Senyum Tuhan Untuk Marissa

Senyum Tuhan Untuk Marissa
Es Teh Panas Dingin


__ADS_3

Pukul tiga belas tiga puluh acara selesai. Meski masih ada banyak tamu yang datang, tapi aku tetap ingin istirahat untuk mendirikan shalat duhur. Aku tak ingin pingsan hari ini, apalagi di depan suamiku. Meski dia punya saudara sepupu seorang dokter, bukan berarti aku boleh manja padanya. Aku malu.


“ Maaf, Kakak kita shalat Duhur dulu, Yuk ! saya juga ingin istirahat. Kepalaku pusing sekali.” Suamiku tersenyum mendengar kalimatku.


“Adik ingin kugendong ? “ tawarnya. Dia ternyata bisa romantis. Tidak sepertiku yang meski seorang psikolog, di depannya aku kaku.


Aku tersipu.


“ Tentu saja aku malu.”


Aku mendahului suamiku. Rasa pusing di kepalaku, pasti hilang saat aku merebahkan badanku di kasur empukku. Maklum, aku selalu saja tak kuat berlama-lama, menghadapi acara.


Di dalam kamarku, Aku segera mengambil baju ganti terbaruku. Kubawa ke kamar mandi dan kuganti di sana. Kubersihkan wajah dari make up ku dan mengambil wudhu. Aditya melakukan hal yang sama, Cuma bedanya tanpa malu-malu sepertiku, ia mengganti bajunya di hadapanku.


Usai mengganti pakaianku, kami shalat duhur berjamaaah. Ini pertama kali aku berdua-dua dengan lawan jenis. Kujabat tangan suamiku dan kucium punggung tangannya pelan. Suamiku lalu mengecup keningku. Dia letakkan telapak tangannya di keningku dan komat kamit berdoa. Usai shalat, aku hanya bisa duduk. Ingin rasanya kurebahkan tubuhku, tapi sekali lagi, aku malu. Aku tak bisa tidur saat ada laki-laki di sekitarku.


“ Katanya mau istirahat. Kok Cuma duduk? Sama saja dong di sini dengan di luar.” Aditya memandangku dan aku hanya menggeleng.


“ Kenapa ?”


“ Malu”


“ Ya, ampun, dik. Dik Risa kan sudah jadi istriku dan aku sudah sah jadi suamimu.”


“ iya, sih, tapi . . .” kugaruk kepalaku yang tidak gatal


“ Oke, aku keluar. Istirahatlah !”


“ Tapi . . .”Dia membalikkan tubuhnya.


“ Ada apa lagi ?”


“ Maafkan aku, Kak” Dia mengangguk. Lalu keluar dan menutup pintu. Akhirnya aku bebas berbaring.


Entah berapa lama aku terlelap, sebelum akhirnya aku terbangun menyadari seseorang sedang memandangku.


“ Kau lelap sekali. Sampai-sampai tak kau hiraukan suara Lina membangunkanmu.” Suamiku mencoba duduk di kasur dan masih dengan jenaka memandangku.


“ Lina ? O iya, mana dia ?”


“ sudah pulang, dan mungkin sebentar lagi dia telpon” Dan benar, handphone ku berdering dan langsung kudengar suara Lina yang meledekku.


“ Aduh yang pengantin baru, sampai lupa sahabatnya di ruang tamu. “ aku tersenyum mendengar tawa Lina.


“ maaf ya Lin, aku pusing banget hingga tak menghiraukanmu, maaf bukan maksudku, … tapi aku lihat kamu juga lagi asyik sama Mas Irsyad, teman Kak Adit Kan?.” Sanggahku.


“ Iya, insya Allah aku segera menyusulmu, tadi Mas Irsyad bilang orang tuanya akan datang, melamar dan insya Allah kita nikah.”


“ Amien, senang aku mendengarnya, Lin.”


“ Ya sudah ya, takut ganggu pengantin baru, assalamualaikum”


“ Wa alaikum salam warahmatullah.”


Berdua kami menjawab salamnya. Aku diam. Bingung. Topik apa yang akan aku gunakan untuk memulai pembicaraan. Sebenarnya aku bisa membicarakan Lina dan Irsyad teman Adit, tapi aku takut hal itu merusak suasana.


“ Maafkan Kak Aditya ya, Dik !”Ada penyesalan di wajahnya.


“ Maaf ? Untuk masalah apa ?”


“ Aku, tak mencium istriku di hadapan tamu.”O, jadi itu yang membuat dia minta maaf padaku ?


“ No problem.”


Suamiku diam.


“ Kakak boleh melakukan atau tidak melakukan apapun di depan tamu. “ ucapku pelan.


“ O . . . iya,? “ Aku mengangguk.

__ADS_1


“ Apakah istriku tidak punya inisiatif membuatkan suaminya minum ?”sambungnya pelan. Meski pelan aku merasa ucapannya bagaikan petir di siang bolong. Bagai sengatan kalajengking dan ditampar mukaku mendengar kalimatnya. Aku kaget. Banget malah. Aku merasa betapa bodohnya aku yang sama sekali tak ada sedikitpun pemikiran untuk itu. Aku masih merasakan betapa keberadaannya di kamarku sangat tabu. Ini pengalaman pertamaku berdua- dua dengan laki-laki, apalagi di kamar.


Dulu, dan sampai saat aku belum menikah, hal seperti ini sangat ayah larang, berdua-dua dengan laki-laki non muhrim, dan itu terbawa hingga hari ini. Bukankah dia sudah resmi jadi suami ? Sebuah keluarga baru, sudah terbentuk beberapa jam lalu dan itu kami. Artinya, aku halal untuknya dan sebaliknya. God, inikah suami istri ?


“ Ma . . . maaf, Kak adit mau minum apa ?”Kutunggu jawabannya.


“Mm, enaknya minum apa ya panas-panas begini? Dia berusaha menggodaku. “Teh saja bagaimana ?”


“ Baik. Saya buatkan teh. “ kucoba untuk berdiri memenuhi permintaan suamiku.


“ Bisa ?” Suamiku menggodaku. Mungkin dia berpendapat anak sepertiku tidak bisa berbuat apa-apa. Manja dan segalanya hanya diladeni setiap hari.


“ Insya Allah pasti bisa. Masa buat teh saja nggak bisa.”ucapku sambil menunduk.


“Tapi dicampur es ya .”


“ Maksud Kak Adit es teh ?“Dia mengangguk. Berbinar matanya melihatku beranjak dari tempat tidurku. Karena tergesa, tanpa sadar kakiku menyeret selimut yang masih menutupi tubuhku. Dan dia, dia menangkapku sigap. Aduh Risa ada apa denganmu? Bukankah kamu seorang psikolog yang sebentar lagi menamatkan kuliahmu? Bukankah kamu seorang calon dosen tetap yang biasa menghadapi mahasiswa, yang sering menggoda ? Kamu kan juga pernah beberapa kali digoda laki-laki saat kamu di kampus, di jalan dan dimana pun saat kamu bertemu makhluk yang namanya laki-laki kamu bisa mengatasi.Tidak seperti saat ini Risa, mengapa ?’ batinku.


“ Hati-hati, tidak usah terburu-buru, aku sabar kok.”Tuhan malu sekali aku hari ini. Betapa bodohnya diriku, justru di hadapan suamiku sendiri. Suamiku tersenyum mengiringi kepergianku.


***


Di dapur, saat kubuat es teh spesial pertama untuk suamiku. Dengan sedikit berdebar, grogi dengan hasil yang aku sendiri belum tahu. Membuat es teh bukan sesuatu yang sulit. Aku bahkan setiap hari hampir membuat untukku sendiri atau untuk teman-temanku karena ayah dan ibu nyaris tak pernah menikmati es. Mengapa hari ini aku harus kehilangan percaya diri, bahwa hasil dari karyaku tidak memuaskan?


“Mbak Risa, suaminya diajak makan dulu. Makanan sudah siap dari tadi, kok nggak ada yang makan.”Mbak Marni mendekatiku.


“ Terima kasih, Mbak Marni. Kak Aditya minta teh.”


“ O, yang ini, Mbak, sudah jadi kalau yang itu, air putih.” Dia menyodorkan teapot warna putih padaku.


“ Terima kasih, Mbak.”Dia tersenyum.


“ Setelah ini diajak makan lho, Mbak suaminya.”


“Insya Allah, Mbak.”


Kutuang air teh ke dalam cangkir setelah kuberi gula. Kuaduk dan kuberi beberapa butir es. Dengan hati-hati kubawa nampan berisi segelas es teh ke kamar.


“ Terima kasih. Dik Risa nggak minum ? o, iya Kakak tahu Dik Risa ingin kita minum segelas berdua kan ?”


What ? Segelas berdua ? Sama sekali. Aku bahkan tidak punya rasa haus hari ini.


“ Mm, tapi tunggu. Ini es teh kan ? “ tanya Aditya sambil memandangku. Debar di dadaku bertambah kencang. Mungkinkah ada yang salah dengan es teh buatanku hari ini ?


“ I . . .iya, “ aku mengangguk ragu. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada yang salah dengan karyaku.


“ Coba aku minum ya?’


“ Silahkan!” Aditya mendekatkan cangkir ke bibir. Dan menghentikan sesaat setelah menikmati beberapa teguk. Dia memandangku. Aku jadi ragu pada diriku sendiri.


“ Mm, ini mungkin cerminan perasaan Adik hari ini.”


“ Ma . . . .maksud Kak Adit?” Jelek sekali pasti mukaku hari ini. Aku tergagap.


“ Bawah panas, tapi aneh,”


“ Aneh ? Tidak enak ya ? Kurang manis ?” dadaku semakin berdebar. Dia pandang wajahku dengan lembut namun tetap saja aku takut. Tatapannya bagaikan monster bagiku.


“ Bukan. “Dia menggelengkan kepala.


“ Lalu ?”Mengapa dia semakin membuatku penasaran ?


”Manisnya pas. Dan saat kuminum dingin, tapi sungguh luar biasa, istriku membuatkanku es teh panas dingin. “God, benarkah ini hasil karyaku hari ini ? Teh panas dingin? Sesuai perasaanku ? Tidak mungkin.


“ Masa iya ? “ ingin kurebut cangkir di tangannya. Membawanya berlari dan menggantinya dengan yang baru andai dia tak memegang tanganku.


“ Coba kau pegang ! hangat kan ? “


“ Iya. “

__ADS_1


“ Dan kau minum !”Kuteguk sedikit air dicangkir dan ternyata benar. Ya Tuhan, inikah teh spesialku ? Yang mungkin menunjukkan perasaanku seperti yang Adit katakan. Teh panas dingin. Aku memang panas dingin menghadapinya.


“ Bagaimana ?”Meski tersenyum, aku merasa ia menelanjangiku. Menalanjangi jiwa dan percaya diriku.


“ Benar. “


Aku menarik nafas dalam.


“Teh spesial pertamaku panas dingin seperti diriku menghadapi suamiku. Maaf”


Aku tertunduk.


Malu.


Aneh tapi nyata, seorang psikolog tidak mampu mengendalikan perasaannya, justru di hadapan suaminya. Teori-teori kepercayaan diriku musnah, dan yang tersisa hanya kebodohan di hadapannya.


Memalukan !


Seharusnya aku bisa menjalankan apapun seperti ucapanku saat memberi nasihat pada pasienku. Atau paling tidak bisa menerapkan semua ilmu seperti yang sudah kutransfer pada mahasiswa yuniorku.


“Are you okey ? “


Dia menyentuh tanganku. Sentuhan di tanganku membuyarkan lamunanku. Genangan air yang sejak tadi berkumpul di mataku, kini mulai mengalir, membasahi pipiku.


“ Dik Risa menangis ? “


Perlahan kupalingkan wajahku, menyembunyikan tangis yang sebenarnya sudah terdeteksi olehnya. Kuseka perlahan air mata yang mulai menganak sungai dengan punggung tanganku. Inilah kali pertama aku merasakan rasa percaya diriku hancur.


Tuhan tolonglah aku !


Dia genggam tanganku, diciumnya lama dan diletakkan di dadanya.


“ Sayang !!! bukan hanya istriku kok yang panas dingin menghadapi suaminya. Coba kamu rasakan debaran jantungku ! Sangat tidak jauh berbeda denganmu. Suamimu juga panas dingin menghadapi istrinya kok. “


“Tidak” Kucoba untuk menarik tanganku dari genggamannya namun gagal. Dia berhasil mempertahankan tanganku dan tetap meletakkan di dadanya.


“Tidak maksudmu ? Kau rasakan getar dadaku sekarang ? Inilah tandanya kalau suamimu sedang tak berdaya, grogi menghadapi istrinya yang cantik luar biasa.”


Berdua kami tersenyum. Saling berpandangan dan akhirnya . . . kumunculkan keberanianku untuk memeluknya.


“ Adik tahu kenapa ayah memberikan dirimu untukku ? Justru disaat aku belum mengenalmu?”


Aku mengangguk.


“ Karena ayah takut Kak Adit menyakitiku.”


Dia mengelus kepalaku.


“ Kamu terlalu indah untuk disakiti. “


“ Tapi saya yakin yang jelas bukan karena harta yang dimiliki Kak Adit, Insya Allah.”


“ Dik Risa ingin tahu jawabannya ?”


Aku menggeleng.


“ Karena Tuhan tahu aku memerlukan wanita sepertimu.”


Pelukannya semakin erat.


“ Kakak, kita makan siang yuk !” Dia melepaskan pelukannya dan tersenyum.


“ Ini sudah malam bukan siang lagi. “


“ Ya, kita makan sore yuk !”


“ Rasanya bersamamu, perutku tidak merasakan lapar sama sekali hari ini.”


Aku menggeleng. Kutarik tangannya keluar kamar menuju ruang makan.

__ADS_1


***


__ADS_2