku takut dia tertarik salah satu dari temanku. Ris, tolonglah aku. Temui dia dan katakan padanya kalau aku mencintainya” Sisy menubrukku, menangis sesenggukan tanpa memperdulikanku. Kulepaskan pelukannya pelan. “Tolong, Risa. Temui dia sekarang di alun-alun kota. Aku berjanji padanya untuk menemuinya di Gasebo sebelah Timur laut.” Sambungnya penuh harap.


“Sekarang ?”Sisy mengangguk pelan. “Sendiri atau bersamamu ?”


“Pergilah sendiri. Kalau kau membawa kabar gembira segera kabari aku. Aku akan selalu mengenang jasamu padaku. “ aku tak tahu apa yang ada di benak Sisy. Selama ini walaupun satu kamar dengannya, aku merasa tak dekat. Dia sulit sekali untuk dimengerti. Bagiku dia hanya anak manja yang bisanya menangis dan merengek. Tapi apapun dan siapapun dia, aku sudah berjanji untuk selalu membantu orang-orang di sekelilingku. Dulu saat kuceritakan pada ibu tentang Sisy, ibu selalu bilang bahwa aku harus bersabar pada teman-teman karena dari mereka aku belajar kehidupan.


“Bagaimana kalau aku . .. .” kuputus kalimatku.


“Tak apa kalau kau gagal meyakinkannya, aku akan menerima keputusannya dan mencoba melupakannya.” Jawabnya.


“Tapi ini sudah malam, Sy. “


Sisy cemberut.


“Aku takut dia kecewa karena aku ta hadir. “ hanya itu kalimatnya. Kalimat yang bagiku sangat egois. Dia hanya mau memikirkan urusannya sendiri tanpa mau tau kepentingan orang lain. Ah, aku tak tahu mengapa aku bisa satu kamar dengan dia. Saat kemarin MAulida bilang dia sudah kembali ke asrama dan berniat untuk keluar kos hatiku sangat lega. Namun ternyata legaku tidak bertahan lama. Dia kembali lagi datang dan kali ini mengusikku dengan masalahnya.


“Ayolah, Risa. Please tolong aku.” Sekali lagi ia menghiba. Aku tak bisa berbuat banyak selain menuruti apa yang Sisy katakan. Kuambil kerudung warna orange untuk memadukan dengan gamis yang sudah kukenakan sejak sore. Dengan beat merah milik Sisy, aku melaju menuju alun-alun kota.


***


Dari jauh aku mengawasi gasebo sebelah timur laut alun-alun Purworejo yang masih kosong. Kubuka kamera ponselku dan kujepretkan ke lokasi yang sedang kuawasi lalu mengirimkannya ke Sisy.


“Dia tidak bisa hadir Risa. Maaf, kau pulanglah. Aku lupa memberitahumu kalau dia sedang melaksanakan tugas di luar daerah.”


Aku diam. Sekali lagi kubaca pesan Sisy dan dengan gontai kutinggalkan alun-alun. Beat merah kuajak mengelilingi alun-alun pelan. Lima menit kemudian aku mencapai kos dan Sisy tergopoh-gopoh menemuiku.


“Tolong maafkan aku, Risa. Saat kau pergi, dia mengirim pesan via whatsapp dan mengatakan tak bisa menemuiku karena sedang di luar kota. Ini dia, bacalah!” Sisy menyodorkan ponselnya ke arahku. Kulirik sebentar.


“Kau tak ingin menceritakan sesuatu tentangnya padaku ?”


“Tidak ingin bukan berarti tak mau, Ris. Suatu hari nanti kau akan tahu siapa orang yang kutaksir. Dia teman ayahku. “


“Te . . .man ayahmu ? “ mataku melotot menunjukkan keterkejutanku.


“Eit, jangan menganggap kalau teman ayahku semuanya sudah tua. Masih sangat muda dan gagah luar biasa. Ayah mengenalkanku padanya saat dia berkunjung ke rumah dinas ayahku. Sejak awal pertemuan itu, aku sudah mengaguminya. Risa, dia laki-laki yang baik. Kemanapun dia pergi, dia akan membawakanku oleh-oleh dan itu yang membuat aku tersanjung. Dia sangat perhatian padaku.”


“Ya sudah ya Si, mohon maaf aku harus masuk untuk melanjutkan tulisanku.”


“Terima kasih bantuannya Ris. Semoga Allah senantiasa menolongmu.

__ADS_1


***


__ADS_2