Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Aku Lelah


__ADS_3

“Ayah sudah pulang?”


Syaiful mengangguk lalu menerima uluran tangan Sisy menyalaminya dan membiarkan Sisy mencium punggung tangannya lalu duduk di sofa di depan Seno. Mereka saling pandang sesaat. Akhirnya Syaiful memulai menarik nafasnya, menata perasaan yang meluap dalam emosinya.


“Apakah sudah lama, Komandan?”


“Baru saja. Aku hanya ingin sebentar. tapi ternyata Kapten sedang pergi melapor.”


“Iya, Komandan. Aku sedang melakukan pelaporan kalau sudah kembali lebih awal dari tugas di Timika.”


“Bukannya harusnya sejak kemarin Kapten sudah harus melaporkan? Mengapa baru sekarang?”


“semua karena anak perempuanku, Ndan. Dia koma dan Komandan sama sekali tidak berempati pada apa yang sedang ia alami?” tanya Syaiful geram. Dalam hati ia ingin memarahi atasannya namun ia tidak berani. Alih-alih akan menyelesaikan masalah, ia pasti akan mendapatkan masalah lebih besar. Kerugian akan ia alami karena masalah anaknya tidak akan selesai hanya dengan emosi.


“Apakah Kapten sudah tahu kalau Sisy hamil?” Syaiful mengangguk.


“Apapun yang terjadi aku minta pertanggungjawaban, Ndan. Sebagai ayah aku hanya bisa memohon untuk segera melakukan pelaporan dan permohonan pernikahan ke Kodam.”


“Itu tidak usah kau pikirkan Kapten. Aku akan melakukannya meski aku melakukan kesalahan atas dasar kenakalan anakmu yang menjebakku.”


“Apa?”


“Apakah Kapten tidak tahu kalau anakmu yang menjebakku? Dia memasukkan obat perangsang pada minumanku saat dia merasa aku dalam suasana hati yang tidak nyaman karena ditinggal menikah orang yang kucintai.”


Syaiful menggaruk kepalanya. Geram pada tingkah anaknya yang sungguh diluar kendali akal sehatnya.


“Aku akan menikahi Sisy dengan satu syarat.”


“Apa itu, Komandan?”


“Aku tidak mau ada yang mencampuri urusanku. Apapaun yang kulakukan akan menjadi urusanku tanpa ada yang boleh mencampuri urusanku.”


“KEnapa bisa begitu? Bukannya pernikahan dilakukan untuk mencari ridha Allah’


“Ridha Allah? Allah bahkan berfirman bahwa tidak ada pernikahan dalam keadaan wanita sedang hamil. Apakah aku salah?”


Syaiful menggaruk kepalanya. Pasrah dengan keadaan yang akan terjadi pada anak kesayangannya.


“Kalau kau tidak mau, aku akan membiarkan anakmu hamil tanpa suami. Aku akan mengambil anakku setelah Sisy melahirkannya dan menikah dengan wanita pilihanku, bagaimana?’


Tidak ada pilihan lain selain mengangguk. mengiyakan keinginan Seno demi nama baik keluarganya.


“Baiklah. Aku hanya menurut pada apa yang Komandan inginkan. Semua sudah terjadi dan aku tidak punya nilai jual apapun lagi di hadapan Komandan.”


“Bagus. Besok pagi ayah dan ibuku akan datang untuk melakukan lamaran pada Sisy.”

__ADS_1


“Besok pagi? Apakah tidak mendadak?”


“Tidak. Mereka akan datang besok apapun kondisi di sini.”


“Hah. Baiklah. Aku akan menyiapkan semuanya demi kebaikan kita semua, Komandan.”


“Bagus. Kalau begitu aku akan pulang sekarang. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam”


Seno melangkah meninggalkan ruang tamu tanpa memandang Sisy yang sedang fokus membawa dua cangkir teh ke hadapan mereka.


“Mas. Ini tehnya.”


“Kamu saja yang minum. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak akan minum.”


“Yah, salah lagi deh.”


Syaiful memandang Sisy dengan geram. Ia tunjuk sofa di hadapannya meminta Sisy untuk duduk.


“Ada apa, Ayah?”


“Kau masih bertanya ada apa? Apakah selama ini ayahmu kau anggap tidak ada sehingga kau berbuat diluar nalar manusia normal?” Sisy memandang ayahnya dengan wajah tanpa dosa. Ia tidak tahu mengapa ayahnya bicara kasar padanya. Selama ini yang ia tahu, ayahnya tidak pernah mau tahu urusannya sama sekali. Selama ini yang ia tahu, hanya ibunya yang peduli pada kepentingannya.


“Kenapa diam?”


Brak


“Kau memang anak yang tidak tahu diuntung, Sisy. Kau kubesarkan dengan segala macam kerepotan, kepayahan dan semua jerih payahku kucurahkan semua padamu, namun ini balasanmu?”


“Apa maksud, Ayah?”


“Aku tidak tahu mengapa kau sebodoh ibumu.”


Sisy diam. ia rela direndahkan. Siapapun boleh merendahkan, namun jika ibunya yang jadi sasaran, ia tidak akan rela. Apalagi ayahnya yang seharusnya melindungi dan menjaga nama baiknya. Kini justru memaki ibunya.


“Aku tidak akan pernah menjawab kalau siapapun menyakitiku, tapi tidak ketika dia menyentuh nama ibuku. Apapun yang terjadi selama ini Ibu yang selalu mengerti keadaanku.”


“Kau  . . . mengapa kau bisa sedurhaka itu pada ayah? Apakah ibumu tidak mengajarimu bagaimana bersikap baik pada ayahmu?”


“Ibu selalu mengajariku untuk sopan dan berbakti pada ayah. Hanya ayah yang tidak pernah mengajariku bagaimana bersikap baik pada ibuku. Tapi aku akan selalu mengingat semuanya, bahwa pendidikan yang kudapat di keluarga ini hanya pendidikan dari ibu.”


Plak


“Kurang ajar. Kau bahkan sudah menjadi liar sekarang.”

__ADS_1


“Ya, aku liar karena ayah yang sama sekali tidak mau merendah. Ayah selalu merasa benar sendiri. Ayah selalu merasa kuasa ayahlah yang tertinggi dan pantas untuk ditaati. Padahal, di atas ayah masih banyak perwira tinggi yang bahkan lebih menghargai kami.”


“Sisy.”


“Ayah yang harus menghargai kami. Anak dan istri yang selama ini mendukung kegiatan Ayah. Kami rela kau tinggalkan kemanapun ayah pergi, kami rela mengikuti kemanapun ayah pindah, tapi kami tidak akan rela kalau ayah selalu menganggap peran kami sama sekali tidak ada.”


Syaiful tak bergeming. Ia menahan emosi dengan susah payah. Ia berdiri lalu meningalkan Sisy yang masih mencoba menunggu emosinya lanjut. Syaiful meremas rambutnya yang kini nampak sangat kumal. Berada diantara keluarganya bukannya menambah tenang justru menambah masalah.


Belum lagi kemarahan istrinya yang belum reda sampai saat ini, membuat dia semakin frustasi. Syaiful melangkah menuju kamar dan membuka pintunya. Nampak istrinya sudah masuk ke kamarnya dan sedang duduk di ranjang, memandangnya tanpa bergeming. Ia melangkah menjauh. Menuju kamar mandi dan melaksanakan hajatnya.


“Kau masih marah padaku?” tanyanya saat ia keluar kamar mandi dan mendapati istrinya masih pada posisi semula.


“Tidak ada gunanya juga marah kalau kau selalu meninggalkanku pergi.”


“Lalu?’


“Aku akan tetap pada posisi yang salah. Kau yang selalu benar.”


“Jangan memancingku lagi. Aku lelah.”


“Hiks, memangnya selama ini kau selalu sadar kalau keberadaanku di sisimu ada harganya? Tidak bukan? Aku selalu menjadi sampah yang tidak berarti sama sekali  di hadapanmu.”


“Aku bilang jangan memancing emosiku. Aku sedang lelah.”


“Baik. Mulai hari ini aku akan diam. tidak aka nada ucapan kata sedikitpun dank au tidak boleh protes.”


“Terserah.”


Meli melangkah meninggalkan rumah dan menuju dapur, memasak untuk makan malam keluarganya


walau sebenarnya dia tidak berselera makan sama sekali. Dengan cekatan Meli meracik bahan, memasak dan menyajikannya di meja makan. semua ia lakukan sendiri tanpa bantuan pembantu sama sekali selama ini.


“Sisy”


“Iya, Bu.’


“Ajak ayahmu untuk makan.”


“Apakah boleh? Ayah bilang kan ayah lelah, tidak ingin diganggu.”


“Yah, terserah. Ibu juga sudah lelah. Saat ini yang ibu butuhkan hanya istirahat dari aktivitas ini.”


“Ibu mau kemana?”


“Ke kamarmu. Biarkan ibu tiduran sebentar di sana sebelum kau meninggalkan kami.”

__ADS_1


“Baiklah.’


__ADS_2