Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Rahasia Terungkap


__ADS_3

Hari-hariku sepi. Aku tak ingin menemui siapapun di kos. Bukan karena aku salah, tapi aku ingin sedikit waspada. Aku tak ingin saat aku membagi cerita mereka mengadukan ceritaku pada Sisy dan terjadi perpecahan di antara kami.


Semua temanku meninggalkanku satu persatu, ba’da maghrib mereka selalu berkumpul di kamar Rosa bersama Sisy bercengkerama tanpa menghiraukanku. Aku tahu aku tak bersalah, tapi sebagai manusia normal, aku tak ingin banyak membela diri. Aku tak ingin orang lain menganggapku menang sendiri.


“Lina, temui aku di alun-alun sekarang “ pesanku via whatsapp pada Lina. Dua hari sendiri aku merasa tidak betah. Ada yang harus kuketahui dari orang lain tentang diriku. Lina tak langsung membaca pesanku. Kutunggu lima belas menit, Lina membalas.


“ Sekarang ? Okey saya berangkat.”


Hatiku lega. Kusiapkan diriku menuju tempat yang kuinginkan menemui Lina dan ku selalu berharap ada pencerahan yang kuterima dari Lina hari ini. Kubuka pintu kamar dan melangkah menuju ruang tamu. Pintu yang sudah terbuka lebar membuatku lebih mudah keluar rumah. Kuambil jalan pintas lewat jalan samping rumah menyusuri gang kecil menuju sekolah dasar kepatihan. Keluar dari gerbang sekolah, langkah kubelokkan ke arah kiri melintasi perempatan hotel Bagelen, tak banyak orang di sekelilingku. Waktu masih menunjukkan pukul 05.15.


Pagi yang cerah. Udara masih sangat segar. Suasana kota masih lengang karena baru beberapa kendaraan melintas di ruas jalan. Ini sungguh pemandangan yang mengesankan. Beberapa bulan aku absen dari rutinitas pagiku di kota ini. Beberapa pemuda dengan pakaian olah raganya melintas, menuju alun-alun. Tak ada sapa karena kami memang tidak saling mengenal. Itulah kebiasaan burukku. Aku selalu malu menyapa laki-laki lebih dulu.


Aku berjalan sambil menunduk. Tiba-tiba sebuah sepeda berhenti tepat di hadapanku dan nyaris ku tabrak.


“ Melamun, ya ?” tanya si pemilik sepeda sambil tersenyum.


“ em, ma . . . maaf”Aku tak percaya dengan pemandangan di hadapanku. Laki-laki yang kutemui di Kemanukan dan beberapa hari ini menggangguku berdiri di hadapanku sambil tersenyum padaku. Darimana dia ?


“ Adik mau kemana ?” aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia memandangku dan laki-laki atletis bernama Suseno turun dari sepedanya.


“ Mengapa Adik sendirian ? Mana teman-teman ?” Aku bingung tentang jawaban apa yang akan kuberikan. Langkah kupercepat agar kebersamaanku bersamanya segera berakhir setelah aku menemui Lina.


“ Mengapa cepat sekali langkahmu, Adik manis ?”


Aku benci dengan kalimatnya. Ia mencoba merayuku namun hari ini aku sungguh-sungguh tak bergairah untuk menanggapi rayuannya.


“ Adik marah pada Kakak kah? “ dengan wajah penuh kecemasan Seno mengimbangi langkahku. Ia tak henti-hentinya bertanya, namun semua pertanyaannya kuabaikan. Hari ini sungguh aku tak ingin bertemu dengan siapapun kecuali Lina.


“Dik, berhentilah ! “ perintahnya.


Langkah kuhentikan. Rasa marah yang sejak kemarin sebenarnya bukan untuknya muncul. Kupandang wajahnya dengan kesal. Tak ada suara yang mampu membuatnya mengerti perasaanku hari ini sebab aku hanya bisa bungkam.

__ADS_1


“ Kalau ada masalah selesaikan ! Bukan pergi dan membahayakan diri.” Ucap Seno tegas.


“Aku sedang tidak lari dari masalah. Aku ingin menemui seseorang yang sekarang menungguku di alun-alun dan itu bukan anda. Dengan segenap kerendahan hati, mohon menjauhlah dariku, Tuan !” ucapku menghiba. Sekali lagi dia memandangku iba dan satu tangannya meraih tanganku. Dengan sigap kusibakkan tangan nya namun cengkeramannya yang kuat tak sedikitpun terlepas dari tanganku. Aku bingung, antara menurut atau memberontak. Kududukkan pantatku di trotoar. Dia mendampingiku, jelas sekali dia sedang menatapku, namun aku sengaja tak ingin memandangnya. Mataku mulai berkaca-kaca dan aku tahu dia mulai mengulurkan tangan hendak menyentuhku namun segera kutepis. Aku tak ingin laki-laki, siapapun dia menyentuhku sebelum resmi menjadi suamiku.


“Apakah Qomar mengganggumu ? “ tanyanya.


Aku menggeleng. Kulihat telpon selulerku, untuk mengurangi kegundahan barangkali Lina mengirim pesan namun nihil. Mungkin Lina belum sampai di tempat yang kuinginkan. Aku mulai menguasai diri, kuangkat wajahku dan pelan kupandang laki-laki yang duduk di sebelahku. Dia membalas tatapanku.


“ Kakak . . . !”


Dia mengangguk.


“ Selama ini saya tidak tahu Kakak tinggal dimana. Tak ada keinginanku untuk mengetahui karena semua kuanggap tak ada urusannya denganku.”


“ Lalu ?”


“ Suatu hari seorang temanku marah padaku. Aku tak tahu mengapa, dia bilang bahwa Kakak adalah seorang komandan di Batalyon, yang memenangkan sayembara, memenangkan seorang putri untuk ia cintai. Benarkah demikian ? “


Laki-laki di hadapanku terkejut. Ia mungkin tak mengira aku mengetahui semua rahasianya.


“ Kakak sama sekali tak berniat untuk itu. Dalam lubuk hati paling dalam, Kakak sudah mengagumi Dik Marissa sejak pertama bertemu namun Kakak tak berani memunculkan. Suatu ketika, saat Dik Risa berlalu dari balai desa karena kecewa terhadap Qomar, Kakak secara sembunyi mengawasi barangkali Adik yang sudah mulai mengganggu perhatianku melakukan sesuatu yang membahayakan. Kuikuti hingga Kakak benar-benar yakin bahwa wanita yang Kakak kagumi dalam keadaan aman. Selanjutnya aku tak tahu kalau ada anak buahku yang ternyata memendam rasa yang sama denganku. Mereka bertiga sempat cekcok mulut, hingga nyaris bentrok. Benar yang dikatakan teman Dik Marissa. Tapi yakinlah, kami tak menjadikan Adik sebagai bahan sayembara. “


“ Lalu apa hubungan Kak Seno dengan Sisy ?” batinku.


“ Baik, untuk sementara saya percaya, satu yang saya minta, mulai saat ini tolong, jangan mengusik ketenanganku dengan pesan atau menemuiku dimanapun. Aku tak mau melukai sesama wanita. “


“Sesama wanita ? Siapa dia ?”


“Untuk saat ini saya tak ingin berfikir tentang laki-laki. Lupakan pertemuan kita dan anggap semua tak pernah ada. Assalamualaikum” Aku segera berlalu. Tak kuhiraukan semua panggilan atau alasan yang Seno ungkapkan demi membuat diriku kembali duduk di sebelahnya. Kuurungkan niatku menemui Lina. Aku segera berlari melintasi depan kantor pos untuk pergi ke rumah kos Lina di Plaosan.


Sampai di rumah kos Lina, aku hanya bisa duduk di kursi panjang di teras rumahnya. Tak ada keinginanku mengetuk pintu karena aku tahu Lina sedang tak di rumah. Kuatur nafasku sesaat. Telpon selulerku berbunyi, missed call dari Lina sengaja ku reject.

__ADS_1


“ Aku di rumah kosmu. “ pesan segera kukirim. Dan sepuluh menit kemudian Lina sudah kembali ke rumah kos dengan bersungut-sungut.


“Kamu membuatku linglung tau ?” ucapnya gemas, dia hendak menjewer telingaku kalau saja ia tak melihat murung di wajahku. “ Hey ? Ada apa denganmu pagi ini ? “ ucapnya sambil menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke kamarnya. Aku hanya menurut. Rumah kos Lina sangat sepi. Rupanya dia hanya sendiri pagi ini, entah yang lain. Sampai di kamar, Lina mendudukkanku di dipan dan dia duduk di lantai. Sesaat dia pandang wajahku dan aku tak bisa membendung air mataku. Ada sedih mendalam yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata dan itu membuat Lina memelukku erat.


“Menangislah kalau itu bisa membuat bebanmu berkurang,” katanya. Aku hanya bisa menggeleng. Lina melepaskan pelukannya dan memandangku. “ Kau bilang ingin bicara sesuatu ? “ sambungnya.


“Kau tahu Se . . .no ? “ ucapku terbata. Lina mengangguk. “ Dia . . . tinggal dimana kamu tahu ? “ sambungku. Sekali lagi Lina mengangguk.


“ Dia tinggal di batalyon infanteri. Memangnya kenapa ?”


“ Jadi dia kah teman bapaknya Sisy yang selama ini Sisy cintai ?”


Lina menggeleng.


“Untuk yang satu itu aku tak tahu, Ris. Memangnya ada apa ?”


“Sisy marah saat dia tahu Seno mengungkapkan cinta padaku.”


“What ? “


“Dia bilang, aku sedang diperebutkan beberapa anak buah dan komandan di batalyon itu. Sang anak buah akhirnya menyerahkan aku untuk sang komandan dan kata Sisy, komandan itu adalah . . . .” kuhentikan kalimatku karena aku tak ingin menyebut nama Seno hari ini.


“ Seno maksudmu ? “


Aku mengangguk. Lina mengepalkan tangannya dan meninju lantai dengan keras.


“Sisy yang bilang kan ? Bukan Seno ?”


“Terlepas dari siapa yang bilang Lina. Saat aku hendak menemuimu di alun-alun, aku bertemu dia. Di depan BRI kami duduk dan berbincang tentang kemenangan sang komandan, dan dia tak mengelak sama sekali. “


“ Seno mengakui ? Berani sekali dia. Lalu mengapa kau mengajakku bertemu di alun-alun kalau akhirnya kau justru menemui Seno ?”

__ADS_1


“ Aku tak menemui dia, Lin. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya. Dia naik sepeda dan menghentikan langkahku, itu saja. Sekarang aku tahu mengapa Sisy meninggalkan kamarku dan bergabung dengan Rosa. Dia marah karena laki-laki yang ia cintai lebih memilihku dibanding dengannya.”


“ Tunggu ! Sisy meninggalkan kamarmu dan bergabung di kamar Rosa ? Mengapa kau jadi marah ? bukankah itu kebetulan. Di saat hatimu sedang galau, ada baiknya kau menyendiri di kamarmu, iya kan ? Tidak usah diambil pusing, Ris. Anggap saja ini adalah petunjuk Allah untukmu. Sudahlah ! Kau lupakan saja dia. Serahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Ada laki-laki yang jauh lebih baik dari seorang Seno si komandan itu. Kita makan yuk ! Kubelikan kamu nasi bungkus. Aku tahu kau baru saja sakit dan pasti belum sempat memasak.” Ringan sekali Lina menanggapi masalahku. Inilah keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh temanku yang lain.


__ADS_2