
“Mohon tenang, Bu. Saya sdang memanggil dokter dan sebentar lagi beliau akan hadir di ruangan ini.” Meli memandang Sisy yang masih meronta sambil memejamkan mata. Wajah tegangnya mengucurkan keringat dan air mata. Tangannya yang terpasang selang infus, segera diikat agar selang tidak lepas.
“aaah” Sisy meronta. Ikatan di tangannya lepas tepat ketika dokter jaga dan beberapa perawat datang. Meli dan petugas yang sejak tadi menunggunya hanya bisa memegang lengan Sisy dengan erat. Agar selang
infus di tangan Sisy tidak ikut lepas.
“Dok, tolong selamatkan anak saya . . .Dok. “ pinta Meli sambil terisak. Perasaannya semakin kalut melihat kondisi Sisy yang semakin semrawut.
“Ibu yang sabar ya. Kita akan berusaha untuk memberikan perawatan terbaik untuk anak ibu. Yang terbaik saat ini adalah, tetap berdoa agar Nona Sisy segera pulih seperti sedia kala.”
“I iya, Dok. Aku percaya bahwa Dokter bisa melakukan segalanya.” Dokter jaga di hadapan Meli menggeleng.
“Bukan dokter yang bisa melakukan segalanya, Bu. Kami hanya manusia biasa seperti halnya Ibu Meli. Kami hanya sekedar membantu dan hak menyembuhkan adalah hak prerogative mutlak milik Allah. Kita akan berdosa kalau menganggap sembuh itu dari dokter.”
“Lalu bagaimana dengan anakku, DOk? Apa yang terjadi padanyasebenarnya?”
Dokter Amran menggeleng. ia memandang Sisy dan memegang beberapa bagian tubuhnya, mengecek kondisi terakhir sang pasien yang masih menjerit dan meronta-ronta, mengibaskan tangannya ke kanan dan
kiri, mencoba melepaskan diri.
“Dia sepertinya baru mengalami peristiwa paling mengerikan, Bu. Entah apa, tapi kelihatannya dia sangat tertekan.”
“Dokter, tolong bantu dia agar bisa hidup normal seperti sedia kala. Aku . . . hiks, aku tidak mau kehilangan anak semata wayangku. Meski kadang dia sangat menjengkelkan, aku tetap tidak ingin melihat dia terluka dan tertekan seperti ini.”
“Ibu yang tenang ya. O iya, dimana Bapak? Apakah ikut dalam misis kemanusiaan di Papua?”
“Iya, Dok. Aku belum tahu sampai kapan dia bertugas. Aku lupa bagaimana rasanya ditunggui suami, karena suamiku selalu saja pergi kemana-mana.”
“Ibu yang sabar. Saya yakin sebelum menikah, Pak Wildan pasti sudah memberitahu konsekuensi menjadi itri seorang perwira, bukan?”
“Aku tahu. tapi rasanya aku harus sedikit berbesar hati untuk menghibur diri sendiri.”
“aaaaahhhh,” Sisy menjerit sekali lagi. Kali ini tenaganya begitu kuat, mencengkeram lengan perawat yang mencegahnya menarik selang infus secara paksa.
“Sisy, Hiks, kamu harus tenang, Nak. apapun yang telah terjadi padamu, ibu berharap tidak akan mengubahmu menjadi gadis yang pemarah seperti ini. Kau gadis yang kuat, Sayang bertahanlah.”
Mendengar kalimat Ibunya, Sisy diam. taka da pergerakan sama sekali. Namun justru diamnya Sisy yag sekarang mengganggu konsentrasi dokter yang sedang melakukan observasi.
“Nona. . . “ Dokter Amran melihat pergerakan nafas Sisy. Sesekali ia menggeleng. terkejut menemukan titik terlemah sang pasien.
__ADS_1
“Ada apa, Dokter?” Tanya Meli sambil memandang Dokter Amran.
“Tidak, Bu. Dia gadis yang kuat, seperti yang ibu katakan. Memang ada trauma ringan yang membuatnya tertekan. Tapi apapun itu, kita tetap berharap yang terbaik untuk putri Ibu.”
“Aamiin Yaa Allah.”
Dokter Amran melangkah menuju kursi dan mengambil secarik kertas, menuliskan beberapa kalimat lalu melambaikan tangannya memanggil salah satu perawat jaga.
“Ada apa, Dokter?”
“Lakukan ini agar dia tenang.’ Dokter Amran menyodorkan kertas berisi instruksi pada perawat laki-laki yang kini menatap tulisannya.
“Bagaimana mungkin, Dokter. Aku . . aku tidak mau.” Dokter Amran menggeleng.
“Kau benar-benar tidak bisa kuandalkan.” Dokter muda berwajah bulat itu kini melangkah meninggalkan ruangan. ia memukul-mukulkan tangannya ke kepalanya sendiri, menyadari kebodohan perawatnya yang menolak menyuntikkan cairan bius ke selang infus milik Sisy untuk mengurangi pergerakannya.
“Apakah aku sepernuhnya keliru kalau ingin menghentikan perlawanan pasienku? Ah, aku pikir semua untuk menyelamatkan dia. Tapi mengapa Andi sama sekali tidak mau melakukan perintahku?”
“Assalamualaikum, Dokter.” Amran menoleh ke sumber suara, dimana disana sedang berdiri sosok
dokter muda yang sedang menjadi buah bibir para perawat dan bidan wanita di rumah sakit khusus tentara itu.
“Hanya lewat, Dokter Amran. Kebetulan tadi saya baru keliling, menengok pasien yang menjadi tanggung jawabku. Tidak lebih.”
“Baiklah. Apakah kau ingin bertukar pekerjaan denganku?”
“MAksudnya?”
“Aku rasa aku sudah menjelaskannya detail. Kau tahu dimana divisiku, kau juga tahu dimana aku bertanggung jawab sepenuhnya pada pasien, lalu mengapa kau melintas di sini?”
“Saya baru saja berkunjung ke pasienku, Dokter. Jangan berlebihan. Saya melintas disini karena kebetulan ini jalan terdekat.”
“Baiklah, aku percaya. tapi apakau kau mau menggantikan posisiku di sini?”
“Tidak, Dok. Semua tanggung jawab kita sudah di atur oleh pimpinan.”
“Jadi kau tidak mau?”
“Tidak, Dok. Permisi.”
__ADS_1
Pujiarto yang awalnya ingin bertemu dengan Rosa dan Sulis, kini ia urungkan.
Di dalam ruangan, Sisy yang masih meronta meminta dilepaskan, namun perawat tetap mengikat tubuh gadis itu hingga pingsan.
“Apakah aku terlalu keras sehingga aku harus mengikat tubuh pazien?” Tanya Perawat pada temannya yang masih memandang Sisy. Meli menutup wajahnya, kecewa dengan
“Mas, kira-kira kapan anakku akan sembuh?” sang perawat menggeleng
“Saya tidak tahu, Bu. “
“Sesuai dengan perintah dokter Amran, kita harus menenangkan kondisi Nona, Bu. Dokter Amran
memintaku untuk menyuntikkan sedikit obat ke tubuh Sisy, tapi aku tidak berani. Akan terlalu beresiko lagi bagi Nona. Kalau sampai aku melakukannya, aku khawatir Nona akan koma semakin lama..”
“Apakah seperti itu?”
“Bisa jadi, karena perlawanan yang dilakukan Nona Sisy, mungkin adalah tanda akan segera pulih. Ia hanya butuh orang yang sedang membuatnya cemas untuk berada di sisinya.”
“Tapi siapa dia? Aku saja tidak tahu siapa orangnya.”
“Kita sama-sama tidak tahu, Bu. Makanya kita harus bersabar untuk menghadapi sikapnya yang susah sekali kita kendalikan.”
“Sisy, anakku. Mengapa kau betah sekali tidur? Bangun dan capailah semua impianmu. Teman-temanmu
akan segera melaksanakan wisuda. Marissa juga kan. Dia akan menjadi wisudawan terbaik, wisudawan yang akan diwisuda oleh rektor, apakah kau tidak ingin menyaksikan? Mas Seno, sahabatmu juga akan segera datang menengokmu. Atau apakah kau ingin agar ibu memanggilnya sekarang?”
“Tidaaaaak, “ jeritan Sisy membahana memenuhi seluruh ruangan, membuat Meli terperanjat.
“Apakah itu artinya dia ingin Seno yang datang, Mas? Secara dia menjerit ketika aku menyebut nama Seno.”
“Bisa jadi. Mungkin ibu bisa menghubungi Pak Seno nanti. Ajak dia bicara baik-baik dan minta dia datang menemani Nona Sisy di sini.”
“Hiks, apakah hanya itu solusinya, Mas? Tidak adakah solusi lain yang bisa membuatnya sedikit tenang? Aku sama sekali tidak berempati dengan laki-laki bernama Seno. Dulu saja dia dekat-dekat sama Sisy, tapi setelah mengenal Marissa, ia begitu mudah berpaling.”
“Aku tidak tahu kronologinya, Bu. MAaf, tidak bisa memberi saran apapun. ini bukan kapasitas saya.”
“Please, Mas. Tolong aku menemukan solusi agar anakku ceria seperti semula.”
“Mass Senooooooo, kau jahaat. Aku benci kamu. Aku benci . . . .” semua orang saling pandang mendengar jeritan Sisy
__ADS_1