
Semangat baru datang. Tim medis yang baru saja datang mendekati pengungsi, mengajak bicara dan bercanda, mencairkan suasana. Lina berbisik di telingaku.
“ Risa ! Marissa ada laki-laki yang wajahnya cool abiz.” Lina nyaris berjingkrak, kalau saja tidak ada tatapan aneh dari seorang perawat muda di samping dokter berseragam tentara.
“ Apaan sih kamu, Lin. Malu dong dilihat Allah. Kita kan perempuan masa histeris banget melihat laki-laki ganteng. Tidak deh. Malu” bisikku. Lina memandangku tajam dan selanjutnya ia memegang wajahku dan menghadapkan ke wajahnya.
“ What ? Ih, lihat, sepertinya nih, kamu habis menangis semalam ya ? Menangis untuk siapa kok menyedihkan banget ? “ suara Lina dikeraskan seolah sengaja agar semua mata memandangku. Benar, seorang laki-laki yang kemarin sore menemuiku di taman, tersenyum ke arah kami.
“ Mengenang dosaku yang sudah lalu dan mungkin . . . kurang tidur barangkali. “ucapku sekenanya. Lina mencibir tak percaya. Sebuah acungan jempol dari lelaki di sudut ruangan, ke arah Lina. Lina tersenyum senang.
“ Kurang tidur apa lho, orang jam delapan saja sudah di kamar kok.”Syamsya menyela. Qomar tersenyum. Lelaki yang selalu memperhatikan gerak-gerikku juga tersenyum.
“ Iya tapi jam dua aku sudah bangun Mbak .” ucapku berkelit
Syamsya dan Qomar mengerling. Ada rasa sedih melihat mereka yang semakin dekat. Lina diam dan aku pun sama. Sedetik kemudian, Lina menarik lenganku dan mengajakku menjauh dari mereka.
“ Kita ke dapur yuk ! Malu aku melihat Mas Qomar berbisik terus dengan Syamsya.” Kuturuti saja ajakan Lina. Bukan karena aku cemburu pada mereka, tapi lebih karena aku ingin membantu ibu-ibu menyiapkan makan siang. Kulihat Qomar berdiri dan berjalan keluar ruangan.
“ Kali ini aku tak ingin membicarakan topik tentang laki-laki.” Lina mengurungkan niatnya saat tahu aku memalingkan badanku ke arah tungku.
“ Jangan bilang kalau kamu menangis gara-gara Mas Qomar.” Godanya.
“ Tadinya sih iya, tapi sekarang insya Allah tidak.”
“ Jadi ben . . . . “ Kututup mulut Lina dengan tanganku. Aku tidak ingin Lina mengobral suara. Aku tak mau dia mendengar percakapan kami.
“ Jangan keras-keras. Bicara pelan aku masih bisa mendengar.”tegasku sambil memasukkan kayu baru dalam tungku. Meniupnya dan membalik tempe goreng di hadapanku.
“ Iya deh. Jadi benar kamu sudah menaruh hati ke dia?”
“ Aku coba melupakannya.”
“ Eh, tapi itu memang lebih baik. Meski di kampus dia bilang jatuh cinta ke kamu, ternyata, melihat Syamsya yang sekarang menderita, hatinya luluh. Padahal kamu tahu tidak, kamu lebih oke kemana-mana. Sudah cantik pinter pula. Calon dosen dan psikolog hebat.”
“ Menurut dia tidak begitu. Kita bicara yang lain saja.” Ucapku pelan.
“ Tapi Ris. “
“ Kita stop bicara yang itu.’pintaku dengan suara yang keras membuat beberapa warga desa yang berada di dapur memandang ke arah kami.
“ Okey. “
Kami diam. Lina paham dengan keinginanku, Alhamdulillah.
Harapanku untuk memiliki Qomar semakin kandas. Dia semakin dekat dengan Syamsya dan kutahu, Lina semakin geram. Ba’da dhuhur kemarin, dia menarik lenganku dan mengomeliku habis-habisan. Dia bilang aku tak mau dan tak ada usaha mempertahankan cintakulah, tak mau sedikit membuka hati dan entah yang lainnya.
“ Bilang padaku,Rissa, kamu kemarin menangis karena dia kan ?”Kalimat itu sebenarnya sudah kujawab, tapi kali ini Lina menjadikannya sebagai senjata untuk menyudutkanku.
“ Lina, tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari membahagiakan saudara.”ucapku sekenanya.
“ Tapi dia bukan apa-apamu.” Tandas Lina geram.
“ Itu dulu, sekarang dia sudah menjadi saudaraku. Demi Syamsya apapun akan kuberikan, termasuk Kak Qomar.”
“ Dan itu bodoh namanya. Mengapa ? Mengapa justru kau korbankan diri dan cintamu untuk kepentingannya?”Lina meninggalkanku sendiri di halaman samping balai desa. “Aku tak mengorbankan perasaanku. Kak Qomar memang sudah tidak perduli padaku,” Lina hanya menarik nafas dalam. Hatiku bingung. Aku hanya berfikir betapa senangnya memberi kebahagiaan pada orang lain, apalagi membahagiakan orang yang baru terkena musibah. Aku ingin melihat Syamsya tersenyum. Entah mengapa ada kepuasan dihatiku melihat dia bahagia, lepas dari bagaimana hatiku saat ini.
Aku mulai ragu dengan diriku. Antara ikhlas dan tidak melepaskan perasaanku pada Qomar, kini kucoba untuk melupakannya dan benar-benar harus menyerahkan dia pada Syamsya.
***
Siang menjelang makan siang, kami dikejutkan oleh suara sirene ambulance. Sejenak kami terpana, menyaksikan beberapa mobil memasuki sekolah shelter. Kami yang di dapur umum berdiri, menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa relawan bergerak cepat menurunkan sebuah peti jenazah. Kulihat seorang laki-laki menggendong anak kecil yang meronta memanggil ibunya. Tenggorokanku tercekat. Aku tak tahu siapa yang di dalam peti itu dan siapa yang sedang memanggil ibunya, karena jarak kami dan ambulance lumayan jauh.
Beberapa tenaga medis mulai merayu gadis kecil yang sedang meronta, namun gagal. Aku ingin sekali mendatanginya, namun segera kuurungkan karena pekerjaan di dapur umum lebih banyak sedang mereka di posko kesehatan sudah banyak tenaga.
__ADS_1
“Ada apa di depan sana, Pak ?” sapaku pada laki-laki yang sedang berjalan ke arahku.
“Apakah ada Mbak Risa di sini ?” bukan menjawab pertanyaanku, sang bapak malah mengalihkan perhatianku.
“Ada apa mencariku, Pak ?” tanyaku penasaran.
“ Anu Mbak, Mbak diminta datang k epos kesehatan.” Sang bapak diam sambil mengatur nafasnya. “Bocah kecil it uterus meronta dan mencari Mbak Risa. “ sambungnya. Aku sejenak tertegun. Bocah kecil itu mencariku ?
Aku segera berlari ke dapur, meminta Lina untuk meneruskan pekerjaanku. Lina mengiyakan. Dan akhirnya aku berlari ke posko kesehatan.
Kusibak kerumunan orang yang mengelilingi jenazah dengan susah payah. Sekarang aku mendengar, Nina memanggil namaku.
“ Mbak Risa, . . . .Aku mau Mbak Risa. Aku tidak mau sama kalian” katanya sambil menjambak beberapa orang yang berada di dekatnya.
“ Iya, Nina. Mbak Risa di sini.” Teriakku sambil terus menyibak kerumunan orang. Setelah berjuang akhirnya aku berhasil mendekati Nina yang terus meronta memanggil namaku.
“Nina sayang.’ Kusentuh tubuh kecil di gendongan laki-laki dan tak berapa lama Nina menatapku dan lansung memegang tanganku. Laki-laki yang menggendongnya langsung menyerahkan Nina padaku.
“Mbak Risa . . . . “ Nina mencengkeram pundakku kencang. Aku nyaris tak bisa bernafas karenanya. Sejenak kudiamkan dia dalam tangisnya. Kuelus rambut panjangnya dengan tangan kananku, lalu kesapukan pandangan ke seluruh penjuru mata angina, barangkali bisa menemukan tempat duduk.
Tubuh Nina yang besar membuat tanganku tak kuat menyangganya terlalu lama. Akhirnya aku menemukan apa yang aku cari. Sebuah kursi panjang di depan posko kesehatan menjadi tempat sementaraku untuk mendengar keluh kesah Nina, gadis kecilku.
“Mbak . . . ibu, Mbak . . . .” ucapnya terus menerus.
Aku tak bisa bicara apapun untuk sekedar menenangkan Nina. Aku hanya bisa mengangguk dan mengelusnya untuk beberapa saat.
“Ternyata Allah jahat sekali, Mbak.” Ucapan Nina kembali membuatku tak berdaya. aku ingin mengucapkan sesuatu namun kuurungkan. Kupeluk tubuhnya erat-erat. Nina akhirnya diam. Tak lagi merengek atau mengatakan apapun. dia pandang wajahku lalu memandang ke sekelilingku.
“Nin . . .” ucapku sambil mengelus kepalanya. Kucium wajahnya berkali-kali dan tak terasa air mataku yang susah payah kutahan, membanjir di wajahku. Nina pun ikut menangis dalam diam.
“Mbak” sekali lagi dia memanggilku dengan tatapan sendu.
“Iya, sayang. Mbak Risa di sini.”
“Tidak sayang. Tidak. Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tahu mana yang terbaik untuk setiap hambaNya. Dia tahu Nina sangat kuat sehingga Dia menguji Nina dengan yang berat. Tapi percayalah, Nina tidak sendiri.”
“Mbaaak.”
“Ya ?”
“Maukah Mbak Risa jadi ibuku?” pintanya memelas.
“Nina akan hidup dengan Mbak Risa. Mbak Risa akan jadi kakak Nina ya? Nina akan tetap hidup, dan meneruskan perjuangan bapak dan ibu.Kita berjuang bersama ya?” Kulihat Nina hanya mengangguk.
“Kau sudah makan ?” sapaku pelan. Nina menggeleng.
“Makan sekarang ya? Mbak suapi?” sekali lagi dia menggeleng.
“Aku tidak lapar, Mbak.” Sahutnya.
“Tapi berjanjilah kau akan makan setelah ini?”
Nina mengangguk.
“Kalau waktu itu Nina tidak tidur, pasti ibu akan bersamaku dan kami bisa mati bersama, huk huk huk,”
“Tak baik mengatakan seperti itu, Nin. Allah tahu apa yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah karena Dia masih memberi kesempatan kita untuk hidup. Kita bisa memperbaiki diri agar kelak menjadi hamba terbaikNya. “
“Mbaaak,”
“Iya, sayang ? Ada apa?”
“Aku ingin duduk di dekat ibu.” Pintanya. Aku segera menurunkannya dan menuntunnya untuk masuk ke sebuah mushola, dimana jenazah ibu Nina disemayamkan. Nina hanya diam mematung melihat peti jenazah yang masih dishalatkan beberapa pengungsi.
__ADS_1
“Apa kau akan ikut ke makam?” tanyaku pada Nina. Dia mengangguk pelan.
“Okey, Mbak temani ya?” dia mengangguk sekali lagi.
***
Prosesi pemakaman Ibu Nina segera berlangsung. Peti jenazah dikeluarkan dari mushola, lalu para pelayat berdiri mengikuti upacara pemberangkatan jenazah. Aku dan Nina duduk di sebelah Pak Samsul, Kepala Desa Kemanukan yang sedang mewakili keluarga untuk memberi sambutan. Kulihat Nina sudah tidak menangis lagi. Dia tetap memelukku dan setelah pak Syamsul selesai, petugas yang memimpin jalannya upacara segera memberikan waktu kepada Ustad Salim.
Ustad Salim memimpin doa, lalu memberi sedikit wejangan kepada para hadirin. Setelah doa selesai, jenazah dibawa ke dalam ambulance. Saya dan Nina duduk di mobil kepala desa, kami menuju pemakaman umum desa terdekat karena Kemanukan benar-benar sudah luluh lantak diterjang longsor susulan tadi malam.
Kupeluk Nina erat. Kupandang wajah sayunya. Nampak sekali gadis kecil dalam pelukanku sangat kelelahan. Ia mungkin tak bisa tidur sepanjang malam menunggu ibunya. Kupijat punggungnya sebentar dan Nampak sekali ia menikmati pijatanku. Hampir saja ia tertidur, kalau saja mobil tidak segera berhenti dan kami harus turun ke makam.
“Sudah sampai, sayang. Yuk kita turun” ucapku pelan. Nina mengangguk. Kepala desa membukakan pintu mobil dan kami turun lalu mengikuti peti jenazah yang sangat cepat menuju makam.
Sampai di makam, Ustad Salim kembali memimpin jalannya pemakaman. Peti dibuka lalu jenazah di angkat dan dimasukkan liang lahat. Aku mengajak Nina untuk sedikit mendekat menyaksikan jenazah ibu Nina untuk yang terakhir kalinya, meskipun dia tertutup kain kafan.
Liang lahat seukuran dua kali satu meter itu Nampak bersih. Tak ada batu atau air, meskipun beberapa hari ini hujan terus mengguyur.
“ Kau lihat, sayang? Betapa makam ibumu sangat bersih. “ ucapku pada Nina. “sangat longgar dan ibumu semoga meninggal dalam keadaan husnul khotimah. “ sambungku. Nina Nampak memastikan semua ucapanku. Ia mencoba untuk melihat liang lahat ibunya, lalu mengangguk ke arahku.
“ Allah sangat menyayangi beliau. Kau tahu ? Saat seseorang meninggal, semua amalnya terputus kecuali tiga perkara.”
“ Apa itu ?” tanya Nina penasaran.
“ Amal jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak sholih sholihah yang senantiasa mendoakan orang tuanya. Ibumu hanya bisa berharap doa darimu. Makanya Mbak Risa minta, tetaplah sabar dan senantiasa kirim doa untuk ibumu agar beliau terus dalam lindunganNya. “
“Terima kasih, Mbak.” Nina memelukku erat.
“Tapi aku takut Mbak.” Sambungnya.
“Apa yang kau takutkan ? “
“Aku akan hidup dengan siapa setelah ini ?” ucap Nina lesu.
Kuraih tubuhnya dalam pelukanku.
“KAu akan hidup bersama Mbak. Mau?” Dia mengangguk. “ Sekarang yuk kita duduk sebentar, kita kirim doa untuk ibumu. “
Lima belas menit kami berdzikir, untuk mendoakan jenazah ibu Nina sampai Pak Samsul memanggil kami untuk segera ke sekolah shelter karena mendung sudah menghiasi langit kecamatan B sore ini.
***
Sampai di tempat pengungsian, aku dan Nina langsung menuju posko kesehatan. Aku yakin Nina butuh pemeriksaan kesehatan. Paling tidak dia memerlukan vitamin untuk memulihkan tubuhnya agar bisa segar kembali.
“Assalamualaikum,” ucapku menebarkan salam.
“Waalaikum salam,” semua yang ada di dalam posko menjawab salamku. Dokter Wildan langsung memandangku. Dia segera meraih tangan Nina dan mengelus kepalanya lembut.
“Sudah selesai?” sapanya kepadaku. Aku hanya mengangguk. Kuajak Nina untuk duduk di dipan. Lalu dia kusuruh berbaring. Dokter Wildan langsung menyuruh dokter muda yang baru pertama kali kulihat. Dokter muda itu memandangku lalu mengalihkan pandangan ke arah Nina. Dia segera memasang stetoskopnya lalu memandangku.
“Kondisinya sangat lemah” ucapnya pelan.
“Mungkin karena dia belum makan, Dok. “ aku segera meraih ponselku untuk memanggil Lina agar mengantarkan makanan untuk Nina ke posko kesehatan. Berkali-kali kutelpon namun berkali-kali gagal.
“Siapa yang kau hubungi?’ tanya dokter muda padaku.
“Temanku yang di dapur. Saya ingin meminta dia datang membawa makanan untuk Nina.” Sahutku. Dokter itu segera menyuruh seorang perawat ke dapur. Perawat Susi memandangku penuh kebencian namun aku tak peduli. Yang aku mau hari ini, aku bisa merawat Nina dan mengajaknya untuk bisa melupakan peristiwa yang membuat hidupnya menderita.
“Ris, kenalkan. Ini dokter Irawan. Dokter Irawan, ini Risa, mahasiswa Psikologi yang selalu membantu pengungsi.”
“Irawan,” ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Aku hanya bisa memandangnya lalu mengangguk. Dia menarik tangannya lalu mengucapkan maaf beberapa kali.
“Saya yang mohon maaf, Dok. Mohon maaf karena tidak bisa berjabat tangan dengan laki-laki. Saya Risa,” ucapku.
__ADS_1